Refleksi Buah Cinta yang Belum Sempat Tumbuh dari Cerita Pendek Drama Perjuangan Hidup Prita


Dari sudut pandangku sebagai Penulis

Aku belum pernah hamil. Aku pastinya belum pernah mengalami keguguran. Aku belum pernah bersetubuh dengan orang lain. Barangkali cerita tentang keguguran yang kutuliskan adalah simbol dari ketidaksiapanku untuk punya anak. Kalau orang-orang pada umumnya takut bila tidak bisa punya anak, aku malah sebaliknya. Salah satu ketakutan terbesarku adalah punya anak.

Sudah agak lama aku tidak mewajibkan atau mengharuskan diriku untuk punya anak suatu saat nanti. Aku saja belum bisa mengurusi diriku sendiri dengan baik. Aku belum selesai dengan diriku sendiri. Sebab punya anak bagiku adalah pertanggung jawaban seumur hidup. Sebuah tugas mulia yang tiada akhir, selama aku masih ada di dunia ini kalau terjadi apa-apa aku wajib menolongnya.

Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya?

Bagaimana kalau dia lahir dan tumbuh tidak sesuai dengan ekspektasiku sebagai orang tua?

Aku hanya tidak ingin memberikan luka yang sama pada seseorang yang semestinya kurawat dengan sepenuh cinta. Tapi bagaimana kalau anak itu adalah bagian dari seorang laki-laki yang kucintai, yang padanya kutemukan ketulusan dan cinta?

Mungkin akan terasa berbeda. Meskipun setiap proses yang ada tidak akan mudah, mungkin bebannya lebih terasa ringan.

Mungkin, tapi…entahlah.

Dari sudut pandang tokoh Prita

Beberapa kali aku mengalami keguguran. Terasa berat bagiku untuk merelakan semuanya. Aku merasa gagal dalam menjaga dan merawat mereka. Aku agak membenci proses kehamilanku yang pertama karena dia adalah bagian dari Yudha. Laki-laki yang padanya tidak kutemukan ketulusan apalagi cinta. Tapi dari kehadiran calon anak pertamaku, aku jadi tahu bagaimana rasanya menjadi ibuku.

Pada akhirnya aku tidak lagi menyalahkan ibuku yang sempat tidak menginginkanku. Kini aku dapat memahami posisinya yang serba sulit. Saat aku hamil, aku seperti merasa tersesat. Segalanya terasa suram. Aku seperti tak punya harapan.

Maafkan aku, nak. Tapi akhir dari semua ini aku sadar bahwa sebenarnya aku menyayangimu karena kau juga bagian dariku yang saat itu belum mengerti bagaimana caranya membahagiakan diriku sendiri. Mungkin ini adalah perpisahan terbaik. Aku tak bisa membayangkan betapa pedihnya kalau kau ada, tapi harus hidup terpisah denganku.

Terimakasih karena kehadiranmu telah membukakanku gerbang kebahagiaan baru. Aku berhutang kebaikan padamu. Semoga suatu saat kita dipertemukan di Surga.

Maafkan aku yang egois.

Saat kehilanganmu rasanya aku seperti kehilangan separuh diriku. Bukan separuh lagi, tapi seluruh diriku.

 

Dalam rumah yang dipenuhi cinta, Februari, 2021.

Penulis yang tidak ingin dtuliskan namanya.

2 tanggapan untuk “Refleksi Buah Cinta yang Belum Sempat Tumbuh dari Cerita Pendek Drama Perjuangan Hidup Prita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.