Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini.

Kapan terakhir kali aku mencecap bahagia? Tanyaku dalam hati. Kapan terakhir kali aku merasa benar-benar cukup? Kapan terakhir kali aku berada dalam keseimbangan?

Seiring bertambahnya usia, aku semakin menyakini bahwa bahagia adalah ketika aku merasa cukup dengan segala yang Tuhan beri, ketika aku dapat menerima ketidaksempurnaan yang ada dalam diri, tanpa perlu membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain. Bahagia adalah ketika seseorang bisa berbagi banyak kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Pun bahagia adalah ketika bisa menjadi diri sendiri, bisa melakukan hal-hal yang disukai, dan bisa menikmati segala yang Tuhan beri. Demikian definisi bahagia menurutku. Belum tentu sama dengan definisi bahagia menurut orang lain.

Hidup memang tidak selalu bahagia. Bukan berarti saat bahagia masalah tidak ada. Bukan. Masalah akan selalu ada, hanya tinggal bagaimana cara seseorang menghadapinya. Seseorang benar-benar bahagia atau tidak dengan hidupnya bisa terlihat dari bagaimana caranya menghadapi masalah. Biasanya seseorang yang sudah bahagia itu bisa menyeimbangkan antara pikiran, perasaan, dan tindakannya sehingga bisa memandang segala sesuatunya lebih jernih dari berbagai sisi dan tentunya lebih objektif. Sebab bagiku, kebahagiaan juga merupakan salah satu bagian proses dari pendewasaan diri.

Aku pernah benar-benar merasakannya, terakhir kali sekitar empat tahun yang lalu sebelum memasuki fase krisis seperempat abad. Saat itu aku bisa merasakannya hampir setiap hari, selama 24 jam dengan menghabiskan waktuku bersama seorang sahabat. Kami berteman dekat tidak lebih dari setahun, tapi kualitas hubungan pertemanan kami benar-benar mengubah cara pandangku memahami kehidupan, kutemukan makna baru tentang kebahagiaan, in deeper meaning.

Bersama dirinya, aku menjadi seseorang yang berbeda. Sebab sebelum itu, aku punya banyak luka batin. Sejak kecil aku tumbuh bersama orang-orang yang juga terluka. Aku dibesarkan dari luka-luka tak kasat mata itu. Luka yang sangat perlu kurawat dan kusembuhkan.

Kenangan bersama sahabatku itu membuatku sadar bahwa aku ini sebenarnya berharga, berhak bahagia, dan telah dicintai. Butuh waktu dan proses yang cukup lama dan bergejolak bagiku untuk bisa sampai di titik ini. Sayangnya, takdir kami untuk bisa bersama terhitung hanya sebentar. Aku masih merasa perlu banyak dituntun oleh orang seperti dirinya. Ia banyak memberiku ilmu tentang kehidupan. Pun aku masih sangat membutuhkan sosoknya. Ibarat bayi, aku baru diajari berdiri. Jalanku belum sempurna, masih sempoyongan. Setelah berpisah, aku kembali berada di titik nol lagi.

Kadang aku mencoba bahagia, tapi agaknya susah. Aku masih bisa bahagia, tapi hanya di waktu-waktu tertentu saja, tidak sesering saat aku masih bersama dengan sahabatku. Pun aku kembali berkutat dengan orang-orang yang terluka itu, tanpa sosok kehadiran sahabatku. Rasanya seperti hilang arah. Aku kembali merasa tidak berharga, tidak dicintai, dan terasa berat menjalani kehidupan. Hidupku jadinya terasa begitu merana dan hampa. Entah kenapa lebih banyaak sedihnya ketimbang bahagianya. Mungkin begini ya definisi ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya. Rasanya seperti kehilangan sosok ibu, lagi. Rasanya aku seperti kesulitan berdiri, aku mulai harus belajar segala sesuatunya sendiri. Mungkin aku bisa berdiri tapi masih perlu merambat. Ya, aku butuh pegangan hidup dan juga sandaran hati.

Aku kembali menjadi korban pelampiasan atas ketidakbahagiaan mereka. Bahkan mungkin tanpa kusadari, pun aku turut melampiaskan ketidakbahagiaanku ini ke mereka dan orang lain. Lukaku belum sepenuhnya sembuh, tapi nyatanya aku terluka lagi. Pun aku sudah tidak ingin melukai siapa-siapa lagi.

Lalu bagaimana bisa aku menghadapi masalah di masa depan yang mungkin akan jauh lebih berat kalau aku masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri dan keadaan? Bagaimana bisa kalau aku masih sering merasa terluka tanpa tahu bagaimana cara menyembuhkannya?

Menurutku, pertama-tama aku perlu memutus rantai toxic dari hubungan ini. Aku perlu membebaskan diri dari orang-orang yang secara tidak langsung menghambatku untuk bahagia, maju, dan berkembang. Aku ingin menyembuhkan luka dan trauma dengan cara yang tepat. Barangkali aku membutuhkan bantuan orang lain, tapi bukan dengan mencari pasangan lalu menikah dan punya anak. Bukan.

Menurutku, kehidupan pernikahan itu rumit dan berat. Namun nyatanya, banyak orang-orang yang memandang pernikahan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Mengapa begitu? Apakah hanya dengan menikah dan punya anak, lantas seseorang bisa menjadi bahagia?

Akan kubahas ditulisanku yang selanjutnya.

bersambung….

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.