Ketukan Pintu Hati, Drama Perjuangan Hidup Prita #11 Cerita Pendek


 Sesi Konseling Kedelapan

“Pada suatu malam, dia mengetuk pintu kamarku. Kuperhatikan matanya sembab seperti habis menangis. Dia bertanya, ‘Kau sedang apa? Sibuk tidak? Seperti biasa, aku hanya ingin bercerita.’

“Sambil kubawakan teh hangat, di ruang tamu, dia meminumnya. Lalu dia berkata, ‘mendiang istriku benar-benar berselingkuh dengan sahabatku dan Gia…Gia terbukti bukan anak kandungku.’ Dia menitikkan air matanya sambil menundukkan kepalanya, aku terdiam sebentar. Aku bisa merasakan kepiluan itu. Mungkin saat itu aku sudah tidak lagi bisa membendung perasaan sukaku padanya. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan itu lagi.

“Entah kenapa, spontan aku mendekat ke arahnya. Rio masih duduk di kursi. Sambil berdiri, aku memeluknya. Aku menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku mengusap-usap kepalanya, punggungnya, dan rambutnya. Bagiku, laki-laki tetaplah manusia biasa, boleh terlihat lemah, dan wajar kalau menangis. Dia membalas pelukan itu, dia memeluk tubuhku lebih erat. Isak tangisnya menjadi agak terdengar lebih kencang dalam dekapanku. Kunikmati kepiluan dan pelukan itu dalam-dalam. Kuhirup aroma tubuhnya. Aku tahu jenis parfumnya. Aroma perpaduan antara parfum dan keringatnya yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Kami melonggarkan pelukan itu, kami saling menatap dalam diam. Kuusap air matanya yang masih mengalir di pipinya, tanpa berani berkata apa-apa. Dia masih menatapku tanpa berkedip, tanpa berkata apa-apa juga. Di luar hujan deras. Suasana terasa semakin syahdu.

“Sayangnya, kejadian itu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit, ada ayah angkat Rio yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan kami. Dia juga turut menyaksikan kejadian itu. 

“Ayahnya terlihat sangat marah. Lalu dia berkata, ‘oh jadi selama ini kau diam-diam membeli rumah, melukis, dan tinggal bersama dengan perempuan ini tanpa sepengetahuanku? Siapa perempuan ini? Dulu kau menikah tanpa restu dariku. Sudah berapa kali kau membohongiku?

“Aku langsung menyahut dengan takut, ‘saya di sini bekerja sebagai pembantu. Maafkan saya telah berbuat lancang. Ini semua salah saya.’

“Rio menyuruhku masuk ke kamar. Dia ingin menyelesaikan masalah itu berdua, hanya dengan ayahnya. Aku keluar dan menguping dari dekat jendela. Rio melawan tapi dengan nada suara yang tidak tinggi, ‘aku sudah cukup tua untuk diatur-atur. Lagi pula kami tidak melakukan apa-apa. Dia banyak membantuku di sini. Lagi pula aku juga sudah tidak punya istri. Kini aku berhak memilih jalan hidupku sendiri.’

“Ayahnya membentak, ‘sejak kecil aku mendidikmu dengan susah payah agar kau punya kehidupan yang lebih baik daripada orang tua kandungmu. Kufasilitasi semua kebutuhanmu. Kusekolahkan kau di sekolah yang paling bagus. Kukenalkan kau dengan perempuan baik-baik, tapi malah kau tolak. Lalu ini yang kau berikan padaku? Sebuah perlawanan dan kebohongan?’ Ayahnya ternyata seorang ulama. Pelukan kami malam itu dan kehadiranku di rumah itu tentunya adalah sebuah kesalahan yang fatal di mata ayahnya.”

…bersambung: Cinta Dalam Diam

2 tanggapan untuk “Ketukan Pintu Hati, Drama Perjuangan Hidup Prita #11 Cerita Pendek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.