MERDEKA BELAJAR SEJAK USIA DINI #Goresanku 148


Masa prasekolah adalah masa yang sangat penting dalam pendidikan seorang anak. Pada usia 0-6 tahun banyak disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80 persen. Di masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik motorik, sosial emosi, moral, kemandirian dan seni.
Melihat hal tersebut, saya sebagai pendidik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan murid secara menyenangkan dan bermakna. Belajar yang menyenangkan dan langsung pada obyek pembelajaran, membuat anak akan mampu mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang dimilikinya.

Anak-anak perlu merasakan dan menentukan sendiri pengalaman belajarnya. Saya sebagai pendidik merasakan juga bahwa anak lebih senang, dan lebih memiliki pengalaman belajar yang bermakna, ketika mereka belajar langsung dari obyek belajarnya, yang bisa mereka eksplorasi dengan panca indra mereka.

Metode yang saya gunakan adalah outing ( belajar di luar kelas ) atau belajar bersama alam istilahnya. Ketika anak belajar tentang sebuah tema, saya ajak mereka untuk mengunjungi obyek belajar yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Di sana, anak bisa bereksplorasi secara langsung sehingga secara tidak langsung pula mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangannya.

Saya menemukan tempat outing yang tidak jauh dari lingkungan sekolah melalui beberapa cara. Diantaranya, saya sering bertanya dan berbagi dengan wali murid tentang sumber daya alam ataupun sumber daya manusia yang bisa kami manfaatkan dalam menunjang pembelajaran di sekolah. Syukurlah …. di sekolah saya sangat kooperatif dan tidak sungkan-sungkan berbagi informasi seputar obyek yang bisa kami jadikan sarana belajar anak. Bahkan yang membuat saya terharu, mereka menginformasikan kepada saya tanpa saya minta terlebih dahulu.
Sebagai contoh yang paling sederhana saja, saya mengajak mereka ke taman yang ada di sekitar sekolah saat belajar tema tanaman.

Kami berangkat ke tempat tujuan dengan bersemangat. Saya bisa melihat dari mata yang berbinar pada wajah mereka penuh penasaran. Wajah yang tentu berbeda ketika anak-anak tidak mengetahui dan tidak diajak ikut serta dalam menentukan tujuan belajar sendiri.

Sebelum berangkat, kami semua sepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung.

Di tempat tujuan, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Bahkan mereka tidak sungkan untuk bertanya langsung dengan orang-orang yang ada di sekitar taman untuk mengetahui nama tanaman yang ada di sekitar taman.

Setelah outing, kami kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau pelajari dari tempat outing. Kami merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias berceritera tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui panca indranya. Anak mampu belajar warna, ukuran besar kecil dan lainnya ketika melihat dan meraba/memegang tanaman.

Dibandingkan bila anak hanya belajar dari gambar, film, atau cerita guru, anak jauh lebih bersemangat dan BAHAGIA karena pengalaman belajar dengan berinteraksi langsung dengan sumber belajar lebih mampu mengakomodasikan kebutuhan anak yang berbeda-beda. Tugas saya sebagai fasilitator belajar anak pun  jauh lebih mudah dan asyik.

2 Nopember 2020

Ditulis kembali oleh Kusuma

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.