Resolusi Konflik dengan Metode Psikodrama


Aku dapatkan dari Google,  Teori konflik melihat kehidupan sosial sebagai sebuah kompetisi, dan berfokus pada distribusi sumber daya, kekuasaan, dan ketidaksetaraan. Tidak seperti teori fungsionalis, teori konflik lebih baik dalam menjelaskan perubahan sosial, dan lebih lemah dalam menjelaskan stabilitas sosial.

Masih selaras dengan hal itu, aku memakai pemahamanku yang lebih banyak berperspektif Psikologi. Aku memilih dari Teori Peran, agar dapat diperankan, didramakan. Konflik adalah ketidak-selarasan, berbeda tujuan, berbeda arah, mungkin juga berbeda cara atau berbeda gaya. Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan.

Tentang Resolusi Konflik aku ambil (copy paste) dari makalah : Resolusi Konflik dalam Perspektif Kepribadian, oleh Zainul Anwar, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang untuk S E M I N A R  A S E A N 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY © Psychology Forum UMM, 19 – 20 Februari 2016.

Resolusi konflik merupakan suatu cara yang digunakan sebagai respon atau serangkaian perilaku yang dilakukan oleh seseorang dalam menyelesaikan konflik (Hocker & Wilmott, 2001). Weitzman & Weitzman (2000) mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan yang dilakukan secara bersama-sama dalam memecahkan masalah (solve a problem together). Menurut Blake & Mouton (1964) ada lima cara yang dapat ditempuh individu dalam menyelesaikan konflik,
diantaranya adalah:

a. Akomodatif/ berdamai
Yaitu suatu pihak memuaskan kepentingan pihak yang lain tanpa memuaskan kepentingannya sendiri.

b. Berbagi/ berkompromi
Perilaku ini merupakan intermediasi antara mendominasi dan mendamaikan, perilaku ini adalah pilihan yang moderat tetapi tidak memberikan kepuasan sepenuhnya bagi kedua belah pihak. Dalam hal ini suatu pihak memberikan sesuatu secara sebagian kepada pihak lainnya dan menyimpan sebagian lainnya.

c. Kolaborasi/ integrasi
Perilaku ini berusaha memuaskan kepentingan kedua belah pihak secara penuh, yaitu untuk mengintegrasikan kepentingan mereka.

d. Menghindari/ membiarkan
Perilaku ini merefleksikan ketidakpedulian terhadap kepentingan pihak manapun.

e. Kompetitif/ mendominasi
Yaitu keinginan suatu pihak memuaskan kepentingan sendiri atas kerugian pihak lainnya dengan kata lain mendominasi.

Dari pendapat beberapa ahli dapat diartikan bahwa resolusi konflik merupakan cara penyelesaian masalah yang dilakukan individu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya melalui
lima cara, yaitu akomodatif, berbagi, kolaborasi, menghindar, dan kompetitif.

Bagaimamana hal itu dilakukan dengan Psikodrama ?

Yuks, kita ikuti tahapannya dalam menerapkan Psikodrama. (silahkan membaca  Tahapan Utama Psikodrama… )

Warming Up (Pemanasan) dalam tahap pemanasan ini kita siapkan Pikiran (pemahaman), Perasaan, dan Fisik (tindakan, atau gerak, otot-otot,) yang nanti akan dibutuhkan di tahap berikutnya.

  • Pikiran peserta diberikan pemahaman tentang konflik. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik bercerita (story telling) atau ceramah, demikian isinya :

Pada jaman dahulu, diperadaban purba konflik dilakukan secara fisik. Mereka berkonflik untuk memperebutkan sumber daya makanan. ( kita ambil dari teori konflik) Loh, kok masih seperti sekarang ya, berebut sumberdaya alam, berebut kekuasaan, dengan mengadu kekuatan.

Tahap berikutnya melakukan adegan-adegan bagaimana konflik itu dihadapi. Tubuh (Fisik) dan Perasaan peserta diberikan stimulus dengan melakukan sesuatu dan merasakannya. Seluruh peserta dilibatkan melakukan Tindakan  dalam menghadapi konflik dengan 3 bentuk yaitu.

  1. Konflik dilakukan dalam diam, dengan tidak melakukan interaksi, dianggap tidak ada konflik. Prakteknya dalam Psikodrama dengan memberikan garis batas di lantai, dan orang melakukan aktivitas bebas tidak melewati garis tersebut dan tidak melakukan interaksi.
  2. Konflik dengan konfrontasi fisik, dalam kejadian nyata dapat berupa perang, perkelahian fisik. Prakteknya dalam psikodrama dapat dilakukan dengan dua orang saling mendorong, dan atau saling menarik secara fisik, agar dapat lebih menarik dapat dilakukan adegan saling memukul dan atau menendang dengan gerakan lambat dan saling merespon secara spontan.
  3. Konflik dilakukan secara verbal dengan berkata-kata, dalam kehidupan nyata berupa debat, diplomasi, twitwar, saling membuat pernyataan secara verbal di media massa. Prakteknya dalam Psikodrama dilakukan dengan duduk berhadapan dan saling berkata-kata, saling menghina, mengumpat, adu argumen, dilakukan secara spontan saja. Makin “tidak nyambung” makin menarik. Ada prinsip dalam Psikodrama “Boleh Salah”  makin banyak melakukan kesalahan, berarti makin banyak pelajaran didapatkan

Action, selanjutnya memasukkan tahap Action, peserta diajak bermain peran. Teknik mengambil peran adalah cara yang ampuh untuk mengembangkan kemampuan untuk memahami, dan teknik terkait “Pembalikan Peran” juga sangat penting bagi resolusi konflik. Moreno mengungkapkan bahwa karena Pembalikan Peran adalah metode Operasional untuk membangun Kapasitas Imajinasi dan Empati, karena itu ia merasa bahwa kegiatan empathically memperluas diri sendiri adalah sebuah kewajiban etis.

Sebelumnya perlu dijelaskan bahwa konflik adalah keniscayaan, selalu akan terjadi, jadi setiap orang perlu memiliki kemampuan dalam menghadapinya. Kemampuan menghadapi konflik secara verbal menunjukkan kualitas kemanusiaan, dan hal ini juga menjadi indikator peradaban suatu bangsa, atau masyarakat. Perbendaharaan kata, literasi, menjadi modal utama, maka orang yang banyak membaca dan banyak pengalaman bertemu dengan berbagai orang dalam berbagai situasi memiliki potensi lebih besar dalam menyelesaikan konflik.

Praktek dalam Psikodrama dilakukan dengan cara mengulang adegan, tahap Warming Up dilengkapi dengan kondisi nyata lingkungan peserta. Dalam hal ini diambil lingkungan kerja, Pabrik pakaian jadi.

Peserta dibagi menjadi dua kelompok  untuk berada di dua tempat yang telah dibatasi garis tadi. Kelompok pertama adalah kelompok bagian marketing pemasaran dan kelompok lainnya kelompok bagian produksi.

Setiap kelompok melakukan aktivitas (berperan) seperti apa yang terjadi setiap harinya. Setelah beberapa saat diinstruksikan mulai saling berkonflik, baik secara verbal hingga secara fisik, ciptakan suasana jadi kacau. Instruksikan mematung semua peserta dalam keadaan kacau tersebut (boleh ditata pose-posenya agar menarik, lucu atau dramatis). pose ini dapat di video untuk dijadikan Mannequin challange, atau pun di foto untuk dokumentasi dan menggembirakan peserta.

Peserta diminta merefleksikan situasinya minta beberapa orang untuk bersedia sharing mengungkapkan perasaannya, dan hal hal baru yang didapatkan dari pengalaman bermain tersebut, dihubungkan dengan permasalahan nyata ditempat kerja.

Saatnya untuk memberikan cara resolusi konflik. Salah satu kelompok di minta untuk  melakukan drama spontan aktivitas sehari hari di tempat kerja dan ditonton oleh kelompok yang lain. Setelah drama selesai ada perwakilan kelompok menjelaskan dramanya dan boleh ditambahkan keluhan keluhan (hambatan dan tantangan) yang sering terjadi di tempat kerjanya.

Instruksikan juga bagi kelompok lainnya untuk melakukan hal yang sama, mempertunjukkan drama spontan kegiatan setiap harinya saat bekerja, ditonton oleh kelompok lain, dan menjelaskan setelah selesai dramanya.

Catatan. Drama dapat dilakukan dengan tanpa kata, berupa Diorama, patung patung yang tersusun menjadi peristiwa yang ada rasa di sana. Teknik Sculpture dalam Psikodrama.

Minta kesediaan salah satu atau dua, wakil kelompok untuk menjadi “Konsultan” dari sutradara kelompok lain yang akan meniru adegan dalam drama yang dipertunjukkan lagi. lakukan pertukaran peran, kelompok Produksi memainkan drama kelompok Pemasaran dan sebaliknya. Sebelumnya diberi waktu untuk latihan (melakukan Role Rehearsal)  yang dibantu oleh konsultan dari masing masing kelompok.

Tahap Integrasi, seluruh peserta diminta duduk melingkar agar dapat saling melihat. berikan kesempatan kepada beberapa orang dari masing masing kelompok untuk mengungkapkan perasaannya selama proses bermain pada bagiannya dan bermain pada bukan bagiannya. Pelajaran baru apakah yang telah didapatkan. Rencana ke depan penerapan  di tempat kerja dari pelajaran baru ini.

Lingkaran penutup dapat dilakukan dengan saling bersalaman mengucapkan terima kasih dan atau saling meminta maaf. dapat juga diberikan kesempatan untuk mengungkapkan komitmen saling bersinergi dalam bekerja nantinya.

Demikian semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 31 Juli 2020

Retmono Adi

*dari berbagai sumber online

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.