Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis


Namanya Prita. Tidak ada nama belakang. Seorang perempuan. Saat menginjak usia ke sepuluh, ia mulai hidup sebatang kara. Sejak kecil ia tidak tahu siapa ayah kandungnya bahkan hingga dewasa. Sebelum ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, Prita kecil sering mengajak ibunya bicara di kamar dalam sebuah kos-kosan sederhana, tapi hanya sedikit respon yang kerap diterimanya. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara selain tetangganya. Seorang ibu-ibu paruh baya yang tinggal bersama dengan cucunya di kamar sebelah, orang pertama yang mengajarinya baca tulis dan naik sepeda. Orang pertama yang menumbuhkan kecintaannya pada buku tepat sebelum Prita tinggal di panti asuhan.

Setiap kali Prita bertanya siapa ayahnya, ibunya akan marah. Seusai diberi pertanyaan itu, sang ibu biasanya kemudian pergi ke luar kos seharian. Entah bekerja atau menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Prita dikunci dari luar kamar. Sendirian. Hanya ditemani dengan boneka beruangnya yang sudah usang, mainan murahan lainnya, sisa makanan seadanya yang sudah dijatah dari pagi hingga sore, serta buku-buku bekas tentang cerita anak-anak.

Prita kecil kerap menangis tapi tidak ada yang dapat mendengar tangisannya. Ia terbiasa menangis dengan cara ditahan sampai dadanya terasa sesak dan suaranya tersengal-sengal. Sampai ia terbatuk-batuk. Sejak saat itu ia cukup ketakutan dan memutuskan untuk tidak lagi mencoba bertanya tentang siapa ayahnya. Agar ibunya tidak berteriak marah dan menangis, juga supaya ia tidak terkunci lagi.

Siapa Prita?

Dan apa hubungannya dengan psikodrama?

Tunggu dulu. Ijinkan aku menuliskan kisah ini secara berlompat-lompat dari satu babak ke babak lainnya hingga selesai.

Di apartemen itu Prita tinggal hanya ditemani seekor kucing yang pernah ia temukan hampir sekarat di sebuah got tepat di hari peluncuran novel pertamanya. Ia duduk di kursi rotan. Memandangi jalanan ibu kota dari balkon. Ditaruhnya secangkir susu vanilla hangat dan beberapa buku yang belum selesai ia baca di atas meja. Ada satu novel fiksi berjudul Saviour yang sudut-sudut kertasnya sudah menguning. Di dalamnya terselip setangkai mawar yang dulunya berwarna merah tapi sudah mengering. Ia sengaja menyimpannya di situ. Setangkai mawar yang dipetik dari taman belakang di sebuah rumah, lima tahun yang lalu. Rumah yang kembali mengingatkannya pada satu nama. Rio.

Prita terbangun dengan posisi terlentang di atas kasurnya yang telah usang dengan mengenakan baju daster murah meriah. Rambut panjangnya yang ikal terlihat berantakan. Lalu ditatapnya laki-laki itu. Namanya Satria. Orang-orang sering memanggilnya Rio. Ia masih tertidur dengan posisi tubuhnya yang menghadap ke arah Prita. Tidurnya pulas seperti bayi, tanpa dosa dan tak berdaya. Prita membalikkan tubuhnya ke arah jendela. Ia menyipitkan kedua matanya yang sayu. Memandangi sinar matahari pagi yang masuk menembus kaca jendela kamarnya. Terasa hangat. Sehangat cinta dari Rio yang menjadi energi tersendiri untuknya. Cinta yang sekaligus menjadi terang dan nyala dalam ruang hatinya yang hampa.
Seperti biasa, Rio terbangun, mengolet, dan spontan memeluknya dari belakang. “Pagi ini kita sarapan apa? Aku kok sudah lapar ya. Bagaimana kalau hari ini kita ke pantai?” gumamnya setengah mengantuk sambil mengecup pundak Prita.
Prita membalikkan tubuhnya ke arah suaminya. Ia tersenyum pilu. Tidak ada siapa-siapa di situ. Semuanya hanya ada dalam pikirannya. Semu.

Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Saat ia membuka pintu, ada Rio di situ. “Bisa minta tolong buatkan teh? Ada tamu dari luar kota. Tiga cangkir saja cukup dan tanpa gula semua. Terimakasih,” katanya sambil berlalu.

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul enam pagi. Prita bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan beserta teh sesuai dengan permintaan Rio. Dari luar dapur terdengar suara Pak Sardi, ayah Rio, yang sedang bercakap-cakap dengan tamu.

Prita kerap merasa tidak nyaman dengan suara itu. Ada perasaan tertekan setiap kali ia mendengar suara atau bahkan langkah kakinya. Dan benar saja, saat hendak menaruh cangkir di meja tamu, ia tersandung. Satu cangkir pecah, tehnya muncrat menodai celana panjang yang dikenakan oleh salah satu tamu.

“Heh, kamu ini sebenarnya bisa bekerja tidak? Menyajikan minuman untuk tamu saja tidak becus,” teriak Pak Sardi di depan tamu.

“Maaf, tuan. Maafkan saya. Akan segera saya bersihkan,” ucap Prita gugup.

Seusai tamu pulang, Pak Sardi terlibat perdebatan dengan istrinya di ruang tengah sambil menyebut-nyebut nama Prita. “Sudah kukatakan, sejak awal aku tidak menyetujui Prita untuk bekerja di sini. Mengapa tak kau dengarkan? Asal-usulnya tidak jelas. Seringnya hanya bikin malu saja. Ganti saja dengan pembantu yang baru!”

Pernyataan itu terdengar sangat jelas di kedua telinga Prita. Sambil menyelesaikan cucian piringnya, Prita berusaha menahan tangisnya tapi tak bisa. Bukan hanya karena sedih tapi juga marah. Sangat marah. Pernyataan itu telah menusuk hatinya sangat dalam. Ia tidak meminta untuk dilahirkan. Pun ia juga tidak bisa memilih terlahir dari keluarga yang seperti apa. Andai saja ia bisa memilih. Andai saja. Kenapa dunia ini sering kali terasa tak adil bagi dirinya?

Dari pintu masuk dapur, Rio mendengar tangisan itu. Dipandanginya gadis itu dari jarak yang agak jauh sambil menggendong Gia. Hatinya berkecamuk. Tapi ia memilih memundurkan langkah kakinya dan meninabobokkan bayinya di teras.

Semua berawal dari satu percakapan di suatu sore yang cerah. Saat itu Rio sedang duduk di taman bagian belakang rumah. Tidak ada siapa-siapa. Digelarnya karpet di atas rumput, dengan bersila ia menggambar potret wajah seseorang dengan serius menggunakan pensil di buku sketsa yang selalu dibawanya ke mana-mana. Prita menaruh segelas jus jeruk di dekatnya.

“Terimakasih, Prita,” ucapnya sambil menatap Prita sekilas.

Prita bergegas kembali ke dapur tapi langkahnya terhenti ketika Rio tiba-tiba bertanya, “Bagaimana dengan bayimu dan Yudha?”

Prita terdiam sesaat. Matanya menerawang jauh. Jemarinya meremas kain serbet yang dibawanya. “Kami tidak dibolehkan menikah 0leh kedua orang tuanya. Mereka berencana akan mengambil bayiku ketika sudah lahir, merawat dan membesarkannya tanpa aku. Tapi aku keguguran. Akhirnya kami putus hubungan. Yudha bukan laki-laki jahat. Dia sebenarnya baik, tapi…”

“Aku turut berduka, Prita…” ucap Rio dengan tatapan sendu.

Prita melanjutkan, “Dia sangat berniat membesarkan bayi itu. Dia bahkan berjanji akan selalu mengirimiku uang. Setiap pagi dan sore ia mengirimiku makanan, susu, dan kebutuhan pokok lainnya. Waktu berlalu. Perasaan suka itu lama-lama tergerus. Tak ada lagi cinta di antara kami. Semuanya tak lebih dari sekadar rasa kasihan. Perhatiannya tidak lagi tertuju padaku, tapi tertuju pada calon anak dalam rahimku yang telah menjadi bagian dari dirinya. Tiap kali kami bicara ujung-ujungnya hanya akan berdebat dan bertengkar. Sering salah paham. Dia menang. Aku kalah. Aku tidak akan pernah cukup baginya. Ada perempuan lain yang telah lama mengisi kekosongan hatinya. Jauh sebelum aku datang di kehidupannya. Dan aku tak akan pernah bisa menggantikan sosok perempuan itu. Ternyata untuk mempertahankan hubungan, baik saja tidak cukup,” Prita tiba-tiba meneteskan air mata.

“Prita. Aku…” Suasana berubah menjadi canggung.

Sambil menyeka air matanya sendiri, Prita mencoba mengalihkan pembicaraan. “Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu? Bagaimana rasanya…” Prita menghela nafas panjang, mencoba menyusun kata-kata yang tepat.

“Bagaimana rasanya? Apa?” tanya Rio penasaran.

“Bagaimana rasanya diadopsi? Bagaimana rasanya menjadi anak yang diadopsi?” tanya Prita dengan agak canggung.

Rio mempersilahkan Prita duduk di karpet. “Aku pernah menjadi pemulung saat masih bocah. Aku pernah tidur di pinggir jalan. Kehujanan dan kepanasan. Ayah dan ibuku meninggal. Rumahku dihancurkan. Hidupku begitu menderita. Makan dan tidur saja susah. Bahkan sampai aku sempat putus sekolah. Ketika Pak Sardi dan istrinya menemukanku aku merasa sangat tertolong. Aku memiliki kehidupan yang jauh lebih baik berkali-kali lipat setelah aku diadopsi. Tapi pada akhirnya aku merasa berhutang budi kepada mereka. Mau tak mau aku harus menuruti apa yang mereka mau. Bahkan aku harus mengambil jurusan, bekerja, dan menikah sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dalam hal ini kadang aku merasa seperti tak punya kebebasan untuk memilih. Kalau aku tidak menurut, mereka biasanya akan mengungkit. Kadang aku merasa lelah tapi kalau aku tidak begitu sepertinya aku ini tidak tahu terimakasih.”

“Setidaknya kau punya tempat berlindung, bukan? Kalau terjadi apa-apa kau masih ada tempat untuk pulang dan berkeluh kesah. Setidaknya ketika ada yang menyakitimu, mereka akan berada di garis terdepan untuk melindungimu, bukan? Kini kau punya kehidupan yang sempurna. Kau memiliki pekerjaan yang mapan, istrimu cantik, anakmu sehat…”

Rio langsung menyahut, “Mungkin kita tidak bisa memilih dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang seperti apa, tapi setidaknya kau masih bisa memilih jalan hidup yang kau ingini di masa depan. Kau masih muda, Prita. Jalan hidupmu masih panjang. Kenapa tidak kau lanjutkan saja tulisan-tulisanmu itu? Siapa tahu kelak kau bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisan dari kisah hidupmu. Walaupun tidak ada yang mengadopsimu, bukan berarti kau tidak berharga. Kau berharga dan berhak bahagia, Prita.”

Diminumnya jus jeruk itu. Rio melanjutkan, “Aku punya keluarga tapi aku tidak bisa memilih jalan hidupku sendiri. Mungkin kau tidak punya keluarga tapi kau masih bisa menentukan dan memilih jalan hidupmu sendiri. Kini kau terbebas dari tuntutan keluarga dan dari hutang budi kepada orang tua. Ada hal-hal yang belum kau ketahui, Prita. Kami dijodohkan, aku berusaha menyayanginya sebagai istriku tapi aku curiga. Sepertinya ia ada hubungan dengan laki-laki lain yaitu sahabatku sendiri, tapi aku masih merasa perlu mencari bukti-bukti yang lain. Gia adalah satu-satunya hiburanku di rumah ini. Aku ingin melihatnya tumbuh menjadi anak yang bahagia. Aku tidak suka bekerja di perusahaanku saat ini, aku lebih suka menggambar dan melukis. Aku tidak menjalani kehidupan yang kuingini. Aku hanya menjalani kehidupan yang diinginkan orang tuaku dan aku tidak sebahagia yang kau kira,” tambahnya.

Prita tertegun mendengar jawaban Rio. Matanya masih berkaca-kaca. Ia memandangi Rio dengan takjub. Dan percakapan itu terus berlanjut hingga berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Wajahnya terlihat letih. Ia duduk di kursi meja makan. Menanti Prita selesai membuatkannya teh.

“Ada yang ingin kuceritakan padamu, Prita. Duduklah.”

“Hari ini kau tampak lelah apakah terjadi sesuatu di kantor?”

“Dia memang benar-benar selingkuh dan Gia… Gia terbukti bukan anakku,” ungkapnya pilu. Rio menundukkan kepalanya sambil menahan air matanya yang sudah berkaca-kaca.

Prita menggeser kursinya. Ia turut merasakan kesedihan itu. Persis seperti saat ia kehilangan janinnya. Hubungan pertemanan yang telah terjalin di antara keduanya kadang membuat Prita senang tapi juga tersiksa. Ia ingin lebih dari sekadar teman, tapi sepertinya tak bisa.

Di malam itu ia tak bisa membatasi perasaan itu lagi. Ia tidak mengungkapkannya lewat kata-kata. Spontan Prita bangkit dari kursinya. Sambil berdiri, langsung didekapnya erat-erat pria itu. Baginya laki-laki tetaplah manusia biasa yang boleh terlihat lemah dan berhak untuk menangis. Disandarkannya kepala Rio di dadanya. Diusap-usapnya kepala dan punggung Rio. Prita kehabisan kata-kata. Pertama kali dalam hidupnya ia merasakan kehangatan sekaligus kepiluan yang bercampur aduk. Di luar hujan deras. Suasana semakin terasa pilu sekaligus syahdu. Pun Rio membalas dekapan itu, merengkuh tubuh Prita lebih erat. Sayangnya peristiwa itu hanya berlangsung selama tak lebih dari sepuluh menit. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar.

Keesokan harinya Prita mencoba mengawali pembicaraan tapi Rio selalu berusaha menghindar. Ada suasana canggung di antara mereka berdua.
Sejak saat itu Rio semakin menjauh hingga berminggu-minggu kemudian. Mencari ketenangan di luar rumah. Menyibukkan diri di kantor. Ia sangat merindukan anak perempuan yang telah dibawa kabur istrinya. Dan Prita merasa bahwa dirinya hanyalah secuil kenangan yang barangkali tak begitu berarti banyak di kehidupan Rio.

“Hei, apakah kau mau aku buatkan teh atau kopi?” tanya Prita gusar.

“Tidak usah. Aku sudah kebanyakan kopi hari ini.”

“Tentang malam itu…”

“Tidakpapa. Sudah lupakan saja,” jawab Rio singkat. Kemudian ia berlalu begitu saja, tanpa memandang ke arah Prita sedikit pun.

Gadis itu kembali merasa bukan apa-apa dan siapa-siapa.

“Apakah kau marah padaku?” Prita bertanya lagi pada suatu hari.

“Tidak, Prita. Saat-saat itu aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Aku tidak ingin hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan. Oh ya, rambutku sudah bau. Sudah berhari-hari aku tidak keramas. Bolehkah aku minta tolong…”

Prita mengambil ember berisi air dari kamar mandi. Diguyurnya rambut pria itu dengan air yang diambil menggunakan gayung. Rio duduk bersandar di kursi. Diusapkannya shampoo di setiap helai rambutnya. Pak Sardi beserta istrinya sedang di luar kota selama beberapa hari. Mereka belum diberitahu jika Rio beberapa hari yang lalu mengalami kecelakaan motor. Gigi depannya gempil. Dagunya lecet. Kedua lengannya memar. Telapak kaki kirinya dijahit.

Rio sengaja tidak memberitahu kedua orang tuanya karena ia ingin memanfaatkan waktu berdua bersama Prita walau hanya sekadar menonton film bersama, membaca buku, makan bersama sambil menanyakan tentang bagaimana hari-harinya kehidupannya atau hal-hal tidak penting lainnya.

Bahkan hanya dengan melihat kehadiran gadis itu saja, melihat senyumnya tawanya atau hanya mendengar hela nafasnya saja, pun tanpa menyentuhnya, ia sudah merasa senang dan tenang.

“Mengapa ada setangkai bunga mawar merah di sini, Rio?” tanya Prita dengan bingung. Bunga itu tergeletak di dekat jendela kamar.

“Sebelum kecelakaan, aku berniat memberikannya padamu sebagai tanda permintaan maafku karena sudah mendiamkanmu selama bermingu-minggu. Tapi sekarang sudah agak layu. Aku memetiknya dari taman belakang. Maafkan aku yang sudah membuatmu resah dan bingung. Hehehe.”

Prita mengambil bunga mawar itu. Ia tersenyum lebar. “Terimakasih, Rio,” ucapnya dengan wajahnya yang memerah.

“Terimakasih banyak, Prita. Cuma kau satu-satunya orang yang bisa memahamiku. Cuma kau yang bersedia kubangunkan di tengah malam hanya untuk segelas air putih. Cuma kau yang tanpa perlu kujelaskan banyak-banyak, kau sudah dapat menangkap apa yang kumaksud dengan tepat. Sejak malam itu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Ingin kuawali pembicaraan, tapi aku terlalu gengsi. Aku bahagia atas kedatanganmu di sini. Aku sudah kehilangan Gia. Aku tidak mau kehilanganmu,” ungkapnya dengan setengah mengantuk setelah selesai keramas. Masih dengan rambutnya yang basah, Rio kemudian tertidur di kursi karena efek obat yang diminumnya satu jam yang lalu.

Singkat cerita, Rio mendapat beasiswa kuliah S2 di luar negeri. Prita ikut berbahagia tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa sedih. Prita memikirkan sesuatu. Belum lama ini Pak Sardi memberitahunya sesuatu tanpa sepengetahuan Rio.

“Aku sebenarnya tahu siapa ayah kandungmu. Aku cukup mengenal ibumu. Kau tidak pernah tahu mengapa aku membencinya. Kau tidak tahu apa yang pernah dilakukan ibumu padaku dan keluargaku. Kalau kau ingin tahu, aku bisa memberitahumu tapi dengan satu syarat. Pergilah yang jauh dari rumah ini. Jauhi Rio,” ungkap Pak Sardi.

“Aku bisa membawamu ikut denganku, Prita. Kita kawin lari saja,” bujuk Rio dengan setengah bercanda.

“Sampai kapanpun orang tuamu tidak akan pernah setuju kalau kau menikah denganku. Asal-usulku saja tidak jelas.”

Hening. Keduanya terdiam.

“Aku telah gagal dalam pernikahan pertamaku. Aku telah menikahi seseorang yang diingini orang tuaku. Sekarang saatnya aku memilih jalan hidupku sendiri. Aku berhak menikahi wanita yang kuingini dan kucintai, bagaimanapun latar belakang hidupnya dan keluarganya.”

Prita tersenyum masam. “Aku akan menunggumu sampai kau kembali, Rio. Tapi bila kau tidak kembali, haruskah kita siap kehilangan untuk kesekian kali?”

“Jangan bicara begitu. Aku berjanji aku pasti akan kembali. Saat di sana, aku akan meneleponmu setiap hari, Prita.”

“Itu tandanya aku harus segera pergi dari rumah ini, Rio. Siapa lagi yang bisa kuajak bicara di sini selain dirimu? Ibumu saja tidak mau menatap wajahku saat bicara denganku. Apalagi ayahmu. Tidak seharusnya aku berada di sini dan harus berapa lama lagi kita bisa bersama-sama lagi?” Prita tiba-tiba menangis. Mengingat apa yang pernah dikatakan Pak Sardi. Bagaimana mengatakannya kepada Rio?

“Jangan menangis, Prita. Sini, ijinkan aku memelukmu sekali lagi. Jangan katakan bila ini yang terakhir.”

Pengalaman mendalami peran dalam Psikodrama
Seperti yang sudah-sudah, psikodrama memang powerful. Jadi di kesempatan webinar kali ini, aku sengaja tidak masuk terlalu dalam meskipun aku tetap menyimak dari awal hingga selesai. Apalagi temanya tentang self-healing yang didalamnya pasti akan ada cerita-cerita pilu.

Pak Didik menjelaskan bahwa ketika psikodrama dilakukan secara langsung dalam setting kelompok (hal ini tidak bisa dilakukan saat webinar), biasanya akan diperagakan sebuah pertunjukkan drama. Akan ada pembagian dan pertukaran peran. Akan ada satu peserta yang ditunjuk untuk menjadi aktor utama (protagonist) yang akan berbagi atau bercerita tentang pengalamannya di masa lalu. Sedangkan peserta lainnya ada yang berperan menjadi barang, hewan, pohon, dan lain-lain untuk membangun suasana.

Psikodrama biasanya diakhiri dengan refleksi. Peserta diminta menuliskan pengalamannya saat mengikuti psikodrama sebagai bentuk refleksi. Yang paling menarik buatku adalah ketika aku membaca tulisan refleksi salah seorang peserta yang disampaikan dalam ppt.

Jadi saat itu drama yang disajikan bertema royal wedding. Peserta ini tidak terlibat secara langsung. Ia seingatku hanya sebagai penonton. Namun melalui drama yang disajikan, meskipun tidak sama persis dengan apa yang dialaminya, perasaannya terwakilkan. Ia seperti menangkap simbol-simbol kesadaran atas pengalaman hidupnya sendiri melalui pengalaman hidup orang lain.

Simbol! Seruku dalam hati. Tepat saat itu juga sosok perempuan bernama Prita langsung muncul di pikiranku. Barangkali sudah sejak lama, jauh sebelum aku belajar psikodrama, aku sudah menerapkan konsepnya tanpa kusadari.

Kisah Prita adalah kisah fiksi yang kubuat sendiri sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku sering berperan menjadi Prita sambil berbaring di atas kasur. Aku berdialog dengan diriku sendiri. Semuanya kumainkan sendiri. Aku hanya perlu membayangkan dan berdialog secara spontan entah sebagai Prita, Rio, atau Pak Sardi.

Untuk membangun suasana, aku suka menyetel lagu atau musik. Bahkan aku sering hanyut dalam kisah itu sendiri. Kerap tiba-tiba aku menangis saat memainkan peran dalam adegan yang sedih. Kerap aku tersenyum senyum sendiri saat adegannya lucu atau senang. Kalau kurasa sudah cukup, aku menarik nafas dalam-dalam. Aku meyakini diriku bahwa aku bukan Prita. Anggap saja aku hanya penonton. Tentunya hal ini tidak bisa disebut sebagai terapi. Lebih tepatnya aku hanya bermain-main psikodrama saja karena kalau untuk terapi harus ada pendampingan khusus dari psikolog, terapis, atau konselor.

Melalui sesi webinar kali ini, aku baru menyadari bahwa gambaran tokoh Prita yang kuciptakan dalam pikiranku selama ini adalah cerminan dari diriku sendiri. Meskipun kisahku tidak sama persis. Membayangkan Prita, aku seperti bercermin.

Lagi-lagi psikodrama membantuku membuka pintu kesadaranku. Membantuku mengenali diriku sendiri lewat simbol-simbol yang mulai kupahami. Seperti misalnya, saat adegan Prita menangis di dapur. Mengapa harus di dapur? Karena dapur adalah simbol dari tempat di mana aku sering mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan, tempat di mana kerap terjadinya pertengkaran antara aku dan orang tuaku.

Adegan saat Prita mengeramasi Rio, itu pernah kualami saat kakakku kecelakaan. Aku mengeramasi kakakku yang duduk di kursi dengan ember berisi air. Tidak ada orang rumah yang peduli padanya, selain aku. Dia tidak pernah melupakan kejadian itu karena sejak saat itu dia sadar bahwa dia membutuhkanku. Dia kemudian menjadikan karakterku sebagai kriterianya dalam mencari pasangan.

Lalu kenapa Prita hidup tanpa ayah padahal aku masih punya ayah? Lalu kenapa ibunya selalu menangis setiap kali Prita bertanya soal ayahnya? Kenapa Prita keguguran? Siapa sebenarnya sosok Rio dan Yudha? Padahal aku belum pernah pacaran dengan siapa-siapa. Mungkin simbol-simbol ini ada yang bisa kupahami sendiri. Mungkin ada juga simbol-simbol yang tidak kusadari, belum kupahami, tapi bisa ditangkap dan dibaca oleh psikolog.

Sebenarnya cukup berat menuangkan kisah fiksi ini ke dalam bentuk tulisan. Untuk membayangkannya saja juga berat. Ini baru kali pertama dalam hidupku, aku menuliskannya. Biasanya hanya mentok di pikiran saja. Bahkan saat menuliskan kisah ini, dua hari berturut-turut kepalaku pusing. Mungkin rasanya seperti menuliskan kisah hidupku sendiri. Dibutuhkan keberanian.

Lagi-lagi psikodrama mengajakku untuk berani jujur kepada diriku sendiri. Tulisanku kali ini memang cukup panjang karena kalau aku hanya menceritakan kisah Prita secara singkat atau hanya sedikit, rasanya seperti ada yang mengganjal. Hehe. Jadi, ketika aku berhasil menyelesaikan tulisan tentang Prita, aku merasa lega.

Dari apa yang sudah kupelajari…Selain meningkatkan kesadaran, psikodrama dapat membantu individu mengenali, membaca, sekaligus memahami simbol-simbol atau makna yang tersembunyi bisa dari perasaan, pikiran, dan tindakan. Dengan harapan individu dapat mengenali serta memahami dirinya sendiri.

Tidak usah jauh-jauh sampai ke cerita Prita. Contoh paling sederhana adalah ketika di webinar aku dan para peserta diminta berpose menjadi pohon, sering kali aku tidak berani mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Maksimal hanya sampai di sekitar kepala saja. Pak Didik pernah bilang kalau pose di bagian tubuh atas berkaitan dengan masa depan. Aku kemudian berpikir bahwa memang pada kenyataannya aku tidak berani bercita-cita tinggi. Aku tidak berani berekspektasi tinggi. Ada ketidaknyamanan saat aku mengangkat tangan. Ya, aku masih ragu dan cemas dengan masa depanku sendiri.

Psikodrama tidak terlepas dari kehidupan drama yang berbeda-beda dari masing-masing peserta dalam setiap sesinya. Dari sini, menurutku individu diajak untuk lebih berempati baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Psikodrama juga melatih spontanitas bertindak serta melatih kreativitas, misalnya untuk membayangkan sesuatu (imagery) seperti yang kulakukan saat membayangkan kisah hidup Prita dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.

Dari aku, yang bukan Prita

Dalam Rumah Rio, 2 November 2020

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

2 tanggapan untuk “Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis”

  1. Keren sekali, cara menyampaikan ceritanya begitu detail, aku membayangkan kisah ini SBG suatu kisah yang nyata terjadi di kehidupan. Aku di ombang ambing di bawa perasaan tiap tokoh di dalamnya. Sama sekali tidak terbayang ini adalah sebuah cerita fiksi. Begitu menggugah Bgmn psikodrama bisa di terapkan dan aplikasi nya dlm keseharian.. mantaaab..aku banyak belajar dari tulisan ini…. Ingin ada novelnya deh..❤️❤️❤️❤️

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.