Menulis untuk Menjaga Kesehatan Mental Menghadapi Pandemi Corona


Pandemi yang terjadi saat ini tentu telah menjadikan berbagai perubahan kebiasaan, perubahan perilaku, keadaan menjadi tidak pasti. Bagi kebanyakkan orang perubahan dapat membawa tekanan emosi, apalagi dibanjiri berita yang menakutkan dengan penularan Covid-19 yang cepat dan korban yang terus bertambah tiap hari.

Kondisi ini menguras energi pikiran dan perasaan untuk beradaptasi, belum lagi protokol kesehatan yang ditentukan oleh pihak berwenang. Ketentuan tidak boleh berkumpul untuk mengurangi kecepatan penyebarannya. Protokol kesehatan yang juga harus dilakukan, mengenakan masker, sering mencuci tangan dengan sabun, selain menjaga jarak fisik itu.

Berdasar ketentuan pihak berwenang itu, maka instansi pemerintah, perusahaan dan organisasi sosial menginstruksikan agar bekerja dari rumah saja.

Ada sisi lain yang dapat dilihat dari kondisi ini. Orang-orang menjadi lebih banyak waktu di rumah. Jelas biasanya ada waktu dihabiskan di perjalanan sekarang dapat digunakan untuk aktivitas lain. Belum lagi beban pekerjaan juga berkurang karena target produksi juga berkurang. Meskipun ada pekerjaan baru menemani anak-anak belajar, karena sekolah juga dilakukan di rumah saja, Tetap saja masih banyak waktu luang melakukan aktivitas lain.

Apalagi yang terindikasi positif (OTG) malah memiliki banyak waktu untuk diri sendiri, baik yang di karantina di rumah penampungan atau pun karantina mandiri. Sendiri terisolasi tanpa beraktifivas produktif menjadikan pikiran berkelana tanpa tujuan dan perasaan jadi riuh tak terkendali. Apabila terus dipendam dapat menjadi memperparah sakitnya. Dari banyak kasus orang yang terindikasi positif Corona, keparahannya lebih sering disebabkan oleh beban pikiran dan perasaannya.

Salah satu untuk mengatasi hal tersebut dapat diisi dengan menulis. Kegiatan menulis merupakan aktivitas yang dapat dikatakan menata pikiran. Menulis adalah mengungkapkan isi pikiran dan perasaan dengan tindakan membuat simbol berupa kata kata. Keselarasan antara pikiran perasaan yang diungkapkan merupakan sebuah proses terapeutik. Beban pikiran dan perasaan dapat dilepaskan

Dalam prosesnya abaikan saja tata bahasa, abaikan saja juga alurnya, yang penting ungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran dan yang ada di perasaan. Selanjutnya dapat dibaca kembali, baik untuk direvisi jika akan disimpan atau disharingkan kepada orang lain, atau pun dihapus (delete) karena tidak ingin diketahui orang lain, efek terapeutiknya tetap dapat dirasakan

Ada cara yang mudah untuk dilakukan yaitu menulis rencana harian, yang berisi rencana aktivitas harian sederhana, seperti mandi, menanam pohon di pot, olah raga ringan, belajar bersama anak secara online, dll.

Menuliskan rencana harian ini dapat membangkitkan pikiran positif, menjadi indikasi adanya harapan dan memiliki tujuan. Lebih lagi pelaksanaan rencana harian tersebut memberikan kesibukan yang bermanfaat. Dengan menjaga tetap beraktifitas produktif, hal ini akan menjaga Kesehatan Mental. ( baca : Menulis sebagai cara terapi jangka pendek )

Semoga bermanfaat

Yogyakarta, 6 November 2020

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.