Pelatihan Psikososial dengan Cara Psikodrama, Sebuah Praktek Role Play untuk Relawan Gunung Merapi


Pada tanggal 29-30 November, di Aula Kantor Desa Sengi, Dukun, Magelang, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) beberapa desa dan Tim Siaga Bencana serta satu lembaga Sosial peduli Anak, berkumpul untuk belajar Psikososial. Berikut daftar mereka :

FPRB Desa Sengi
FPRB Desa Krinjing,
FPRB Desa Ngargomulyo
FPRB Desa Sumber

Tim Siaga Desa Lencoh
Tim Siaga Desa Klakah

YKSB

Kesemua Desa berada di Lereng Gunung Merapi Jawa Tengah, dan YKSB dari Solo. Para pesertanya adalah perwakilan Relawan warga desa tersebut dan perwakilan YKSB sebagai pendukungnya.

Tulisan ini mengungkap sharing teknisnya bagaimana Psikososial tersebut diterapkan dengan cara Psikodrama, agar nanti jika ada kawan yang berminat untuk berlatih dapat dengan mudah melakukannya. 

Aku akan menyusun alurnya mengikuti 3 Tahapan Utama Psikodrama, yaitu Pemanasan, Praktek Role Play, dan Integrasi refleksi. Jadi Aku mengabaikan urutan berdasar waktu kejadian baik pada hari pertama maupun hari kedua. yuks kita ikuti.

Seperti biasa acara yang melibatkan institusi resmi pemerintahan, maka pembukaan dilakukan oleh Pak Lurah, sebagai pimpinan tertinggi di Pemerintahan Desa. Beliau rela menyediakan waktunya memberikan arahan dan wejangan dan membuka acara, selanjutnya meningggalkan tempat karena ada acara lain.

Seperginya Pak Lurah, setting ruangan kami rubah, yang awalnya seperti kelas untuk ceramah dengan setting berhadapan dua arah, kami jadikan setting melingkar dengan tujuan agar terjadi interaksi dari berbagai arah. Ada kami sediakan space (ruang) di tengah lingkaran kursi-kursi untuk berinteraksi dan bereksplorasi.

Pemanasan

Pemanasan diawali dengan teknik Sosiometri Lokogram, peserta diminta berdiri berkumpul bersama dalam kelompok desa (komunitas) masing masing yang dilanjutkan memperkenalkan diri. Mereka memilih salah satu menjadi juru bicaranya.

Teknik Sculpture membuat patung pohon, sendiri dan bertahap membuat patung pohon berdua, bertiga, berempat, berlima. Pada saat membuat patung diminta unutk tidak berbicara satu sama lain. Peserta diajak mengenali potensi diri, kesadaran diri dan mengoptimalkan diri dalam usaha memberi kontribusi. Setiap pose ditanya menjadi apa, pohon apa. Diarahkan juga untuk bereksplorasi membuat berbagai pose posisi bawah, tengah, atas, depan samping, belakang untuk menjadi pohonnya.

Semakin kompleks tetap dengan teknik Scupture, peserta diajak membuat Diorama, Kantor Kelurahan, Peringatan 17 Agustus, Pasar tradisional waktu pagi hari. Peserta mulai melihat situasi dan kondisi bagaimana menempatkan diri, bersikap, berperan dengan kesadaran pentingnya memahami orang lain.

Pemahaman tersebut dilakukan dengan mengajak peserta untuk mengoptimalisasi ruang, membangun hubungan secara fisik (jarak, kontak mata, arah gerak tangan dll) karena tetap diusahakan tidak ada komunikasi secara verbal. Teknik Sculpture ini juga untuk mengaktifkan Kesadaran Nonverbal. Skill penting untuk bekal Relewan Psikososial yang akan bertemu dengan orang-orang yang dominan memberi pesan nonverbal, karena kesulitan dalam mengungkapkan dirinya secara verbal. Situasi yang dapat menjadi indikasi kebutuhan akan bantuan psikososial. 

Teknik Lokogram aku gunakan lagi. Kali ini untuk Self Assesmen melatih kesadaran Instrument Utama Aktor, yaitu Rasa, Pikiran, dan Tubuh (untuk Bertindak). Aku memberikan pernyataan, selama sebulan terakhir instrument mana yang paling banyak digunakan. Instrument Rasa yang berarti lebih banyak merasa, silahkan berdiri sebelah sini. Instrumen Pikiran yang berarti  lebih banyak berpikir sebelah sini. Instrumen Tubuh yang berarti lebih banyak bertindak di sebelah sini.

Beberapa orang bersedia berdiri di tempat yang telah aku tentukan, dan beberapa tetap duduk di tempatnya. Peserta lebih dari 30 orang, (jika pesertanya kurang dari 15, pastikan semuanya terlibat aktif) maka pada tahap awal ini pilihan menjadi penonton dapat diterima. Hal ini aku sengaja memberikan pilihan itu demi efektifitas waktu, serta memciptakan situasi yang tidak memaksa.

Masing masing yang berdiri aku minta untuk mensharingkan pengalamannya sebulan terakhir dengan kupandu pertanyaan yang spesifik.

Apa yang dirasakan selama sebulan terakhir ini? kutanyakan pada yang berdiri pada tempat paling banyak merasa.

Apa yang sebulan ini pikirkan, kutujukan pada yang berdiri di tempat paling banyak berpikir,

dan

Apa yang dilakukan selama sebulan terakhir ? kutujukan pada yang berdiri pada tempat paling banyak bertindak.

Perlahan dengan panduan itu, peserta aku arahkan untuk mampu menempatkan dan mengoptimalkan instrument aktor tersebut. Aku tekankan bahwa dalam Psikososial langkah penting, utama, dan pertama kali adalah membantu orang yang butuh dibantu adalah membantu mengenali rasa yang dirasakannya. Kemampuan ini dilatih dengan mengolah kemampuan, menyadari instrument rasa dalam diri sendiri terlebih dahulu.

Ditekankan kembali oleh Bu Resti, kawan Psikolog yang juga memfasilitasi latihan Psikososial ini. Bu Resti memberikan tantangan pada peserta untuk menyebutkan berbagai rasa. Peserta menuliskan di kertas berbagai kata yang menunjukkan kondisi emosi, sedih, takut, gelisah, gembira, senang, rindu, kangen, marah, kecewa,…dll. Beliau selanjutnya menjelaskan bagaimana melihat tanda tanda untuk mengidentifikasinya.

Peserta sudah mulai terlibat, baik secara pikiran, perasaan dan tindakannya dalam proses latihan ini. Nampak dari sharing pengalaman mereka setelah menjalani sesi. Mereka merasa senang dan mendapatkan sesuatu yang baru dari hal hal sederhana. Saatnya untuk tahap berikutnya. Kami tutup sesi Pemanasan, dengan makan siang dulu.

Action Praktek Role Play

Perlu ditekankan lagi bahwa dalam menggunakan metode Psikodrama ini, untuk Boleh Salah, makin banyak melakukan kesalahan berarti makin banyak belajar. 

Kami minta tolong pada salah satu peserta (anggap sebagai ketua kelas) untuk membagi kelompok menjadi 3 kelompok. Kelompok yang akan memainkan role play situasi di Barak Pengungsian dengan Peran Relawan mendukung Psikososial untuk :

1.  Kelompok Anak

2. Kelompok Lansia dan Ibu Hamil

3. Kelompok Remaja.

Di tiap kelompok tersebut diwajibkan untuk ada yang berperan menjadi pengungsi yang diffabel (berkebutuhan khusus)

Semua kelompok diberi waktu 5 menit saja untuk membuat cerita kasarnya, ditambah selanjutnya 10 menit untuk berlatih adegannya. Sengaja diberi waktu yang pendek agar lebih berani spontan dan muncul ide ide kreatif. Tujuan dari spontanitas ini untuk lebih menekankan pada berlatih Jujur terlebih dahulu, lalu Baik dan baru diikuti Benar. Intinya yang penting jujur dulu lah ! jelek ga pa pa, salah juga ga pa pa. 

Kelompok Psikososial Anak

Kelompok Relawan yang peduli pada anak, membagi perannya ada yang menjadi anak-anak, ada yang anak difabel, dan ada yang menjadi relawan. Relawan mengajak anak-anak bermain. Ceritanya bagaimana melibatkan semua anak bermain bersama. Ada anak yang terluka dan dibawa ke tempat P3K yang ada dokter atau paramedis yang lebih berkompeten dalam penanganannya.

Kekuatan teknik drama ini adalah ketika ada adegan yang bagus, aku akan berteriak, “Freeezzzeee! seluruh peserta membeku, permainan berhenti dengan posisi terakhir. Tetap dalam posisi tersebut (mematung), aku menjelaskan situasi yang penting. Pada saat adegan Relawan menyamakan tingginya dengan tinggi anak anak, Relawan itu jongkok saat berbicara dengan anak. Ini sikap yang tepat dan aku tekankan agar diingat baik-baik oleh kelompok ini, maupun kelompok lain yang menonton drama spontan ini.

Aku juga akan melakukan penghentian adegan jika ada hal yang “salah” agar dijadikan perhatian. Waktu itu ada relawan yang berkata pada anak-anak, “Kamu harus mau jadi buaya!”. Aku sampaikan kepada seluruh peserta agar tidak menggunakan kata harus, ketika berinteraksi dengan anak-anak saat nanti betul betul di kondisi sesungguhnya dalam melakukan dukungan Psikososial.

Masih beberapa kali drama kami hentikan di tengah permainan untuk menyampaikan pesen-pesan penting berdasar yang terjadi secara spontan di drama itu.

Setelah satu kelompok selesai bermain, Bu Resti memfasilitasi refleksinya dan memberikan beberapa tambahan materi pengetahuan yang nantinya dibutuhkan. Salah satunya hati hati dalam memotivasi anak dengan memberi hadiah. Cara ini adalah memotivasi anak dari luar dirinya, pada masa anak-anak motivasi yang dari dalam yang lebih diutamakan. 

Kelompok Psikososial Remaja

Kelompok ini membuat cerita, bahwa pertemuan yang terjadi sudah ketiga kalinya sehingga mereka sudah saling kenal. Relawan mengajak bermain bola volley. Adegan yang terjadi bagaimana mereka bermain bola volley bersama.

Aku juga melakukan beberapa perhentian untuk menekankan sesuatu yang perlu diingat. yaitu saat ada posisi seorang berada pada posisi dibelakang hampir semua peserta. Kondisi ini adalah posisi pengabaian perlu disadari oleh relawan, agar memastikan semua terlibat dalam permainan. Apalagi mensikapi yang berkebutuhan khusus, perlu dipastikan kebutuhannya terpenuhi dan tidak merasa didiskriminasikan.

Adengan terakhir mereka diminta foto bersama dengan pose pose yang tidak biasa, sebelum diajak refleksi bersama. Penting dalam proses pelatihan dengan drama ini diakhirnya dengan situasi yang gembira, sebagai salah satu teknik dalam melepas peran selama Role Play.

Bu Resti memfasilitasi refleksinya. Beliau menekankan pentingnya bahwa kelompok remaja memiliki banyak energi jadi tepat sekali apabila diajak bermain, apalagi ada sifat kompetisinya. Aktivitas ini dapat menjadi saluran tekanan emosi yang boleh jadi masih terpendam serta mereka merasa tidak sendiri karena beraktivitas bersama kawan-kawannya.

Kelompok Psikososial Lanjut Usia

Drama yang dimainkan oleh kelompok ketiga ini bercerita tentang Relawan yang memberikan dukungan Psikososial kepada kelompok orang lanjut usia, Ibu hamil dan orang tua yang tunarungu. Lokasi kejadian ada di barak pengungsian , dan untuk ibu hamil berada pada tempat yang diberi pembatas terpisah dari warga yang lain.

Penghentian permainan juga aku lakukan pada saat ada posisi relawan duduk berhadapan dengan lansia, serta relawan yang duduk sebelah dengan ibu hamil. Aku jelaskan bahwa posisi berhadapan akan membawa suasana konflik dan adu argumen, sementara posisi di samping membawa suasana bersama dalam satu rasa.

Ada satu lagi posisi yang aku berikan contoh dengan turut berperan sementara mereka dalam posisi tidak bergerak (menjadi patung juga) yaitu berada di belakang sambil menyentuh punggung. (hati hati dengan sentuhan, ini memiliki daya dukung yang kuat, terutama pada orang usia lanjut, namun perlu minta ijin dulu pada yang bersangkutan, karena tidak setiap orang bersedia disentuh). Posisi di belakang dengan arah yang sama, adalah posisi yang mendukung. Orang yang di depan akan merasakan sebuah dukungan. 

Ibu resti menambahkan dalam refleksi bersama. Rasio jumlah relawan untuk kelompok lanjut usia sebaiknya satu relawan mendampingi satu lansia.

Aku juga menekankan, sering kali bahwa lansia cukup didengarkan tidak usah berusaha memberi solusi, pastikan yang lebih banyak berbicara adalah lansianya bukan relawannya, karena ini bukan sesi mengajar dan memberi nasehat.

Hari kedua kita mengulang drama dengan pembagian kelompok tetap dengan tiga kriteria sasaran  yaitu kelompok usia anak, remaja, dan lansia, serta masing masing ada difabelnya. Hanya sekarang anggota kelompok memilih berdasarkan minat sendiri untuk membentuk kelompok itu dan diminta nantinya membuat cerita yang baru.

Berdasar pengalaman di hari pertama, dan pemilihannya juga berdasar minat sendiri, drama di hari kedua lebih mendalam dan lebih hidup (lebih mirip pada kejadian sesungguhnya), meskipun demikian prosesnya juga beberapi kali dihentikan untuk memberi penekanan pada adegan yang menarik, penting dan ingin diingatkan pada semua.

Integrasi Seluruh Proses

Pada tahap integrasi ini, seluruh peserta diminta untuk mensharingkan pengalamannya dalam bentuk gambar dan atau kata kata pendek. Secara umum menunjukkan kegembiraannya selama proses yang ditunjukkan banyaknya mengambar emoticon yang tersenyum.

Beberapa peserta mengungkapkan sebelumnya tidak tahu apa itu psikososial. Kebanyakan tahunya hanya bermain saja bersama anak anak seperti yang sering mereka lihat saat di lokasi sepuluh tahun yang lalu (Erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010). 

Selama proses mereka merasa senang, dan dapat belajar dari hal hal sederhana sehari hari, bahwa Psikososial dapat dilakukan setiap hari dan dalam kehidupan sehari hari.

Setelah mengikuti acara ini mereka siap untuk membagikan pengalaman latihan bersama ini, dan siap untuk menjadi relawan psikososial bila tiba saatnya nanti.

Penutup

Ada titipan agenda dari panitia agar setelah acara ini peserta membuat dan mengembangakan kemampuan psikosial di desanya. Kami lalu memfasilitasi peserta untuk membuat rencana tindak lanjutnya unutk masing masing desa.

Mereka berkumpul dalam satu desa dan menuliskan rencana tindak lanjutnya. Saat di pleno-kan hampir semua akan menginformasikan kepada pihak yang berwenang di desanya (pemerintah desa) dan mengusahakan kegiatan pelatihan psikososial serupa ini di desanya masing masing, dengan mengajak rekan relawan lainnya.

Oh ya, ada nama untuk kelompok psikososial ini yaitu #gelangboyomerapi atas usulan dari salah satu peserta yang kita sepakati bersama.

Demikian terima kasih

Jika bermanfaat silahkan di share kepada yang membutuhkan.

Yogyakarta, 2 Desember 2020

Retmono Adi

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.