Bertahan dalam Harapan … * Refleksi terhadap Pandemi Corona


Kita, bersama sebagian besar umat manusia di bumi kini sedang meniti hari hari itu, dimana banyak hal mau tidak mau berubah secara mendadak.
Banyak hal yg semula tak terpikirkan, harus dijalani. Kita terhenyak, kaget, panik, ada yang kemudian menggapai-gapai makna atas semua ini. Namun tak sedikit pula yang abai, tak paham dan tak mau paham akan kondisi ini, menutup mata, bahkan menentang atas semua informasi yang diterima, demi merasa bahwa semua ‘baik-baik saja’. Dan merasa bahwa kehidupan masih ‘seperti biasa’.

Peristiwa pandemi itu sendiri, pada kenyataannya sangat multidimensional; ada aspek ekologi, spiritual, ekonomi, kesehatan, sosial, politik, dan berbagai aspek pengiring lain.

Bagi mereka yang mencari makna atas semua ini, baik makna bagi diri sendiri, kemanusiaan, lingkungan dan semesta. Hari hari ini mengalami ujiannya, saat pandemi sudah berjalan dalam hitungan bulan. Karena makna yang hendak ditemukan itu tidaklah instan, tapi harus diuji dalam serangkaian laku yang sesuai; yakni kemauan untuk ikut serta dalam langkah yang konstruktif mengatasi pandemi ini. Yakni kesediaan untuk ikut karantina, membatasi ruang gerak, melakukan social distancing, memakai masker. Kita, sebagian kita, sebagian besar kita mungkin sudah mulai ‘diserang’ kejenuhan atas semua ‘laku’ itu. Ternyata hal tersebut tak semudah sekedar ‘berpuasa’.

Tapi justru disitulah letak ujian atas insight makna yang kita terima atas peristiwa besar ini. Peristiwa yang mengkoreksi kemanusiaan kita. Mengkoreksi pemahaman dan sikap kita terhadap diri sendiri, sesama, dan alam.

Betapapun masih ada yang memperdebatkan muasal pandemi ini; apakah ini murni zoonosis perpindahan patogen dari alam atau virus buatan lab.
perdebatan itu tidak perlu benar. Peristiwa sudah berjalan, dampak sudah terjadi.

Perdebatan itu tidak serta merta menghapuskan semua ‘dosa’ manusia terhadap alam. Saya pribadi cenderung percaya musabab pandemi ini memang peristiwa alamiah yang dipicu serangkaian dan timbunan perilaku destruktif manusia. Bahwa ekologi dan banyak habitat satwa dan fauna telah dijarah, menyebabkan patogen patogen yg semula ‘aman’ bersama inang-nya, kini juga tak aman; dan manusia lah yang kemudian menjadi ‘sasaran logis’ nya.

Apakah konsekwensi-konsekwensi itu semula tak disadari manusia …?
Tentu sudah ada yang menyadari, tapi banyak manusia terlampau serakah untuk mampu mendengar peringatan-peringatan.

Tapi mau apa kita kemudian akan kesadaran ekologis atas peristiwa ini..?

Setelah sebuah wawasan kesadaran hadir, kita adalah pribadi yang baru.
Juga berbagai hal yang kita alami, terima di masa pandemi ini. Kesadaran bahwa ternyata peradaban manusia ini ‘rapuh’; bukannya tak terhentikan.

Kesadaran bahwa di tengah arus manusia yang kian massal, lalu kemudian kelompok disana-sini berusaha eksis dengan memainkan berbagai upaya, intrik, politik, dan kekerasan identitas yg sebenarnya hanya ‘semu’ saja; di masa pandemi ini justru mendapat satu kesempatan, ‘dipaksa’, menyadari identitas diri sendiri, merenungi diri sendiri, rumah sendiri, hal hal kecil yg terabaikan di lingkungan sendiri, dan lebih dari itu mendapat kesempatan untuk makin mencintai diri sendiri dengan mengupayakan kesehatan dan keselamatannya.

Kesadaran bahwa, rasa cinta diri, yang diwujudkan dengan menjaga kesehatan dan keselamatan diri itu, punya implikasi sosial yang kuat; bahwa dengan demikian akan mencegah orang lain tertular, dan dengan demikian menjaga keselamatan orang lain juga.

Kesadaran bahwa ternyata selama ini sekat dan strata antara manusia itu semu saja, fana saja. Di masa pandemi ini, semua strata, penggolongan, dan identitas manusia seperti ditanggalkan; iya semua menghadapi krisis yang sama. Semua berhadapan dengan ketakutan, kecemasan, dan masalah yang sama. Tak peduli ia presiden, bankir, konglomerat, pedagang, pemulung, atau anak jalanan.

Kesadaran bahwa rasionalitas, logika, akal sehat mesti kembali didudukkan pada tempatnya. Untuk memandu ke arah kemanusiaan yang sehat. Manusia diajak untuk mengkaji ulang ‘keyakinan keyakinan’ mereka selama ini; Apakah semua itu telah membawa kepada kehidupan bersama ke arah yang lebih baik..? …Apakah semua itu telah membawa ke arah keselamatan bersama, lingkungan, dan semesta, atau justru sebaliknya…?

Kesadaran untuk bertafakur diri dalam tapa, karantina, isolasi, dan pada gilirannya makin mencintai diri sendiri tapi sekaligus menyadari bahwa kita pribadi masing-masing punya konsekwensi yang sangat nyata pada orang lain; jika kita tidak hati hati, akan menjadi sebab penularan pada orang lain. Jika kita berhati-hati, kita menyelamatkan diri sendiri, sekaligus orang lain. Betapa luar biasa hikmah ini.

Kesadaran bahwa kita dihadapkan pada hal yang sangat mendasar; keselamatan. Bahkan sebelum pangan, papan dan sandang.

Kesadaran bahwa solidaritas pada sesama didudukkan pada hal yang paling prinsip; bagaimana menjaga keselamatan orang lain.

Dan kemudian adalah kesadaran ekologis seperti di atas.

Lalu apakah kesadaran-kesadaran itu akan dapat diterima secara luas dan masif..?

Sebuah krisis akan dapat menciptakan suatu titik balik. Baik itu krisis pribadi ataupun komunal.

Yang terjadi saat ini adalah krisis yang luar biasa. Sebuah peristiwa sangat penting dalam peradaban manusia. Dan apa yang terjadi di tahun 2020 ini tentu ada yang berbeda dengan yang terjadi pada pandemi flu Spanyol di tahun 1918 misalnya.

Di krisis masa ini, ada media, jaring jaring komunikasi yang intensif antar manusia yang akan menjadi katalis kuat untuk ‘terdistribusi’ nya kesadaran-kesadaran itu.

Lalu bagaimana dengan adanya sebagian orang yang masih abai, tak peduli, tak mau tahu …?

Mereka hanya sedang ‘denial’ saja; hal-hal baru, termasuk kesadaran, itu sering tidak nyaman bagi sebagian orang. Dan ada yang mencoba ‘menyangkalnya’ dengan mengatakan pada dirinya sendiri dan berperilaku seolah-olah ‘tidak terjadi apa-apa.

Yang perlu saya garis bawahi di sini; orang-orang kelompok itu tidak berkorelasi dengan taraf ekonomi ataupun strata sosial.

Ada, dan banyak, dari kelompok mereka yang karena keadaan ekonomi menyebabkan mereka masih harus beratifitas seperti biasa, mengkais rejeki, bertahan hidup..tapi, mereka menyadari sepenuhnya bagaimana mensikapi situasi krisis ini; mereka sadar untuk social distancing, dsb.

Kini, kita telah menjalani itu dalam hitungan bulan …
Kita mesti siap jika kondisi ini berlangsung ‘lama’.
Bahkan WHO sudah memberi ancang-ancang bisa jadi social distancing akan berlaku sampai tahun 2022.

Kita persiapkan diri juga untuk hal-hal yang mungkin akan selanjutnya mengiringi kondisi ini; resesi, perekonomian drop, dsb.

Saat mana muncul rasa ‘jenuh’ atas situasi ini, mari kita angkat pandangan mata lebih jauh. Kita lihat CAHAYA HARAPAN di depan.

Selain percaya, harapan, kepedulian,
nampaknya ada satu lagi yang butuhkan sekarang;
bertahan, survive dan jalani saja situsi ini.

Kita percaya ada harapan di balik semua ini.
Dan kalau kita percaya pandemi ini hadir dengan serangkaian hikmah baik,
kita juga dapat percaya, bahwa di ujung-nya nanti situasi ini juga akan berbuah hal hal baik pula.

Prambanan, 25 April 2020

RHR

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

2 tanggapan untuk “Bertahan dalam Harapan … * Refleksi terhadap Pandemi Corona”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.