Bagaimana Mengelola Pekerjaan Kantor yang Bertumpuk Menggunakan Psikodrama ?


Ada pertanyaan dari peserta saat Live Instagram pada Hari Rabu tanggal 24 Maret 2021 dengan tema Mengelola Stres Karyawan Menggunakan Psikodram., Bagaimana Mengelola Pekerjaan Kantor yang menumpuk. Sebelum menjelaskan pertanyaan tersebut, aku ingin memaparkan beberapa hal mengenai Psikodrama.

Moreno Bapak Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis yaitu Aktor Utama dari Drama kehidupannya. Menurut Stanislavsky Aktor memiliki 3 Instrumen utama untuk berakting yang perlu diolah dan dikembangkan yaitu Tubuh, Pikiran, dan Perasaan. Ketiganya perlu dilatih agar aktor mampu berakting dengan baik. Akting yang baik dalam hal ini aktor mampu mengintegrasikan dalam bentuk tindakan yang nyata dari ketiga instrumen itu dalam proporsi yang tepat agar sesuai dengan tuntutan perannya.

Pekerjaan di kantor tidak akan pernah ada habisnya, kita bekerja diberi upah memang untuk menyelesaikannya. Kondisi ini perlu disadari dan diterima, dalam drama oleh Stanislavsky diberi istilah given circumstances keadaan yang “harus’ diterima oleh aktor, sebagai setting dasar dari tindakannya.

Aktor memahami bahwa akting itu tidak hanya berbicara, namun berupa tindakan. Nah, begitu pun dengan pekerjaan yang menumpuk juga perlu segera diselesaikan dengan tindakan. Dari ketiga instrumen tersebut porsi terbesar yang diutamakan adalah tubuh, bukan pikiran apalagi perasaan. Coba dibayangkan kalau pekerjaan hanya dipikirkan saja, tentunya tidak bakan selesai, apalagi hanya dirasakan tentu terasa berat.

Fokus utamanya adalah memberikan proporsi yang tepat dalam bertindak merespon pekerjaan yang menumpuk. Proporsi dominan pada tubuh (kinestetik) akan memberi hasil pekerjaan terselesaikan (tentu gerak tubuh ini ditujukan untuk menyelesaikan pekerjaan). Proporsi dominan pada Pikiran (kognisi) akan menghasilkan akting layaknya orang bingung. Proporsi dominan perasaan (afeksi) akan muncul berupa keluhan.

Perlu dipahami bahwa ketiga instrumen tersebut semua penting dan perlu diintegrasikan. Sebagai Karyawan dibutuhkan kemampuan berperan untuk mengelola tugas ((tasks) dan mengelola hubungan dengan orang (people) lain. Mengelola tugas segeralah tubuh bergerak, bertindak mengerjakannya. Mengelola hubungan dengan orang utamakan afeksi, empati, perasaan untuk membangunnya. Pikiran untuk menentukan proporsinya. begitupaun bila bertemu dengan tugas yang berhubungan dengan orang segera lakukan dengan empati.

Bagaimanapun proporsi 3 intstrumen ini relatif, teknik membaginya juga merupakan seni, agar dapat melakukan dengan tepat perlu latihan, jam terbang dan pengalaman. Untuk memulainya cukup disadari saja 3 intrumen utama ini. Dengan berjalannya waktu akan terbangun dengan sendirinya kemampuan “akting” yang baik. Permasalahan utama yang dihadapi aktor (karyawan, dalam hal ini), karena tidak menyadari 3 instrumen ini sehingga kacau dalam penerapannya. Karena tidak disadari maka pengalamannya tidak menjadi pelajaran yang berguna.

Tambahan bagaimana melatih dan mengembangkan kemampuan dalam mengoptimalkan 3 instrumen utama ini.

Instrumen Pikiran dapat dikembangkan dengan, membaca buku buku strategi managemen, tips dan trik, Teori teori keilmuan. Selain itu dapat juga dengan bermain games strategi, catur, sudoku, mengisi teka teki silang, diskusi dengan ahlinya atau senior yang lebih berpengalaman (mengikuti seminar atau workshop). Menonton film detektif, atau strategi perang dapat juga untuk alternatif.

Instrumen Perasaan dapat dilatih dengan bertemu berbagai macam orang dalam berbagai situasi. Bila ingin sendiri dapat dengan membaca buku buku sastra, menonton Teater, menonton film genre drama yang berkualitas atau yang berdasar kejadian nyata. Meditasi dan berlatih hening dapat juga mengasah kepekaan rasa.

Instrumen Tubuh dijaga dengan pola hidup sehat. Makan dengan tujuan memberikan asupan gisi yang sesuai. Istirahat yang cukup. dan tentunya olah raga yang tepat. bila ingin memiliki kemampuan olah tubuh dapat mengikuti latihan oleh instruktur ahli, misalnya senam, bela diri, latihan vokal, latihan pernafasan atau menari, baik yang tradisional atau pun yang kontemporer.

Cara cara tersebut adalah yang digunakan oleh aktor untuk meningkatkan kompetensinya dalam berakting di atas panggung atau di depan kamera. Kita sebagai Protagonis, adalah aktor utama bagi drama kehidupan kita dapat menggunakan cara yang sama untuk akting dalam kehidupan nyata, sebagai karyawan di tempat kerja atau pun sebagai anggota keluarga atau sebagai anggota masyarakat lainnya.

 

Yogyakarta, 26 Maret 2021

Retmono Adi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.