MELAWAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH PAUD #Goresanku 147


Masalah perundungan adalah salah satu masalah dalam pendidikan dan pengasuhan. Bahkan hal itu bisa juga terjadi pada anak pra sekolah (PAUD). Kadang kita tidak menyadarinya, seringkali perudungan terjadi pada saat anak-anak bermain bersama di sekolah. Ibarat alarm, begitu mendengar kata ” bully ” orang langsung peduli. Sayangnya kesadaran tinggi di masyarakat masih banyak miskonsepsi. Terlepas dari semangat melakukan perbaikan, kesalahpahaman masih sering kali memperburuk keadaan.

Salah kaprah bahkan dimulai sejak kita menentukan apakah suatu perilaku dan situasi termasuk perundungan atau bukan. Interaksi antar manusia, tentu rentan konflik. Terlebih lagi saat mereka belum sepenuhnya memahami langkah menyelesaikan masalah.

Tidak semua konflik adalah perundungan, perbedaan utamanya terletak pada tidak seimbangnya kekuatan. Korban perundungan tidak kuasa bersuara dan tidak mampu mencari solusi. Individu yg mengalami konflik bisa saling mendengarkan dan memilih tindakan yg perlu dilakukan.

Konflik adalah kesempatan belajar yg perlu diselesaikan anak-anak dengan mandiri. Dalam perundungan, perangkap hubungan jauh lebih besar, anak susah keluar dari lingkaran tekanan dan kekerasan tanpa bantuan. Mari berhati-hati saat mengklaim kata ” bully ” agar perilaku ini tidak kemudian dianggap ” normal ” karena banyak sekali terjadi.

Melihat perundungan semata sebagai masalah individu adalah miskonsepsi lain dalam sudut pandang. Perundungan memang berkait kompetensi resolusi konflik yg belum tentu dimiliki oleh anak-anak yg butuh pengakuan sosial karena selama ini menjadi korban kekerasan. Tapi sesungguhnya, terlepas dari kompetensi dan resiko perorangan, kemampuan dan budaya lingkungkungan sangat besar pengaruhnya.

Karenanya, kebijakan dan penanganan di sekolah atau di rumah tidak bisa hanya mengintervensi anak-anak yg terlibat, tetapi harus menggerakkan semua: korban, pelaku, dan semua pihak di sekitar.

Perhatian utama saat berhadapan dengan perundungan adalah menyelamatkan korban. Kesalahpahamannya, korban dianggap hanya butuh dukungan agar tidak diam, kita hanya ramai menyebarkan ceritera.

Kadang bahkan melabel mereka sebagai ” penderita “. Padahal mereka bukan butuh reaksi kasihan, mereka butuh bantuan sistematis untuk meningkatkan ketrampilan kehidupan. Sesederhana cara memperkenalkan dan menyampaikan keinginan diri, menyatakan maaf dan terimakasih dalam menghadapi ledekan dan bujukan teman, bukan sesuatu yg bisa dipelajari sendiri.

Anak butuh keragaman pertemuan, kekayaan pengalaman untuk mampu bersosialisasi dengan percaya diri. Bila penanganan korban hanya seperti memadamkan kebakaran, tanpa peningkatan kompetensi jangka panjang, akhirnya kita tidak mengurangi resiko berulangnya tekanan sosial di kemudian hari.

Salah kaprah ketiga, berkait dengan pelaku perundungan. Mudah sekali menyederhanakan masalah dengan mengatakan betapa nakal dan jahatnya mereka. Padahal seringkali pelaku adalah wujud lain dari anak yg juga korban. Sebagian besar ” hanya ” butuh dukungan sosial, sayangnya mereka belajar dari lingkungan bahwa cara mendapatkannya adalah lewat kekerasan. Walaupun banyak kasus perundungan yg dilakukan diam-diam pada saat tertentu, banyak juga yg bisa dilihat oleh banyak orang. Saksi perundungan secara populasi paling banyak, tetapi yg paling sering tidak ditangani secara serius seolah tidak terkait dengan proses penyelesaian. Dalam kesalahpahaman, kita melupakan kekuatan yg bisa mendorong perbaikan terbesar.

Orang dewasa maupun anak yg berada di sekeliling pelaku dan korban perundungan kunci solusi  bila perannya tidak sekedar pasif sebagai saksi. Memediasi konflik sebelum terlanjur, menghentikan kekerasan saat penyerangan, menginisiasi persahabatan tulus dengan teman berkebutuhan khusus. Semua Ketrampilan ini tidak otomatis dimiliki oleh anak tetapi harus dibiasakan lewat pembelajaran yg punya tujuan menciptakan kepedulian pada lingkungan.

Kita sering lupa, seperti proses di pendidikan. Menangani perundungan adalah soal pencegahan dan pembiasaan, bukan semata penindakan dan hukuman.

Ditulis kembali oleh: C. Tyas Kusumastuty

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.