Teringat Satu Nama, Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Cerita Pendek


Kutemukan rumah yang selalu mengingatkanku tentang satu nama yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku

(Sesi Konseling Ketiga)

“Saat aku mengaku kalau aku hamil anak Yudha, ibu asuhku marah. Lalu bilang, ‘Jangan gampang percaya dengan laki-laki! Sekarang kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Aku akan sibuk mengurusi warung. Jadi aku tidak akan bisa membantumu mengurusi bayimu. Itu risiko yang mau tak mau harus kau tanggung.’ Ucapnya dingin tanpa empati sama sekali.

“Emosiku memuncak saat itu. Tiba-tiba aku membentaknya dengan nada tinggi, ‘Untuk apa aku mempercayai kata-kata darimu yang tidak pernah menganggapku sebagai anak? Selama ini kau telah memperlakukanku hanya sebagai pekerja. Kalau aku nakal, jangan hakimi aku karena kau tidak mendidikku dan kau tidak pernah tahu rasanya menjadi aku!’

“Sejak kecil aku sering merasa tidak diinginkan. Ketika ada yang menginginkanku, awalnya aku seperti menjadi orang yang paling bahagia di dunia, tapi ternyata masalahku tidak berhenti sampai di situ. Diinginkan saja tidak cukup.

“Aku kira Yudha menginginkanku. Tapi yang dia inginkan hanya tubuhku. Bukan pemikiranku, perasaanku, dan jiwaku. Aku dimanfaatkan. Aku memang cukup naif saat itu. Setiap kali kuceritakan kepadanya tentang keresahanku, impianku, kehidupanku, dia tidak begitu tertarik. Hanya sebatas masuk telinga kanan keluar telinga kiri, dia tidak benar-benar mengerti aku. Tapi akhirnya dia berusaha tanggung jawab. Dia sampaikan pada orang tuanya tentang kehamilanku. Aku dibawa ke rumahnya, dan apakah kau tahu apa yang terjadi? Orang tuanya sama sekali tidak mau menatapku. Mereka membuang muka dan menganggapku seolah tak ada.

“Ibunya sangat terpukul mengetahui apa yang terjadi. Ibunya menangis. Membanting piring dan gelas di dapur. Ayahnya marah-marah dan mengatai asal usulku tidak jelas. Ibunya bersikeras tidak mengijinkan Yudha menikah denganku. Yudha berusaha membujuk ibunya. Akhirnya orang tuanya mengijinkan aku tinggal satu rumah dengan mereka karena mereka tahu aku tidak punya keluarga. Agar kalau terjadi sesuatu dengan bayiku, aku tidak sendiri. Dengan syarat, aku tidak boleh memberitahu kepada siapa-siapa kalau aku hamil anak Yudha. Kalau ada orang datang ke rumahnya aku memperkenalkan diri sebagai pembantu.

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya uang lebih. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku juga ingin memisahkan diri dari ibu asuhku. Jadi aku bersedia. Yudha terang-terangan mengaku di depan ayah dan ibunya kalau dia tidak mencintaiku. Dia berjanji tidak akan melakukan hubungan seks denganku. Setelah aku hamil, dia memang sama sekali tidak pernah menyentuhku lagi. Aku tinggal di kamar belakang. Yudha ke kamarku hanya untuk mengantarkan kebutuhan pokokku saja. Demi calon anaknya. Dulu aku berharap bisa membuatnya jatuh cinta tapi ternyata tidak bisa.

“Ibu dan ayahnya tidak suka padaku. Di sana sebenarnya ada pembantu baru. Jadi aku tidak perlu banyak membantu. Tapi aku merasa bukan siapa-siapa. Aku tidak diperbolehkan makan satu meja dengan keluarga mereka. Aku lebih sering makan di dapur. Lagi-lagi aku merasa tidak diinginkan. Aku membenci bayi yang kukandung saat itu. Lalu aku berpikir, jadi apakah ini yang dulu dirasakan ibu kandungku saat hamil aku? Saat aku hamil, aku dengar diam-diam mereka akan memisahkanku dengan bayiku ketika dia lahir, dan  merawatnya tanpa aku. Aku akan diusir. Sikap orang tua Yudha yang cukup dingin dan suka mengatur-atur sering membuatku stres.

“Di sana tidak ada yang bisa kuajak bercerita. Kadang aku membenci bayi ini karena aku belum siap tapi di sisi lain aku juga tidak mau hidup terpisah dengan bayiku. Kadang aku berpikir bagaimana bisa aku mencintai anakku kalau sebagai anak saja aku tidak pernah merasa dicintai? Bagaimana bisa aku berperan menjadi orang tua yang baik kalau sebagai anak saja aku kekurangan peran orang tua?

“Aku keguguran. Suatu hari aku terjatuh di lantai kamar mandi dengan berlumuran darah. Yudha dan ibunya tahu. Mereka tidak mau membantu. Ibunya memanggil pembantunya. Mereka hanya melihatku dengan pandangan tidak suka. Satu-satunya yang membantuku berdiri, membersihkan darah di lantai kamar mandi, mengompres dahiku, mengantarkan makanan ke kamarku, ya pembantu yang bekerja di situ.

“Beberapa hari kemudian, tidak sengaja kudengar percakapan mereka. Ibunya berniat untuk segera menyuruhku pergi dari rumah, tapi Yudha membujuk ibunya untuk memberiku waktu karena aku baru saja mengalami kehilangan.

“Aku sudah tidak kuat. Tetap saja aku merasa sedih atas keguguranku. Aku merasa bersalah karena tidak menginginkan bayi ini hidup. Bagaimanapun calon bayi ini pernah menjadi bagian dariku. Aku juga merasa marah atas semua hal yang menimpaku. Sepertinya kalau aku mati, tidak akan ada yang merasa kehilangan. Aku menyalahkan diriku dan keadaan hingga kuputuskan untuk mengakhiri hidupku sendiri.

“Pada suatu sore, aku berjalan ke sungai dekat rumah Yudha. Sungai itu cukup dalam dan bisa menghayutkan. Kalau aku diusir aku tidak tahu harus ke mana. Ibu asuhku sudah memperingatkan bahwa dia tidak akan menerimaku di tempatnya lagi. Sahabat-sahabatku, mereka dapat memahami kondisiku, tetapi mereka punya kehidupannya sendiri.

“Aku memasukkan kedua kakiku ke dalam sungai. Perlahan berjalan menyusuri sungai dari bagian yang paling dangkal. Lalu tiba-tiba ada yang memegang tanganku dari belakang. Ada Bu Tri di situ, wanita yang membantuku saat keguguran. ‘Jangan lakukan itu,’ katanya. Entah mengapa aku turuti kata-katanya.

“Lalu kami duduk di tepi sungai. Memandangi aliran sungai. Suasana cukup hening. Kami sama-sama terdiam. Dia mengawali pembicaraan, ‘Aku mengikutimu karena aku tahu apa yang kau rasakan sebagai perempuan, aku bisa mengerti. Jangan lakukan itu. Kau masih muda. Jalan hidupmu masih panjang. Aku tidak bisa membantumu banyak, tapi aku bisa membantumu mencarikan pekerjaan. Aku punya kenalan, ada seseorang yang sedang membutuhkan pembantu yang bersedia menginap dan menjaga rumahnya…’

“Beberapa hari kemudian, kudatangi rumah itu. Rumah yang selalu mengingatkanku tentang satu nama yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku, Rio.”

…bersambung: Pada Akhirnya Hati…

2 tanggapan untuk “Teringat Satu Nama, Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.