Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #12 Cinta Dalam Diam (Sesi Konseling Kesembilan)


“Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak bisa tidur malam itu. Beberapa jam kemudian ayahnya pulang, nada suara ayahnya masih dipenuhi dengan kemarahan. Aku tidak lagi bisa mendengar perbincangan mereka dengan jelas karena di luar hujan semakin deras. Setelah kepulangan ayahnya, Rio masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mengetuk pintu kamarku lagi. Giliranku mengetuk pintu kamarnya. Dia buka pintunya. Lalu aku berkata, ‘maafkan aku, Rio. Aku sudah berbuat lancang. Tidak seharusnya aku melakukan itu. Maafkan aku.’

“Rio hanya menjawab sambil tersenyum masam, ‘tidak papa, Prita. Kita sudah sama-sama dewasa. Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku hari ini. Ayahku memang tipikalnya begitu. Aku sudah biasa dimarahi dan disalahkan. Sekarang lebih baik kau tidur. Sampai jumpa besok.’ Dia lalu menutup pintunya pelan-pelan.

“Aku pikir semuanya akan baik-baik saja keesokan harinya. Tapi ternyata tidak. Dia yang biasanya banyak bicara tiba-tiba menjadi lebih pendiam. Setiap aku bertanya tentang sesuatu, dia seperti menghindariku. Hingga berminggu-minggu kemudian.

“Pada suatu hari aku memberanikan diri untuk bertanya lagi saat dia tiba-tiba memintaku mengantarkan jus jeruk di studionya, ‘apakah kau masih marah padaku? Kenapa kau tiba-tiba menjauhiku?’

“Dia yang sedang fokus melukis tiba-tiba aktivitasnya terhenti sesaat. Dia hanya berkata, ‘aku tidak marah padamu, Prita. Aku butuh waktu untuk sendiri dulu. Kebetulan ada beberapa lukisan yang masih harus kuselesaikan untuk kukirim ke galeri. Aku sedang tidak bisa diganggu. Maaf.’

“Aku tidak puas dengan jawabannya. Ingin kudesak sekali lagi, tapi aku tidak enak hati. Saat aku hendak keluar dari studionya, langkahku terhenti ketika tiba-tiba dia mengatakan sesuatu padaku, ‘setelah semua yang terjadi di antara kita, apakah kita masih bisa bila hanya berteman saja? Bagiku kau sudah seperti adik dan temanku sendiri.’

“Aku menatap ke arahnya, kedua mataku berkaca-kaca. Lalu hanya kujawab ‘ya, kalau memang itu yang kau mau.’ Aku menjawab kalimat itu dengan sangat berat hati.

“Pada akhirnya semua kembali seperti saat kita belum begitu mengenal satu sama lain. Aku sibuk membersihkan rumah, merawat taman, memotong rumput, menyirami bunga-bunga dan tanaman lainnya. Dia masih tetap bolak balik mengajar di kampus dan ketika pulang, dia tetap melukis di studio dalam kamarnya.

“Aku tidak berani mengajaknya bicara banyak-banyak selain tentang keperluan rumah. Dia pun juga begitu, hubungan kami rasanya bukan lagi seperti hubungan pertemanan tapi lebih tepatnya memang seperti pembantu dan majikan pada umumnya. Sayangnya, aku sudah terlanjur menaruh rasa dan berharap.

“Meski begitu, aku tetap merasa tenang bisa melihatnya dari jauh bahkan tanpa perlu banyak bicara. Hanya mendengar suara langkah kakinya, hela nafasnya, membau aroma parfumnya, melihat sosoknya yang lewat sekelebat, itu saja aku sudah senang. Awalnya memang terasa sakit, ada saat di mana aku marah, putus asa, dan kecewa karena tidak bisa menerima penolakan halus darinya itu. Tapi lama kelamaan aku tetap berusaha untuk sadar diri karena dia sudah bersikap baik padaku selama itu. Kadang bagiku itu sudah lebih dari cukup. Aku masih tidak mau kehilangan pekerjaanku di situ. Aku masih ingin bisa melihatnya hidup bahagia meskipun aku tahu, aku tidak akan bisa memilikinya.

“Saat tengah malam, aku pernah beberapa kali memergokinya sedang berdoa di dalam kamarnya dari pintunya yang setengah terbuka. Dia mendongakkan kepalanya ke atas, dia berbisik dengan khusyuk. Entah kenapa, aku merasa tenang melihatnya berdoa. Kadang ia pernah menitikkan air matanya ketika berdoa. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, kapan terakhir kali aku berdoa? Aku percaya Tuhan itu ada tapi rasanya seperti jauh.

“Kebetulan aku baru saja selesai membaca dua novel karangan Paulo Coelho, ada kalimat-kalimat yang kugaris bawahi dengan spidol. Begini kalimatnya,

Cinta tak akan kita temukan pada sosok orang lain, melainkan di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu membangkitkannya. Namun, untuk membangkitkan cinta, kita butuh kehadiran orang lain. Jagat raya akan bermakna kalau ada orang lain tempat kita berbagi segenap perasaan kita. – Maria in (Eleven Minutes)

Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya. (Review from ‘By the river Piedra I sat down and wept’)

“Ya, bersamanya aku seperti menemukan percikan Tuhan. Pertemuanku dengan Rio terjadi di luar kuasaku. Aku merasa bahwa pertolongan Tuhan itu dekat. Barangkali Tuhan masih menyayangiku. Sebab nyatanya aku masih dipertemukan dengan orang baik. Saat itu tiba-tiba kusadari bahwa Tuhan itu Maha Tinggi, setiap manusia membutuhkan manusia lainnya sebagai perantara untuk menghadirkan kehadiran Tuhan secara lebih dekat. Peran Rio di kehidupanku teramat berharga bagiku. Ternyata setiap orang memiliki perannya masing-masing pada orang lain, entah sebagai anugerah atau ujian hidup yang tujuannya sama-sama memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan bagi orang lain.

“Karena aku sadar aku tidak akan bisa memilikinya, doa menjadi satu-satunya cara yang bisa kulakukan sebagai wujud rasa sayangku kepada dirinya. Aku tidak berharap agar kami dipersatukan. Aku hanya ingin Tuhan selalu menjaganya dan menyayanginya. Sejak saat itu aku mulai mendoakan yang terbaik untuknya hampir setiap hari. Bahkan sampai hari ini saat aku sudah tidak bisa melihatnya lagi secara dekat. Sudah satu setengah tahun kami terpisah. Rasa itu ternyata masih sama dan belum berubah. Sudah banyak laki-laki yang dikenalkan sahabatku, tapi Rio masih menjadi yang nomor satu di hatiku.

“Terakhir kali kulihat ada seorang perempuan muda yang datang ke rumahnya dengan ditemani keluarganya. Di situ juga ada ayah dan ibu angkat Rio. Sepertinya dia dijodohkan untuk kesekian kalinya. Wajah Rio terlihat ceria dan sumringah saat sedang bercakap-cakap dengan mereka. Keesokan harinya saat Rio sedang mengadakan pelatihan selama beberapa minggu di luar kota, ayah angkatnya datang lagi. Tapi kali itu ditemani seorang pria muda yang akan menggantikan posisiku sebagai pembantu. Pembantunya harus laki-laki. Supaya tidak lagi timbul fitnah, kata ayahnya. Aku diusir secara paksa. Aku diminta meninggalkan rumah itu segera.

“Aku tidak punya pilihan lain selain pergi. Aku tidak mendiskusikannya dengan Rio lebih dulu karena hubungan kami sudah agak lama renggang. Kutinggalkan sweater rajutan berwarna cokelat muda buatanku di tepi kasurnya yang kusertai dengan sepucuk surat berisi ucapan terima kasih karena dia sudah menjadi teman baikku selama sekitar satu setengah tahun itu. Kuputuskan untuk pindah ke luar kota, mencari pekerjaan baru. Kuganti nomor teleponku. Mungkin dia sudah bahagia bersama yang lain tanpa aku.

“Aku sempat bekerja sebagai seorang kasir di swalayan tapi tidak lama. Awalnya aku tinggal di kos. Aku ikut komunitas menulis. Seperti yang pernah kau sarankan, aku menulis cerita-cerita bahagia yang jarang terjadi di kehidupanku. Aku iseng mengirimnya ke penerbit. Tulisanku diterima, saat ini sedang proses editing. Banyak teman-temanku di komunitas yang mengapresiasi tulisanku, kata mereka banyak tulisanku yang menginspirasi. Aku resign dari swalayan.

“Gara-gara Rio, aku jadi tertarik membuat beberapa sweater rajutan yang kemudian kujual di butik milik temanku setiap bulannya. Hasil uangnya lebih banyak daripada saat aku menjadi kasir. Meskipun penghasilannya kadang tidak pasti. Mungkin aku telah kehilangan Rio, tapi aku seperti menemukan diriku. Kehadiran Rio secara tak langsung telah membantuku mengenal dan memahami diriku. Dia sempat memberikanku kartu namamu. Kalau misalnya suatu saat aku butuh teman bicara yang profesional.

“Aku senang melihat semangatnya saat dia sedang fokus melukis. Aku senang mendengarkan cerita-ceritanya yang random. Aku senang melihat suaranya yang lucu saat dia iseng menyanyi dengan nada suaranya yang tak beraturan. Aku senang saat menertawakan sesuatu hal yang tidak penting dengannya. Aku suka melihatnya menirukan suara hewan yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Aku senang melihat raut wajahnya yang berseri-seri. Aku senang mendengar nasihat-nasihatnya yang memotivasiku. Aku senang melihatnya wajahnya yang serius saat menggambarkan ilustrasi di buku sketsaku yang masih kusimpan sampai sekarang. Kalau aku merindukannya, aku selalu membuka buku itu. Dulu diam-diam aku pernah mengambil fotonya yang jatuh di lantai. Foto resmi berukuran 3×4 dengan gaya formal. Dia jarang update kehidupannya di instagram selain tentang lukisan. Mungkin saja dia sudah menikah.

“Aku sudah tidak lagi mencari tahu tentang keberadaan ayah kandungku dan keluarganya. Dia sudah meninggal dari kabar yang kudengar lewat istrinya yang pada satu hari tiba-tiba mendatangi kosku. Aku tidak tahu dari mana dia berhasil menemukanku. Istrinya memberikanku sejumlah uang yang cukup besar, sebagai tanda permintaan maaf ayahku padaku. Katanya, ayahku sempat mengucapkan namaku berkali-kali sebelum meninggal. Kata istrinya, uang itu hakku. Masih terasa menyakitkan kalau mengingat pertemuanku dengan ayahku dulu. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain menerima uang itu. Uang itu akhirnya kugunakan untuk membiayai kuliahku saat ini. Sejak saat itu, aku pindah ke rumah kontrakan. Aku tinggal bersama seekor kucing jantan yang kuberi nama Satria. Namanya kuambil dari nama asli Rio. Kucingku aktif dan sering mengeong, cukup cerewet seperti Rio.  

“Dari perpisahanku kali ini, aku seperti dituntun untuk bangkit, kembali berjalan, dan pelan-pelan mulai belajar mencintaiku diriku sendiri tanpa harus menuntut cinta dari orang lain. Walaupun prosesnya tidak mudah dan naik turun. Daripada aku terus-terusan hidup bersama orang-orang yang memang tidak bisa menerima keberadaanku, lebih baik aku memilih hidup sendiri. Agar aku lebih bebas menjadi diriku sendiri dan melakukan hal-hal yang kusukai. Aku ingin tetap bisa menikmati hidupku baik bersama orang lain atau pun hanya dengan diriku sendiri.

“Aku menemukan lagu yang pada syairnya cukup mewakili akhir dari hubungan kami. Lagu itu sering kuputar beberapa bulan terakhir ini, begini bunyinya

Langit dan laut saling membantu

Mencipta awan hujan pun turun

Ketika dunia saling membantu

Lihat cinta mana yang tak jadi satu

Kau dan aku saling membantu

Membasuh hati yang pernah pilu

Mungkin akhirnya tak jadi satu

Namun bersorai pernah bertemu  (Sorai – Nadin Amizah)

“Dari setiap bab yang sudah kutulis dalam cerita ini, semuanya nyata. Kecuali tentang cerita kehidupan pernikahanku dengan Rio. Itu hanya fiksi. Hanya ada dalam imajinasiku sendiri.”

Tunjung menghela napasnya dalam-dalam. Ia tersenyum lebar mendengarkan akhir cerita Prita. Lalu ia berpikir dan bertanya, “bagaimana kalau tiba-tiba Rio mendatangimu?”

Prita menjawab dengan santai, “yang jelas aku pasti akan sangat senang dan bahagia. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.”

 

….bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.