Kepergian Ibu, Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Cerita Pendek


Kepergian Ibu

“Mungkin ada pengalaman yang ingin diceritakan saat Anda tinggal di panti?”

Prita terdiam. Matanya sekilas memandangi perempuan yang sedang duduk di hadapannya. Tatapannya beralih ke name-tag yang dikenakan perempuan itu. Namanya Tunjung Mekar Sari, tertulis lengkap dengan gelar psikolog di belakang tulisannya. Prita menarik napas dalam-dalam, ia menyandarkan bahunya pada kursi empuk berwarna hitam. Pikirannya terlempar jauh, ketika ia berusia sepuluh tahun. Perlahan, dengan tatapan melamun, ia memulai ceritanya.

“Ibuku menyilet pergelangan tangannya sendiri sampai mati. Saat itu aku masih kecil, masih terlalu kecil untuk merasakan kehancuran itu. Hatiku hancur. Berkeping-keping. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ibuku pernah berjanji akan menyekolahkanku. Tapi sampai ia mati, ia tak juga menepati janji. Padahal saat itu usiaku sudah sepuluh tahun. Untungnya aku sudah bisa membaca sejak usia enam tahun karena diajari tetanggaku.

“Lalu siapa yang akan membayar sewa kamar? Siapa yang akan memberiku makan? Apakah aku akan hidup di jalanan? Kalau aku sakit siapa yang akan merawatku? Pikirku saat itu. Aku pernah membaca buku hariannya. Saat dia hamil aku, dia mencoba menggugurkannya beberapa kali tapi tidak bisa. Katanya aku ini bagian dari laki-laki yang tidak dia cintai. Sejak kecil secara tidak langsung, aku menyadari bahwa kehadiranku sebagai anak tidak bisa membuatnya bahagia. Ya, aku malah menjadi bebannya.

“Ibuku punya pacar. Sama seperti ibuku, dia juga jarang mengajakku bicara. Saat ibuku marah atau menangis, dia suka memeluknya. Pada saat aku mengetahui kejadian berdarah itu, buru-buru dia yang baru saja dari luar langsung menutup mataku dengan telapak tangannya. Dia merangkulku dan aku tiba-tiba menangis. Dialah yang kemudian mengurusi pemakaman ibuku.

“Hingga keesokan harinya setelah pemakaman, dia menyuruhku mengemasi barang. Katanya aku harus pindah. Aku bertanya pindah ke mana? Tapi dia hanya menjawab nanti kau akan tahu. Sehari sebelum kami melakukan perjalanan dengan kereta, dia mengajakku ke pasar malam. Aku dibonceng dengan sepeda motornya. Selama perjalanan dari rumah ke pasar malam, aku menyandarkan kepalaku di punggungnya yang lebar. Aku yang saat itu masih sedih dan belum sepenuhnya bisa merelakan kepergian ibuku, aku yang tidak pernah sama sekali merasakan kehadiran sosok ayah, mendadak aku merasa nyaman sekali berada di dekatnya. Lalu saat itu juga aku berpikir, jadi apakah senyaman ini bila aku punya ayah? Seolah aku merasa terlindungi dari kerasnya kehidupan yang serba tak pasti ini.

“Sesampainya di pasar malam, aku dibelikan gulali. Kami menaiki beberapa wahana. Meskipun kami tidak banyak bicara, tapi kami banyak tertawa menikmati hiburan pasar malam. Ia juga memberikanku boneka kelinci biru. Kami berjalan mengelilingi pasar malam dengan bergandengan tangan. Sepulang dari sana, dia mengantarku ke tempat makan dan ketika pulang membelikanku komik di toko buku. Dalam hati aku berharap dia adalah ayahku, tapi setiap kali kutanya apakah dia ayahku atau bukan, dia selalu mengatakan tidak. Aku bertanya kenapa ibuku menyilet tangannya. Dia hanya bilang, kalau kau sudah dewasa kau akan tahu. Sejujurnya aku tidak puas dengan jawaban itu, tapi kala itu aku lebih memilih untuk menikmati kebersamaanku dengannya.

“Aku kira hari itu aku akan tinggal bersamanya, tapi ternyata tidak. Aku diantarkannya ke panti asuhan. Dia hanya bilang, jadi mulai sekarang kau akan tinggal di sini dan kau akan bisa sekolah. Ibumu ingin kau memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Kupegang tangannya. ‘Jangan pergi,’ teriakku. ‘Jangan tinggalkan aku’. Tapi dia tetap berbalik badan, berjalan jauh memunggungiku. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku menangis. Saat itu aku telah kehilangan seseorang yang baru saja kusayangi.

Prita menyeka air matanya yang mulai membasahi pipi. Tunjung menyodorkan kotak berisi tisu dan satu botol air mineral. Prita mengakhiri ceritanya dengan berkata, “sepertinya cukup sampai di sini dulu cerita saya. Saya belum sanggup melanjutkannya lagi…”

…..bersambung: Pada Suatu Gerimis …

Satu tanggapan untuk “Kepergian Ibu, Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.