Membantu Survivor dari Gaslighting, Terinspirasi Lagu Lathi Weird Genius feat Sara Fajira


Terinspirasi oleh lagu  Weird Genius – Lathi (ft. Sara Fajira)  Aku ingin berbagi hasil mengikuti webinar tahun lalu,  5 Oktober 2019, yang diselenggarakan oleh WPO Professional Development Institute, tentang Helping Survivor of Gaslighting oleh Ana Barros. Aku terjemahkan secara bebas dari bahan presentasinya.

GAMBARAN UMUM

  1. Ikhtisar tentang apa itu Gaslighting dan bagaimana hal itu dapat terjadi dalam berbagai konteks.
  2. Mengidentifikasi ciri-ciri orang melakukan Gaslighting.
  3. Memahami efek Gaslighting pada korban.
  4. Mengembangkan Strategi dan intervensi untuk digunakan dalam kerangka kerja EAP (Employee Assistance Program) jangka pendek untuk mendukung para korban membangun kembali kepercayaan diri mereka.

APA ITU GASLIGHTING?

Gaslighting adalah bentuk pelecehan emosional dan psikologis yang sangat efektif yang menyebabkan korban mempertanyakan perasaan, insting, dan kewarasannya sendiri, yang memberikan banyak kekuatan kepada pelaku penindasan (kekerasan).

Setelah seorang pelaku meruntuhkan kemampuan korban untuk mempercayai persepsi mereka sendiri, korban lebih cenderung untuk tetap berada dalam hubungan yang menindas.

Istilah gaslighting berasal dari drama Inggris 1938 “Gaslight” (kemudian dibuat menjadi film), di mana seorang pria mencoba meyakinkan istrinya bahwa istrinya gila.

Dia melakukan ini dengan mengubah lingkungannya (meredup-terangkan cahaya lampu gas) dan kemudian mengatakan pada istrinya bahwa istrinya sedang membayangkan hal-hal yang tidak ada.

SIAPAKAH GASLIGHTER?

Gaslighting tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis — itu juga dapat terjadi di tempat kerja atau di antara anggota keluarga. Bagaimana mengenali orang yang melakukan Gaslighting ?

Berikut diantaranya :

  • Orang yang merasa dirinya paling benar, paling tahu, berperilaku layaknya orang paling pintar, terpelajar.
  • Orang yang memiliki gangguan kepribadian
  • Orang yang  sedang mengontrol kepribadian, melakukan pencitraan
  • Orang yang merasa dirinya tidak aman.

Berdasar pada motivasi kesadaran pelakunya, ada 2 jenis Gaslighting yaitu : Gaslighting Sadar, Pelaku secara sadar memanipulasi korban mereka untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas mereka. Gaslighting Bawah Sadar, Ini adalah strategi bawah sadar yang didorong oleh motif-motif yang mendasarinya dan biasanya terkait dengan rasa tidak aman para gaslighter itu sendiri.

BAGAIMANA GASLIGHTING DAPAT DIKENALI ?

Beberapa Teknik Gaslighting yang sering dilakukan :
Withholding ( Penahanan)
Countering (Melawan)
Blocking / Diverting ( Pemblokiran / Pengalihan )
Trivializing  (Menyepelekan)
Forgetting/Denial (Lupa / Menyangkal)
Repetitive Questioning (Pertanyaan Berulang-ulang)
Revealing Hidden Thoughts of Others ( Mengungkap Pikiran Tersembunyi Orang Lain)

Contoh-contoh Gaslighting :

Withholding – pelaku  pura-pura tidak mengerti atau menolak untuk mendengarkan

  • “kenapa kamu terus mengatakan hal seperti ini ?!”
  • “Aku tidak ingin mendengar ini lagi”
  • “Kamu mengada-ada!”

Countering – pelaku mempertanyakan ingatan korban tentang peristiwa, bahkan ketika korban mengingatnya dengan akurat

  • “hah? bukan itu yang terjadi! “
  • “ingatanmu sangat buruk!”
  • “itu tidak terjadi seperti itu!”
  • “Kamu salah, kamu tidak pernah mengingat semuanya dengan benar.”

Blocking / Diverting – pelaku mengubah subjek dan / atau mempertanyakan pemikiran korban

  • “Apakah itu ide gila lain yang kamu dapatkan dari [teman / anggota keluarga]?”
  • “Kamu sedang berkhayal.”

Trivializing – pelaku membuat kebutuhan atau perasaan korban tampak tidak penting.

  • “Kamu marah karena hal kecil seperti itu?”
  • “Kamu terlalu sensitif.”
  • “kamu sangat cemburu”

Forgetting/Denial : pelaku berpura-pura lupa apa yang sebenarnya terjadi atau menyangkal hal-hal seperti janji yang dibuat untuk korban

  • “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,”
  • “Kamu hanya mengada-ada.”

Repetitive Questioning: pelaku membuat korban meragukan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Kuncinya di sini adalah niat jahat, dan sifat berulang dari pertanyaan

  • “Kamu yakin?”
  • “apa kau benar-benar berpikir begitu?”

Revealing Hidden Thoughts of Others: di mana pelaku akan “mengungkapkan” apa yang dipikirkan orang lain “sebenarnya” tentang korban. Ini efektif dalam membuat korban meragukan diri mereka sendiri dan perasaan mendasar mereka tentang apa realitas itu

  • “Aku tahu kamu benar-benar ingin membuat orang tertawa, tetapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa banyak orang merasa harus mendengarkanmu dan aku dapat melihat mereka mencibir saat di belakangmu…”
  • “orang telah mengatakan ~ (masukkan kebohongan menyakitkan) “

DAMPAK

  • Harga diri korban menjadi rendah
  • Korban akan meragukan dirinya sendiri
  • Korban menjadi lebih tergantung
  • Korban akan terisolasi dari lingkungannya
  • Korban akan Depresi bahkan dapat melakukan percobaan bunuh diri
  • Kecemasan korban meningkat

TANDA-TANDA

  • Korban mulai ragu akan pemikiran dan perasaannya.
  • Korban menanyakan pada dirinya sendiri “Apakah aku terlalu sensitif?”
  • Korban sering meminta maaf.
  • Kurangnya kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidup korban (melankolis).
  • Korban menjadi memilih menahan informasi dari orang lain.
  • Korban mengetahui ada sesuatu yang sangat salah, tetapi tidak dapat menemukan apanya.
  • Korban kesulitan dalam membuat keputusan sederhana.
  • Korban memiliki perasaan bahwa mereka dulunya adalah orang yang sangat berbeda – lebih percaya diri, menyenangkan, dan santai.
  • Korban merasa putus asa dan tidak bahagia.

CARA MENDUKUNG KORBAN

Korban perlu mendapatkan pengetahuan Psikologi yang memadai, agar menyadari apa yang terjadi sehingga dapat menvalidasi perasaan dan pikirannya. Korban juga perlu dibantu mengatur strategi agar lepas dari kondisinya. Intinya dukungan diberikan untuk memberdayakan korban.

Pemahaman tentang Psikologi  yang perlu diberikan kepada korban :

  • Apa itu pelecehan emosional
  • Apa itu gaslighting
  • Bagaimana hal itu dapat terjadi
  • Mengapa ini bertahan lama
  • Pengetahuan tentang Segitiga Drama dari Karpman
  • Memahami siklus penyalahgunaan karakter
  • dan menyadarkan bahwa yang terjadi karena korban berperilaku bukan sebagai dirinya sendiri.

Korban perlu dilatih untuk membangun kembali rasa percaya dirinya :

Pertama korban diajak untuk melakukan Analisis SWOT

Strength / Kekuatan, Korban dibantu menemukan sesuatu yang hebat dari dirinya ?

Weakness, Korban dibantu menemukan sesuatu dari dirinya yang perlu ditingkatkan? korban dibantu menyusun hal yang dapat dikerjakan untuk merubah situasinya?

Opportunities/ Kesempatan atau Peluang, Korban dibantu menemukan sesuatu atau seseorang yang dapat membantunya.

Threats/ Hambatan,  Korban dibantu menemukan sesuatu yang menghalangi dan diberikan strategi mengatasinya.

Memberdayakan Korban lepas dari Segitiga Karpman (Siklus penyalahgunaan Karakter:

Apa itu Segitiga Drama? The Drama Triangle, pertama kali dijelaskan oleh Stephen Karpman, menggambarkan tiga pola pikir yang merusak atau tidak membantu – The Victim, The Persecutor, dan The Rescuer. Jika dan ketika korban menemukan dirinya berperan dari salah satu dari tiga pola pikir yang tidak membantu itu, korban mungkin  terjebak dalam Segitiga Drama ini dan korban mengalami emosi negatif yang menyertai kehidupannya. Kondisi ini berupa siklus penyalahgunakan karakter, yang perlu segera diputuskan dengan melatih peran alternatif baru agar tercipta siklus baru yang menumbuhkan ke arah lebih baik, yaitu dengan The Power of TED.

The Power of TED, pertama kali diterbitkan pada tahun 2009, The Power of TED * (* The Empowerment Dynamic) adalah cerita pengajaran yang menawarkan, pengenalan yang akrab /friendly untuk serangkaian peran alternatif baru yang kuat yang memiliki implikasi luas untuk memenuhi pengalaman hidup dengan lebih efektif dan dengan pemenuhan yang jauh lebih besar. Empowerment Dynamic (TED) menunjukkan jalan untuk melangkah ke peran yang baru yang menawarkan kehidupan dengan tujuan, kekuatan, dan kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain. TED adalah
berakar pada Orientasi Pencipta untuk berkarya dan kehidupan. Model baru ini menjelaskan peran berikut sebagai “penangkal” untuk Segitiga Drama Karpman. bahwa “Korban” (Victim) mengadopsi peran alternatif sebagai Pencipta (Creator) , memandang Penindas (Persecutor) sebagai Petualang (Challenger), dan meminta pelatih (Coach) alih-alih penyelamat (Rescuer)

  • Korban ~> Pencipta – korban didorong untuk berorientasi pada hasil sebagai lawan dari masalah dan bertanggung jawab untuk memilih respons mereka terhadap tantangan hidup. Mereka harus fokus pada penyelesaian “ketegangan dinamis” (perbedaan antara kenyataan saat ini dan tujuan atau hasil yang dibayangkan) dengan mengambil langkah-langkah tambahan menuju hasil yang ia coba raih.
  • Penganiaya ~> Petualang – seorang korban didorong untuk melihat seorang penganiaya sebagai orang (atau situasi) yang memaksa Pencipta untuk mengklarifikasi kebutuhannya, dan fokus pada pembelajaran dan pertumbuhan mereka.
  • Penyelamat ~> Pelatih – penyelamat harus didorong untuk mengajukan pertanyaan yang dimaksudkan untuk membantu individu membuat pilihan berdasarkan informasi. Perbedaan utama antara penyelamat dan pelatih adalah bahwa pelatih melihat pencipta mampu membuat pilihan dan memecahkan masalahnya sendiri. Seorang pelatih mengajukan pertanyaan yang memungkinkan pencipta untuk melihat kemungkinan untuk tindakan positif, dan untuk fokus pada apa yang dia inginkan daripada apa yang tidak dia inginkan.

Beberapa langkah kecil untuk menyadarkan korban :

  • Mengidentifikasi masalah
  • Menyimpan catatan
  • Percayai intuisi mereka
  • Mengakui bahwa gaslighter tidak memiliki akuntabilitas
  • Melangkah keluar dari penyangkalan
  • Menjangkau orang lain
  • Mempromosikan kasih sayang diri sendiri
  • Menciptakan jarak

Putus hubungan, Tidak bertemu. tidak menjalin komunikasi lagi !

Yogyakarta, 10 Agustus 2020

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.