Bagaimana Bicara di Depan Kamera ? Cara Mempersiapkan Diri untuk New Normal


Kemarin sore, Senin pukul 16.00 WIB, aku @Psikodrama_id dengan Bro Rasyid @rasyid.harry Ngobrol santai live di Instagram. Kami membicarakan pengalaman Bro Rasyid, yang pernah mebuat film indi, youtuber, sutradara teater, dan profesinya sekarang tukang resensi film.

Aku merasa perlu memiliki kemampuan bicara di depan kamera dengan baik. Pekerjaanku sebagai Praktisi Psikodrama, berbagi pengalaman dan melakukan terapi kelompok tidak dapat dilakukan secara offline. Pandemi Covid 19, mengharuskan menjaga jarak fisik dan pihak berwenang melarang unutk membuat kerumunan atau berkelompok, maka mengajar jarak jauh perlu aku lakukan. Aku melakukan eksplorasi tindakan baru, yaitu berlatih berbicara di depan kamera. Aku melakukan live di Instagram dengan mengajak sahabat yang sudah berpengalaman melakukannya.

Banyak orang sekarang melakukan interaksinya dengan menggunakan teknologi untuk menjaga jarak fisik. Kemampuan berbicara di depan kamera menjadi kemampuan yang perlu dikembangkan, selain untuk berinteraksi sosial sehari hari, juga untuk melakukan aktivitas produktif, bekerja, berdagang, melakukan bisnis, mengajar, dan masih banyak lainnya.

Aku menemui beberapa teman yang saat kuajak melakukan live di Instagram menolak karena merasa tidak mampu, malu, tidak tahu apa yang mesti dibicarakan dan berbagai alasan intinya tidak bersedia melakukan. Hal ini juga yang mendorong aku melakukan live Instagram dengan mengajak Bro Rasyid, agar banyak yang dapat belajar juga bagaimana berbicara di depan kamera.

Flyer yang dibikin bro Rasyid

Pada saat live Instagram, ternyata aku masih belum mahir dalam menggunakan perangkat teknologinya. Suara yang dihasilkan menggema, entah apa yang telah kusentuh lalu bagaimana memperbaikinya. Disarankan oleh kawan saat live itu agar aku memakai head-set dan mikropon. Aku meminjam headset pemilik kafe,..sip, masalah cukup teratasi. Eeee,…. sinyal wifi lambat, suara sering hilang serta sambungan terputus. lebih dua kali mengulang koneksi. Meskipun dengan kendala teknis tersebut kami tetap dapat menyimpulkan hal yang dapat dijadikan pelajaran dari pengalaman Bro Rasyid, agar makin mahir berbicara di depan kamera.

Seperti layaknya Psikodrama, dengan melakukan kita akan memiliki kemampuan, makin banyak jam terbang akan makin mahir melakukan.

Bagaimana melakukannya ?

Pertama, memiliki motivasi atau alasan yang kuat dengan memahami bahwa kemampuan berbicara di depan kamera akan dapat menjadi cara dalam mendapatkan rejeki. Peluangnya masih sangat luas dan masih banyak orang yang belum mengerti akan potensi ini. Aku baru mengetahui hanya untuk mengajar, dan berbagi pengalaman, semoga makin ke depan makin banyak manfaat yang aku ketahui dan dapatkan.

Kedua, mulai dengan melakukan secara informal dengan kawan dekat atau sahabat, awalnya niatkan untuk bercanda dan silaturahmi. Dalam setting seperti ini jadilah diri sendiri, amati bagaimana mereka berbicara, dan amati juga bagaimana diri kita sendiri saat beraksi. Wajah, sudut kamera, gerakan mata, giliran berbicara, pakaian, gerakan tambahan (minum, makan cemilan), situasi latar belakang (indoor, our door), dapat menjadi bahan Amati, Tiru, dan modifikasi disesuaikan dengan kebutuhan nanti. 3 sampai 4 kali mengikuti acara online tersebut serta berusaha aktif terlibat ikut berbicara, cukuplah menjadi modal untuk yakin bahwa setelah berbicara di depan kamera tetap baik baik saja. Rasa aman telah ada, kepercayaan diri telah tumbuh, siap melakukan dalam situasi yang lebih formal.

Ketiga, Situasi formal seperti presentasi di depan manager atau direksi, memimpin rapat kerja, mengajar online, menjadi narasumber seminar online, perlu beberapa persiapan. Pastikan menguasi materi yang akan disampaikan, atau juga daftar pertanyaan. Membaca buku, mengikuti perkembangan informasi dari sumber sumber terpercaya adalah kewajiban. Jika masih belum yakin dapat melakukan latihan, simulasi dengan berbicara di depan cermin, atau bicara langsung di rekam dengan kamera untuk dapat dievaluasi, sebelum acara yang sebenarnya.

Keempat, Pada saat pelaksanaan, tetaplah menjadi diri sendiri. Kenakan pakaian yang bersih dan formal, seperti bekerja ke kantor (kalau yang tidak pernah kerja di kantor ya,..seperti berangkat kondangan). Periksa dengan menghidupkan kamera secara offline dulu untuk periksa latar belakng yang terlihat di kamera, baik yang melekat pada wajah, baju, apakah sudah seperti yang diharapkan (seperti bercermin), atau yang ada di belakang kursi, lokasi sekitar yang tampak di kamera, adakah benda benda yang dapat mengganggu, atau posisi posisi benda dengan bentuk yang malah menarik perhatian. Lakukan hal tersebut minimal 15 menit sebelum acara agar ada waktu jika diperlukan penyesuaian. Apabila memiliki cukup dana perlu juga menggunakan perlengkapan teknologi yang baik agar lebih mendukung kelancaran prosesnya.

Catatan tambahan, yang sempat aku tanyakan saat live itu, bagaimana yang merasa bahwa wajahnya tidak “menjual”? Tanggapan Bro Rasyid, mengenai hal itu bukanlah hal yang prinsip, orang akan fokus pada materi apa yang dibicarakan, yang penting wajah menampakkan kesungguhan dalam menyampaikan materi yang dibicarakan. Pahami bahwa hal ini bukan sedang berakting untuk film atau sedang mengiklankan produk kecantikan atau ketampanan. Ada pengalaman dari Bro Rasyid, dengan sering di depan kamera, ia mengetahui bahwa ada sudut tertentu dari wajah tiap orang yang akan terlihat lebih menarik, silakan itu ditemukan, lalu jadikan kebiasaan pengambilan sudut kamera dari sudut itu.

Nah, dari ngobrol santai bersama sahabat ini, aku menemukan kesamaan dengan aktor yang pentas monolog. Aktor perlu memahami situasinya, menghafal skenarionya, berlatih, dan pada saat pentas mengenakan kostum yang sesuai, memperhatikan setting tempatnya, make up, dan juga tata cahaya, agar telihat jelas. Ada ungkapan dalam proses berteater bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses (persiapan dan latihan).

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Yogyakarta, 9 Juni 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Bagaimana Bicara di Depan Kamera ? Cara Mempersiapkan Diri untuk New Normal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.