Cerita Tentang Kehilangan, Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Pendek


Sesi Konseling Kelima

“Rumah itu kosong, tidak dihuni oleh sebuah keluarga. Dinding di setiap sudut rumahnya berwarna putih tulang. Bangunan tempo dulu, mungkin dibangunnya sejak tahun 70an ke atas. Tidak banyak perabotan. Hanya ada kursi meja tamu, satu kamar tidur agak luas kalau hanya di tempati dua orang, satu dapur, dan satu kamar mandi. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi ada halaman yang cukup luas di bagian depan rumah. Ada satu kamar tidur kecil yang letaknya terpisah dari bangunan rumah itu, tapi masih bersebelahan meskipun di antara kedua bangunan itu ada celah jalan yang dipenuhi dengan berbagai tanaman. Aku tinggal di kamar yang terpisah itu.

“Tanpa sepengetahuan orang tua angkatnya, Rio membeli rumah itu dari seorang kenalan. Dia tidak tinggal setiap hari di situ. Dia membutuhkan seseorang untuk menjaga dan merawat rumahnya karena dia tinggal bersama orang tua angkatnya di luar kota. Jadi rumah yang dibelinya itu tidak ia datangi setiap hari. Dia seorang dosen sastra yang suka melukis, rumah itu dia jadikan sebagai studionya. Studionya berada di dalam kamar tidur yang agak luas itu tadi. Pernah beberapa kali dia mengadakan pameran lukisan dalam rumah itu.

“Aku sering mengamatinya duduk sambil melamun di kursi taman bagian depan rumah. Kadang aku menawarinya minum, tapi biasanya dia bilang dengan ketus ‘tidak usah, aku bisa ambil sendiri.’ Hingga suatu ketika, tiba-tiba saat di taman, dia memintaku membuatkannya segelas jus jeruk. Saat aku mengantarkan minumannya, mendadak dia bertanya padaku ‘apakah kau pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat kau cintai?’

“Saat awal aku bekerja di rumah itu, ternyata Rio sedang dalam suasana duka. Dia bercerita, terhitung sudah sekitar dua bulan dia menyandang status duda. Istri dan anaknya yang baru berusia sembilan bulan meninggal karena kecelakaan mobil. Usia pernikahan mereka baru memasuki tahun ketiga.

“Aku pernah melihatnya sedang menangis dalam kamar. Dia menangis sambil memegangi satu baju bayi anak perempuannya yang sering ia lipat dan taruh di meja dekat kasur. Aku paham rasanya menjadi dia. Aku hanya melihatnya dari jauh tanpa berani mengajaknya bicara.

“Saat dia bertanya apakah aku pernah merasakan kehilangan orang yang kucintai, aku kaget dan tiba-tiba saja aku bercerita tentang kematian ibuku, sosok ayah yang tidak kuketahui siapa, saat aku keguguran, dan kejadian saat aku diantarkan pacar ibuku ke panti asuhan. Dia mendengarkan ceritaku dengan penuh minat. Dari situ aku tahu kalau dia yatim piatu yang kemudian memiliki kehidupan yang lebih baik setelah diadopsi. Aku kira dia pendiam, ternyata dia lumayan cerewet. Dari cerita pada satu sore itulah awal mula kami menjadi dekat.

“Sejak awal dia tidak memperlakukanku sebagai pembantu. Dia memperlakukanku seperti dia memperlakukan temannya sendiri. Aku teman barunya. Dia dosen sastra Inggris. Dia tahu aku suka membaca. Aku dipinjami banyak buku.

“Pernah saat dia melukis di taman, tiba-tiba dia bercerita, ‘dulu istriku tidak suka bila kuajak ke pameran lukisan. Dia tidak menaruh minat pada apa yang kuceritakan, dia juga tidak menaruh minat pada hal-hal yang kusukai. Dia lebih suka kalau diajak berbelanja baju. Banyak perjuangan yang kulakukan untuk mengambil hatinya sampai-sampai aku nekat menikahinya tanpa restu dari orang tua angkatku. Di sisi lain semestinya aku menuruti orang tua angkatku, mereka yang telah banyak membantuku. Tapi aku lelah hidup diatur-atur. Aku orangnya tidak bisa dikekang. Akhirnya aku justru mengecewakan mereka. Aku dijodohkan dengan wanita lain, tapi aku menolaknya. Aku terlalu terobsesi pada istriku saat itu. Bahkan aku rela melakukan hal-hal bodoh demi dirinya.’

“Aku pernah diantar Rio ke suatu galeri lukisan di pusat kota. Di sana kami melihat-lihat lukisan yang tak kupahami artinya. Dia lalu menjelaskan arti beberapa lukisan beserta teknik pembuatannya padaku. Aku mendengarkannya dengan takjub. Tapi itu hanya terjadi sekali, biasanya kami hanya bertemu di rumah, kadang dua minggu sekali, kadang beberapa kali dalam seminggu, tidak tentu. Kami biasanya banyak berbicara di ruang tamu.

“Dia juga bercerita kalau dia sebenarnya ingin mengambil jurusan seni rupa tapi tidak dibolehkan ayah angkatnya. Dia pernah mencoba melukis tapi ayahnya tidak mendukung. Ada beberapa lukisan yang pada akhirnya hanya tersimpan dalam plastik di garasi. Dia ingin punya rumah sendiri, studio untuk melukis sendiri, tapi karena dia anak tunggal, mau tidak mau dia berkewajiban untuk mengurusi orang tua angkatnya dan tinggal bersama mereka. Maka dari itu diam-diam dia membeli rumah itu. Aku mencoba menyemangatinya untuk tetap terus melukis. Ketika dia membaca tulisanku, dia kuminta untuk menambahkan ilustrasi gambar yang berkaitan dengan apa yang kutulis, dengan cat air. Dia kemudian bilang ‘Wah sepertinya kita bisa berkolaborasi membuat sebuah buku, kau penulisnya aku ilustratornya.’

“Pernah pada suatu malam, aku disuruh mengantarkan teh tarik hangat ke ruang tamu. Dia duduk sambil merokok. Dia menyuruhku duduk. Lalu tiba-tiba dia bercerita, ‘dulu orang tua angkatku punya anak perempuan, dia berkebutuhan khusus, autis. Saat usianya tiga belas tahun dia meninggal karena sakit demam berdarah. Dulu aku sering menemaninya menyusun balok mainan yang jumlahnya sama setiap pagi. Kalau ada satu balok yang hilang, dia akan terus mencarinya sampai benar-benar ketemu. Aku diminta menjaganya sepulang sekolah. Kalau ada anak lain yang menakalinya, aku kemudian memarahi anak yang menakali adikku, tapi kadang aku bingung menghadapinya ketika dia sedang tantrum. Dulu aku berpikir, sepertinya seru punya adik yang bisa kuajak bicara.’

“Dia melanjutkan, ‘apakah kau tahu apa yang paling membuatku terpukul atas kepergian istriku? Dia pergi meninggalkan luka di hatiku. Sepertinya dia berselingkuh dengan sahabatku tapi sampai saat ini aku belum mempunyai bukti yang cukup kuat. Aku sudah mencurigainya saat pernikahan kami memasuki tahun kedua. Saat dia meninggal aku seperti ditinggali pertanyaan besar yang cukup mengganjal. Kalau memang itu benar, aku ternyata tidak cukup untuk membuatnya bahagia, itu tandanya aku dibohongi. Aku seperti kehilangan kepercayaan pada orang lain. Awalnya aku memang merasa kehilangan sekaligus sakit hati, tapi anehnya semakin ke sini aku justru semakin bebas menjadi diriku sendiri. Kami dulu sempat pacaran lima tahun. Aku merasa dibutakan selama bertahun-tahun.’

“Tiba-tiba dia menitikkan air mata, ‘hal menyakitkan selanjutnya adalah kehilangan anakku yang masih bayi. Masih suci dan belum punya dosa. Dia sedang lucu-lucunya. Malaikat kecilku, seseorang yang selalu kurindukan ketika aku pulang bekerja. Dia bagian dari diriku. Kehilangannya, aku seperti kehilangan separuh nyawaku. Aku merindukannya, Prita.’

…bersambung: Aku Merasa Seperti Disayang

2 tanggapan untuk “Cerita Tentang Kehilangan, Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.