7 Paparan Menemukan “The Essential-Man” Maksud Sebenarnya dari Realisme dalam Teater


Stanislavski—seorang aktor-direktor besar Rusia—memberikan suatu derajat pada kata aktor, suatu dignity, yang tak diperoleh sebelumnya. Ia membuat para aktornya sebagai orang-orang humanis dan psikologis, orang-orang yang memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaannya, motif-motifnya , action dan strategi-strategi tingkah-laku manusia.

Ia menolak aktor-aktor yang malas, bebal, yang suka mejeng, melacur yang hidupnya hanya untuk dikeploki orang atau penonton. Aktor harus menghidupkan hidupnya “dalam seni”—latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas.

Realisme mencoba merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran dan itulah sebabnya teater realis disebut juga the Theatre of Intelligent. Yang ingin ditemukan atau ditampakkan adalah apa yang disebut the essential-man, manusia yang esensiil, hal-hal yang mendasar.

Berikut 7 paparan mencapai maksud sebenarnya dari realisme dalam teater itu.

Pertama, mencoba menemukan the inner life dari setiap perwatakan atau tokoh-tokoh. Sebuah life, kehidupan yang berada di “seberang sana”, beyond the words in the play, atau yang ada di antara, between the words, atau malah bertentangan dengan kata-kata dalam naskah tersebut.

Kedua, kita harus menemukan apa yang disebut dalam text, inner texts, atau yang ada pada subtext untuk menambahkan suatu kekayaan yang kompleks pada actions, acting, pada nada suara, pada kata-kata (yang diucapkan).

Ketiga, untuk menemukan ketepatan ekspresi tentang visi-visi manusia secara alamiah yang selama ini terjebak secara turun-temurun, dalam lingkungan sekitar, menjadi korban rangsangan-rangsangan dasariahnya. Kita berpendapat, kebisuan dalam kekejaman tercampur-aduk dalam diri manusia, mewarnai gerak-geriknya sehari-hari, terselurkan lewat nada-nada suara.

Keempat, berakting alamiah, jujur dan realistik.

Kelima, hidup jujur di bawah (situasi) lingkungan yang imajiner dengan menghidupkan kebenaran tersebut, kadang-kadang berakting baik adalah yang bukan akting.

Keenam, berjuang seobjektif mungkin dalam pekerjaan kita dan menolak melakukan distorsi pada kebenaran.

Ketujuh, menjauhi atau menolak apa yang disebut historical subject matter dan pengidealisasian motif-motif dan tindakan-tindakan manusia.

Berdasarkan paparan* diatas, terlihat ada keselarasan dengan Psikodrama bila diambil dari proses para aktornya serta maksud dalam menemukan manusia yang mendasar dan seutuhnya. 

TInggal apakah proses kelompok (teater) diniatkan untuk pertunjukkan atau terapi, atau keduanya atau gerakan sosial politik atau psikologis spiritual, demi menentukan kemasan kemasan pendukung yang sesuai demi prioritas yang dipilih. 

Aku dalam hal ini lebih suka memilih kesamaan daripada pembedaan. Lebih tepatnya mencoba menemukan saling keterkaitan antara semuanya itu. Dirangkum dengan tepat dalam penutup tulisannya Max Arifin itu dengan baik, berikut ini.

Ada baiknya kita mencoba memahami the Great Initiatory Wheel yang tertera pada akhir buku Schechner (halaman 318-319). Bila sebuah kelompok teater itu berhasil, katanya, maka kelompok itu telah membuat sebuah Great Initiatory Wheel: Personal memahami secara menyeluruh tentang siapa aku ini, suatu realisasi diri yang menuju ke Group (mencoba mencairkan batas-batas ego yang bukan cuma ekspresi seseorang, kreativitas kolektif) yang menuju ke Social,(memperlihatkan pada penonton kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi suatu komunitas, adanya solidaritas) yang menuju ke Political (memperlihatkan pola-pola dalam sejarah apa yang terjadi pada orang-orang, kelas-kelas, bangsa, suatu kesadaran) yang menuju ke Metaphysical (untuk mendemonstrasikan bahwa manusia dapat menghasilkan evolusi mereka sendiri, perubahan-perubahan) yang menuju (lagi) ke Personal….dan seterusnya dalam lingkaran yang makin menaik.

Teater memang berada di antara semua factor yang saling melawan serta tarik menarik, dan semua itu memberinya kehidupan. Teater sendiri adalah a life giver

Eksistensi teater adalah rawan: suatu perjuangan on the wheel yang terus berputar. 

 

*Cuplikan dari tulisan Max Arifin : Realisme dalam Teater pada September, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.