Sekolah Kehidupan, Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Cerita Pendek


Sekolah Kehidupan (Sesi Konseling Kedua)

“Jadi Anda tidak diadopsi?” tanya Tunjung kepada Prita di sesi konseling kedua.

Prita menggelengkan kepala. Kemudian ia kembali  bercerita.

“Hari pertamaku di panti, tidurku tidak nyenyak. Aku benar-benar merasa sebatang kara. Ada kekosongan yang begitu dingin masuk ke dalam diriku. Ada luka tak kasat mata yang terasa begitu sakit. Aku menangis tersengal-sengal sampai agak sesak nafas. Kenapa aku sengaja ditinggal? Apakah aku ini tidak berarti untuk mereka? Kenapa aku harus lahir? Aku lahir untuk siapa?

“Saat pertama kali makan di sana, kebetulan aku mendapat nasi yang sudah kering. Rasanya seperti ingin muntah. Aku menangis. Tapi anak-anak panti lainnya berkata padaku ‘jangan jadi anak manja di sini. Jangan cengeng. Kalau kau tidak mau makan, berikan saja jatah makananmu pada kami.’

“Ada satu pasangan suami istri yang pernah datang ke panti dan berencana akan mengadopsiku, aku menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya mereka tidak pernah datang kembali. Dari kabar yang kudengar, mereka akhirnya punya anak kandung. Aku menangis karena marah dan kecewa.

“Akhirnya, ada seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang datang ke panti. Dia tidak menikah. Saat itu aku masih berusia 13 tahun. Dia mengambilku dari panti. Dia membutuhkan seorang untuk dipekerjakan. Aku tak punya pilihan lain. Panti akan segera ditutup, daripada aku jadi gelandangan atau anak jalanan katanya. Aku masih bisa makan, tidur, dan sekolah, dia yang akan membiayai itu semua, dengan syarat sepulang sekolah dari sore sampai malam aku harus mencuci piring dan meladeni pembeli di warung mie ayamnya. Yang orang tahu aku diadopsi, tapi sebenarnya tidak. Dia tidak butuh anak tapi hanya butuh pekerja. Dia sangat pendiam. Kami jarang bicara selain yang berkaitan dengan hal-hal di warung. Kalau sehari saja aku tidak bekerja, uang sakuku dipotong.

“Aku terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri sejak membantu di warung. Saat aku sakit, aku pergi ke puskesmas sendiri. Aku memasak makananku sendiri. Dia tidak pernah menyediakan makanan untukku selain untuk dirinya sendiri. Kalau ada apa apa, semuanya hanya kupendam sendiri. Uang hasil aku membantu di warung juga tidak seberapa. Tapi sering uangnya kusisihkan dan kutabung untuk membeli novel. Untung saja aku tidak pernah sakit aneh-aneh. Aku punya teman tapi waktuku bersama mereka terbatas hanya saat di sekolah. Selebihnya kuhabiskan di warung.

“Kalau warung sedang sepi, aku biasanya membaca. Aku tidak bisa kemana-mana. Tapi setidaknya dari membaca aku seperti melebarkan sayap. Menjelajah tempat lain yang tidak bisa kukunjungi. Mengunjungi orang-orang yang tidak bisa kujumpai. Membaca dan menulis menjadi salah satu teman terbaikku untuk menceritakan semuanya. Sering juga kujumpai berbagai macam pembeli saat di warung. Ada yang tiba-tiba mengajakku bicara saat sedang makan, bercerita soal dirinya, pekerjaannya, kehidupan pernikahannya, ilmu yang mereka pelajari, dan lain sebagainya. Dari situ aku jadi banyak mengenal karakter orang beserta setiap masalah hidup yang mereka hadapi.

“Aku hanya tamat SMA. Pernah aku mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi jalur beasiswa tapi gagal. Setidaknya bekerja di warung menjadi tempatku belajar memahami kehidupan, aku jadi sekolah kehidupan di situ. Aku suka menulis di blog pribadi, dulu aku biasanya menulis di warnet saat aku sudah mengenal internet. Hiburanku ya di sekolah, belajar dan menghabiskan waktu bersama teman-temanku yang cukup peduli denganku.

“Di warung itu aku bertemu dengan Yudha. Dia beberapa kali makan di sana bersama teman-teman kampusnya. Sering kudapati dia melirik ke arahku. Dia juga pernah bertanya-tanya kepadaku namaku siapa, usiaku berapa, aku tinggal di mana. Penampilannya rapi. Dia berasal dari keluarga berada. Saat itu aku sudah lulus SMA. Singkat cerita, kami berkenalan. Dia sering mengirimiku SMS. Seumur-umur belum pernah aku diperhatikan oleh seseorang. Aku senang sekali. Katanya dia suka padaku. Beberapa kali saat warung libur setiap hari Rabu, dia mengajakku keluar makan. Pernah dia memberiku bunga, sepatu, dan boneka.

“Aku melepaskan keperawananku dengan dia. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku sudah terlanjur jatuh hati padanya. Aku memberikan semua yang dia inginkan pada satu malam. Kami terbawa suasana. Itu terjadi sampai tiga kali. Tapi suatu ketika, tiba-tiba dia menjauh. Tiap kali kuajak keluar dia selalu beralasan. Kemudian pada suatu hari, dia datang ke warung meminta maaf. Dia ingin putus. Ternyata selama itu dia hanya menjadikanku sebagai taruhan dengan teman-teman kampusnya. Katanya dia juga sudah jatuh hati pada perempuan lain. Tepat pada saat itu aku memberitahu dia kalau aku hamil.

“Dia kaget. Dia masih kuliah dan belum bekerja. Aku juga belum siap punya anak. Gajiku tentunya tidak cukup untuk merawat dan membesarkan anak.”

Kata-kata Prita terhenti. Ia menghela nafas dalam-dalam dan tidak melanjutkan ceritanya secara runtut. Ceritanya tiba-tiba melompat. “Sampai aku berencana ingin mengakhiri hidupku dengan menghanyutkan diri di sungai…”

…bersambung; Cinta itu Energi 

4 tanggapan untuk “Sekolah Kehidupan, Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.