Aku dan Anakku Nanti, Mencoba Menggagas Parenting untuk Remaja


Aku merasa bahwa pilihan sekolah adalah pilihanku. Dari Sekolah Dasar aku sudah berdasar pada pilihanku. Waktu itu alasannya adalah karena banyak teman-temanku sekolah di situ. Demikian juga waktu SMP, dan SMA, karena memang aku ingin sekolah di tempat itu. Apalagi kuliah, aku memilih karena memang aku inginkan. Bekerja ya, melamar sendiri memilih sendiri bahkan memilih ke lain pulau dan ke daerah pedalaman ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Orang tuaku mendukung dengan berpesan hati hati dan jaga diri, meskipun dengan berat hati. Aku mengetahui hal tersebut dari adikku setelah beberapa tahun kemudian. Sekarang aku memutuskan untuk menjadi pekerja mandiri. Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan mapan dan memilih untuk menjadi pekerja mandiri juga karena keinginanku (dapat baca Tentangku )

Eh, ternyata ada juga bahwa pilihan sekolah adalah karena arahan orang tua (untuk memperhalus pilihan orang tua). Temanku bercerita bahwa bapaknya telah menentukan sekolah sejak Sekolah Dasar. Bapaknya sudah memilihkan SD Favorit, SMP Favorit, agar dapat masuk SMA Favorit dan akhirnya dapat menjadi Mahasiswa di Universitas Favorit. Orang tuanya sudah menyiapkan anaknya berdasar pemikiran yang logis dan strategis. Hasilnya temanku sekarang bekerja di tempat yang mapan. Temanku bangga akan hal itu dan menerapkan pola tersebut pada anaknya, agar sekolah ke tempat yang Favorit dan unggulan (pilihan orang tuanya).

Ceritanya kemudian berlanjut, bahwa anak anaknya menurut mengikuti arahannya bersekolah di sekolah favorit seperti keinginan temenku itu. Menjadi menarik ketika temanku bercerita tentang anak anak dari kakaknya yang tidak sekolah sesuai dengan keinginan orang tuanya. Bersekolah di sekolah yang bukan unggulan. Temanku menyayangkan akan hal itu, dengan sedikit menyalahkan kakaknya yang tidak mampu mengarahkan anaknya bersekolah di tempat yang bermutu.

Aku sependapat dengan temanku, menyayangkan kakaknya, namun dengan pemahaman bahwa hal itu (perihal mengarahkan sekolah bagi anak) diarahkan sejak kanak-kanak, ditanamkan karakter dan nilai-nilai untuk bekal kelak kemudian hari. Apabila sejak kanak-kanak sudah tertanam karakter, keinginan anak pastilah tidak berbeda dengan keinginan orang tua.

Orang tua yang baik selalu berharap dan mengarahkan anaknya untuk memilih tempat belajar yang terbaik. Anak yang memiliki karakter baik, tentu memahami hal tersebut, sehingga keinginannya akan sama dengan keinginan orang tuanya.

Kakak temenku baru mengeluh anaknya memilih sekolah di tempat yang tidak unggulan, waktu akan masuk SLTA.  Padahal nilainya cukup memenuhi syarat meskipun berada di luar rayon, kakak temenku tidak dapat mengarahkan anaknya sehingga anaknya memilih sekolah yang banyak temen temannya. Temen-temannya tidak memiliki nilai yang dapat memilih sekolah unggulan yang berada diluar rayon.  Ya, Remaja memang akan lebih memilih bersama teman temannya, dan belum banyak berpikir tentang masa depan. Jadi jika dalam diri remaja itu belum tertanam karakter yang baik, dalam hal ini berpikir panjang ke depan berdasarkan pengetahuan dari orang tuanya, maka remaja akan lebih memilih bersama kawan kawannya. Jadi menurutku sudah sia sia  berharap seorang anak akan menuruti keinginan orang tuanya jika anak sudah usia remaja.

Berdasar pemikiran masyarakat umum bahwa Sekolah adalah sarana untuk nantinya mendapatkan pekerjaan. Bahkan pemerintah juga bertujuan bahwa sekolah memang untuk mempersiapkan tenaga kerja yang berkualitas. Maka sekolah bereputasi baik atau unggulan, memiliki jaminan lulusan yang baik, dan hal ini menjadi kebutuhan dunia kerja.

Apakah realita yang terjadi sekarang seperti itu?

Mari kita lihat lebih mendalam.

Dulu orang tua memiliki pemikiran untuk apa anaknya sekolah, lebih bermanfaat membantu bekerja di rumah, atau di sawah atau di toko. meskipun anaknya lebih senang sekolah.

Sekarang orang tua sudah mengarahkan agar anak sekolah, bahkan ke sekolah yang terbaik, namun ganti anaknya yang mulai berpikiran untuk apa sekolah karena tidak menjamin segera mendapatkan pekerjaan yang bisa menjadikan kaya raya dan terkenal.

Sekolah tidak lagi mampu menjamin peluang mendapatkan pekerjaan. Banyak hal yang dibutuhkan di dunia kerja, ternyata lebih banyak didapat dari luar sekolah. Sudah banyak orang yang terkenal dan kaya raya, karena ilmu dan kemampuan yang didapatkan bukan dari bangku sekolah.

Dunia sudah berubah. masihkan orang tua bertengkar dengan anak perihal pemilihan sekolah favorit atau unggulan?

Apakah sekolah tinggi memberikan jaminan akan mendapatkan pekerjaan mapan?

Masih adakah sekarang Sekolah Favorit? Sekolah mahal banyak !

Sebenarnya sekarang ada yang lebih perlu dipahami, bahwa anak memiliki masa depannya sendiri. Dunia tidak lagi sama dengan waktu yang lalu. Kondisi yang menjadi dasar pikiran orang tua dalam mengarahkan anaknya. Aku tidak bermaksud tidak setuju atas pilihan orang tua, melainkan mengajak pada pemahaman bahwa pemikiran orang tua belum tentu masih dapat digunakan di jaman sekarang. Situasi jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang. Pilihan banyak tersedia, bahkan ada banyak pekerjaan baru yang dulu belum pernah terpikirkan oleh orang tua.

Selain itu, remaja jika diatur malah akan memilih nglantur, sementara jika dilepas akan terhempas, jadi Tut Wuri Handayani cara yang sesuai. Orang tua sebaiknya mengikuti apa keinginan anak remaja jika itu baik, dan diajak diskusi jika ada pilihan yang beresiko tidak baik, bahkan dalam hal tertentu diberi waktu untuk membuktikan dan mencoba agar dapat mengalami memahami dan mengerti. Termasuk dalam hal ini masalah pemilihan sekolah, sejauh sudah dipahami dasar alasannya, dan anak diberikan pemahaman atas konsekuensinya, dan bersedia bertanggung jawab, sebaiknya orang tua mendukung. Poin utamanya adalah membekali anak untuk berani membuat pilihan dan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut.

Yogyakarta, 21 September 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.