Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03


Bagaimana cara memperoleh kebahagiaan yang kuingini? Aku belum siap menikah. Aku belum bisa bekerja lagi karena masih perlu menyelesaikan studi. Aku belum siap menghadapi tuntutan, beban, dan tanggung jawab yang besar. Mengurusi diriku saja aku belum becus. Bahkan untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang saja, sepertinya aku belum siap. Belum siap menanggung perihnya tersakiti oleh ekspektasiku sendiri. Lagi dan lagi.

Aku sudah tidak punya ambisi seperti harus bekerja di sini di situ. Kalau studiku sudah selesai, aku bersedia untuk bekerja apa saja. Bahkan tidak harus sesuai dengan jurusanku juga tidakpapa. Yang penting aku masih bisa menghandle pekerjaan itu. Yang kuinginkan saat ini adalah bisa hidup tenang dan damai. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain.

I just wanna enjoy living my life to the fullest, through ups and downs, be kind to myself and others.

Satu-satunya pilihan yang bisa kuambil dalam fase krisis seperempat abad ini adalah dengan melanjutkan studi lagi, walaupun pada kenyataannya juga tidak segampang yang kukira.

Aku butuh ilmu. Orang-orang datang dan pergi di hidupku, silih berganti. Namun lain halnya dengan ilmu. Selama aku masih hidup, ilmu itu akan bersamaku. Mempelajari dan mendalami ilmu yang disuka, apapun bidangnya, selagi diikuti dengan tujuan yang baik pasti akan mendatangkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Dalam hal ini aku terinspirasi dari sahabatku itu tadi, yang begitu passionate dengan bidang yang ia geluti. Ilmu tidak hanya mencerdaskan, tapi juga mencerahkan dan mendewasakan. Ilmu tidak selalu hanya tentang teori-teori ilmiah yang ada di buku, sekolah atau perkuliahan saja, melainkan juga ilmu tentang kehidupan itu sendiri yang bisa didapati dari kenyataan dalam kehidupan sehari-sehari.

Hidupku sudah cukup menderita. Jadi aku sendirilah yang perlu menyayangi diriku dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi bagaimana caranya? Aku perlu mencari tahu ilmunya.

Sudah saatnya aku fokus menata kehidupanku di dunia nyata daripada hanya terus-terusan melihat kehidupan orang-orang di instagram. Sudah saatnya aku berhenti membanding-bandingkan hidupku dengan hidup mereka. Jalan hidup manusia itu berbeda-beda tidak bisa dipaksa sama.

Aku pernah mencoba terlihat baik-baik saja di sosial media, tapi aku malah merasa aneh. Aku seperti tidak menjadi diriku sendiri. Pernah juga aku mencoba sambat di instagram, tapi pada akhirnya aku merasa sia-sia. Jadinya, orang-orang malah memandangku seolah aku ini sangat merana dan tidak bahagia. Orang-orang malah memandangku negatif.

Aku ingin seperti dulu lagi, bisa menikmati kehidupan tanpa perlu membanding-bandingkan pencapaian orang lain, dengan menjadi diriku apa adanya, dengan melakukan hal-hal yang aku suka tanpa perlu bersusah payah mengesankan orang lain. Aku rindu menjadi diriku yang dulu. Aku seperti kehilangan diriku sendiri.

Aku hanya ingin berdamai dengan diriku sendiri dan keadaan, tapi semuanya akan terasa berat bila aku masih harus selalu berhadapan dengan seseorang yang kalau masih terus dipaksakan untuk hidup bersama, hanya akan saling memberi luka. Aku sudah tidak lagi kuat untuk hidup dengannya. Aku ingin pergi dan pindah sejauh mungkin, tapi studiku belum selesai. Corona pun datang, progress studiku semakin tertunda. Lalu bagaimana aku bisa memutus rantai toxic dari hubungan ini?

Doa. Satu-satunya upaya yang tersisa. Waktu terus berlalu hingga datanglah sebuah keajaiban…

Aku dijauhkan dari orang itu. Seseorang yang kehadirannya paling kutakutkan yang kalau tetap tinggal bersama, kami hanya akan saling memberi luka… Ia pada akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yang menurutnya nyaman. Akhirnya aku dibebaskan dari seseorang yang bahkan hanya kudengar hela nafas dan langkah kakinya saja, aku sudah merasa tertekan secara lahir dan batin.

Beban hidupku berkurang satu. Aku merasa lebih merdeka, tapi perlu kusadari bahwa ini sesungguhnya baru awal permulaan. Lukaku perlu kurawat. Batinku perlu kubahagiakan. Pikiranku perlu kusirami dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. ­Aku perlu menengok kembali ke masa lalu, menanyakan ke diriku adakah kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi? Sambil merangkul dan memeluk inner child dalam diri dengan lembut, mesra, dan penuh cinta.

Di fase krisis seperempat abad ini pula, aku sudah tak lagi bisa mengandalkan sahabat-sahabat dan kakak-kakakku untuk selalu ada bersamaku, mendengarkan ceritaku atau sekadar menghiburku. Mereka punya kehidupan dan prioritasnya masing-masing.

All I need is just to be happy, with or without someone by my side. Motto hidupku yang baru.

Di tengah maraknya video tiktok yang bermunculan saat corona, aku tertarik untuk mencobanya. Aku suka melakukan acting. Khususnya sejak mengikuti latihan dan pentas drama lima tahun yang lalu, salah satu moment paling berharga dan membahagiakan dalam hidupku. Mungkin bermain peran dan sandiwara di atas panggung adalah salah satu minat terbesarku yang terlambat kusadari.

Kini aku tidak punya wadah untuk mengekpresikannya. Jadilah bermain drama di depan kamera hape menjadi satu-satunya pilihan. Setelah melakukannya, ternyata aku merasa sangat terhibur oleh diriku sendiri. Ternyata untuk bisa menghibur diriku sendiri atau bahkan orang lain, aku tidak perlu menjadi sempurna, aku tidak perlu selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Cukup menjadi diriku yang apa adanya.

Dua bulan kemudian kulihat di instagram ada info webinar berjudul Psikodrama sebagai Media Pengembangan Potensi Diri.

Psikodrama? Aku pernah menemukan istilah ini saat kuliah, tapi aku belum pernah mendapatkan penjelasan lebih tentang itu. Pernah aku mendapatkan informasi tentang workshop psikodrama di Jogja, bulan Maret lalu. Entah kenapa saat itu hatiku belum merasa terpanggil. Berbeda dengan saat ini. Aku penasaran bagaimana kalau psikologi dan drama disatukan? Wah sepertinya menarik dan cocok untukku yang sedang senang-senangnya bermain drama di depan kamera hape. Sesederhana itu pikirku.

Selain itu aku merasa butuh asupan ilmu psikologi. Siapa tahu dapat membantuku berdamai dengan luka sekaligus kerapuhan yang ada dalam diriku, meskipun saat itu bayangan tentang psikodrama masih tampak cukup abstrak di kepalaku. Atau jangan-jangan apakah ini adalah saat yang tepat bagiku untuk pergi ke psikolog, melakukan terapi sebagai salah satu upayaku menyayangi diri sendiri, agar aku bisa mencecap kembali kebahagiaan yang kuingini?

Bersambung…

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.