Quarter Life Crisis adalah Sebuah Tugas Perkembangan, Santuy Aja !


Sabtu, 19 September 2020 yang lalu, Aku IG live mengenai Quarter Life Crisis. Sebenarnya apa sih QLC itu ? Aku ambilkan dari wikipedia. Aku copas semuanya

Quarter Life Crisis atau krisis usia seperempat abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun. Krisis ini dipicu oleh tekanan yang dihadapi baik dari diri sendiri maupun lingkungan, belum memiliki tujuan hidup yang jelas sesuai dengan nilai yang diyakini, serta banyak pilihan dan kemungkinan sehingga bingung untuk memilih.

Beberapa aspek yang menjadi pemicu hal ini umumnya berkaitan dengan karier, hubungan, hingga keinginan untuk memiliki properti. Umumnya, pertanyaan tentang langkah apa yang akan diambil akan muncul setelah kelulusan dan mulai menapaki jenjang karier. Lalu, pertanyaan lainnya juga akan menyusul untuk memberikan keyakinan bahwa langkah yang diambil seorang sudah dirasa tepat. Hal ini melatar belakangi tingkat depresi yang dialami usia 20-an saat ini lebih tinggi daripada generasi sebelumnya, sebagaimana tertulis pada Harvard Bussiness Review. Seperti halnya keinginan untuk menapaki karier yang diinginkan, milenial menjadikan karier bukan untuk semata mencari uang, namun juga sebagai ajang aktualisas diri dan jalan untuk mewujudkan impiannya.

Pada saat seseorang beranjak pada usia 20-an, baik secara sadar maupun tidak sadar seseorang akan mengalami beberapa keadaan emosional pada dirinya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr. Oliver Robinson dari Universitas Greenwich, akan ada empat tahapan sebelum sesorang merasakan quarter life crisis:

  • Perasaan terjebak dalam suatu situasi
  • Pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi.
  • Membangun kembali hidup yang baru.
  • Mengukuhkan komitmen terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang.

Dibandingkan dengan krisis kehidupan yang sering ditandai dengan perasaan gagal untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan, quarter life crisis lebih condong pada kenyataan bahwa seseorang belum memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya atau memiliki tujuan yang tidak realistis.

Dari paparan di atas aku coba sederhanakan bahwa Quarter life crisis, adalah krisis yang terjadi pada tahap Dewasa Awal yang mempertanyakan tentang tujuan hidup. Apakah sudah sejalan, sudah mencapai, sudah sukses, atau belum, dan terutama juga menentukan untuk memilih berkarir  terlebih dahulu atau berumah tangga, disusul dengan permasalahan pasangan hidup.

Krisis tersebut merupakan  tugas pekembangan, yaitu belajar menyesuaikan diri terhadap pola – pola hidup baru, belajar untuk memiliki cita – cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai belajar memantapkan identitas diri. (Elizabeth B. Hurlock (1978)

Tugas perkembangan adalah sebuah siklus dari kehidupan manusia akan berlalu dengan sendirinya, jika mampu bertahan melewati badai ini. Ada ujaran dalam bahasa jawa “Ngko yen wis tekan wayahe lak ya nalar dewe“. nanti jika sudah mencapai umurnya maka akan paham dengan sendirinya

Ada 3 cara makluk hidup yang bergerak dalam menghadapi situasi yang mengancam, yaitu Hadapi, Diam, dan Lari. Ketiga ini cara ini juga dapat digunakan dalam situasi quarter life crisis ini. Paling tidak emosi yang riuh dapat sedikit terurai dengan adanya alternatif tindakan yang logis.

Hadapi krisis ini bila menyangkut perihal yang konkrit, misalnya bekerja sebagai karyawan untuk mandiri secara finansial, menyelesaikan kuliah dan memilih apakah tetap berada di dalam kota atau ke luar kota bahkan ke luar pulau atau negara.

Diam atau mengabaikan saja, hingga berlalu dan selesai oleh waktu. Cara ini dapat digunakan untuk permasalahan yang berasal dari omongan orang lain, misalnya ditanyakan kapan menikah, dibandingkan dengan orang lain, saudara dalam keluarga besar mengenai “kesuksesan”.

Lari, atau menghindar saja jika berhadapan dengan permasalahan yang memiliki konsekuensi beresiko, misalnya teman atau sahabat mengajak bertindak yang tidak sesuai dengan value kita (perilaku melanggar hukum, narkoba, merugikan orang lain, mendapatkan kekayaan yang bukan hak), atau pacar yang memaksa menikah padahal kita belum siap.

Ada tulisan lain yang dapat membantu untuk menemukan tujuan hidup, silahkan tengok, 3 Kunci Cara untuk Menemukan Tujuan Hidup

Semoga membantu.

Yogyakarta, 23 September 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.