Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon.

Awalnya, rasanya seperti bicara kepada orang tuaku. Lalu sekelebat munculah trauma-trauma di masa lalu seperti merasa takut diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya terjadi kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Itu pula yang sering terjadi padaku ketika aku mencoba bercerita kepada ayahku. Beliau hanya terdiam tanpa menaruh minat pada cerita anaknya. Raganya duduk di hadapanku tapi pikirannya seperti tidak di situ. Lalu biasanya hanya diakhiri dengan respon singkat “ya.” Lalu timbul penyesalan dalam diriku untuk tidak akan bercerita banyak-banyak.

Bedanya, kalau Pak Didik dalam hal ini diam, mungkin karena sedang mencoba mendengarkanku agar dapat memahami akar permasalahanku.
Rasanya juga seperti menelanjangi diri sendiri, di depan seseorang yang bahkan belum begitu kukenal dengan baik. Tapi aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.
Meskipun masih ada sisi-sisi tergelap dan terlemah lainnya dari diriku yang belum bisa kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan.

Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.
Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan nggak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku.

Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri. (bisa baca : Seorang tidak bisa mencintai bila tidak pernah dicintai )

Eh, tapi tunggu dulu. Makna cinta itu luas dan dalam, sayang. Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kamu sudah mengatakannya di depan banyak orang. Cinta bukan hanya tentang pasangan. Bukan hanya tentang berapa banyak laki-laki yang menyukaimu. Bukan, sayang. Para laki-laki yang tidak menginginkanmu itu belum bisa memahami value diri mereka sendiri apalagi value yang ada dalam dirimu. Jadi jangan berkecil hati.

Menurutku cinta pertama yang tulus semestinya ditumbuhkan dari orang tua kepada anak. Lalu bagaimana nasib anak sepertiku? Aku sudah mengerti jawabannya, hanya saja ketika aku sedang terpuruk aku hanya perlu kembali diingatkan dan diyakinkan. Mau tidak mau aku perlu mencari sumber cinta yang lain, selain dari orang tuaku.

Dari cerita yang kusampaikan dengan Pak Didik, mengingatkanku kembali tentang suatu hal. Aku mengatakan kalau dulu aku sering merasa hilang arah tapi tetap terselamatkan oleh sahabat-sahabatku serta kakak-kakakku di rumah. Para perempuan yang sudah kuanggap seperti ibu, kakak-adik, dan ‘guruku’ sendiri. Ada juga sahabat laki-laki yang sering mendukung dan menyemangatiku. Apa jadinya aku bila tanpa mereka? Justru mereka lah yang dulu sering menyadarkanku akan potensi, kelebihan yang kumiliki, tapi akunya saja yang suka merendahkan diri sendiri dan sibuk mencari-cari yang tidak pasti. Mereka yang selalu ada disaat aku butuh disaat senang dan susah (jujur…saat menulis kalimat ini air mataku berlinang). Aku banyak belajar tentang kehidupan dari orang lain, termasuk dari mereka.

Setiap penderitaan dan tekanan hidup yang telah kualami yang tidak bisa kutuliskan di sini, tapi sudah kuceritakan kepada Pak Didik, memudahkanku untuk belajar memahami orang lain secara lebih mendalam. Seperti misalnya, aku betul-betul bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi istri dan ibu yang tidak bahagia ataupun yang bahagia tanpa aku harus menikah terlebih dulu. Aku betul-betul bisa mengerti bagaimana rasanya berkonflik dan harus berpisah dengan pasangan meskipun aku belum pernah menjalin hubungan pacaran dengan siapa-siapa. Aku mengerti rasanya menjadi anak jalanan yang dibuang, tidak punya keluarga, tidak bisa bersekolah. Aku bahkan bisa menangis hanya dengan membayangkannya saja. Semua itu aku pelajari dari orang-orang yang kujumpai, kuamati, dan kudengarkan tiap cerita mereka dari hal-hal yang kedengarannya sepele sampai hal-hal yang cukup rumit bahkan tentang karakter-karakter mereka yang selalu kuamati tanpa mereka sadari. Serta dari novel-novel berat yang pernah kubaca dan film-film berat yang pernah kutonton.

Aku merasa beruntung. Sangat beruntung. Dari semua keresahan, kerapuhan, penderitaan yang kualami telah memberikan ‘efek domino’ tersendiri yang menuntunku pada hal-hal yang tak terduga. Salah satunya menjauhkanku dari laki-laki yang tidak tepat serta menghindarkanku dari beban-beban kehidupan pernikahan yang belum siap kutanggung. Dan kuyakini bahwa semua yang terjadi adalah salah satu tanda bahwa Tuhan ternyata masih sayang padaku, meskipun tak terhitung berapa banyak dosa-dosa yang telah kuperbuat selama aku hidup. Ayahku memang tidak bisa menjagaku secara langsung, tapi aku dijaganya dan dibesarkannya melalui doa-doanya. Keselamatanku barangkali juga ada campur tangan yang tak terlihat darinya.

Mereka menyayangiku sebagai sahabat sekaligus saudara. Pun kubalas mereka, juga dengan memberikan kasih sayang. Meskipun kami saat ini sudah tak lagi bisa bersama seperti dulu. People come and go. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Bila tugas masing-masing sudah selesai, akan selalu ada jarak yang memisahkan. Mungkin aku tak lagi bisa merasakan kehadiran mereka, tapi kasih sayang yang pernah mereka beri takkan pernah aku lupakan. Rasa sayang itu tidak sepenuhnya hilang, hanya saja berpindah. Yang tersisa ya tinggal diriku sendiri. Jadi, orang pertama yang perlu kuberi kasih sayang ya diriku sendiri. Kemudian orang lain, tanpa mengharap balasan. Ini adalah tugas baruku sebagai aktor protagonis. Dan pastinya ini tidak mudah untuk orang rapuh sepertiku, tapi aku akan tetap mencoba. Aku akan selalu mencoba menjadi pendengar yang baik, pengamat karakter, tempat berkeluh kesah, menjadi pelipur lara…akan kulakukan yang terbaik sejauh yang aku bisa, sebagai wujud kasih sayang versiku.
Yang kuinginkan hanyalah tidak menjadi beban bagi siapa-siapa. Meskipun perlu kusadari bahwa pada akhirnya aku tidak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Sering kali baik atau tidaknya seseorang di mata yang lain itu sifatnya relatif. Tergantung dari siapa, bagaimana, dan dari sudut mana yang melihat.

Aku takjub ketika menyadari bahwa apa yang awalnya kupikir sebagai suatu kebutuhan yang belum terpenuhi, justru bisa menjadi sumber kekuatan yang ada dalam diriku sendiri. Ya, cinta itu sudah ada di dalam diriku sendiri. Aku seketika teringat quote dari novel yang pernah diucapkan sahabatku.

“Mestinya dia mengerti bahwa tujuan hidup setiap insan adalah memahami makna cinta yang utuh. Cinta tak akan kita temukan pada sosok orang lain, melainkan di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu membangkitkannya. Namun, untuk membangkitkan cinta, kita butuh kehadiran orang lain. Jagat raya akan bermakna kalau ada orang lain tempat kita berbagi segenap perasaan kita.” Maria in (Eleven Minutes – Paulo Coelho)

“Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.” (Review from ‘By the river Piedra I sat down and wept’ – Paulo Coelho)

Perbincanganku dengan Pak Didik siang itu telah membuka pintu-pintu kesadaran yang selama empat tahun belakangan ini hampir terkunci dan terlupakan begitu saja olehku.

Telepon kumatikan. Pertemuan psikodrama hari pertama sudah selesai.
Aku termenung cukup lama sambil membawa secangkir teh hijauku yang sudah kosong. Aku ndomblong sambil mengamati kucing kakakku yang gemuk sedang tidur pulas tidak jauh dariku. Aku seperti orang yang sedang syok entah kenapa aku tidak tahu. Jantungku berdebar agak kencang seperti saat aku presentasi di depan dosen. Aku belum terbiasa membicarakan kehidupan pribadiku dengan seseorang yang usianya jauh di atasku yang masih belum begitu kukenal dengan baik. Apakah ada kata-kataku yang salah? Apakah aku terlalu subjektif? Apakah aku terlalu menggurui? Apakah ceritaku membosankan?

Beberapa saat kemudian. Tak lama setelah itu. Tangisku pecah. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya ingin kupeluk tubuhku dengan begitu erat. Aku baru menyadari betapa penting dan berharganya value yang ada dalam diriku yang selama ini mungkin belum kukenali secara lebih dalam. Rasanya ingin kujumpai satu per satu orang-orang yang berarti di hidupku. Salah satunya sahabatku yang pernah bercerita tentang quote itu tadi. Aku mengetik pesan lewat whatsapp sambil menangis tersedu-sedu. Aku rinduuu beraaat.

Berani untuk jujur itu kadang pada awalnya terasa berat, pedih, dan melelahkan. Tapi akhir dari semua perasaan ini adalah melegakan. Meskipun aku membutuhkan waktu beberapa jam untuk bisa menenangkan diri, namun pada akhirnya aku benar-benar merasa lega. Badanku terasa lebih ringan dan tidurku bisa lebih nyenyak.

Ini adalah pengalamanku belajar psikodrama di hari pertama. Aku tidak tahu apa saja yang akan terjadi padaku di pertemuan selanjutnya. Kalau memang pada akhirnya dengan belajar psikodrama dapat membantuku membangkitkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diriku, mungkin ini juga adalah salah satu pertanda bahwa Tuhan masih sayang padaku…

 

Kartasura, 22 September 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.