Tips Konseling, Penerimaan Diri Apakah Solusi ?


Tulisan ini ditujukan bagi para konselor dan juga para konseli, yang berada dalam situasi kesulitan dalam beradaptasi. Terutama dalam mensikapi kondisi diri terhadap tuntutan lingkungan.

Beberapa waktu yang lalu ada konseli yang mengatakan bahwa dirinya malas untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Ia mengatakan bahwa orang-orang disekitarnya tidak mendukung. Dosen Pembimbing sulit ditemui dan bila bertemu sering memberi banyak koreksi. Kawan kawan seangkatan sudah banyak yang telah lulus dan sibuk dengan kehidupan barunya. Orang tuanya jauh dan juga sibuk bekerja unutk ekonomi keluarga termasuk membiayai kuliahnya.

Langkah pertama adalah bagaimana ia mau menerima keadaan, selanjutnya ia juga dapat menerima keadaan dirinya itu, dan tidak menyalahkankan baik lingkungan maupu dirinya sendiri. Ini bukan proses yang mudah, namun sudah biasa rekan konselor hadapi jadi, Ceritanya sampai disini saja karena sudah dapat dipahami.

Ada cerita lain, Ada kasus dari konseling online juga. Ia merasa cemas akan keadaan dirinya, dan membaca beberapa bacaan psikologi serta melakukan tes psikologi (populer) sendiri yang banyak di internet. Ia menemukan jawaban atas keadaan dirinya dan menerimanya. Masalahnya muncul dari sini. Ia memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, dan berharap mendapatkan hubungan yang serius untuk jangka panjang. Dengan analisanya sendiri ia membuat kesimpulan bahwa tidaklah mungkin dapat menjalin hubungan itu.

“Tidak mungkin ada orang yang mau dengan aku yang manja dan penuntut ini”, katanya.

Penerimaan dirinya dijadikan alasan untuk tidak mau beradaptasi. Kondisi itu ia jadikan bahan untuk mendapatkan atensi, perhatian. Sudah banyak konselor yang ia datangi, dan ia mengatakan bahwa mereka tidak dapat memberikan solusi. Ada pemahaman yang tidak tepat dalam dirinya, mengharapkan solusi berasal dari orang lain yang seharusnya berasal dari dirinya sendiri. Tugas konselor menemani dan membantunya. Parahnya lagi ia menceritakan hal itu kepada konselor yang lain, dan makin yakin bahwa dirinya memang seperti itu dan tidak ada yang dapat merubahnya.

Sengaja ceritanya dari kasus yang berbeda. Tulisan ini memang bukan cerita tentang penanganan kasus. Cerita ini tentang perlunya hati hati dalam membawa konseli pada penerimaan diri.
Penerimaan diri yang membuat diri menjadi aman dan nyaman, sehingga mendapat perhatian dan permakluman dari lingkungan.

Ini beberapa pernyataan yang sering muncul dari penerimaan diri yang tidak tepat :

“Aku ya seperti ini, mau terima syukur tidak terima ya silahkan saja”

“Aku ini orangnya Melankolis, jadi semuanya kupikirkan terlebih dahulu”. (padahal ia sudah memiliki rencana melakukan hal itu lebih dari setahun yang lalu).

“Aku orangnya pemarah, kalau ia sampai menyinggung harga diriku, akan aku labrak, aku tidak peduli apa yang terjadi nanti”. (Ia sering konflik dengan atasan serta rekan kerjanya sementara ia ingin memiliki team kerja yang saling mendukung)

Contoh di atas adalah beberapa hal sehubungan dengan kasus individual.

Bagaimana dengan kasus secara sosial yang terjadi dalam menghadapi pandemi covid 19 ini?

Kita lihat berita di media sosial bahwa banyak orang tetap bergerombol di tempat umum. Di pasar tradisional banyak orang berbelanja untuk kebutuhan Lebaran, dengan mengabaikan protokol kesehatan, tanpa masker dan berdesak desakan. Di pusat pertokoan banyak orang antre berjubel untuk membeli baju baru menyambut Lebaran. Di terminal orang antre kendaraan umum untuk pulang ke rumah, berlebaran bersama keluarga.

Orang orang tersebut mengetahui tentang Pandemi Corona. Banyak informasi yang menyampaikan beritanya.  Banyak yang telah menyampaikan protokol kesehatan untuk mencegah kecepatan penyebarannya. Alasan yang sering disampaikan, mereka sudah paham dan menerima kenyataan bahwa Pandemi sudah melanda, kalau memang terkena ya mau gimana, serahkan saya pada kehendak Yang Kuasa. Siapa pun tak berhak merancang nasib. Begitulah kura kura, mengutip kata kata Denny Siregar

Tidak perlu mencari siapa yang salah, masyarakat yang tidak peduli, atau pemerintah yang kurang tegas, atau Negara China tempat asal mula Virus Corona, atau Amerika yang suka ribut mengadu domba, atau para pemuka agama yang termakan dogma. Itusemua terlalu jauh. cukup hadapi kenyataan saat ini saja.

Hati-Hati !
Penerimaan diri bukan berarti solusi.

Kembali pada proses konseling. Memang sering permasalahan muncul dari ketidakmampuan dalam menerima kenyataan situasi atau pun kenyataan diri. Penerimaan diri bukan menjadi tujuan utama atau satu satunya solusi. Penerimaan diri hendaknya dijadikan awal dari proses pengembangan diri. Harus fokus juga pada tahap konseling lanjutannya. Apakah klien sudah mampu dalam mensikapi perubahan yang terjadi dalam kehidupannya? Apakah Klien mampu menyelesaikan tugas perkembangan (psikologi) hidupnya? Apakah Klien lebih yakin dalam menghadapi tantangan hidup ke depan yang tidak pasti. Dan yang paling sederhana, Apakah penerimaan dirinya menjadikan ia lebih percaya diri untuk lebih memberi kontribusi ?

Yogyakarta, 23 Mei 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.