Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02


Aku terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang cukup rumit dan bergejolak. Sebagai seorang anak yang sudah cukup hafal dengan segala jenis konflik keluarga dan pernikahan, sejak remaja aku telah terbiasa memandang kehidupan pernikahan sebagai suatu hal yang rumit, berat, dan tentunya tidak mudah. Khususnya sejak ibuku meninggal dunia, kemudian ayahku menikah lagi untuk ketiga kalinya.

Baper ketika melihat teman menikah, dulu aku pernah berada di fase itu. Lalu merasa frustasi karena jodoh tak kunjung datang. Setelah kurenungkan kembali, sebenarnya itu bukan berarti aku ingin menikah. Ternyata, aku hanya ingin dicintai saja. Padahal menikah itu hanya salah satu media pencarian dan penemuan cinta saja. Sedangkan cinta itu sendiri bisa ditemukan di mana saja, kapan saja, dan bisa didapat dari siapa saja. Cinta itu dalam maknanya dan luas cakupannya. Cinta bukan hanya tentang hidup berpasangan saja.

Menikah menurutku bukan sebuah kompetisi. Bukan pembuktian akan status sosial. Bukan juga hanya sebatas pencapaian hidup, melainkan sebuah petualangan baru di mana aku dan pasangan mulai bersama-sama menyelesaikan masalah baru yang lebih kompleks. Masalah hidup akan selalu ada, tapi aku masih bisa memilih dengan siapa aku akan menyelesaikan masalah itu. Sedangkan pertemuan dengan jodoh adalah masalah waktu. Setiap orang masing-masing memiliki waktunya sendiri.

Bagiku pernikahan itu bukan hanya penyatuan raga, tapi juga jiwa. Menyatukan dua karakter, dua perasaan, dua pikiran itu bukan perkara gampang karena setiap orang punya latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Diperlukan proses pendekatan yang tidak sebentar. Butuh effort terus menerus dan sangat penting untuk bersikap selektif dalam memilih pasangan.

Menikah itu pertanggungjawabannya seumur hidup. Perlu kesiapan mental, emosi, dan tentunya finansial. Memang, ada banyak orang yang beruntung bisa mendapatkan pasangan yang tepat lalu hidup bahagia, tapi tidak sedikit juga orang yang menikah dan punya anak, tapi hidupnya tidak bahagia. Lalu hidupnya menderita dan malah merugikan orang-orang di sekitar. Menikah bukan hanya tentang ‘kapan’ tapi juga dengan ‘siapa.’ Semua orang bisa menikah, tapi tidak semua orang bisa menikah dengan orang yang tepat.

Bisa menemukan jodoh, menikah, lalu bisa punya anak bukanlah akhir dari segalanya. Justru adalah awal dari segalanya. Menikah itu tentang bagaimana berkompomi dengan diri sendiri, pasangan, keluarga pasangan, anak, serta perkerjaan baik di luar rumah maupun di dalam rumah. Juga tentang bagaimana merawat, membesarkan, mendidik, serta mengasihi anak yang bisa saja lahir dan tumbuh tidak sesuai dengan ekspektasi kita sebagai orang tuanya, seumur hidup.

Kalau belum bisa menemukan yang benar-benar cocok, ya lebih baik sendiri dulu saja. Bagiku, menikah dan punya anak itu bukan suatu keharusan, tapi lebih kepada pilihan.

Seperti kata-kata Ayu Utami dalam bukunya yang pernah kubaca, “Pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya ya bagi yang membutuhkan saja.”

Ada orang-orang yang merasa perlu menikah karena kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya sudah terpenuhi dan selalu terjamin. “Kalau tidak menikah dan punya anak, mau apa lagi? Semuanya sudah kuperoleh.” Barangkali orang-orang seperti ini memang perlu menikah supaya dapat memperoleh pengalaman emosi baru yang nantinya akan memberikannya pandangan baru tentang realita kehidupan yang sesungguhnya.

Ada juga orang-orang yang ingin menikah karena sudah tertempa oleh kerasnya kehidupan, sudah menemukan kebahagiaan dalam dirinya, ingin membagikannya ke keluarga barunya kelak, dan sudah menemukan seseorang yang tepat. Pun ada pula orang-orang yang ingin menikah hanya karena tuntutan sosial, faktor usia, atau bahkan sekadar butuh pelarian dari ketidakbahagiaan hidup yang dijalaninya.

Pun ada orang-orang yang belum ingin menikah karena sudah cukup bahagia dengan hidup yang dijalaninya, tanpa merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Atau karena masih dalam pencarian jati diri. Atau karena ada trauma beserta luka batin di masa lalu yang perlu disembuhkan. Atau karena ada beban-beban finansial dan moral yang harus diselesaikan dulu sebelum menikah. Dan lain sebagainya.

Banyak orang bertanya kapan menikah tapi sedikit orang yang bertanya apakah aku bahagia menjalani pilihan hidup yang kupilih, terlepas dari menikah atau tidaknya. Bagiku pernikahan tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur kebahagiaan seseorang karena setiap orang punya standar kebahagiaannya masing-masing.

Mungkin ada beberapa temanku atau orang lain yang ketika membaca tulisanku ini, aku pasti akan didebat dan diceramahi habis-habisan. Ada yang dapat mengerti, ada yang belum. Tapi tidakpapa, itu wajar karena setiap orang punya latar belakang kehidupan dan sudut pandang yang berbeda-beda. Aku di sini hanya mencoba menggambarkan tentang realita yang sering terjadi baik dari pengalaman pribadi ataupun orang lain. Ku ekspresikan juga tentang alasan-alasan orang lain ingin menikah dan alasan-alasan orang lain belum ingin menikah ke dalam bentuk video, seperti yang ada di bawah ini..

Alasan Ingin Menikah

Alasan Belum Ingin Menikah

Untuk jatuh cinta lagi saja, rasanya aku belum siap. Kuakui aku masih serapuh itu. Ada luka-luka yang perlu kurawat dulu. Pun saat ini aku masih berproses dalam pencarian jati diri. Aku perlu belajar menyayangi diriku dulu. Jadi, kalaupun aku belum bisa menikah ya tidak masalah. Kalau memang jodoh yang tepat belum datang, ya aku akan tetap santai saja. Aku akan mencari sumber kebahagiaan lain, selain dengan menikah.

Bersambung…

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.