How Wonderful Life Is While You’re In The World, Sebuah Cerita Menjadi Dewasa


Aku kembali ke tempat itu lagi. Kali ini tidak berniat untuk minum sampai mabuk berat. Inginku hanya meneguk sedikit demi mengenang pertemuan janggal kita beberapa tahun silam.

Pertemuan itu diawali ketika kita duduk di kursi bar berhadapan dengan meja panjang di mana kita bisa menyaksikan para bartender sedang sibuk mengurusi botol-botol minuman beralkohol. Kala itu kita duduk hampir bersebelahan, hanya ada satu kursi kosong yang menghalangi kita. Saat aku masih sadar, sekilas kuperhatikan wajahmu yang tertekuk lesu memandangi gelasmu. Kau hanya memesan air mineral.

Malam itu aku begitu kacau. Jadi, berkali-kali kuteguk minumanku sampai aku mabuk dan tidak sadarkan diri. Aku sudah mabuk sebelum temanku yang rencananya akan membahas bisnis itu datang. Keesokan paginya, aku terbangun di sebuah kamar berukuran kecil yang di dalamnya terdapat satu rak lemari berisi tumpukan buku-buku tentang psikologi dan sastra. Di kamar itu tercium semberbak harum bunga. Ada beberapa tangkai bunga sedap malam yang diletakkan dalam vas dekat jendela. Aku terbangun di atas kasur berukuran single bed yang beralaskan karpet.

Kudengar suara gemericik air yang asalnya dari kamar mandi dalam ruangan itu. Bisa-bisanya aku berada di kosmu. Pun kau tampak agak terkejut ketika keluar dari kamar mandi dan melihatku terbangun. Katamu semalam aku mabuk berat dan tidak ada yang menemani. Jadi kau membawaku ke sini naik taksi. Katamu juga kita tidak melakukan apa-apa, dalam artian kita tidak berhubungan badan. Tanpa pikir panjang dengan kepala yang terasa sangat pening, aku langsung mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarmu.

Setelah kunyalakan ponselku, ternyata temanku semalam mengirimiku pesan bahwa dia tidak bisa datang ke bar karena adiknya masuk rumah sakit. Katanya semalam aku susah dihubungi. Sesampainya di apartemen, aku baru mulai bisa berpikir. Uang dan kartu-kartu dalam dompetku masih utuh. Pakaianku juga masih lengkap saat aku terbangun. Kau hanya melepas sepatuku. Sungguh aneh apalagi ketika aku memakai sepatu di dekat pintu kosmu. Tiba-tiba kau bertanya dengan tampang lugu dan memelas, “apakah kau masih mengingatku?” Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu aku langsung berjalan jauh ke jalan raya mencari taksi tanpa menoleh ke arahmu.

Sejak saat itu aku merasa seperti diikuti penguntit. Bagaimana tidak? Sekitar satu bulan kemudian, kau tiba-tiba datang mengetuk pintu apartemenku. Di luar hujan deras dan disertai petir. Kau muncul di hadapanku dengan basah kuyup. Jika kubiarkan kau di luar saja kelihatannya aku seperti orang jahat. Kalau bukan karena kau pernah memampahku ke kosmu saat mabuk, mungkin aku akan berpikir dua kali untuk membiarkanmu masuk ke dalam apartemenku.

Aku tidak bisa membiarkanmu duduk begitu saja di sofaku karena kau benar-benar basah kuyup. Aku menyuruhmu mandi dan mengganti pakaian dengan kaos dan celana panjang yang kupunya yang masih agak cocok jika dipakai perempuan. Aku juga memberimu plastik untuk mewadahi pakaianmu yang basah. Setelah kau selesai mandi, kita duduk berhadapan di sofa. Kau terlihat kikuk memandangiku. Kau hanya berkata, “maaf. Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Seharusnya ketika sedang tidak hujan dan basah kuyup seperti tadi.”

Aku langsung menanyakan kau ini siapa dan apa maksud kedatanganmu ke sini. Namun kau bertanya lagi, “apakah kau masih tidak mengingatku?”

“Tidak. Aku tidak tahu siapa kau dan dari mana kau bisa tahu apartemenku. Kalau kau tidak segera mengatakan apa maksud kedatanganmu, lebih baik kau keluar dan pulang saja. Kau bisa menunggu di lobi sampai hujannya reda,” tegasku.

Kau mendadak tidak berani menatapku, wajahmu tertunduk. Dengan bahasa tubuh yang kikuk, kau bilang, “aku…aku hanya tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Aku…aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Terima kasih untuk apa?”

Ponselku tiba-tiba berbunyi. “Tanteku menelepon, dia sedang menuju apartemenku dan sudah sampai di parkiran. Jadi tolong segera katakan apa yang kau maksud. Aku tidak punya waktu lama untuk menunggumu menjawab.”

“Ceritanya agak panjang. Mungkin bisa kujelaskan di hari lain.”

Belum sempat aku menanyakanmu lagi, kau sudah beranjak dari sofa, menenteng plastikmu, dan bergegas menuju pintu. Saat di dekat pintu, kau hanya berkata, “aku berjanji akan menjelaskannya. Terima kasih sudah membolehkanku mandi dan meminjami baju. Aku akan menjelaskan sekaligus mengembalikan bajumu di hari lain. Maaf kalau aku sudah mengganggu waktumu.”

Kau tepati janjimu. Kau ketuk lagi pintu apartemenku pada satu sore yang cerah. Kali ini kau datang tidak dengan basah kuyup. Begitu kubuka pintu, harummu menyerbak, mengitari kamar apartemenku. Harummu bukan karena parfum, tapi karena bunga sedap malam yang sempat kau beli dekat pasar dan kau tenteng dalam plastik hitam. Aku mencoba membiarkanmu berbicara duluan setelah kupersilakan duduk di sofa. Kepalamu tertunduk. Ada keheningan yang mampir selama kurang lebih lima menit. Kupecah kesunyian itu dengan berpura-pura batuk.

Kau mencoba menatapku dan mulai memberanikan diri untuk bicara, “apakah kau pernah menolong seorang remaja berseragam putih abu-abu yang tenggelam di kolam renang yang cukup dalam?”

Seketika aku teringat. “Ya. Aku mengeluarkan remaja itu dari dalam air. Kemudian aku memberinya nafas buatan dan remaja itu sadar. Tapi kejadian itu sudah lama sekali. Aku bahkan sudah lupa dengan wajahnya. Apakah remaja yang tenggelam itu adalah kau?”

“Ya, kejadian itu sudah berlangsung lama sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku sama sekali tidak bisa berenang. Aku kira aku akan mati saat itu. Aku selalu ingat betapa mengerikannya tenggelam di kolam renang yang begitu dalam. Kalau bukan karena pertolonganmu aku tidak tahu jadinya akan seperti apa. Mungkin saja aku sudah mati.”

“Dan kau masih mengingat wajahku?”

“Karena kita bertemu lagi beberapa bulan setelah kejadian itu tanpa kau sadari. Pernahkah kau meletakkan beberapa potong kue keju yang terbungkus dalam satu kotak di kursi tunggu, di depan sebuah swalayan kecil. Lalu kau terobos hujan dan lupa membawa kue itu?”

“Ya. Kalau itu aku masih ingat karena kue itu untuk tanteku dan sampai di rumah aku dimarahi. Tapi apakah kau di situ?”

“Waktu itu aku sudah tidak lagi punya uang dan tempat tinggal karena aku tidak mampu membayar sewa kontrakan yang sudah menunggak selama setahun. Aku benar-benar kelaparan dan kehabisan uang. Sejak pagi sampai sore aku belum makan sama sekali. Dan karena kue yang kau tinggalkan itu aku punya bekal tenaga untuk berjalan jauh sampai ke stasiun. Aku tidak bisa memesan tiket kereta. Aku hanya ingin tidur sebentar di kursi tunggu stasiun sampai aku tertidur dan kemudian dibangunkan oleh nenek-nenek yang sekarang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Aku selalu ingat wajahmu. Mungkin kedengarannya sederhana tapi kau tidak tahu betapa berharganya pertolonganmu kala itu dan tidak hanya sampai di situ saja.

“Suatu malam ada orang yang membuntutiku di gang buntu dekat apartemenmu. Kemudian leherku dicekiknya sampai aku hampir mati. Gang itu sepi dan gelap. Aku tidak bisa berteriak dan melawan. Tiba-tiba kudengar suara orang yang sedang berbicara dan langkah kakinya seperti berjalan mendekat ke arah kami. Orang yang mencekikku langsung melepas tangannya dari leherku dan kabur lari. Aku mencoba mendekat ke arah suara itu. Ada kau di situ yang sedang berbicara sambil marah-marah dengan seseorang lewat telepon. Suaramu cukup kencang hingga membuat pencekik itu lari. Karena suasananya gelap, kau tidak menyadari keberadaanku. Mungkin ceritaku ini kedengarannya seperti kebetulan. Tapi secara tak langsung kau telah menyelamatkan hidupku tiga kali. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena tak lama setelah itu kau pergi. Jadi aku ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Aku ingat malam itu. Aku ingat karena kala itu aku sedang bertengkar dengan ayahku di telepon dan baru saja memutuskan untuk pindah ke apartemen ini. Tapi aku tidak mengetahui keberadaanmu. Aku tidak mempedulikan orang-orang yang lewat di sekitarku malam itu. Bagaimana kau bisa tahu apartemenku? Apakah kau membuntutiku? Malam di bar, apakah kau diam-diam membututiku juga? Dan mengapa kau baru mendatangiku setelah sepuluh tahun?”

“Aku mendapat informasi tentangmu dari seseorang, tapi aku tidak bisa mengatakannya siapa. Ceritanya cukup panjang. Aku tidak bermaksud jahat ataupun berbuat yang aneh-aneh. Aku jarang punya teman. Dulu bahkan aku tidak tahu bagaimana cara mengajak bicara orang yang baru kukenal. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk memberanikan diri bertemu denganmu. Waktu itu kuliahmu di luar kota, setelah lulus kau melanjutkan kuliah lagi di luar negeri. Kau lumayan jarang pulang ke kota ini. Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu. Belum lama ini aku beberapa kali ikut terapi karena efek dari terapi itulah aku menjadi tergerak untuk menemuimu. Pada satu sesi terapi, seorang psikolog bertanya kepadaku, siapa orang yang ingin kumaafkan. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kemudian dia bertanya lagi, siapa orang yang kepadanya ingin kuucapkan terimakasih. Aku disuruh berimajinasi dengan membayangkan orang itu ada di depanku. Aku membayangkan beberapa orang dan salah satu di antaranya adalah kau.”

“Itu terapi apa? Aku pernah mencoba ke psikiater dan hanya diberi obat. Katanya aku mengalami gangguan kecemasan. Tapi obatnya tidak pernah kuminum.”

“Lusa aku ada sesi terapi lagi. Kalau kau mau kau bisa datang ke sini,” kau keluarkan selebaran brosur dari tasmu.

Kau bangkit dari sofa, berpamitan, dan buru-buru berjalan menuju pintu.

“Siapa namamu?” tanyaku yang ikut menyusulmu ke arah pintu.

“Darminah,” jawabmu. Lalu kau pergi. Tanpa kau sadari, dari dekat pintu aku memandangimu hingga sosokmu menghilang dari lorong apartemen. Aku tersenyum takjub dengan ceritamu yang membuatku merasa seperti seorang pahlawan. Aku membaca brosur yang kau berikan dan aku tertarik mencobanya. Tanpa kau sadari juga, kau datang disaat aku benar-benar kacau dan membutuhkan bantuan.

Aku pergi ke hotel yang disebutkan dalam brosur. Datangku terlambat. Kulihat ada sekitar lima belas orang berkumpul di ballroom dan ada kau di sana. Dengan dipandu oleh seorang psikolog, aku langsung diminta untuk ikut duduk lesehan bersama semua peserta. Kami diminta membentuk lingkaran. Aku duduk di sampingmu.

Aku mencoba bertanya kepadamu, “apakah akan ada pertunjukkan teater? Apakah kita harus menghafalkan naskah?”

“Kita tidak perlu menghafalkan naskah karena naskahnya sudah ada dalam kehidupan kita sendiri. Jadi di sini, masalah hidupmu akan ditonton kita semua. Masalah hidupmu akan dipentaskan menjadi semacam pertunjukkan teater atau drama.”

“Masalah hidupku? Masalah hidup semua peserta?”

“Tidak. Hanya salah satu dari kita saja yang bersedia. Terapis atau psikolognya yang akan menuntun jalan ceritanya dengan menjadi sutradaranya. Pesertanya yang menjadi aktornya.”

“Siapa di sini yang bersedia menceritakan pengalamannya? Pengalaman yang paling menyenangkan boleh. Pengalaman yang paling menyedihkan juga boleh. Silahkan pilih,” teriak psikolog tiba-tiba.

Kau mengacungkan jari, “saya.”

Beberapa saat kemudian kau tunjuk tujuh peserta yang kemudian diminta untuk membentuk sebuah lingkaran yang agak besar. Ketujuh orang itu berperan sebagai kolam renang. Tiga peserta lainnya berdiri di luar lingkaran dan berperan sebagai teman-temanmu. Ada yang ditunjuk untuk berperan sebagai lemari loker dan petugas kolam. Mereka yang berperan sebagai benda diminta untuk berimajinasi menjadi benda dan berpose sesuai dengan yang diimajinasikan. Sedangkan aku, kau minta untuk berdiri di dekat pintu ballroom. Aku berperan menjadi orang yang menyelamatkanmu. Adegan sepuluh tahun yang lalu. Kau menceritakan pengalamanmu saat tenggelam.

Dulu aku kira kau tenggelam karena terpeleset. Ternyata tidak. Kau sengaja didorong oleh salah satu temanmu. Sementara dua temanmu lainnya berjalan ke arah loker lemari dan mengambil uangmu. Padahal kolam itu cukup dalam. Tiba-tiba temanmu yang mendorongmu tadi berteriak ketakutan. Kau tidak tahu kalau temanmu berteriak karena takut, tapi aku masih mengingatnya. Aku yang baru saja datang, langsung panik mendengar teriakan itu. Aku belum sempat berganti baju tapi langsung melompat ke air dan menyelamatkanmu.

Semua peserta mulai menjalankan perannya masing-masing dengan arahan dari sutradara. Kau memerankan adegan tenggelam itu dengan berbaring di dalam lingkaran yang sudah dibentuk oleh ketujuh peserta tadi. Kedua tanganmu kau lambai-lambaikan ke atas. Setelah kau benar-benar tenggelam, kau turunkan tanganmu. Kau tidak bergerak seolah kau hanyut dalam air. Ketika ada yang berteriak, aku mulai berlari dari arah pintu ballroom. Kulepas tas dan sepatuku, aku melakukan lompatan kecil dan memapahmu ke luar dari lingkaran. Baru setelah itu petugas kolam datang agak terlambat. Aku membaringkanmu di luar lingkaran. Pertolongan nafas buatan kuganti dengan meniup-niup wajahmu sampai kau bangun. Kulihat matamu mulai berkaca-kaca saat kau terbangun menatapku. Ketika kau sudah sadar, petugas kolam sudah datang dan teman-temanmu ikut mendekat ke arah kita, kemudian aku pergi.

Setelah itu kita mengulangi adegan itu lagi. Bedanya, kali ini kau bertukar peran dengan peserta lain. Kau duduk dan berperan sebagai kolam renang. Kau diminta melihat dan mengamati peranmu yang dimainkan oleh orang lain. Matamu berkaca-kaca lagi terutama saat temanmu yang mendorongmu itu berteriak-teriak ketakutan.

Tibalah sesi refleksi. Beberapa dari peserta diminta untuk menceritakan apa yang dirasakan setelah melakukan adegan tadi. Kau langsung mengungkapkan dengan suara bergetar, “sejak SD bahkan sampai SMA saya selalu di-bully. Saya jarang punya teman apalagi teman dekat. Kebanyakan dari mereka hanya berteman sebentar lalu menjauh. Dulu saya menganggap mereka semua jahat. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, saat itu kami masih terlalu kecil dan labil untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak.

“Saya pikir selama ini salah satu dari mereka menertawakan saya ketika tenggelam, ternyata dia berteriak ketakutan meminta bantuan. Walaupun dia beserta dua temannya saat itu pura-pura tidak tahu dan tidak pernah meminta maaf kepada saya, saya ingin tetap memaafkan mereka. Karena dari hal-hal yang menyakitkan itu, saya menjadi betul-betul bisa menghargai setiap pertolongan orang sekecil apapun pertolongan itu. Akan selalu ada orang baik, hanya kitanya saja yang sadar atau tidak. Mungkin kalau saya tidak pernah diperlakukan buruk, saya tidak tahu betapa berharganya diperlakukan baik oleh orang lain.”

Kau mengucapkannya sambil sesekali menatap ke arahku. Kau tersenyum padaku. Kubalas senyuman itu. Pun mataku mulai ikut berkaca-kaca. Aku benar-benar terharu. Tidak hanya karena ceritamu. Bayangan tentang kolam renang dan kata maaf itu terngiang-ngiang di benakku. Ingatanku selama beberapa saat kembali ke masa kecilku. Aku ingin menangis tapi aku mencoba menahannya.

Setelah terapi kelompok yang dinamai psikodrama itu berakhir, kita saling bertukar nomor telepon.

Kau sedang menjalani bisnis petshop saat itu. Aku mengetahuinya ketika bertanya di mobil dalam perjalanan menuju rumah ayahku. Aku sengaja mengajakmu ke sana untuk memberitahumu secara langsung efek yang muncul setelah aku mengikuti terapi kelompok psikodrama. Dalam hal ini, efek yang ditimbulkan setiap orang berbeda-beda. Ada juga yang malah tidak merasakan efek apa-apa tapi malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur. Memikirkan sesuatu yang membuatku semakin cemas dari hari ke hari. Pikiran itu membebaniku ke manapun aku pergi. Aku perlu melepasnya. Kalau tidak, mungkin aku bisa gila. Aku menyadari ada sesuatu yang salah dalam diriku. Jadi kuputuskan untuk menemui ayahku.

Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan karena stroke. Ayahku sudah tidak lagi bisa bicara. Setiap harinya dia hanya duduk terpatung, kaku, dan tidak berdaya. Kulitnya semakin keriput. Kesepian dan sakit-sakitan. Kedua matanya terbelalak dan berkaca-kaca ketika melihat kedatanganku. Meskipun demikian, dia masih bisa mendengarku. Aku tetap menanyai kabarnya dan berbicara sendiri tentang masa kecilku saat masih bersamanya. Betapa banyak mainan yang selalu dia berikan untukku. Betapa banyak waktu yang dia habiskan untuk menemaniku bermain dan belajar. Tapi semuanya berubah karena satu peristiwa. Istrinya masih setia merawatnya walaupun mereka bukan pasangan yang bahagia.

Setelah aku mengakhiri ceritaku, aku berkata, “aku tidak membenarkan apa yang pernah ayah lakukan pada ibu dan adik. Tapi aku memaafkan ayah. Karena ayah, aku bisa berenang. Kalau ayah tidak mencemaskanku malam itu dan berkali-kali meneleponku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada perempuan ini. Karena ayah, aku bisa menyelamatkan nyawanya dua kali. Terima kasih untuk semua yang sudah ayah berikan baik atau buruknya. Maafkan aku yang selalu menghindari ayah.”

Aku memeluknya. Mata kami berkaca-kaca. Perasaan lega menyelimutiku. Meskipun aku menangis menuju ke mobil, namun perlahan langkah kakiku terasa ringan.

Lalu kau mengatakan sesuatu di dalam mobil, “beberapa minggu sebelum kejadian kue keju itu. Ketika aku duduk sendirian di bar pada satu malam, seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba menghampiriku, duduk di sampingku, dan mengajakku bicara. Bicaranya seperti orang yang melantur karena sudah agak mabuk. Wajahnya sedih. Dia mengeluarkan secarik foto dan menunjukkannya padaku. Ditatapnya foto itu sambil menangis.

“Dia mengatakan sesuatu kurang lebih intinya seperti ini, ‘aku telah membuat satu kesalahan yang besar dan fatal di hidupnya. Aku sendiri yang menumbuhkan kebencian itu di dalam hatinya. Aku tidak akan memaksanya untuk mau bertemu dan bicara lagi denganku. Bahkan sejak dulu, aku sendiri juga tidak bisa mengucapkan kata maaf kepadanya secara langsung. Walaupun aku sebetulnya sangat ingin mengucapkannya, namun kata maaf itu selalu saja terhenti di kerongkonganku. Walaupun dia tidak mau lagi mengajakku bicara dan selalu menghindariku, aku tetap menyayanginya dan aku tetap bangga padanya.’ Laki-laki itu meneguk minumannya sampai benar-benar mabuk parah dan kemudian menghilang setelah dipapah oleh orang lain.”

Kau tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tasmu. Kau melanjutkan, “foto itu digeletakkannya begitu saja di meja bar dan aku masih menyimpannya sampai sekarang. Wajah kalian berdua mirip sekali.”

Kau tunjukkan benda itu padaku dan kupandangi foto itu dalam diam. Foto bernuansa hitam putih, memperlihatkan potret seorang balita yang sedang duduk tersenyum di pangkuan ayahnya. Foto yang selalu tersimpan dalam dompet ayahku.

“Dibalik foto itu, tertulis nama lengkapmu. Mulai saat itu aku mencari namamu di internet. Aku selalu mengikuti setiap posting-anmu di sosial mediamu. Aku mencari tahu info tentangmu dengan caraku sendiri agar suatu hari kita dapat bertemu. Dan ketika kau sedang mabuk kau sempat mengucapkan beberapa kata, ‘ayah, mengapa kita tidak sempat memberi kata maaf?’ Itulah alasanku ingin menemuimu selain untuk mengucapkan rasa terimakasihku.”

“Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, Darminah?”

“Aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.”

“Di malam saat ibuku akan melahirkan adikku, dia bercinta dengan perempuan lain di ruang kerjanya di depan mataku. Aku bersembunyi di dalam lemari dan mengintipnya melalui celah pintu lemari. Dia sedang bercinta dengan sekretarisnya yang sekarang menjadi istrinya itu dalam keadaan mabuk. Karena terlambat penanganan, ibu dan adikku meninggal. Sejak saat itu aku membenci ayahku. Dia selalu mengajakku bertemu tapi aku selalu menolaknya. Pernah aku menerima ajakkannya tapi dia jarang mau membahas tentang kasus mendiang ibuku. Dia selalu menghindari topik itu dan bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa.”

Kau menyodoriku tisu. Kau tepuk-tepuk pundakku sampai tangisanku berhenti.

Setelah semua yang terjadi, aku menawarimu makan gratis di kafeku pada satu malam. Kau boleh memesan menu yang paling mahal. Namun kau justru memesan deretan menu yang paling murah. Kau bilang, “kafemu terlalu elit. Kalau aku makan setiap hari di sini, baru seminggu saja aku bisa bangkrut.”

“Aku mencoba menurunkan harganya, tapi tanteku tidak mau.”

“Bisnis keluarga?”

“Ya. Tadinya aku tidak mau mengelola kafe ini. Aku mencoba kerja di perusahaan tapi membosankan.”

“Kenapa kau tidak bekerja di luar negeri? Aku melihat di facebook-mu kau pernah sekolah di sana, kan?”

“Ya. Aku sengaja kembali ke Indonesia untuk menikahi pacarku. Tapi pacarku malah menikah dengan pria lain.”

Kau tertawa dan hampir tersedak. “Kau tidak mencoba ke luar negeri lagi?”

“Untuk saat ini aku ingin di sini dulu saja. Dulu aku suka berkelana ke beberapa negara di Eropa. Awalnya terasa menantang tapi lama kelamaan aku seperti hanya berlari dari kenyataan. Pada akhirnya yang kudapati hanya kesunyian, kesepian, dan hilangnya tujuan. Tanteku sudah tua, dia tidak punya anak, kalau bukan aku yang membantu bisnisnya siapa lagi? Lagi pula tante dan omku sudah seperti orang tuaku sendiri sejak ibuku tidak ada. Bagaimana dengan bisnis petshop-mu?”

“Bukan aku pemiliknya. Aku hanya bertugas menjaga toko dan melayani pembeli.”

“Dulu kau kuliah jurusan apa? Aku melihat ada banyak buku sastra dan psikologi di kosmu.”

“Aku tidak kuliah. Saat SMA aku anak bahasa. Aku belajar psikologi baru beberapa tahun belakangan ini karena bosku, pemilik petshop, dulunya kuliah jurusan psikologi tapi tidak melanjutkan sekolah profesi. Dia memilih membuka bisnis petshop. Dia sering meminjamiku buku-buku tentang psikologi yang masih tersimpan dan terpajang rapi di rumahnya. Berapa banyak bahasa yang kau kuasai?”

“Oh. Inggris, Indonesia, dan sedikit Mandarin.”

“Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu. Maukah kau mengajariku Bahasa Inggris gratis? Mungkin dua kali pertemuan saja, kalau kau tidak keberatan. Setelah itu aku akan belajar sendiri.”

Ok. Kapan kau mau mulai?”

Tiba-tiba kau menambahkan, “aku ingin bisa belajar Bahasa Inggris dengan mahir untuk menebus kesalahanku di masa lalu. SMA-ku tidak tamat. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan belajarku.”

“Apa? Kenapa tidak tamat?”

“Aku dikeluarkan dari sekolah.”

Giliranku yang hampir tersedak.

Kau datang ke apartemenku lagi. Kemampuan Bahasa Inggrismu ternyata sudah lumayan bagus. Banyak kosakata yang sudah kau pahami dan kuasai karena kau sering membaca novel berbahasa Inggris. Namun kau masih merasa kurang di bagian conversation dan grammar. Aku mengajarimu dari percakapan-percakapan khas orang sana dengan ditambahi penjelasan mengenai grammar. Kegiatan belajar pada pertemuan pertama berlangsung lancar, tapi tidak pada pertemuan kedua. Maag-mu kambuh, katamu. Jadi kau minta diganti hari. Aku mencoba ke kosmu untuk sekadar mampir mengantarkan makanan dari kafe. Lalu aku merasa malu dengan diriku sendiri. Ternyata aku belum benar-benar mengenalmu dengan baik.

Di pertemuan kedua, aku menyuruhmu pulang saat kau tiba di apartemenku, “lebih baik kau pulang dan belajarlah sendiri saja.”

Kau hanya bertanya dengan raut wajah kebingungan, “kenapa?”

“Tidak seharusnya aku membiarkanmu masuk. Apakah kau ini sudah berkeluarga? Apakah dia pacarmu? Apakah kau sedang hamil?”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak memiliki pacar, aku belum berkeluarga, dan aku sedang tidak hamil.”

“Lalu mengapa saat maag-mu kambuh, kau malah ke dokter kandungan? Sesudah dari sana, kau menjumpai seorang laki-laki tua di kafe. Kau menangis ketika laki-laki itu pergi.”

“Kau membuntutiku?”

“Dulu kau juga membuntutiku.”

“Baiklah, aku akan belajar sendiri sepulang dari sini. Tapi sebelumnya, ijinkan aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kau boleh mempercayainya ataupun tidak karena setelah ini kita belum tentu bisa bertemu lagi.”

Aku sudah berniat menutup pintu, tapi kau menjelaskan semuanya dengan berdiri di depan pintu yang masih kubuka. Aku tidak menangkap ada kebohongan dalam nada suaramu. Aku semakin tertarik dengan ceritamu, kepedihanmu, segala sesuatu yang berkaitan denganmu. Lalu aku mengijinkanmu masuk ke dalam apartemenku. Aku membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku. Semuanya mengalir begitu saja. Kau menjadi penghuni tetap di hatiku. Hingga dua tahun lamanya kita tenggelam dalam lautan cinta dan kasih. Sampai tiba saatnya masing-masing dari kita harus mengucapkan kata perpisahan.

Hampir setiap hari, di setiap malam aku mengajarimu Bahasa Inggris. Biasanya kita belajar sambil duduk atau sambil makan. Ketika sudah kunyatakan perasaanku padamu pada pertemuan kita yang kesekian, kita melakukannya sambil berbaring di karpet. Saling bicara tanpa saling menatap atau saling bicara sambil berpelukan. Kau suka menceritakan isi buku yang telah habis kau baca atau film yang sudah kau tonton. Kita bisa bercerita apa saja walaupun kita berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda. Lalu kalau kau sudah lelah bercerita atau lelah mendengar ceritaku, kau tiba-tiba tertidur.

Kalau sedang jenuh, biasanya kita bermain monopoli, scrabble, dan uno. Kita paling suka melakukan permainan tebak kata dalam Bahasa Inggris di punggung. Seperti menulis di pasir dengan menggunakan jari telunjuk, tapi aku menuliskannnya di punggungmu. Apabila kau salah menebak satu kata saja, aku akan menggelitik tubuhmu sampai kita berguling-guling dan tertawa terpingkal-pingkal. Wajah aslimu selalu tampak sedih saat kau terdiam. Tapi tiap kali kau tersenyum atau tertawa, wajahmu menjadi manis sekali. Pasti kau merindukkan masa-masa itu juga, kan?

Bagaimana bisa aku melupakanmu begitu saja. Bayang-bayangmu selalu berkeliaran di setiap sudut apartemenku. Tapi aku suka membayangkanmu ada di sana. Sejak perjumpaan kita dalam sesi terapi kelompok itu, kehidupanku tak lagi sama. Tidak sehampa atau seberat yang sebelumnya. Persaingan bisnis saat ini sering kali membuatku cemas dan pusing kepala. Namun kehadiranmu yang utuh di sana selalu dapat mencairkan suasana. Untuk dapat merasakan kehadiranmu, aku bahkan tidak perlu pergi ke mana-mana. Aku hanya perlu duduk di sofa sambil merokok, membuka layar handphone, dan mendengarkan iringan piano Clair de Lune dari Claude Debussy yang dulu sering kau dengarkan berkali-kali dalam sehari di apartemenku. Namun kau lebih menyukai Clair de Lune yang di-cover Ludvig Hall. Aku juga lebih menyukainya karena Clair de Lune yang versi itu selalu mengingatkanku tentang ciuman pertama kita. Iringan musik itu ikut mengiringi kita sampai aku jatuh tertidur di pangkuanmu.

Sore itu kau sandarkan kepalamu di dadaku. Dengan raut memelasmu kau tatap aku dalam-dalam.

“Aku selalu menganggap bahwa dalam setiap pertemuan kita adalah pertemuan yang terakhir. Jadi, apapun yang terjadi aku akan selalu bisa menikmatinya. Karena cepat atau lambat, aku pasti akan kehilanganmu.”

Kubelai pipimu, “masih terlalu pagi untuk berbicara tentang kehilangan.”

“Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita dalam waktu dekat ini.”

“Tidak. Tidak dalam waktu dekat ini,” kataku sambil mencoba merengkuhmu dalam pelukan.

Lalu kudengar suara tanteku dari luar pintu apartemen. Kita langsung bangkit dari karpet dan kusuruh kau duduk di sofa. Ketika tanteku masuk, dia langsung bertanya siapa dirimu. Spontan kau mengatakan bahwa kau adalah temanku. Sejak awal kita memang sepakat untuk tidak memberi status pada hubungan kita. Yang terpenting bagi kita saat itu adalah dari kualitas hubungan yang terjalin apakah nantinya akan membawa kita ke kehidupan yang lebih baik atau tidak.

Tanteku mengajakmu ikut makan siang bertiga di apartemen. Mulailah pertanyaan demi pertanyaan muncul di tengah meja makan.

“Kuliah di mana?” tanya tanteku padamu.

“Saya tidak kuliah, tante.”

“Oh, lulusan SMA atau SMK?”

“Sekolah SMA saya tidak tamat.”

Tanteku terdiam sesaat. Lalu bertanya lagi, “kenapa tidak tamat?”

Aku langsung menimpali pertanyaan itu, “terpaksa harus putus sekolah karena tidak punya biaya.”

Kita saling bertatap-tatapan.

“Memangnya apa pekerjaan orang tuamu?”

“Ayah saya pernah menjadi pegawai pabrik tapi kena PHK.”

“Topik apa yang biasanya kalian bicarakan saat bertemu? Seperti misalnya, bagaimana caramu menjelaskan tentang jurusan teknologi pangan kepadanya? Bagaimana caramu menjelaskan tentang sekolahmu di luar negeri atau persaingan bisnis saat ini?”

“Dia selalu bisa memahami apa yang kukatakan, tante. Kami bisa membahas apa saja.Bagaimanapun latar belakang pendidikannya, selama dia masih hidup, dia tetap punya kesempatan untuk punya masa depan cerah, bukan?”

Tanteku tidak begitu menggubris pernyataanku. Dia lalu bertanya kepadamu lagi, “kau bekerja di mana?”

“Di petshop, tante.”

“Oh, kau punya bisnis petshop rupanya?”

“Tidak, tante. Pekerjaan saya sebagai penjaga toko dan kasir.”

“Oh.”

“Sebelum menjadi bos, dia ingin menjadi karyawan dulu. Aku yakin suatu saat nanti dia akan bisa menjadi bos yang hebat. Siapa tahu dia bisa menjadi partner bisnisku dan setelah itu kafeku bisa memiliki cabang yang banyak,” aku mencoba membelamu sekali lagi.

“Lagi pula kami hanya berteman dan tidak mungkin akan menikah. Iya, kan?” tanyamu ke arahku dengan matamu yang mulai berkaca-kaca.

Setelah tanteku pergi kau luapkan amarahmu dalam wujud tangisan. Kau hanya bilang, “kita tidak bisa seperti ini terus. Apa yang harus kukatakan pada tantemu dan keluarga besarmu kalau sampai mereka tahu? Sudah saatnya kita berhenti. Sudah saatnya kita mengakhiri semua ini.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa, yang bisa kulakukan hanya memelukmu. Aku masih belum ingin berpisah denganmu. Sampai kapan pun.

Seminggu kemudian, tanteku datang lagi. Demi menghindari pertanyaannya, aku menyuruhmu bersembunyi di dalam lemari kamarku. Ternyata itu bukan ide yang bagus. Tanteku membahas tentangmu dan kau bisa mendengar semuanya dengan jelas dari dalam lemari.

“Kalian tidak mungkin berteman, kan? Aku sudah mencari tahu latar belakang pendidikannya. Dia dikeluarkan dari sekolah saat kelas tiga SMA karena ketahuan bekerja menjadi pelacur. Pelacur! Apakah kau menyadari perempuan seperti apa yang sudah kau pacari itu selama ini?”

Aku sudah mengetahuinya sejak awal. Aku juga tahu kalau kau dulu sering membolos dan pernah membawa kabur anak berusia tujuh tahun selama tiga hari. Ayahmu sering berjudi. Ibumu tega menjual adikmu sendiri. Kau menceritakan semuanya padaku, tapi yang tanteku tahu hanya kisahmu saat masih menjadi pelacur.

“Aku tidak yakin dia bisa menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk anak-anakmu.”

“Dia sudah tidak menjadi pelacur lagi. Lagi pula dia tidak bisa memilih lahir dan tumbuh di keluarga yang seperti apa. Dia baik padaku.”

“Tetap saja stigma pelacur itu akan selalu melekat di dirinya seumur hidupnya. Kau boleh memacari atau menikahi perempuan mana pun tapi jangan yang seperti dia. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Aku hanya ingin kau mempertimbangkannya lagi agar kau tidak menyesali pilihanmu di kemudian hari. Kalau kau masih tetap nekat bersamanya itu berarti kau telah mengecewakan kami.”

Sesaat setelah tanteku pergi, kau langsung ke luar dari lemari. Wajahmu memerah. Kau tak henti-hentinya menangis. Aku mencoba memelukmu lagi, tapi kau tolak pelukanku. Sambil menarik nafas di sela-sela tangismu, kau berkata, “yang dikatakan tantemu ada benarnya. Kau juga benar, kita memang tidak bisa memilih dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang seperti apa. Tapi keputusanku menjadi pelacur saat itu adalah pilihanku sendiri dan kulakukan dengan kesadaran. Aku sendiri yang mengambil alih keputusanku, bukan ayah atau ibuku. Tentang stigma yang terlanjur melekat pada diriku, itu adalah risiko yang harus kutanggung seumur hidupku. Mau tidak mau.”

Darminah adalah nama belakangmu. Kau lebih suka dipanggil dengan nama Darminah karena nama depanmu selalu mengingatkanmu tentang masa kecilmu di kampung yang jauh dari kata ceria. Mengingatkanmu tentang teman-teman sekolahmu yang selalu mengejek dan menjauhimu karena rambutmu banyak kutu. Mengingatkanmu tentang kata-kata ibumu yang memberimu label sebagai anak pembawa sial. “Gara-gara aku mengandungmu, aku terpaksa harus menikahi ayahmu. Sejak kau lahir, kau tidak ada bedanya dengan ayahmu. Kalian sama-sama menyusahkan hidupku saja. Kata orang, anak bisa mendatangkan rejeki tapi lihatlah apa yang bisa kau datangkan di sini selain kemiskinan?”

“Aku tidak sudi mencari kutumu satu per satu,” ibumu lebih memilih memotong dan mencukuri rambutmu sampai habis tak bersisa. Ketika kau sudah menjadi botak, teman-temanmu masih mengejekmu, “ada tuyul di kelas kita. Tuyul! Tuyul!” Suara itu tidak hanya terdengar di sekolah bahkan sampai di depan rumah. Teman-temanmu sengaja lewat di depan rumahmu dan berteriak, “tuyul! Tuyul!”

Ayahmu yang sedang stres karena kalah berjudi merasa sangat terganggu dengan suara itu. Satu kepalan tangan dari ayahmu hampir mendarat ke wajah salah satu temanmu. Dia sempat mencengkeram kerah baju temanmu. Kalau bukan karena ada tetanggamu yang melerai, temanmu sudah babak belur. Kejadian itu terdengar sampai di sekolah keesokan harinya. Kau semakin dikucilkan. Bukan lagi karena masalah kutu atau kepala botak. Mereka takut berteman denganmu karena takut dipukuli ayahmu.

Tak ada pilihan lain bagimu selain menutup mulut di hadapan orang tuamu. Ayahmu jarang mengajakmu bicara. Pernah sekalinya kau ajak bicara disaat yang tidak tepat, lehermu dicekik sampai kau hampir mati. Kau selalu bermain sendirian di depan rumah. Kadang hanya bermain pasir, kubangan bekas air hujan, iseng mencabuti dedaunan semak-semak milik tetanggamu, atau diam mengamati teman-temanmu yang asyik bermain petak umpet dari kejauhan tanpa mengajakmu.

Kau hampir tidak punya mainan. Orang tuamu tidak membelikannya dengan alasan agar keluargamu masih bisa makan setiap harinya. Setelah ayahmu kena PHK dan mulai berjudi, kehidupan keluargamu semakin menjadi carut marut.Kau hanya memiliki beberapa boneka yang sudah kusam yang kau dapatkan dari Tante Siska. Satu-satunya orang yang peduli padamu yang masih sedarah dengan ibumu. Dia tinggal di dekat rumahmu dan tidak menikah. Dia yang kemudian merawat dan membesarkanmu ketika ayahmu kabur dari rumah dan ibumu meninggal. Kau mulai tinggal bersamanya saat menginjak kelas satu SMP.

Ayahmu kabur karena kalah dalam berjudi dan terlilit hutang. Ayahmu kabur disaat ibumu hamil adikmu. Ibumu tidak bekerja. Pernah kau dapati sepasang suami istri datang berkunjung ke rumahmu dan berbincang-bincang dengan ibumu. Tak lama setelah itu, wajah ibumu tidak semuram biasanya sampai adikmu lahir. Ketika adikmu sudah mulai bisa makan, ibumu memberinya olahan ikan salmon. Kau mencoba mencicipinya diam-diam, tapi ibumu tahu dan tanganmu dipukul. “Jangan, itu untuk adikmu. Kau tidak boleh memakannya! Kau tahu makanan ini harganya mahal! Kalau kau lapar, ada ikan bandeng di meja makan. Lihatlah adikmu! Sejak dalam kandungan dia sudah membawa keberuntungan. Biarlah ayahmu pergi, toh hutang-hutangnya sudah kulunasi. Semua itu berkat kehadiran adikmu.”

Awalnya kau tidak menyukai kelahiran adikmu. Kau semakin jengkel dengan ibumu. Namun seiring berjalannya waktu, adikmu tumbuh menjadi bayi yang lucu dan menggemaskan. Kau suka menggendongnya, memandikannya, menyiapkannya susu, membersihkan kotorannya, menyuapinya makan, dan mengajaknya bicara. Adikmu menjadi teman pertamamu yang membuatmu tidak lagi merasa kesepian. Tapi kebersamaan itu hanya berlangsung sampai adikmu berusia dua tahun. Sepasang suami istri itu datang lagi, mereka membawa pergi adikmu. Kau tidak pernah melihatnya lagi sejak saat itu. Kau tidak terima. Kau marah pada ibumu. Kau bertanya mereka siapa dan kenapa ibumu membiarkan adikmu pergi begitu saja. Namun ibumu hanya bilang, “aku akan membawa adikmu pulang suatu saat nanti.”

Beberapa bulan kemudian, ibumu mengemasi barang-barangnya. Dia memberi tahumu kalau dia ingin membawa pulang adikmu. Dia akan pergi dan pulang satu hari kemudian. Kau menunggu dan begitu berharap akan kehadiran adikmu. Lalu kau diajak pergi Tante Siska ke suatu tempat keesokan malamnya. Kau dibawanya ke rumah sakit. Ibumu meninggal karena tertabrak mobil.

Mulai sejak itu kau tinggal bersama dengan Tante Siska sampai kelas tiga SMA. Dia memperlakukanmu lebih baik daripada orang tuamu. Penderitaanmu mulai berkurang tetapi masih belum berakhir. Kau masih belum bisa menemukan teman. Kau tidak merindukan ayah atau ibumu, melainkan adikmu. Selalu terngiang-ngiang dibenakmu sosok adikmu. Kadang kau menangis membayangkannya. Khawatir dan takut jika hal-hal buruk terjadi padanya. Tante Siska selalu mencoba menenangkanmu dengan mengatakan, “adikmu dibeli oleh orang kaya. Pasangan suami istri itu tidak bisa punya anak. Mereka sepertinya bukan orang jahat. Mereka pasti akan menyayanginya. Aku tahu mereka tinggal di mana. Kalau kau sudah besar, mungkin kau bisa mengunjunginya.”

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kau dirawat dan dibesarkan oleh perempuan yang bekerja sebagai pelacur. Orang tua dari teman-temanmu menyuruh mereka untuk tidak bergaul akrab denganmu. Guru di sekolahmu pernah menanyakanmu apakah kau tidak memiliki sanak saudara lain selain Tante Siska. Sebenarnya kau punya tapi hanya Tante Siska yang bersedia merawatmu. Tapi kau menjawab tidak kepada gurumu. Beberapa dari gurumu sering berpesan kepadamu untuk belajar rajin dan punya cita-cita mulia.

Ketika memasuki SMA, tantemu memutuskan untuk banting setir menjadi pedagang sayur di pasar. Dia ingin punya kehidupan normal. Dia kerap mewanti-wantimu agar tidak seperti dia kelak ketika kau dewasa. Dia selalu menyuruhmu untuk terus belajar yang rajin dan bisa menjadi anak yang membanggakan. Tantemu jarang menceritakan banyak-banyak tentang pekerjaannya, masa lalunya, ataupun keresahannya padamu. Dia menyimpan rapat semua yang dirasakannya sampai akhirnya dia jatuh sakit dan tidak bisa bekerja. Ternyata dia mempunyai banyak hutang kepada beberapa orang. Salah satunya termasuk biaya sewa kontrakan rumah yang kalian tempati sudah menunggak selama satu tahun. Kau mulai sering membolos sekolah karena sibuk mengurus tantemu yang sakit. Sementara itu, uang yang dimiliki tantemu untuk membeli kebutuhan pokok semakin lama semakin menipis dan habis.

Dalam benakmu waktu itu, satu-satunya cara yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam tempo yang singkat agar dapat bertahan hidup, hanyalah dengan menjual diri. Kau sudah mencoba mencari pinjaman dari sanak saudara lain, namun hasilnya nihil. Tantemu menangis hebat sewaktu kau menyampaikan keputusan itu. Namun kalian tidak punya pilihan lain. Hampir setiap malam selama satu bulan, kau pergi ke kelab malam. Menanti pelanggan, namun kau tidak langsung dengan mudahnya bisa mendapatkan pelanggan. Germomu sampai heran, setiap kali kau dikenalkannya dengan para lelaki di tempat itu, mereka lebih memilih yang lain. Penampilanmu saat itu belum seperti sekarang. Banyak yang bilang kau ini aneh, tidak menarik, dan tidak cocok menjadi pelacur. Namun kau tetap menunggu di situ. Sampai satu bulan lamanya. Suatu ketika ada laki-laki yang datang menghampirimu dan menanyai apakah kau masih perawan atau tidak. Ketika kau jawab ya, dia langsung membawamu ke hotel.

Laki-laki itu menemuimu sebanyak empat kali. Bayarannya mahal dan lebih dari cukup untuk melunasi hutang yang ada. Pada pertemuan keempat, kau menunggunya di bar. Dan sebelum bertemu dengan pelangganmu, kau bertemu dengan ayahku. Kau mendapatkan foto masa kecilku di malam itu. Hari pertamamu bekerja, tubuhmu terasa sakit. Banyak darah yang keluar. Kau menangis. Lalu pelangganmu menyuruhmu untuk jangan menangis lagi besok karena tangisanmu telah merusak imajinasinya. Hari kedua, dia menyuruhmu mematikan lampu. Dia tidak pernah menghadap atau menatap wajahmu. Tidak pernah ada pelukan atau ciuman. Hari ketiga sampai keempat, kau dimintanya berdiri menghadap ke arahnya tanpa mengenakan pakaian. Wajahmu ditutupinya dengan kain yang berbentuk seperti karung berwarna hitam. Sambil berbaring di atas kasur dan memandangimu, dia memuaskan dirinya sendiri.

Hutang tantemu lunas. Uang yang masih tersisa kausimpan untuk mencukupi kebutuhanmu selama tiga minggu ke depan dan juga untuk membayar sewa kontrakan.Sehari setelah hutang itu lunas, Tante Siska meninggal. Sebagian uang yang kau dapatkan dari jerih payahmu itu seketika lenyap dan malah membawa petaka. Berita tentang pekerjaanmu itu menyebar luasdi sekolah. Banyak teman-teman yang menghinamu. Banyak guru-guru yang kecewa padamu. Tak lama setelah itu kau dikeluarkan dari sekolah karena sebelum itu, selain sering membolos, kau juga sempat kena skors akibat membawa kabur anak kecil berusia tujuh tahun selama tiga hari.

Kau tidak berniat menculik anak itu. Dia tinggal di dekat sekolahmu. Sepulang sekolah, kau pernah melihatnya dipukuli ibunya. Punggungnya memar. Dia tidak berani menangis keras-keras karena semakin keras tangisannya, ibunya akan datang lagi untuk memukulnya lagi. Kau bersembunyi di balik semak-semak, menyaksikan adegan itu. Dia tahu kau di situ. Saat ibunya ke luar rumah, kau langsung menghampirinya dan menawarinya es krim. Kau mengajaknya pergi untuk membeli es krim di toko yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Kau gandeng tangannya. Saat kau hendak pulang, dia tiba-tiba memelukkmu dengan erat. Dia tidak mau pulang. Dia ingin ikut pulang bersamamu. Dan kau mengiyakannya. Kau hanya ingin melindunginya karena setiap kali kau melihatnya atau mengingatnya, kau seperti melihat dirimu sendiri.

Setelah berita tentang pekerjaanmu meluas, tiba-tiba ada tiga teman sekelasmu yang mencoba bersimpati kepadamu. Salah satu dari mereka beberapa kali mengajak dan menemanimu makan di kantin. Tepat sehari sebelum kau dinyatakan bahwa kau dikeluarkan dari sekolah, mereka mengajakmu berenang. Tidak benar-benar berenang hanya bermain basah-basahan saja. Sebelum itu, salah satu dari mereka mengantarmu ke mesin ATM untuk mengambil sebagian uang yang akan kau gunakan untuk membayar sewa kontrakan. Saat tiba di tempat kolam renang, kalian yang masih mengenakan seragam berdiri di tepi kolam untuk mengecek seberapa dalam kolamnya.

Tiba-tiba mereka mendorongmu karena tahu kau tidak bisa berenang. Mereka semua sebenarnya juga tidak bisa berenang. Ketika kau hampir mati tenggelam, mereka diam-diam mencuri semua uang dari dalam tasmu. Pada akhirnya kau tidak bisa membayar sewa kontrakan. Kau disuruh pergi oleh pemilik kontrakan. Kau hanya pergi mencincing satu tas berisi pakaian. Barang-barangmu lainnya kau biarkan ada di sana.

Gara-gara uang itu juga ayahmu yang kaukira sudah mati tiba-tiba membuntutimu sampai kalian berhenti di sebuah gang buntu yang gelap dan sepi dekat apartemenku. Dia juga tahu bahwa kau menjadi pelacur dan punya uang banyak. Dia meminta uang padamu karena dia kalah berjudi. Dia mengancammu dengan cara mencekik lehermu. Kau panik dan membiarkannya mengambil sisa-sia uang terakhirmu dari dalam tasmu. Merasa tidak puas dengan jumlah yang didapatkannya, dia mencekik lehermu lebih keras, sangat keras sampai kau hampir tidak bisa bernapas. Sampai akhirnya dia pergi karena mendengar suaraku.

Uangmu benar-benar habis dan tak bersisa. Kau tidak tahu harus tidur di mana malam itu. Lalu kau mencobanya sekali lagi. Kau menjajakan kaki di tempat para lelaki hidung belang berlalu lalang. Kau kenakan pakaian terbuka. Kau pandangi satu per satu para lelaki itu. Ada yang datang menghampirimu dan membawamu ke hotel. Kau ditawarinya minum sampai kau mabuk. Setelah itu yang kau ingat hanyalah sekelebat tubuhnya yang besar menindih tubuhmu yang disertai dengan suara erangannya.

Paginya, kau terbangun sendirian dan tidak ada sepeserpun uang yang ditinggalkannya untukmu. Selebihnya tidak ada yang kau ingat. Setelah kau mandi di hotel, kau ke luar dengan kepala yang masih pusing dan perut yang mulai lapar. Tidak ada sarapan karena kau tak lagi punya uang. Kau cincing lagi tasmu dan luntang lantung di jalan. Kau duduk terdiam di pinggiran toko-toko yang tutup. Sambil beberapa kali menangis, kau duduk di situ sampai sore. Sampai kau menemukan beberapa potongan kue keju yang tidak sengaja kutinggal di depan swalayan kecil.

Sejak saat itu kau telah memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kaki di dunia prostitusi. Setelah selesai memakan kue keju, kau memiliki tenaga untuk berjalan beberapa kilometer hingga sampai di stasiun. Kau tidak punya tujuan apa-apa di sana. Kau merindukan adikmu lagi dan berandai-andai bisa pergi ke kotanya dengan kereta untuk menemuinya dan memeluknya. Kau sadar kau tak bisa melakukannya karena untuk makan saja belum tentu bisa. Lagi pula adikmu belum tentu mengenalimu. Sempat terpikirkan olehmu untuk bunuh diri. Namun yang kau lakukan hanya tidur di kursi tunggu dalam stasiun karena kau kelelahan. Sampai pada akhirnya ada nenek-nenek yang membangunkanmu, menolongmu, dan mengajakmu pergi ke kota adikmu.

Kau bekerja di petshop milik Nenek Wijan selama bertahun-tahun. Dia seorang janda tanpa anak yang sudah kau anggap seperti ibumu sendiri. Sejak bekerja di tokonya kau punya kehidupan yang lebih baik daripada kehidupanmu yang dulu. Nenek Wijan juga punya bisnis kos-kosan dan kau diijinkannya tinggal di sana tanpa perlu membayar sewa kos. Bisa tinggal di kamar kos berukuran kecil, bisa makan tiga kali sehari, bisa hidup tenang tanpa terlilit hutang, terpisahkan dari orang-orang yang pernah menyakitimu, bagimu itu sudah lebih dari cukup. Gajimu tidak banyak, tapi kau selalu bisa berhemat. Sebisa mungkin kau selalu mengusahakan agar tidak punya hutang.

Kau lebih suka mengonsumsi minuman tradisional seperti jamu yang selalu dibuatkan Nenek Wijan dan banyak sayuran serta buah-buah daripada membeli skin care. Kau beli buku-buku bekas tentang sastra di pasar loak dan biasanya kau baca sepulang dari toko. Meskipun Nenek Wijan baik padamu, selalu ada saat di mana kau merasa kesepian dan bosan. Kau ingin punya teman sebaya atau seorang kekasih yang dengannya kau bisa bercerita apa saja termasuk tentang masa lalumu. Nenek Wijan punya penyakit jantung. Jadi kau tidak pernah berani mengatakan tentang asal usulmu. Yang diketahuinya, kau yatim piatu dan tidak bisa lanjut sekolah karena kendala biaya. Kau dikenalkannya dengan beberapa laki-laki, tapi mereka kurang tertarik dan menghilang tanpa kabar setelah berkenalan denganmu. Nenek Wijan sering mengajakmu ikut menghadiri seminar psikologi yang diadakan teman-teman alumni kampusnya. Sejak itu kau mulai tertarik belajar tentang psikologi dan diam-diam mulai ikut terapi.

Sayangnya tidak semua orang mau tahu dan peduli tentang luka yang bersemayam dalam lubuk hati kita. Tidak semua orang bersedia untuk mengetahui serta memahami masa lalu kita atau motif dasar yang melatar belakangi kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat. Pada akhirnya hanya segelintir orang yang betul-betul bisa menerima diri kita apa adanya dengan segala baik dan buruknya kita. Beruntung sekali bagi orang-orang yang bisa diterima apa adanya dan dicintai oleh keluarganya. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak bisa mendapatkan penerimaan dan cinta itu dari keluarga? Mereka tidak akan berhenti untuk terus mencari ke berbagai tempat hingga mereka dapat merasa benar-benar diterima dan dicintai seutuhnya. Perasaan-perasaan semacam itu dapat menjadi benteng pelindung bagi mereka dari kerasnya arus kehidupan. Agar hati mereka tidak menjadi rusak dan lalu mulai menyakiti diri mereka sendiri atau orang lain.

Malam itu kita memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Terasa cukup menyakitkan karena kita masih saling mencintai. Kau lepas pelukanku. Kau ucapkan kata selamat tinggal dan terima kasih. Keesokannya aku sudah tidak bisa menghubungi nomormu lagi. Keluargaku, teman-temanku, dan anak buahku tidak ada satupun dari mereka yang mengerti betapa berharganya dirimu di hidupku. Aku bisa saja nekat menikahimu diam-diam. Aku bersedia melakukannya. Tapi kau tidak mau karena kau tidak ingin merusak hubunganku dengan keluargaku.

Detik ini aku duduk di ayunan. Aku melihat beberapa anak kecil berlari-lari di taman sambil melambaikan tangan ke arahku. Ada yang tiba-tiba datang memelukku dan kemudian pelan-pelan mendorong ayunanku dari belakang. Wajah anak-anak kecil itu kini ceria sejak tinggal di sini. Keceriaan di wajah mereka membuatku merasa hidupku berarti. Aku lebih bahagia di sini daripada saat mengurusi kafe. Semua ide ini begitu saja muncul sebelum kau pergi, tapi saat itu aku belum sempat mengatakannya.

Karenamu aku menjadi tergerak untuk mendirikan panti asuhan. Aku menjalin kerja sama dengan banyak pihak. Aku mempunyai banyak kenalan yang bersedia menjadi donatur. Sebagian pendapatan dari bisnis kafe juga kugunakan untuk membantu biaya hidup mereka di sini. Panti asuhan ini tidak hanya terbuka bagi anak-anak yatim piatu. Panti asuhan ini juga terbuka bagi anak-anak yang masih mempunyai orang tua namun orang tua mereka tidak sanggup merawat mereka secara fisik, mental, dan finansial. Mereka akan dirawat dan biayai sejak SD sampai mereka lulus kuliah. Karena beberapa pertimbangan, panti asuhan kami tidak menerima bayi dan tidak mengadakan sistem adopsi.

Darminah, kau sedang apa sekarang? Kau sudah tidak lagi di kos itu. Kau tidak punya sosial media. Aku benar-benar tidak tahu tentang keberadaanmu selama tujuh tahun ini. Kau pindah ke mana? Apakah kau sudah berhasil memberanikan diri untuk menemui adikmu? Bagaimana dengan dokter kandungan yang pernah kau temui yang ternyata adalah ibu angkat adikmu itu? Apakah kau sudah mencoba untuk mencari tahu lagi kabar tentang adikmu darinya? Bagaimana dengan laki-laki yang kau temui di kafe itu? Laki-laki yang dulunya aku kira suami atau pacarmu yang ternyata seorang satpam yang menjaga rumah adikmu. Informasi apa saja yang sudah kau peroleh darinya tentang adikmu?

Darminah, apakah kau tahu kalau karenamu aku menemukan sesuatu yang membuatku merasa lebih hidup walaupun kita tidak lagi bisa hidup bersama? Aku bahagia ketika melihat senyum mereka sama seperti aku melihat senyummu yang menjadikanku selalu membuatku merasa seperti pahlawan. Lamunanku tentangmu tiba-tiba menjadi buyar saat ada orang yang memanggilku. Ada tamu yang datang. Nenek Wijan. Sudah beberapa tahun belakangan ini, dia aktif berdonasi di pantiku. Tapi kali ini dia hanya memberiku secarik amplop lalu pulang. Amplop itu berisi satu buah kartu pos dan selembar surat. Tertulis namamu di situ.

Mataku sudah berkaca-kaca bahkan sebelum aku membaca suratmu. Lalu aku kembali ke taman, duduk di ayunan, dan kubaca semua tulisanmu.

Ezra, How have you been?

How is life treating you?

Apakah kau masih tinggal di apartemen yang sama?

Bagaimana bisnis kafemu?

Aku harap semoga kau baik-baik saja dan bahagia. Aku sengaja mengirimkanmu surat untuk mengucapkan terima kasih. Aku mengikuti saranmu untuk memberanikan diri menemui adikku. Dia menangis dan memelukku saat kami pertama kali bertemu setelah bertahun-tahun kami terpisah. Waktu itu dia baru saja lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah kedokteran. Dia tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan bahagia.

Dia punya banyak kenalan orang-orang dari luar negeri karena dia bersekolah di sekolah internasional. Aku dikenalkannya dengan teman-temannya itu. Aku disarankan oleh salah satu dari temannya untuk ikut program Au Pair. Syarat utamanya hanya perlu kemampuan bahasa. Pelajaran-pelajaran Bahasa Inggris yang pernah kau berikan padaku telah membantuku lolos dalam seleksi programnya. Aku selalu mengingat dengan baik setiap pelajaranmu.

Aku menjadi pengasuh bayi di Inggris sekarang. Selain menjadi pengasuh, aku juga diminta untuk menjaga anjing di rumah keluarga yang kutempati. Mereka sangat baik padaku. Di sini aku merasa seperti punya keluarga baru. Ternyata aku lebih suka mengurusi bayi manusia dan hewan daripada bekerja di petshop. Mungkin kalau kau tidak pernah mengajariku, ceritanya akan lain.

Aku dengar kau mendirikan panti asuhan ya?

Keren sekali. Aku selalu bangga padamu. Sebenarnya Nenek Wijan sudah menjadi donatur di tempat lain. Aku mengiriminya uang dari hasil pekerjaanku di sini untuk dikirimkannya ke panti asuhanmu. Aku meminta tolong padanya untuk menyerahkan uang itu bukan atas namaku karena aku sengaja ingin merahasiakannya darimu. Tapi kali ini aku tidak ingin merahasiakannya lagi karena aku ingin berbagi kebahagiaan.

Aku masih sering merindukanmu hampir setiap hari. Biasanya ketika aku sedang merindukanmu, aku memutar lagu dari Oh Wonder yang berjudul In and Out of Love. Beberapa bait lagunya selalu mengingatkanku padamu.

You’re my secret appetite
Served upon a golden plate
You’re the taste to satisfy
Every look that’s on my face
So many nights to find the one
I had ‘em on repeat
Right when I thought my days were done
You showed the sun to me
If it wasn’t for you
I’d always be in and out of love
Lying in the wrong rooms
And knowing it wasn’t quite enough
I’m trying hard to say
That even if I’d never seen your face
I’d be waiting for you
And always be in and out and in and out love

Kartu pos itu bergambar pemandangan Sungai Thames dan dibalik gambar itu kau menuliskan kata-kata ini,

Satu kalimat yang sudah pernah kau dengar dariku dan ingin kuucapkan lagi padamu. Kalimat yang kuambil dari lagu Your Song milik Elton John,

How wonderful life is while you’re in the world

Dari aku yang selalu mencintaimu,

Darminah

 

TAMAT

 

penulis. Qanifara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.