Panduan Sederhana Konseling Online dengan Cara Psikodrama


Hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama ~ Burke

Moreno Bapak Psikodrama mengajak tiap individu untuk menjadi Protagonis, Aktor Utama dari drama hidupnya, sehingga dalam Psikodrama Klien disebut Protagonis. Pemeran utama yang menjadi pusat dari jalan cerita hidup, yang menentukan jalan hidupnya, segala keputusannya menjadi penentu hidupnya.  Pemeran utama yang memiliki sifat baik  keberadaannya untuk menghadapi dan mengatasi persoalan yang muncul untuk suatu tujuan.

Agar Aktor dapat berakting dengan baik, perlu memiliki kesadaran akan dinamika psikologis yang mendasari akting atau tindakannya.  Pemahaman ini aku dapatkan dari Mas Iswadi Pratama, Sutradara Teater Satu Lampung, pada saat aku mengikuti kelas akting di Salihara awal tahun 2016 lalu.

Demikian juga Protagonis yang menjadi klien kita saat konseling. Dinamika psikologis tersebut adalah :

Stimulus — Impuls — Acting — Contact

Mari kita mulai prosesnya.

Konselor membantu dengan beberapa pertanyaan, atau pernyataan dibawah ini :

Setelah perkenalan singkat dapat langsung masuk dinamika kesadarannya. Prosesnya kita coba dari belakang. Dalam praktek alurnya boleh bebas,  yang penting semuanya terungkap)

Ceritakan tentang diri anda!
(Beri waktu sampai ceritanya tuntas)

Apa yang membawa anda menghubungi saya? (Beri jeda waktu untuk menjawabnya, di sini kita mencoba menangkap Stimulus apa yang mendasari impulsnya)

Apa yang anda rasakan ? (langsung ke Impuls nya. Perasaan adalah Impuls)

Dari mana datangnya perasaan itu, peristiwa atau kejadian apa pertama kali memunculkan perasaan  tersebut, siapa, kapan dimana bagaimana? (Hindari penggunaan kata Mengapa, kata itu mengarah pada analisa, yang lebih mengaktifkan ranah Pikiran. Mengusik leher ke atas. Proses konseling lebih pada menemani Klien untuk mengolah leher ke bawah, maksudnya Perasaan, yang selama ini ditekan dan dikalahkan oleh pikiran dan menyebabkan tindakan tidak efektif. Pengaktifan Perasaan ini bertujuan untuk menyelaraskan dengan Pikiran dan tindakannya. Menemukan Stimulus penyebab impuls yang terwujud dalam tindakan)

ok, itu adalah perasaan yang wajar, terima saja, selanjutanya apa tindakan yang telah anda lakukan ketika perasaan itu ada? (Nah, apabila Klien sudah dapat mengatakan perasaannya, dibawa lagi mengaktifkan Pikirannya dengan menganalisa fakta, dengan menggunakan kata Apa, serta diajak melihat tindakannya,ini masuk tahap Acting. Penyelarasan sedang berlangsung. Beri waktu jeda dan tunggu sampai penjelasannya tuntas.)

Bagaimana respon atau tanggapan orang orang terhadap tindakan anda itu? (Tahap Contact)

Apakah sesuai dengan yang anda harapkan? (Disini Klien akan menceritakan lagi tentang dirinya dan permasalahannya dengan kesadaran baru, Ini dapat menjadi sebuah stimulus baru. Jika waktu memungkinkan proses dapat diulang dengan membantu mengungkap perasaannya sekarang.

Apa yang anda rasakan sekarang ? (Ada kemungkinan ada airmata, klien menangis. Tanda ia sudah berani jujur pada diri sendiri. Beri jeda waktu, untuk dia merasakan selanjutnya dapat ditanya lagi)

Apa yang menjadikan anda menangis, dapatkan kau jelaskan ? (Terjadi pengulangan pertanyaan sebenarnya, namun terlihat perbedaan kedalaman yang diungkap)

Sekarang dengan pemahaman baru ini apa yang akan anda lakukan?

(Dapat juga ditanyakan lagi), Apa yang anda harapkan dari orang lain terhadap tindakanmu yang baru ini? (Intervensi dapat dilakukan dengan menawarkan alternatif tindakan berdasar judment profesional Konselor, dengan mempertimbangkan respon yang diharapkan dari orang lain itu)

Apakah bersedia bila saya memberikan beberapa saran tindakan yang “mungkin” mendapatkan respon yang anda harapkan? (Sengaja menggunakan kata “mungkin” untuk memberikan kesan lebih lembut, dan menggunakan kalimat tanya agar tetap memberikan pilihan pada Protagonis/klien)

Pemberian Intervensi akan mudah dilakukan apabila klien sudah berada pada tahap kesadaran baru ini, bahkan dalam beberapa kasus, intervensi tidak perlu diberikan ketika Klien sudah mampu mengungkapkan rencana tindakannya dengan baik. Konselor tinggal memberikan affirmasi, dan membesarkan hatinya, mendorong keberaniannya saja.

Boleh juga dilakukan pemaknaan baru bahwa permasalahan yang dihadapi ini adalah bekal untuk lebih kuat di kemudian hari. Bangun rasa syukur, dan juga terima kasih pada pihak pihak yang telah berkontribusi, atau paling tidak memaafkan orang orang yang dianggap klien salah. Dan yang utama diajak mampu memaafkan diri sendiri, karena apa pun yang terjadi -bagi Protagonis yang sadar perannya – ada memberi kontribusi juga.

Semoga bermanfaat

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.