Cerita Pendek, Drama Perjuangan Hidup Prita #14 Epilog, Untuk Rio


Untuk Rio

Kita memang bukan pasangan sempurna

Kata orang, pernikahan terasa indah dan bahagia

Hanya di tiga atau lima tahun pertama

Delapan tahun berlalu, rasa itu nyatanya masih terus ada dan kian menyala

Hidup kita menjadi lebih berwarna dan bermakna ketika bersama

Walaupun belum ada anak di rumah kita

Hanya ada seekor kucing gemuk yang menemani kita dengan setia

Juga menemani tidur kita di atas tempat tidur yang hangat dan dipenuhi cinta

Katamu, kau tidak keberatan bila selamanya kita hanya hidup berdua

Katamu, selagi kita bahagia hidup berdua, kenapa tidak kita nikmati saja?

Tapi awalnya aku meragu, bagaimana kalau sebenarnya bersamaku kau tak bahagia?

Namun waktu perlahan memberikan jawabannya

Kau tahu bahwa saat awal-awal kita hidup bersama

Ada trauma-trauma yang masih kubawa

Ada kemarahan di masa lalumu yang masih belum bisa kau redamkan sepenuhnya

Masih ada luka dalam diri kanak-kanak kita

Bagaimana kalau kau meninggalkanku seperti mereka?

Bagaimana kalau kau hanya memanfaatkan tubuhku saja?

Bagaimana kalau pada akhirnya kita menyerah karena merasa sia-sia?

Namun aku salah sangka

Luka-luka itu ternyata dapat kita basuh dan rawat bersama-sama

Datang ke ahli profesional lalu sampai di rumah kita saling belajar menjaga dan merawat hati yang pernah terluka

Keguguran itu terjadi untuk kesekian kalinya

Dan kau masih selalu ada dalam setiap suka dan duka

Mengambilkan minyak kayu putih di atas meja

Mengusap-usapkannya ke punggung dan tengkukku saat aku sedang sakit tanpa pernah kuminta

Menyemangatiku saat aku merasa gagal dan putus asa

Menyemangatiku untuk tetap bekerja dan melakukan hal yang kusuka walau kadang penghasilanku tak seberapa

Memelukku mesra dan menanyakan kita akan makan apa, seusai bercinta

Menanyakan bagaimana hari-hariku saat kau pulang dari bekerja

Katamu, ada yang kurang bila kita tidak bicara sehari saja

Katamu, ada yang kurang bila aku sedang tidak ada

Katamu, bersamaku kau tak lagi merasa sepi dan hampa

Katamu, melihatku terdiam saja kadang kau bisa tertawa

Katamu, bersamaku kau seperti merasa diterima apa adanya

Dan bisa menjadi dirimu yang sebenarnya tanpa harus berpura-pura

Katamu, kehadiranku menjadi salah satu penyemangatmu dalam bekerja dan berkarya

Lalu bepergian ke tempat-tempat yang kita suka

Ke pantai yang sepi sambil berteriak sepuasnya

Atau sekadar duduk di atas pasir pantai sambil memandangi ombak hingga senja tiba

Ke kafe langganan kita

Di sana kau sibuk menggambar sementara aku sibuk membaca

Selesai makan di sana, lalu kita kembali bertukar cerita

Atau hanya di rumah saja

Saling mendengarkan cerita kita yang itu-itu saja

Atau saling memberikan lelucon yang itu-itu saja

Bahkan hingga berbagi beban kehidupan yang menyesakkan bila hanya dipendam di dada

Yang berat bila hanya dipikul sendirian, yang lebih ringan bila dipikul bersama

Juga membantuku membersihkan noda darah di seprai saat keguguran untuk kesekian kalinya

Juga membantuku membersihkan rumah atau memandikan kucing kesayangan kita

Serta hal-hal besar lainnya atau bahkan hal-hal sederhana tapi membahagiakan lainnya

Yang pernah kita lakukan bersama

Yang tidak bisa kita ceritakan pada siapa-siapa

Cukup hanya kita yang tahu saja

Ya, cinta itu masih ada, sama, dan kian menyala

Nyatanya cinta butuh dirawat dan dijaga agar tidak mati dan hampa

Kita memang bukan pasangan sempurna

Tak terhitung sudah keberapa kalinya kita berdebat, berselisih pendapat, merasa lelah dan kewalahan dengan masalah-masalah yang ada

Ada saat di mana kau kewalahan menghadapi kekuranganku, begitu pula sebaliknya

Itu semua wajar, karena kita ini hanya manusia biasa

Tapi setidaknya dari kesalahpahaman dan perselisihan yang ada,

Sejauh apapun kita berkelana di luar sana,

Kita tetap selalu ingin kembali pada hati dan rumah yang sama

Kita tetap merindukan seseorang yang sama

Seseorang yang padanya kita temukan arti kenyamanan, ketulusan, dan cinta yang semestinya

Aku menyebut perselisihan sehat itu sebagai ‘pupuk’ yang membantu kita merawat hubungan yang telah kita jalani bersama

Yang membuat kita tidak menyerah pada keadaan, yang justru mengarahkan kita pada keterbukaan, pemahaman, kebaikan, kerjernihan pikiran, serta keinginan yang kuat untuk terus bertumbuh bersama

Selalu ada titik temu di antara kita

Dari waktu-waktu, dari segala perjuangan dan pengorbanan yang pernah ada

Kebersamaan itu tidaklah sia-sia

Justru teramat bermakna dan berharga

Barangkali itu adalah pesan yang ingin disampaikan dari calon anak-anak kita

yang telah tiada

Rio, kita berhutang banyak pada mereka

Semoga kelak kita bisa menjumpai mereka di Surga

Kelak, bila kesempatan itu ada, bila kita dianugerahi satu saja

Kelak saat menjadi orang tua, kita akan berusaha memberikan yang terbaik untuknya

Kita berkewajiban untuk membuatnya merasa dicintai seutuhnya

Bila kesempatan itu tidak ada, juga tidakpapa

Semoga kita tetap menjadi sepasang manusia yang bahagia dan dipenuhi cinta walau hanya hidup berdua…

Seperti yang pernah kau katakan padaku, selagi kita bahagia hidup berdua, kenapa tidak kita nikmati saja?

Satu kalimat yang akan selalu kuingat darimu, “banyak jalan menuju bahagia, Prita…”

Terimakasih banyak Rio, yang telah bersedia untuk terus bertumbuh bersama

Catatan tambahan: Refleksi Buah Cinta … 

 

Dalam rumah yang dipenuhi cinta, Februari, 2021.

2 tanggapan untuk “Cerita Pendek, Drama Perjuangan Hidup Prita #14 Epilog, Untuk Rio

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.