Pelepasan Peran dalam Praktek Psikodrama dan Aplikasinya di Bisnis Akting


Pelepasan Peran, terjemahan bebas dari teknik De-Roling digunakan sesaat sebelum tahap action, dalam praktek psikodrama, usai. (silahkan baca: Tahap Psikodrama) Proses penutupan ini termasuk pemeriksaan apakah protagonis atau pembantu protagonis perlu dilepaskan dari peran apa pun yang telah dimainkan.

De-roling dapat mencakup berbagi persepsi yang diperoleh dari peran dan mengekspresikan emosi yang tersisa dari memainkan peran selama tahap Action. Itu mungkin termasuk penghinaan secara fisik: “melepas kostum peran; membersihkan energi negatif yang masih menguasai.”

Emosi mentah atau tidak terselesaikan yang digunakan untuk bertindak juga dapat menyebabkan kurang tidur dan efek fisik dan kognitif lainnya dari hal itu. Perasaan takut, cemas, kurang tidur, dan malu dikaitkan dengan kelelahan emosional yang disebabkan oleh pengungkapan akting selama Tahap Action.

Dalam terapi individu juga merupakan saat untuk meninjau hubungan klien/terapis, di sini dan sekarang: sangat penting bahwa terapis memberikan banyak waktu untuk membahas masalah ini dan memungkinkan emosi klien untuk kembali ke tingkat yang dapat ditoleransi. (Casson, 1997). Terapis memastikan klien pulang sudah dalam keadaan emosi yang stabil.

Tujuan de-roling berkaitan dengan: (1) transisi dari satu keadaan menjadi orang lain, (2) berbagi dan merenungkan berlakunya karakter, (3) melepaskan karakter atau sensasi yang dirasakan secara negatif, (4) menetapkan batas untuk menciptakan jarak, dan (5) mengintegrasikan untuk belajar dan untuk menggabungkan kualitas karakter.

Contoh dari teknik de-roling termasuk mengguncang anggota tubuh dan tubuh untuk benar-benar menghilangkan karakter, atau secara ritual melangkah keluar dari pertunjukan dengan menyerahkan kembali prop karakter tertentu atau kostum-kostum kepada Sutradara.

Banyak variasi teknik de-roling telah dikembangkan oleh
terapis drama untuk digunakan dengan klien. Ini dapat dengan mudah diajarkan kepada para aktor untuk mempromosikannya profesionalisme dan kesehatan mental sendiri. Teknik-teknik ini harus diintegrasikan ke dalam semua pelatihan aktor, baik aktor teater maupun aktor film.

Di indonesia Pelepasan Peran ini  dilakukan setelah pertunjukkan teater selesai(dulu aku sering melakukan), Pembongkaran istilah yang sering dipakai dalam  teater, namun sekarang jarang dilakukan lagi. Kalau di dunia perfilman Indonesia masih juga jarang aktor yang melakukan, padahal ini penting.

Beberapa kasus pada aktor Hollywood membutuhkan terapis psikologi untuk mengembalikan dirinya menjalani kehidupan secara normal. Bahkan ada yang tidak dapat tertolong hingga melakukan tindakan bunuh diri. Penting untuk menjaga kewarasan aktor film yang  menjiwai peran karakter tokoh yang mempengaruhi kehidupan wajarnya. (beberapa berita tentang kondisi pasca menjadi karakter di film : Demi Totalitas …., atau Sindrom Joker… )

Ada hubungan yang kuat antara akting dan reaksi psikologis. Akan menjadi bahaya ketika emosi tersebut tidak dikontrol akibat gangguan perilaku secara mendadak dan perubahan perilaku (karakter). Terkadang untuk memainkan sebuah peran, para aktor merubah tingkah lakunya dan mendorong mereka untuk menjadi seseorang yang asing bagi sifat pribadi mereka sendiri. Kesulitan untuk kembali ke tingkah lakunya sendiri menjadi perhatian besar bagi dunia akting sampai saat ini

Ada Efek psikologis yang terjadi pada orang orang yang melakukan kerja sebagai aktor/aktris dengan menjadi karakter yang bukan dirinya. Aktor dalam berlatih menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk belajar bagaimana menjadi  karakter sesuai tuntutan peran, tetapi hampir tidak ada yang belajar bagaimana menghapus peran atau melepas peran dan kembali ke diri mereka sendiri ketika kinerja mereka selesai.

“Terjebak” dalam suatu peran berarti aktor tidak mampu untuk melepaskan serangkaian perilaku karakter dan kembali ke kebiasaannya sendiri. Jika terjebak dalam emosi negatif, seperti kemarahan, ketidakpercayaan, frustrasi, dapat dibawa pulang oleh para aktor. Hal ini menjadikan emosi dan ciri-ciri kepribadian karakter,  kesehatan mental dan fisik mereka berisiko. Ketegangan karakter, eksentrisitas, dan penyesuaian yang salah dapat menyusup ke kehidupan pribadi aktor.

Terbuka untuk Bahan Penelitian Psikologi

Terbuka eksplorasi di masa depan untuk  bahan penelitian mahasiswa Psikologi yang suka akting dan film, meneliti dampak Psikologis dari Akting. Penelitian fenomena de-roling dalam literatur terapi drama dan pertanyaan tentang tujuan dan aplikasinya.

Profesi lain yang menggunakan metode de-roling, yaitu teater, pendidikan, kesehatan mental, penyalahgunaan obat-obatan  dan panti panti rehabilitasi, (masuk masa pensiun, mantan koruptor, kandidat yang kalah pemilu) dieksplorasi untuk ditemukan variasinya. Eksplorasi dari lima tujuan yang diuraikan diatas dapat memberikan beragam cara yang baru untuk melihat de-roling sebagai salah satu cara terapi. (tambahan bacaan: Mengapa Terjadi Perubahan Kesadaran… )

Yogyakarta, 29 Juli 2020

Retmono Adi

*dari berbagai sumber

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.