Aku Merasa Seperti Disayang, Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Cerita Pendek


Sesi Konseling Keenam

“Suatu hari, saat aku berbelanja di supermarket, aku mendengar ada suara laki-laki paruh baya memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh, awalnya aku bingung. Ternyata dia adalah mantan pacar mendiang ibuku, laki-laki yang pernah mengantarku ke panti asuhan. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, tentang keberadaan ayah kandungku. Sudah saatnya aku mengetahuinya, katanya. Awalnya aku ragu, tapi aku tetap mengiyakan. Kami berbicara di sebuah warung makan. Dia bercerita soal mendiang ibuku yang dulu mengalami depresi. Di sini aku tidak akan membahas soal masa lalu ibuku karena ceritanya sungguh pilu. Mungkin aku tidak kuat menceritakannya. Jadi, singkat cerita, keesokan harinya dia mengantarkanku ke rumah ayah kandungku. Dulu katanya, ibuku sempat menjadi pembantu di sana, tapi dia diusir karena menjalin hubungan gelap dengan ayahku yang sudah memiliki istri.

“Tapi sebelum itu, aku sempat bercerita kepada Rio. Dia mendukungku untuk ke sana, agar aku tahu asal-usulku. Ternyata ayahku orang yang sangat kaya. Rumahnya besar, ada satpam penjaganya. Kami ke sana tanpa sepengetahuan ayahku. Mantan pacar mendiang ibuku dibolehkan masuk ke rumah itu denganku karena dia dulu juga pernah bekerja di sana sebagai sopir.

“Malam itu hujan deras. Aku pulang basah kuyup karena tidak membawa payung. Kuputuskan untuk segera mandi dan keramas. Kamar mandi itu berada di dekat dapur.  Sebelum aku masuk ke kamar mandi, aku melihat Rio duduk di meja makan yang ada dalam dapur. Dia membawa segelas minuman jahe ditangannya. Dia memperhatikanku yang basah kuyup dan bertanya, ‘bagaimana tadi?’ Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, aku kedinginan, hatiku hancur, dan perasaanku tidak karuan. Aku hanya memberinya senyuman kecil dan kemudian masuk ke kamar mandi.

“Saat aku ke luar dari kamar mandi, Rio masih duduk di situ. Dia menatap ke arahku, ingin tahu bagaimana pertemuanku dengan ayah kandungku. Kemudian aku bercerita tapi tidak banyak, ‘Wajah kami mirip. Sangat mirip. Tapi dia tidak mengakuiku. Dia hanya bilang, ‘pergilah, jangan pernah datang lagi.’ Sejak dulu aku sudah mempersiapkan kemungkinan yang seperti ini, tapi ketika aku mengalaminya sendiri rasanya tetap saja sungguh menyakitkan.

“Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku langsung buru-buru ke kamar. Tubuhku lemas. Aku tidak bisa tidur malam itu. Aku mendadak demam. Air galon dalam kamarku habis. Aku kemudian masuk ke dapur saat tengah malam, untuk mengambil segelas air putih. Rio ada di situ lagi, dia juga sedang mengambil air putih dari dispenser. Perutku terasa mual. Aku ke kamar mandi lagi dan aku muntah-muntah. Ketika aku ke luar, Rio bertanya, ‘kau sakit?’ Aku hanya menganggukkan kepala, aku sempat berkata kalau sepertinya aku juga demam. Kemudian aku mengambil segelas air putih dan bergegas ke kamar.

“Kututup pintu kamarku tapi tidak sampai tertutup rapat. Tak lama kemudian, Rio mengikutiku. Dia mengintip dari celah pintu kamarku yang agak terbuka. Dia menyodorkan minyak kayu putih, obat maag, obat herbal untuk meredakan masuk angin, dan ember kecil berisi es batu beserta handuk kecil. Aku menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

“Suasana menjadi agak sedikit canggung dan hening. Dia tiba-tiba memecah keheningan itu sambil berkata di dekat pintu, ‘mungkin ini menjadi salah satu hari terberat dalam hidupmu. Namun ingatlah satu hal. Ketika kau bisa sampai di titik ini, bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang tuamu sejak kau masih kecil, bisa bangkit dari keterpurukanmu, dan bisa hidup tanpa merugikan atau menyakiti dirimu sendiri dan orang lain, bagiku itu sungguh luar biasa. Itu berarti kau perempuan yang kuat dan hebat. Kau tetap perlu mencintai dirimu sendiri apapun yang terjadi karena bagaimanapun kau berharga dan berhak bahagia. Jangan lupa diminum obatnya.’ Dia lalu menutup pintu kamarku dan masuk ke rumahnya.

“Belum sempat aku mengucapkan kata terimakasih lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku menangis hebat malam itu. Sejak kecil jarang ada orang yang peduli denganku ketika aku sedang sakit atau ketika aku disakiti orang lain. Aku seperti merasa dilindungi meskipun hanya dengan perkataan dan perhatiannya yang sederhana. Mungkin bagi orang lain ini sepele, tapi bagiku tidak. Sama sekali tidak. Andai saja aku bisa menjadi kekasihnya, aku pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia. Aku semakin betah bekerja di sana. Aku menyetel radio dari handphone-ku. Ada satu lagu yang muncul, syairnya sangat mewakili perasaanku malam itu.

Kalau saat hancur ku disayang

Apalagi saat ku jadi juara

Saat tak tahu arah kau di sana

Menjadi gagah saat ku tak bisa (Bertaut – Nadin Amizah)

“Malam itu aku merasa seperti disayang…”

 

…bersambung: Sesi Konseling Ketujuh

2 tanggapan untuk “Aku Merasa Seperti Disayang, Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.