Contoh Sesi Telekonseling dengan Terapi Menulis


Sebelum melaksanakan telekonseling dengan psikolog, tentunya merasa gugup karena pengalaman menjalankan konseling seperti ini dan tentunya tidak pernah terbayang bahwa akan mengalami hal seperti ini. Tetapi di satu sisi juga penasaran dan menantikan sesi telekonseling walaupun tidak tahu pasti apakah akan membantu atau tidak untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami.

Selain itu juga tidak disangka bahwa ketika bercerita, perasaan pun mulai meluap dan seakan-akan mengeluarkan segala unek-unek yang terpendam di dalam walaupun mungkin belum termasuk semuanya. Padahal bukan hanya sekali membagikan perasaan dan pikiran tersebut ke orang lain, ada juga ke teman, saudara, atasan, dan bahkan HRD. Tetapi tidak sampai ke tahap di mana air mata dapat dikeluarkan sedemikian banyak.

Setelah mengadakan konseling, tentunya merasa psikolog dapat membaca sekitar kurang lebih 80-90% dari karakter saya, dan pemikiran saya juga. Beliau juga dapat memahami apa yang saya rasakan dan pikirkan, dan bisa relate dengan hal tersebut. Cuma tentunya beliau memberikan sudut pandang yang berbeda, dan cara approach beliau yang berbeda juga dari orang lain yang telah mendengarkan cerita saya. Tapi mungkin apa yang saya bagikan ke orang lain ada yang berbeda dibandingkan dengan ke beliau, tetapi intinya tidak jauh berbeda. Saya juga merasa lebih lega karena beliau sebagai pendengar dan juga mencoba untuk mengarahkan saya ke perspektif yang berbeda walaupun saya orangnya juga pelupa jadi tidak mengingat semuanya secara jelas. Namun masih ada beberapa perasaan dan pikiran yang negatif belum sepenuhnya hilang walaupun ada yang berkurang di momen itu, serta tidak terlalu dipikirkan juga. Tapi tidak dipungkiri akan muncul lagi setelah melewati momen tersebut.

Terkait dengan kedua orang tua saya. Sebetulnya waktu dulu kecil hingga remaja, kebanyakan waktu saya dihabiskan dengan ayah dibandingkan ibu. Sehingga ingatan yang ada dominan dengan ayah. Di saat itu memang ibu lebih banyak menghabiskan waktu bekerja mencari nafkah sehingga jarang sekali menemani kami, dan kami pun lebih sering dengan ART. Dan dari situlah saya lebih dekat dengan ayah dibandingkan dengan ibu. Bahkan baru mulai dekat dengan ibu waktu SMA. Di saat itu ibu akhirnya mulai bercerita tentang permasalahan antara mereka berdua yang ternyata banyak sekali dan menumpuk bertahun-tahun dan lambat laun pun menjadi semakin rumit. Bila mendengar dari sudut padang kedua orang tua pun berbeda-beda, namun saya karena sebagai seorang perempuan jadinya saya lebih bisa berempati dengan mama saya. Dan lambat laun pun saya mula tidak begitu dekat lagi dengan ayah. Hubungan mereka berdua pun berimbas ke kami sebagai anak, walaupun mereka tidak bercerai secara hukum namun mulai tinggal secara terpisah sampai sekarang. Saya pribadi pun merasa kesepian walaupun orang tua dan abang ada di dekat saya namun terasa seperti jauh dari saya. Bahkan saya merasa masih mendingan tinggal di asrama seperti waktu saya merantau, setidaknya saya ada teman walaupun saya pribadi juga masih tidak begitu bisa terbuka dan masih lebih banyak diam.

Bila melihat ke masa lalu, sebetulnya dulu keinginan saya waktu SMA ingin mengambil jurusan perencanaan wilayah dan kota, namun tidak disetujui oleh orang tua karena mereka juga tidak paham jurusan apa itu, dan hanya tahu arsitektur.

Namun, waktu itu memang lebih membahas tentang studi dengan ayah, karena merasa beliau lebih paham mungkin di satu sisi juga ayah lulusan S1 dan lebih peduli dengan pendidikan kami. Sedangkan ibu cenderung ingin anaknya tidak perlu belajar sampai tinggi, dan lebih memilih dapat berbisnis dan menghasilkan uang yang banyak seperti beberapa sepupu kami. Lalu, setelah konseling dengan guru BP, saya dianjurkan untuk mengambil kedokteran. Akhirnya saya mikir lagi dan jadinya tidak mengejar keinginan saya untuk mengambil perencanaan wilayah dan kota.

Setelah mencoba memilih jurusan kedokteran, ternyata saya diterima sehingga saya pun bertekad untuk menjadi dokter dan sudah ada rencana ke depannya ingin mengambil spesialis walaupun masih belum tahu pasti spesialisasi di bidang apa. Akan tetapi, rencana itu pun menjadi tidak terwujud dikarenakan saya diminta untuk pindah ke Singapura untuk berkuliah yang disebabkan oleh hubungan kedua orang tua saya yang sebetulnya tidak baik dan hal tersebut berimbas ke rencana saya untuk masa depan saya.

Dari sanalah mulai saya tidak tahu apa yang sebetulnya saya inginkan, karena waktu itu pun tidak berpikir panjang memilih jurusan di Singapura, hanya berpikir yang mungkin masih berkaitan dengan kesehatan atau medis, serta lulus lebih cepat. Akhirnya pun memilih salah satu perguruan tinggi swasta di Singapura yang terdapat jurusan tersebut.

Tapi ketika berkuliah di Singapura pun sebetulnya tidak menikmati dan juga masih terbawa perasaan rindu dengan teman-teman di tempat kuliahnya sebelumnya. Ditambah lagi suasana di Singapura tentunya berbeda dengan di Surakarta, dan saya pun menjadi semakin introvert dan tidak mudah terbuka dengan orang lain. Bahkan dengan teman kuliah pun hanya sebatas studi saja, saya jadinya cenderung menutup diri dan semakin individualis bahkan cuek juga. Tetapi ketika sudah menjelang kelulusan memang ada rasa penyesalan kenapa tidak menikmati waktu di Singapura tapi di satu sisi saya juga menyadari bahwa situasi saya di saat itu memang begitu dan tentunya it’s a heavy blow to me, so i shouldn’t blame myself for what I felt back then because it’s normal.

Setelah tamat kuliah, munculnya kebingungan arah selanjutnya yang ingin saya tempuh. Ketika itu saya sambil mencari kerja dan juga bekerja di toko mama saya. Dan tentunya ada beberapa orang dan bahkan sanak keluarga sendiri yang seakan-akan menjudge saya yang lulusan luar negeri tapi ujung-ujungnya kerja di toko mama saya. Dan mereka bahkan menyebut bahwa lulusan SMA pun juga bisa, apalagi mereka tahu bahwa mama saya sebagai pemilik toko pun hanya lulusan SMP. Lalu ditambah lagi omongan dari ayah saya yang lebih mau saya untuk fokus cari kerja di Singapura.

Tetapi saya juga tahu jelas bahwa tidak semudah itu mendapatkan pekerjaan di Singapura, apalagi saya juga melihat banyak orang-orang di sekitar saya yang juga lulusan dari Singapura pun hanya sedikit yang beruntung. Jadinya saya juga tidak ingin memaksakan diri harus mendapatkan pekerjaan di Singapura. Tetapi waktu itu mama saya walaupun juga berharap, tapi beliau juga paham bahwa tidak semudah itu sehingga beliau yang lebih mendukung saya untuk bekerja di Indonesia kalau memang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di Singapura.

Dan karena omongan orang lain dan sanak keluarga yang tidak mengenakkan, sehingga saya pun lebih terdorong untuk mencari kerja di luar Batam karena di satu sisi saya juga sebetulnya tidak begitu betah bekerja di toko mama saya. Dan saya pun juga menjadi realistis, tidak lagi memaksa diri saya harus mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang studi. Akhirnya pun saya banting setir tetapi masih dalam minat saya yaitu menjadi penerjemah bahasa Mandarin. Dan akhirnya saya pun mendapatkan pekerjaan tersebut dan menerimanya setelah membahas dengan mama saya. Tentu di saat itu ayah saya pun tidak setuju, tapi saya juga tidak memerdulikan pendapat beliau dan saya pun memberanikan diri merantau lagi di tempat yang asing.

Dan sebetulnya ketika saya kembali lagi ke Batam bekerja, itu di luar dugaan saya karena tidak menyangka akan mendapatkan pekerjaan baru begitu cepat belum lama setelah kontrak kerja saya di perusahaan sebelumnya berakhir. Dan saya juga mempertimbangkan kedua orang tua usianya sudah tidak muda lagi, apalagi waktu November 2020 saya kehilangan 2 sanak keluarga sehingga membuat saya tergerak untuk kembali ke Batam agar dapat menemani kedua orang tua saya lebih lama. Tetapi ekspektasi saya tidak sesuai dengan kenyataan.

Di satu sisi muncul masalah di tempat kerja, dan bahkan ditambah lagi di keluarga sehingga membuat saya mental breakdown dan menyadari bahwa saya sebetulnya tidak cocok bekerja di Batam apalagi tinggal bareng dengan keluarga. Sebetulnya karena keluarga saya banyak drama, sehingga waktu merantau hanya sekedar mendengar cerita tapi tidak memengaruhi saya secara mental. Barulah ketika saya mulai tinggal dengan mama saya lagi, saya merasakan bahwa personality saya kurang cocok dengan beliau sehingga munculnya masalah dengan beliau dan itu sangat memengaruhi saya secara mental dan mungkin tanpa disadari juga berimbas ke kinerja saya.

Dan sekarang saya pun tidak tinggal bareng lagi dengan beliau, dan saya juga tidak tahu apakah hubungan kami sudah baik-baik saja atau sebenarnya masalah itu masih ada tapi kami saja yang ignore masalah tersebut untuk saat ini.

Kebiasaan dan personality saya yang terbangun dari lingkungan keluarga yang menjadi boomerang bagi saya di tempat kerja yang sekarang. Waktu di tempat kerja sebelumnya ada beberapa yang sudah menyadari bahwa saya orangnya cuek dan bodoh amat tapi mungkin tidak begitu ketara dibandingkan dengan sekarang.

Di satu sisi karena waktu di sana dipertemukan dengan orang-orang yang show concern seperti kakak dan abang sendiri sehingga sedikit demi sedikit juga mulai concern. Bisa dibilang ketika berada di sana memang carefree dan lebih santai, tidak begitu terbebani dan tertekan. Tapi memang waktu itu juga berpikir tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut dalam jangka waktu yang panjang, merasa setahun sudah cukup.

Tapi sembari bekerja di tempat kerja yang sekarang justru membuat saya rindu dengan suasana kerja di perusahaan sebelumnya, terutama dengan beberapa orang di sana. Cuma ya tentunya saya tidak dapat kembali ke waktu itu dan ke perusahaan tersebut kalau saya mempertimbangkan career development saya untuk ke depannya, dan inilah faktor utama mengapa saya tidak memperpanjang kontrak saya di perusahaan sebelumnya.

Tapi bekerja di perusahaan sekarang, khususnya di departemen sekarang, membuat saya menyadari bahwa sebetulnya minat saya tidak di sana tapi di satu sisi saya juga berusaha untuk memberikan yang terbaik walaupun masih banyak kekurangan juga dan saya pun menganggapnya sebagai sarana untuk menambah wawasan dan mendapatkan ilmu yang baru. Mungkin juga karena saya tipe orang yang sangat chill jadi saya juga tidak ingin terlalu memaksakan diri saya, dan lebih ke mencoba untuk menikmati prosesnya walaupun belum tentu bisa dengan cepat karena saya sendiri juga bukan fast learner.

Dan itu yang mungkin mengakibatkan adanya perbedaan di antara saya dengan orang-orang di perusahaan sekarang. Bisa jadi dept sekarang memang tidak sesuai dengan saya dan tidak dapat mengembangkan potensi saya secara maksimal. Saya pribadi juga tidak ingin memaksa kehendak, dan mungkin memang waktu itu saya tidak berpikir panjang dan sangat simple-minded sehingga munculnya rasa shock, dan seiring berjalannya waktu mulai merasa bahwa saya sebetulnya secara mental dan kedewasaan atau kematangan belum siap menjalani posisi saat ini.

Sebenarnya walaupun bukan minat saya, tapi saya juga tetap menjalankannya walaupun saya juga masih belum menguasai dan masih banyak yang butuh diimprove. Namun di satu sisi juga tidak tahu pasti metode yang sesuai dengan saya itu sebenarnya yang bagaimana. Walaupun para atasan sudah memberikan banyak masukan dan sebagainya, tapi saya juga tidak dapat mengingat semuanya secara jelas dan mungkin juga saya hanya di hari itu ketika kena teguran merasa down, namun besoknya saya sudah merasa biasa saja.

Saya merasa rasa cuek saya agak berlebihan dan tidak tahu bagaimana meminimalisirnya, tapi juga jadi mati rasa walaupun masalah-masalah tersebut masih ada di depan mata Cuma saya pribadi terkadang kesannya seperti mengabaikan dan mungkin menghindari, tapi tetap saja ujung-ujungnya akan kembali lagi berpikir ke masalah-masalah tersebut dan mungkin ada yang berhasil diselesaikan, tapi ada juga yang tidak, karena tidak tahu bagaimana menyelesaikannya.

Atasan saya pun bilang bahwa saya sebetulnya masih sangat polos menghadapi dunia kerja yang kejam, dan saya setuju dengan perkataan beliau. Saya juga merasa sebetulnya di awal mungkin saya memang belum siap menghadapi dunia kerja, terutama dunia kerja seperti yang saat ini saya jalankan.

Saya merasa ini memanglah rintangan buat saya namun saya juga tidak terarah harus bagaimana semestinya. Saya juga tidak ingin membebani orang lain dan saya pasti merasa tidak enak terhadap mereka. Karena saya cenderung mudah untuk menyalahkan diri saya sendiri, walaupun ada beberapa hal yang saya merasa bukan salah saya tapi saya juga merasa lebih baik saya salahkan diri saya daripada orang lain. Mungkin itu juga lah yang membuat saya merasa saya sebetulnya bertanggung jawab namun bisa berlebihan juga terutama ketika tidak sesuai ekspektasi saya maupun orang lain.

Saya saat ini yang sebetulnya tidak begitu memahami diri saya dan krisis identitas sehingga saya pun hanya go with the flow dan menjelajahi pekerjaan yang berbeda, setelah itu membuat saya menyadari ternyata minat saya bukan di sini namun saya juga tetap berusaha untuk menjalankannya.

Tetapi malah tidak membuahkan hasil yang maksimal, dan situlah membuat saya merasa telah mengecewakan banyak orang dan mungkin ada perasaan kecewa sedikit terhadap diri sendiri tapi saya juga tidak begitu memikirkannya. Mungkin lebih dominan memikirkan tentang pandangan orang terhadap saya.

Saya merasa sebetulnya masalah saya ini tidak hanya sekedar berhubungan dengan kerja tapi juga ada faktor keluarga di dalamnya, dan berlapis-lapis. Saya pribadi bukan orang yang dapat multitasking dan fokus dengan begitu banyak hal, sehingga saya sendiri menjadi sangat pusing dan kepala terasa berat. Berbagi ke orang lain belum tentu juga mereka paham sehingga jadinya lebih baik saya simpan sendiri daripada menghabiskan energi saya.

Menurut saya banyak yang harus dibenahi namun saya sendiri juga tidak tahu harus mulai dari mana, baik masalah eksternal maupun internal. Saya pribadi tidak masalah dengan seberapa lama dan panjang waktu yang dibutuhkan, namun apabila sudah bersangkutan dengan orang lain, apakah mereka bersedia dan memiliki kesabaran tersebut?

Saya merasa saya sudah sampai di tahap merasa tidak stabil secara mental dan emosi, dan sampai sesak di dada maupun kepala terasa berat. Saya juga lost sebaiknya harus bagaimana dan metode yang sesuai sebetulnya seperti apa?

Overthinking saya sangat membunuh saya, bahkan waktu bersekolah dan berkuliah tidak sampai separah yang sekarang dan sekarang membuat saya sulit untuk tidur nyenyak dan mendapatkan kualitas tidur yang baik.

 

Lala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.