Aku, Peranku, Ruang Peranku, dan Berkontribusi, Sebuah Refleksi


Waktu masih bayi, ruang gerakku sebatas tempat tidur, dan selalu menempel pada orang tua yang mengendongku apabila diluar tempat tidur.

Waktu usiaku Balita, masih di bawah lima tahun, Ruang gerakku sebatas rumah, paling juga sesekali  ke rumah tetangga itu pun ditemani orang tua. Peranku lebih banyak sebagai buah hati yang menghibur atau juga merepotkan orang tuaku. Menghibur mereka dengan perkembangan kemampuanku bicara, berlari, melompat menari atau menyanyi. Banyak merepotkan pastinya, mereka mencucikan bajuku, menyiapkan makanku, bahkan juga menggendongku.

Mulai masuk sekolah Taman Kanak-kanak, ruang gerakku lebih luas, menjadi sekampung. Aku bertemu dengan anak anak lain, aku belajar berperan sebagai teman bermain. Teman berbagi makanan bekal dari rumah.

Sekolah Dasar ada di desaku. Aku berangkat sekolah melewati pematang sawah bersama teman teman. Aku mulai mengenal teman baru yang dari lain desa. Ruang bermainku meliputi area desa. Aku mengenal tiap sudut desaku. Menangkap belut di sawah sehabis dibajak sebelum ditanami. Memancing ikan di sungai, mencari kayu bakar dan berburu burung dengan ketapel di hutan lereng gunung. Sesekali aku juga bermain di desa lain, ke rumah teman.

SMP itu tidak jauh dari SD. Aku berangkat sekolah berjalan kaki dari rumah. Sama seperti teman lain aku juga mulai belajar naik motor. Ruang bermainku makin luas. Aku mulai mengenal beberapa desa, dalam satu kecamatan, dan beberapa desa lain kecamatan, Meski pemahamanku tidak sedetail seperti pemahamanku pada tiap sudut desaku.

Aku mulai memiliki sahabat dekat, dan sering menghabiskan waktu bersama, belajar bersama. Aku juga sudah tersentuh oleh getar-getar asmara, namun tidak sempat mengatakannya. Pengakuan bahwa aku bisa mandiri menjadi perjuanganku. Mulai aku melakukan tindakan-tindakan yang jika diketehui oleh orang dewasa akan dilarang. Beberapa perilaku yang berisiko aku lakukan untuk dapat pengakuan itu. Pada waktu usia itu, tentunya aku tidak dapat menjelaskan situasinya dengan seperti ini.

Ada kejadian waktu aku SMP disuruh oleh guru PMP untuk memotong rambutku yang panjang. Aku tidak dapat membantah, namun dalam hatiku mempertanyakan hubungan rambut panjang  (gondrong) dengan Pendidikan Moral Pancasila. Hal ini membuat aku bertekad untuk bersekolah yang membolehkan laki-laki berambut panjang. SMA itu ada di Ibukota Propinsi, dan merupakan SMA unggulan, untuk dapat diterima mensyaratkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) dengan rata rata di atas 7,5. Aku diterima, dengan perjuangan belajar dini hari pada saat menjelang ebtanas sehingga mendapatkan NEM cukup memenuhi syarat itu. Seingatku inilah pertama kali aku memiliki impian dan memperjuangkannya hingga berhasil.

Kebanggaanku bukan karena Prestasi akademik. SMA aku tidak begitu fokus pada pelajaran sekolah. Aku lebih suka berteman. Temanku sekarang sudah dari berbagai kota. Aku juga berkunjung ke rumah mereka. Area bermainku semakin luas. Ruang gerakku sudah satu Propinsi. Aku juga sudah mengunjungi Propinsi lain. Aku mendaki sampai ke puncak beberapa gunung. Ketika kelas 2 Aku dengan teman hampir seluruh kelas 2 pergi wisata ke Bali, seingatku ada 12 kelas. Bali pada waktu itu merupakan lokasi wisata di Indonesia yang paling terkenal di dunia. Aku bertemu dengan orang asing dari negara manca. Peran yang aku lakukan, bereksplorasi mengenal negeri dan menjalin persahabatan dengan kawan kawan dari luar kota.

Saat kelas tiga aku memutuskan untuk tidak tinggal di rumah alias ngekost. Aku mulai belajar mengatur hidupku sendiri, selain finansial. Aku masih diberi orang tua uang bulanan, namun aku sudah mampu mengatur pengeluarannya. Pada saat ini aku juga mulai memiliki tujuan baru, yaitu ingin kuliah di Yogyakarta, di Universitas Gadjah Mada. Alasannya karena murah, dan aku akan bertemu dengan orang orang dari berbagai daerah.

Kuliah, aku berada di luar Propinsiku, Ruang gerakku mencangku area negara, Peranku sebagai mahasiswa dan warga negara. Ada beberapa kontribusi sosial relawan remaja dan mengikuti demontrasi menentang pemerintah negar waktu itu.

Secara Psikologis aku sudah mandiri, sementara secara finansial sudah ada sedikit pendapatan dari kerja sosial yang cukup sebagai ganti biaya transportasi.

Selama kuliah, aku menjadi apa yang aku ingini, Rambut panjang, tatto di lengan kanan, anting di telinga kiri, mendaki puncak gunung, mengarungi jeram di sungai, menyusuri pantai, menelusuri gua, bermain teater, menjadi aktor, menjadi sutradara, ikut aktivitas sosial, demo di jalan, mengikuti diskusi sosial dan politik, menjadi relawan team SAR, punya group band amatir.

Ya,…
Aku merasa telah menjadi wakil dari generasiku. Generasi Metal, musik keras, cadas, menolak kemapanan. Aku generasi pemberontak, yang cukup beruntung menang melawan sistem waktu itu.

Aku puas menjalani gejolak masa mudaku, saatnya mulai menjalani hidup sebagai manusia dewasa. Aku lulus dan bekerja di luar pulau, meski awalnya ada keberatan dari orang tua melepas aku, namun aku tetap pada keputusanku untuk ke Kalimantan.

Saat wawancara kerja aku ditanya mengapa bersedia ke Kalimantan, jawabanku mantab, karena aku belum pernah ke sana. Makin luaslah ruang jelajah area bermainku.

Oh, ya, aku pernah membayangkan saat SMP untuk dapat bermain salju di Eropa, seperti yang ada di film-film yang aku tonton di TVRI. Pada saat hari cuti aku sempatkan ke luar negeri menginjakkan kaki di Singapura dan Malaysia, sekedar mendapatkan cap di pasportku, yang katanya akan relatif lebih mudah saat melengkapi persyaratan ke Eropa.

Akhirnya setelah lebih dari 20 tahun, baru bisa kuwujudkan pergi ke Italia, untuk belajar Psikodrama, dan ke Korea untuk bermain saljunya. Itu pun terjadi di tahun yang berbeda. Dapatlah dikatakan ruang bermainku sudah antar benua, meski hanya sebentar saja.

Penjelajahan dunia luar aku merasa cukup, aku kemudian merasa perlu menjelajahi dunia dalam (diri), Spiritual. Aku undur diri dari pekerjaanku di Perusahaan Tambang, untuk mengikuti Latihan Rohani, retret 30 hari. Aku merefleksikan seluruh perjalanan hidupku. Aku menelusuri ruang ruang gelap batinku dengan ditemani pembimbing rohani di Girisonta. Dosa dosaku, ketakutanku, kerapuhanku dan rahmat berlimpahku menyatu dalam sujudku. Aku bersyukur atas semua yang telah terjadi padaku. Aku sadari bahwa semua itu adalah karena belas kasihNya semata.

Dari situ muncul kesadaran baru karena aku telah dikasihi, maka aku juga perlu belajar mengasihi, karena aku merasa telah dibantu mewujudkan cita dan inginku, maka aku juga perlu membantu orang lain untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Aku telah dimampukan meruang begitu luas dan begitu dalam maka peranku sekarang  membantu orang lain untuk dapat lebih mampu meruang, memperluas ruangnya, memperdalam makna hidupnya dan memperbesar peran dan tanggung jawabnya

Revolusi Industri 4.0, menawarkan ruang baru, dunia maya. Dunia tanpa batas yang difasilitasi teknologi. Awalnya aku sedikit ragu untuk belajar menguasainya, namun makin lama teknologi memberi kemudahan untuk penggunanya, maka aku pun mulai berani memanfaatkannya, Apalagi dengan adanya Pandemi Covid 19, mau tidak mau harus beradaptasi dengan digitalisasi. Jaga jarak fisik, aktifitas kerja harus dilakukan di rumah saja. dengan internet aku malah dapat meruang tanpa batas.

Lalu apa kontribusi yang dapat aku berikan di saat ini ?

Workshop Psikodrama tidak dapat dilakukan secara offline, kerena ada protokol kesehatan yang belum dapat dipenuhi untuk mencegah penularan pandemi. Maka agar tetap berkontribusi, beberapa hari ini, aku menyusun bahan presentasi untuk berbagi di seminar online yang jadi trend selama karantina mandiri.

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Aku, Peranku, Ruang Peranku, dan Berkontribusi, Sebuah Refleksi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.