Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online


Pada semesta aku bicara. Pada ruang-ruang sepi, terperangkap dalam ketidakberdayaan diri. Sebetulnya banyak yang bisa dinikmati. Bila saja kita semua diberi kesempatan untuk memahami.

“Akhiri dulu saja pertanyaanmu. Kalau kau terus banyak bertanya, nggak akan ada habisnya. Nggak setiap pertanyaan harus terjawab sekarang,” ujar Pak Didik ditelepon saat sesi belajar psikodrama seminggu yang lalu.

“Jadi, bersyukur itu ada caranya. Dengan melihat dari berbagai sisi,” tambahnya. Ya memang betul sih. Pikirku.

Aku tumbuh dan dibesarkan dengan luka-luka tak kasat mata. Sakit, tapi tidak berdarah. Luka yang berwujud dari perkataan dan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan beserta pengabaian. Aku dibiarkan tumbuh begitu saja. Aku mencari jalan hidupku sendiri dengan mengikuti arus yang ada dengan mengandalkan pertemanan, tanpa arahan ataupun bimbingan dari orang-orang yang memiliki otoritas dalam hidupku.

Bukankah di dunia ini ada kesedihan serta kebahagiaan? Akankah masih ada hal-hal menyenangkan dibalik tiap-tiap penderitaan ini? Kalau di dunia ini ada hal-hal yang kita benci. Bukankah pastinya juga ada hal-hal yang kita sukai atau cintai?

Yang kutahu, terkadang jawaban dari setiap keresahan itu datang ketika aku memilih pasrah setelah berupaya, ketika aku tidak terlalu berharap.

Pernah aku menangis seharian. Menangisi seseorang yang tidak pernah memikirkanku. Dari situ aku menyadari betapa dalam luka yang kubawa sejak remaja sampai-sampai untuk masalah sepele saja aku sering kewalahan menghadapinya. Belum apa-apa aku sudah rentan. Perasaan itu cukup menyiksa dan menghambatku untuk maju.

Aku tidak bisa terus-terusan begini. Aku perlu bangkit sendiri. Aku perlu menghibur diriku sendiri dengan caraku sendiri.

Bermula dari pencarian jati diri dan inspirasi. Butuh jatuh dulu berpuluh-puluh kali. Trial and error. Pun hingga ini aku masih terus berproses.

Aku tidak sanggup menjadi guru. Aku pernah mencoba dan aku tidak betah. Pernah tulisanku beberapa kali gagal ditolak penerbit karena ceritanya sangat tidak masuk akal dan tampaknya aku kurang berbakat di situ. Setelah lulus dari pendidikan bahasa aku merasa seperti salah masuk jurusan. Lalu aku mencoba lanjut belajar psikologi meskipun ternyata prosesnya juga tidak mudah. Tahun lalu aku sering beberapa kali ke Jogja mengikuti workshop tentang psikologi bahkan workshop tentang menyulam dan merajut. Memilih dan memilah mana yang menjadi minat untuk menyalurkan potensi. Supaya aku tidak melulu meratapi luka lalu menjadi manusia yang tak berdaya dan yang hidupnya sia-sia.

Dari berbagai kesedihan, keputusasaan, serta ketidakpastian yang telah memuncak sejak aku remaja hingga di pertengahan tahun ini…hatiku tergerak untuk melakukan apa yang sudah lama tak kulakukan. Bermain peran (acting). Mungkin aku butuh penyaluran emosi yang sifatnya lebih ekspresif.

Sering aku iseng menirukan orang-orang yang ada di sinetron, telenovela, film, atau orang-orang yang pernah kujumpai di kehidupan nyata. Kubuat parodinya dalam video. Kadang aku juga suka membuat video tentang makna-makna yang kuperoleh di kehidupan. Sejak saat itu aku menjadi lebih bisa menikmati hidup. Aku merasa seperti anak kecil yang menemukan mainan baru di tengah-tengah ketidakpastian yang ada. Aku merasa seperti hidup kembali.

Saat acting di depan kamera handphone, aku tidak berniat melucu tapi entah mengapa aku sering tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku yang mungkin kadang aneh. Sama seperti saat menyulam, aku bisa melakukannya setiap hari tanpa ada paksaan bahkan tanpa harus dibayar.

Sejak lima tahun yang lalu saat aku terpilih menjadi nenek-nenek dalam pementasan drama Jane Eyre, tidak ada yang memaksaku untuk begini begitu, tapi aku menemukan gayaku sendiri. Aku bisa mengubah pita suaraku sendiri tanpa ada yang menyuruh dan mengajari. Pun aku pernah gagal dalam beberapa latihan, setelahnya aku sering mencoba koreksi diri. Aku masih ingat ketika malam pentas dramaku usai, keesokan paginya aku disapa banyak orang di kampus. Aku mendadak terkenal sehari. Ternyata cukup banyak orang yang merasa terhibur dan mengapresiasi. Banyak hal-hal baik terjadi ketika aku tidak banyak berekspektasi.

Ini baru awal mula. Kusadari bahwa luka yang ada belum sepenuhnya pulih. Pak Didik mengatakan di telepon bahwa dengan apa yang kutulis di sini beserta video-video yang pernah kubuat, secara tidak langsung aku sudah menerapkan konsep psikodrama itu sendiri. Dengan membaca ulang tulisanku sendiri, itu juga merupakan sebuah proses terapeutik.

Kadang aku berpikir. Barangkali untuk memperoleh pencerahan hidup, diperlukan syarat. Salah satunya, hati berkali-kali perlu dibuat patah. Patah hati tidak melulu soal asmara saja, tapi bisa juga tentang keluarga, pertemanan, sekolah, perkuliahan, pun pekerjaan, dan lain sebagainya. Seperti misalnya, saat kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau inginkan bahkan juga yang kau butuhkan, saat apa yang kau inginkan jauh dari ekspektasi, saat tidak semua orang bisa memahamimu menyayangimu menerimamu dan menghargai segala jerih payahmu.

Barangkali tanpa penderitaan dan kesedihan, manusia tidak akan bisa bertumbuh. Walaupun berat dan menyakitkan memang, tapi dari situ hati manusia mulai terpanggil dan tergerak untuk mencari jalan keluar.

Tulisanku kali ini terinspirasi dari lagu berjudul Jelita yang dinyanyikan Sal Priadi. Lagu yang tiap kali kudengarkan, aku merasa seperti dicintai, setidaknya oleh diriku sendiri.

Keraslah percaya
Canggih tubuhmu
Akan menemukan cara terbaik
Menyembuhkan lukanya sendiri

Mekarlah kau abadi
Di taman-taman hati
Yang bunganya ‘kan rapihkan diri
Diri yang menari
Menarilah kau terus

Kartasura, 18 Oktober 2020

Qanifara

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.