Sesi Konseling Ketujuh, Drama Perjuangan Hidup Prita #10 Cerita Pendek


Pameran dan Rajutan Perpisahan

“Pernah suatu ketika, dia mengadakan pameran lukisan di rumahnya. Dia mengundang teman-temannya. Dia juga mengenalkanku pada teman-temannya, bukan sebagai pembantu tapi sebagai temannya. Dia mengundang seorang pianis untuk mengiringi musik saat pameran berlangsung. Kami mempersiapkan acara itu bersama-sama selama beberapa bulan. Dia mengadakan pameran tunggal yang lukisannya dia buat sendiri dalam studionya. Tema lukisannya adalah ‘tentang kehilangan’ yang dia gambarkan melalui potret wajah orang-orang yang pernah memberikan kesan berarti di hidupnya. Lukisan-lukisannya dia buat dengan sangat detail dan artisik.

“Beberapa hari sebelum acara itu, aku diberikannya baju dress berwarna krem berlengan pendek yang panjang roknya sampai di bawah lutut. Dulu Rio membeli baju itu untuk mendiang istrinya, tapi dia belum sempat memberikannya. Katanya, ‘daripada dibuang  sayang, mungkin bisa kau pakai. Siapa tahu cocok.’ Dia juga memberikanku flat shoes yang ukurannya pas di kakiku. ‘Aku tidak bisa pakai make up. Aku hanya bisa pakai lipstik,’ ujarku padanya. Dia menimpali, ‘santai saja. Cukup pakai lipstik saja tidak papa. Tetaplah menjadi dirimu sendiri.’

“Aku mengenakan baju dan sepatu itu di acara pameran itu. Saat dia melihatku mengenakan dress dan sepatu itu, dia terdiam sesaat, dengan agak kikuk dia berkata, ‘baju dan sepatunya bagus bila kau pakai, cocok untukmu.’

“Saat acara pameran berlangsung, tiba-tiba dia berkata kepada tamu-tamunya kalau aku suka menulis cerpen dan puisi. Dia menyuruhku untuk naik ke panggung membacakan puisi yang pernah kutulis. Aku kaget, aku malu. Tapi dia tersenyum padaku dan berkata, ‘tidak papa naiklah.’ Dia memberikanku secarik kertas berisi tulisan puisi terbaruku yang disertai dengan gambar ilustrasi yang baru saja dia selesaikan hari itu.

“Aku hampir tidak pernah berbicara di depan umum. Dari jauh Rio menyemangatiku, ‘ayo Prita, kau pasti bisa.’ Puisi itu tentang pertemuanku dengan ayah kandungku. Temanya sangat pas dengan tema pameran lukisan itu. Dengan diiringi musik piano, aku membacanya sambil memejamkan mata. Suaraku bergetar. Aku menitikkan air mata. Saat selesai membaca, Rio memberikan tepuk tangan yang keras, lalu diikuti tepuk tangan dari para hadirin. Dari jauh, kulihat dia tersenyum dan mengedipkan mata kirinya ke arahku sambil mengangkat jempol tangan kanannya.

“Aku pernah membeli benang rajutan di pasar. Aku hanya iseng mencoba membuat rajutan. Rio tahu, dia lalu bilang, ‘bisakah kau membuatkan aku sweater rajutan? Cobalah. Nanti kubayar biaya bahan dan proses pembuatannya.’ Entah kenapa, aku langsung mencari tutorial di youtube. Aku mempelajarinya sendiri selama berbulan-bulan hanya demi dia. Akhirnya aku berhasil membuatnya, sweater itu berwarna coklat muda. Tapi aku tidak sempat memberikannya secara langsung. Aku hanya menaruhnya di ujung tempat tidurnya, tepat sebelum aku diminta secara paksa untuk pergi dari rumah itu…”

 

…bersambung: Ketukan Pintu Hati

2 tanggapan untuk “Sesi Konseling Ketujuh, Drama Perjuangan Hidup Prita #10 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.