Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja


Setiap orang memiliki definisi spiritualitas mereka sendiri, tidak ada peraturan, tidak ada dogma yang harus diikuti. Sebagian besar berhubungan dengan hubungan pribadi dengan apa yang dirasakan setiap orang pada Sang Sumber atau Penciptanya. Ini adalah ruang batin dimana mereka terhubung dengan bimbingan mereka dan aspek tertinggi dan terbaik dari keberadaan mereka.

Sebagai manusia, kita dibentuk dari tubuh, pikiran, emosi dan jiwa (spirit). Spiritualitas memberikan ekspresi bahwa ada sesuatu di dalam diri kita; yang berkaitan dengan perasaan, dengan kekuatan yang datang dari dalam diri kita, dengan mengetahui diri terdalam kita.

Spiritualitas membantu individu dalam menemukan makna dan tujuan dalam hidup mereka dan lebih menunjukkan nilai personalnya. Nilai personal ini merefleksikan hasrat untuk membuat perbedaan dan membantu untuk membuat dunia lebih bermakna. Maka dari itu, memiliki spiritualitas di kehidupan sehari–hari sangat penting untuk membuat kita menjadi individu yang utuh dan bermakna. Spiritualitas sangat berperan penting bagi kehidupan kita baik terhadap kehidupan berkeluarga, beragama bahkan pada kehidupan kerja kita.

Bagaimana Psikodrama dapat menjadikan Spiritual masuk menjadi Etos kerja, bagaimana orang yang bekerja dalam hal ini karyawan memiliki spiritual yang tinggi. Mereka bekerja bukan sekedar mendapatkah upah, melainkan mendapatkan makna atas hidupnya, memberi kontribusi pada dunia (tempat kerjanya) serta sebagai wujud akan ungkapan syukur pada Penciptanya. (baca : Ajaran Spiritual Merasuk )

Etos berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang artinya sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu.

Arti kata Kerja, menurut KBBI adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian

Etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Etos Kerja ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan, serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau sekelompok manusia untuk mencari nafkah mata pencaharian demi kelangsungan hidupnya.

Psikodrama adalah metode tindakan, permasalah tidak hanya dibicarakan melainkan dipertunjukan. Adam blatner, menawarkan istilah baru untuk Psikodrama yaitu dengan Action Eksploration/ Dalam arti tertentu, dipandang sebagai cara meningkatkan kesadaran, berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen.

Psikodrama adalah metode untuk spesial purpose, bertujuan khusus, nah tujuan penerapan psikodrama kali ini adalah Kesadaran Baru dalam Hubungan dengan Diri Sendiri, Orang lain dan Yang Ilahi, dengan kata lain Psikodrama melatih Spiritualitas, dalam kehidupan di tempat kerja, memberi kontribusi, memiliki tujuan lebih besar, dan menemukan makna hidup dalam bekerja. Psikodrama melatih spiritualitas karyawan agar mereka bekerja tidak semata mencari uang namun juga sebagai pemenuhan makna hidupnya. Yaitu memberi kontribusi pada dunia (tempat kerjanya) serta sebagai wujud akan ungkapan syukur pada Penciptanya. Karyawan yang memiliki Spiritual tinggi memiliki produktivitas kerja yang tinggi juga.

Mari kita praktekkan !

Catatan: dilakukan secara luring dan sudah selesai pandemi Covid 19, ya!

ALUR PROSES PSIKODRAMA

Lingkaran Pembukaan

Peserta diajak untuk berdiri melingkar. Perkenalan dilakukan dengan cara Psikodrama. Melakukan pose bebas, selanjutnya menyebutkan nama panggilan dan mengungkapkan harapannya mengikuti acara ini.

Aktivitas selanjutnya tetap dalam bentuk lingkaran mereka diminta untuk : meletakkan tangan kanan di dada kiri, sambil berkata Personal, menepuk punggung orang sebelah kanannya sambil berkata Interpersonal, dan selanjutnya mengangkat tangan kanan sambil berkata Transpersonal.

Dijelaskan bahwa dalam bekerja perlu memiliki ETOS KERJA yang baik yaitu  memiliki hubungan yang baik dengan dirinya sendiri (Personal),  dengan Orang Lain (Interpersonal) dan dengan Tuhan (Transpersonal).

Hubungan yang baik dengan diri sendiri diwujudkan dengan mengoptimalkan kemampuan dirinya yang terbaik. Hubungan baik dengan orang lain diwujudkan dalam sinergi. Hubungan yang baik dengan Tuhan diwujudkan dalam Kerja adalah wujud syukur. Acara kali ini untuk membangun hubungan-hubungan tersebut.

Hubungan-hubungan ini selalu selaras ketiganya, satu hubungan terlihat tidak baik, dapat dipastikan hubungan lainnya juga tidak baik. Satu hubungan membaik maka yang lainnya akan turut membaik.

Jadi peserta akan secara total diajak agar berusaha bekerja optimal dan memberi kontribusi, baik bagi diri sendiri, orang lain (rekan Kerja, Perusahaan) dan wujud syukur bagi Sang Pencipta.

I. Warming Up atau Pemanasan

Tahap ini dilakukan dengan teknik Sculpture.

Membangun Hubungan dengan diri, diarahkan untuk sadar akan potensi diri dan mengoptimalkannya.

Peserta diajak memainkan Sculpture, diminta mengulang pose bebas awal tadi saat perkenalan. Selanjutnya diminta membuat pose lagi yang unik dan baru, yang belum pernah dilakukan. Sutradara menyampaikan bahwa dalam melakukan proses psikodrama ini, boleh salah, makin banyak membuat salah, makin banyak belajar, tidak pernah salah tidak pernah belajar.

Tiap peserta diminta membuat Pose sebuah Pohon. Bebas menjadi pohon apa saja. Peserta diajak menyadari bentuk pose yang dibuat, Simetris atau tidak simetris, fokus pada akar, batang atau mahkota. Peserta diajak merefleksikan Pohon sebagai diri, yang memiliki hubungan dengan diri masa lalu, sekarang dan masa depan. Dasar penjelasannya diambil dari intrepretasi gambar Pohon dari test grafis.

Sutradara memberikan contoh berbagai pose pohon, serta bagian bagiannya. Pose atas fokus pada mahkota, pose tengah fokus pada batang ranting, serta fokus pose bawah menjadi akar.

Pemberikan contoh Pose bagian pohon oleh Sutradara agar peserta berani bereksplorasi, tengah, atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang, sekaligus mengajak pada kesadaran bahwa hidup bukan sendiri dan persiapan untuk beradaptasi menjalin hubungan dengan orang lain.

Membangun Hubungan dengan Orang lain. Sadar akan tugas serta apa yang diharapkan darinya sehingga dapat memberikan kontribusi

Peserta diminta untuk membuat Pose Pohon (berdua)
Peserta diminta untuk membuat Pose Pohon (bertiga)
Peserta diminta untuk membuat Pose Pohon (berempat)

Pastikan bahwa peserta telah berekplorasi mengambil berbagai posisi dengan pernah berganti-ganti menjadi akar, daun, batang, ranting, mahkota dan lainnya. Arahkan juga bahwa seorang tidak hanya menjadi satu bagian saja dari sebuah pohon, bertujuan mengajak mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Situasi akan  lebih menggembirakan dengan di tiap pose menjadi pohon bersama ini dapat diambil foto yang instagramable. Refleksi dari pose pose ini adalah apakah aku berani menjadi (mengoptimalkan diri) dan memberi kontribusi.

Peserta diminta untuk membuat pose Air mancur (berlima). Peserta diajak berefleksi lebih menyadari terhadap alur atau aliran airnya. Perlahan peserta diajak untuk menyadari alur proses yang menjadi hal penting dalam dunia kerja. Saling terhubung dan menyadari bahwa tiap tindakan yang dilakukan dapat mempengaruhi hasil.

Seluruh peserta diminta menjadi satu untuk membuat pose sebuah rumah lengkap dengan interior dan eksteriornya. Refleksi dari pose ini, peserta diajak menyadari bahwa dalam sebuah rumah (perusahaan) ada berbagai bagian yang berbeda dan saling melengkapi.

Seluruh peserta diminta membuat Sculpture membentuk sebuah Kereta Kuda (Kencana). Bentuk komposisi yang dapat menggambarkan peran-peran yang dilakukan di perusahaan.

Seluruh peserta diajak merefleksikan peran yang dilakukan ketika menjadi bagian Kereta Kencana, dalam konteks peran di tempat kerja (kusir, roda, kuda, pintu kereta,..dll). Metapora ini akan memunculkan bahwa selama ini aku bekerja sebagai kuda, bahwa aku bekerja sebagai Kusir,..dan seterusnya).

Makna (kesadaran) tersebut diusahakan muncul dari peserta dengan  dibantu pernyataan, “Coba temukan kesamaan peran ketika menjadi bagian dari Kereta Kencana, dengan peran di tempat kerja. Kereta Kencana ini adalah Perusahaan yang bersama menuju puncak sukses”.

Peserta akan menyadari perannya. Sutradara memberikan affirmasi tentang Kesadaran Peran, bahwa peran tersebut dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi di tempat kerja. Sutradara menekankan kembali tentang makna “berani menjadi dan berkontribusi”, boleh salah, berani berbeda.

II. Action

Membangun Hubungan dengan Tuhan, peserta diajak untuk sadar bahwa dirinya memiliki keterbatasan sehingga bersedia memperbaiki diri dan melakukan sesuatu yang lebih baik dengan menyadari bahwa kesempatan tersebut selalu ada. Dengan menjadi lebih baik berarti semakin dia dengan memuliaan Tuhan.

Tahap action ini diawali dengan Pemilihan Protagonis. Sutradara dapat menawarkan kepada peserta siapa yang bersedia menjadi protagonis ini. Jika ada yang bersedia dapat langsung dimainkan, jika tidak ada yang bersedia dapat dilakukan pemilihan atau hom pim pah, siapa yang terpilih tetap ditanyakan tentang kesediaannya, dan boleh menolak. Lakukan pemilihan ulang hingga ada yang bersedia menjadi protagonis. Perlu dipastikan bahwa menjadi protagonis adalah kerelaan bukan paksaan.

Protagonis didudukkan di kursi yang diposisikan sebagai fokus utama. Protagonis diminta memilih Pembantu Protagonis untuk menjadi dirinya di masa depan di situasi 3 menit sebelum tutup usia.

Protagonis bertukar Peran dengan Pembantu Protagonis, sehingga sekarang Protagonis menjadi dirinya di masa depan pada saat menjelang ajal.

Protagonis menggambarkan peristiwa pada saat 3 menit sebelum tutup usia itu. Bagaimana dirinya, orang orang dekatnya, lokasinya, benda benda apa yang ada di sekitarnya, dsb. (pastikan menggunakan Present Tense)

Protagonis dibantu Sutradara (fasilitator) mendesain diorama (Sculpture) peristiwa tersebut dengan melibatkan peserta lain yang dipilih (oleh Protagonis) dengan memberikan selendang warna dan menyebutkan menjadi apa (siapa) di peristiwa itu.

Selanjutnya dilakukan teknik Mirroring, Protagonis diminta bertukar peran lagi dengan pembantu Protagonis untuk mengantikan dirinya, kemudian ia melihat adegan itu.

Pertukaran Peran ini, Protagonis melihat dirinya di masa depan agar mampu melihat lebih luas Protagonis dapat diminta untuk berdiri di atas kursi atau meja. Pengalaman ini memberikan gambaran pada dirinya yang sekarang akan masa depan hidupnya, yang diarahkan menjadi penyemangat dalam bekerja.

Berikan waktu beberapa saat untuk Protagonis untuk mengamati meresapi dan memaknai apa yang terjadi di masa depan itu. Fasilitator menyarankan Protagonis memejamkan mata dan membayangkan adegan itu lalu ditutup dengan doa pribadi dalam hati.

Setelah beberapa waktu yang dirasa cukup (ada getar rasa di Protagonis) Fasilitator berkata, “Keinginan baik yang diungkapkan adalah sebuah doa.” Seluruh peserta diminta untuk berkata “amin” pada saat Protagonis membuka mata.

Seluruh peserta melepaskan peran (de-roling) dengan menyerahkan selendang warna yang dipakainya kepada Protagonis, sambil mengucapkan aku bukan …… (peran di peristiwa), aku ……. (nama sendiri). Protagonis mengucapkan terima kasih kepada setiap Pembantu Protagonis itu.

Seluruh rangkaian proses Action ini dapat dilakukan dengan iringan musik soundtrack Naruto Hokage Funeral, atau musik instrument lain yang lembut untuk membangun suasana khidmat.

Fasilitator mengintegrasikan  prosesnya menjadi sebuah bentuk Syukur bahwa kita semua, masih diberi waktu untuk mewujudkan masa depan. Ini merupakan sebuah doa.

III. Refleksi

Seluruh peserta diajak melakukan Sharing, dimulai dari Protagonis, Pembantu Protagonis semua dan Penonton yang ada. Fasilitator membantu sharing itu dengan beberapa pertanyaan berikut :

Apa yang dirasakan selama proses “drama tadi”?

Pelajaran apa yang didapatkan, pikiran baru apa yang muncul?

Apa makna baru yang aku dapatkan sekarang atas hidupku dan caraku bekerja ?

Apa tindakan baru yang akan aku lakukan di tempat kerja nanti?

Selama proses Sharing ini kemungkinan besar ada air mata. Hal ini menjadi indikasi bahwa mereka sudah berani jujur pada diri sendiri. Fasilitator mengaffirmasi  dengan menyatakan bahwa Spirit baru telah muncul, jadikan pengalaman ini sebagai awal untuk hidup baru, sikap kerja yang baru yang lebih baik. Sikap kerja sebagai wujud syukur atas waktu yang masih diberikan.

Lingkaran Penutup

Semua diajak membuat satu lingkaran besar agar dapat saling melihat satu sama lain. Lalu diminta untuk membuat ringkasan pengalaman hari ini, dengan membuat Judul Film dan Genre nya, jiika proses kali ini adalah sebuah Film.

Penutup dilakukan dengan saling menatap mata satu persatu tiap peserta sambil mengucapkan berterima kasih dalam hati, Diiringi musik instrumental yang lembut, atau soundtrack Naruto Hokage Funeral lagi.

Beri kesempatan kepada peserta yang ingin mengungkapkan kesan selama mengikuti proses ini. Jika sudah tidak ada lagi dapat diputarkan lagu Ebiet G Ade, Masih Ada Waktu sambil saling bersalaman semua, boleh juga jika ada yang ingin lebih menguatkan dengan berpelukan.

Come out and play !

Yogyakarta, 11 November 2020

Retmono Adi

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.