Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)


Bukankah makna cinta itu luas dan dalam? Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kau sudah mengatakannya di dalam video yang kau buat sendiri. Kau sampaikan disitu bahwa cinta bisa berasal dari siapa saja. Bukankah juga kau sampaikan bahwa cinta adalah tentang belajar mengikhlaskan?

Sebagai seorang anak, sejak kecil aku lebih sering merasa diabaikan. Kehadiranku di rumah tampaknya tidak begitu dinanti dan diharapkan. Malah kehadiranku sepertinya justru membawa beban tersendiri bagi kedua orang tuaku. Sering pula aku mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dan membahagiakan. Hal-hal seperti inilah lantas yang membuatku sering merasa tidak dicintai dan diinginkan.

Ketika beranjak dewasa, aku menyadari bahwa aku memang tercipta bukan sebagai perempuan yang diidamkan laki-laki pada umumnya. Aku bukan tipe perempuan yang dengan mudah dapat memikat hati seseorang pada pandangan pertama. Barangkali aku punya daya tarik, tapi tersembunyi. Hanya segelintir orang yang mampu melihatnya. Ditambah dengan kejadian seperti ini, perasaan tidak diinginkan dan dicintai itu tadi semakin menjadi-jadi. Perasaan semacam ini cukup meresahkanku khususnya ketika aku sedang terpuruk, ujung-ujungnya aku kembali ke perasaan itu lagi.

Meskipun aku mengerti, bahwa harga diri seorang perempuan tidak dinilai dari berapa banyak laki-laki yang tertarik dengannya. Seperti apa yang pernah ditulis oleh Oka Rusmini dalam novelnya yang berjudul Tempurung, “Harga diri perempuan ada di tingkah laku, pikiran, dan cara dia mengambil keputusan untuk maju dan berkembang.” (Hal.302)

Lanjut ke persoalan cinta. Bukankah cinta pertama yang paling tulus semestinya ditumbuhkan dari orang tua kepada anak? Lalu bagaimana nasib anak sepertiku? Aku sudah mengerti jawabannya. Mau tidak mau aku perlu mencari sumber cinta yang lain, selain dari orang tuaku dan selain dari pasangan.

Dari cerita yang kusampaikan dengan Pak Didik, mengingatkanku kembali tentang suatu hal. Aku mengatakan kalau dulu aku sering merasa hilang arah tapi tetap terselamatkan oleh sahabat-sahabatku serta kakak-kakakku di rumah. Para perempuan yang sudah kuanggap seperti ibu, kakak-adik, dan ‘guruku’ sendiri. Beserta sahabat laki-laki yang sering mendukung, menghibur, dan menyemangatiku.

Apa jadinya aku bila tanpa mereka? Bukankah mereka sering menyadarkanku akan potensi dan kelebihan yang kumiliki, tapi akunya saja yang suka merendahkan diri sendiri dan sibuk mencari-cari yang tidak pasti? Bukankah mereka selalu ada disaat aku butuh, disaat senang dan juga susah? (Jujur…saat menulis kalimat ini air mataku berlinang). Aku banyak belajar tentang pengalaman kehidupan dari orang lain, termasuk dari mereka.

Semua itu aku pelajari dari orang-orang yang kujumpai, kuamati, dan kudengarkan tiap cerita mereka dari hal-hal yang kedengarannya sepele sampai hal-hal yang cukup rumit. Bahkan juga tentang karakter-karakter mereka. Aku suka mengamati gaya bicara mereka, bahasa tubuh mereka, serta cara berpikir mereka. Aku juga belajar dari novel-novel berat yang pernah kubaca, film-film berat yang pernah kutonton, beserta ilmu yang kudapatkan saat sekolah dan kuliah.

Setiap penderitaan dan tekanan hidup yang telah kualami yang tidak bisa kutuliskan di sini, tapi sudah kuceritakan kepada Pak Didik, tampaknya juga memudahkanku untuk belajar memahami pengalaman kehidupan orang lain secara lebih mendalam. Seperti misalnya, aku mengerti rasanya menjadi anak jalanan yang dibuang, tidak punya keluarga, tidak bisa bersekolah. Aku bahkan bisa menangis hanya dengan membayangkannya saja.

Aku bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi istri sekaligus ibu yang tidak bahagia ataupun yang bahagia, tanpa aku harus menikah terlebih dulu. Aku bisa mengerti bagaimana rasanya berada dalam toxic relationship dengan pasangan. Aku bisa mengerti betapa sedihnya ketika putus hubungan dengan pacar walaupun aku belum pernah menjalin hubungan pacaran dengan siapa-siapa. Kemudian semua itu bisa kuhayati, kuresapi, dan kurenungi ulang setiap kisah-kisah yang pernah diceritakan orang-orang padaku. Bahkan bisa kuperagakan lewat drama sederhana yang kukemas dalam video. Seperti berikut : Video Alasan Putus Hubungan

Aku merasa beruntung. Sangat beruntung. Dari semua keresahan, kerapuhan, penderitaan yang kualami telah memberikan ‘efek domino’ tersendiri yang menuntunku pada hal-hal yang tak terduga. Salah satunya menjauhkanku dari laki-laki yang tidak tepat serta menghindarkanku dari beban-beban kehidupan pernikahan yang belum siap kutanggung. Banyak hal-hal terjadi di luar kuasaku sebagai manusia. Siapa lagi yang menuntunku sejauh ini kalau bukan Sang Pencipta?

Dan kuyakini bahwa semua yang terjadi adalah salah satu tanda bahwa Tuhan ternyata masih sayang padaku, meskipun tak terhitung berapa banyak dosa-dosa yang telah kuperbuat selama aku hidup. Ayahku memang tidak bisa menjagaku secara langsung, tapi aku dijaganya dan dibesarkannya melalui doa-doanya. Keselamatanku barangkali juga ada campur tangan yang tak terlihat darinya.

Pun aku telah dicintai oleh para sahabat dan saudaraku sendiri. Sayangnya, people come and go. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Bila tugas masing-masing sudah selesai, akan selalu ada jarak yang memisahkan. Mungkin aku tak lagi bisa merasakan kehadiran mereka, tapi kasih sayang yang pernah mereka beri takkan pernah aku lupakan.

Kini yang tersisa ya tinggal diriku sendiri. Jadi, orang pertama yang perlu kuberi kasih sayang ya diriku sendiri. Kemudian orang lain, tanpa mengharap balasan. Ini adalah tugas baruku sebagai aktor protagonis. Dan pastinya ini tidak mudah, tapi aku akan tetap mencoba. Aku akan selalu mencoba menjadi pendengar yang baik, pengamat karakter, tempat berkeluh kesah, menjadi pelipur lara… Akan kulakukan yang terbaik sejauh yang aku bisa, sebagai wujud kasih sayang versiku yang bisa kuberikan.

Aku takjub ketika menyadari bahwa apa yang awalnya kupikir sebagai suatu kebutuhan yang belum terpenuhi, justru bisa menjadi sumber kekuatan yang ada dalam diriku sendiri. Ya, cinta itu sudah ada di dalam diriku sendiri. Aku seketika teringat quote dari novel yang pernah diucapkan sahabatku.

“Mestinya dia mengerti bahwa tujuan hidup setiap insan adalah memahami makna cinta yang utuh. Cinta tak akan kita temukan pada sosok orang lain, melainkan di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu membangkitkannya. Namun, untuk membangkitkan cinta, kita butuh kehadiran orang lain. Jagat raya akan bermakna kalau ada orang lain tempat kita berbagi segenap perasaan kita.” Maria in (Eleven Minutes – Paulo Coelho)

“Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.” (Review from ‘By the river Piedra I sat down and wept’ – Paulo Coelho)

Aku kaitkan juga dengan pesan Quraish Shihab kepada anak perempuannya yang pernah kubaca di internet, “Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan… Sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka…”

Perbincanganku dengan Pak Didik siang itu telah membuka pintu-pintu kesadaran yang selama empat tahun belakangan ini hampir terkunci dan terlupakan begitu saja olehku.

Telepon kumatikan. Pertemuan psikodrama hari pertama sudah selesai. Tak lama setelah itu, lalu munculah efek-efek yang cukup dramatis… Sesuatu terjadi padaku…

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.