Bukan Lagi Mimpi, Pelatihan Berbasis Drama di Depan Mata


Sejak kuliah aku memiliki impian bahwa drama atau teater dapat untuk menerapkan ilmu psikologi yang aku tekuni. Seorang kawan lama memintaku menjadi observer untuk mengamati penerapan Seni bagi peningkatan kemampuan karyawan. Adalah Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) melaksanakan program Workshop Kreativitas Berbasis Seni untuk sebuah BUMN, Aku simpan di sini semoga dapat juga diketahui bagi yang membutuhkan.

Catatan Amatan Workshop Kreativitas Berbasis Seni

Art per se is not a therapy but art can be therapeutic

Hasil yang Memuaskan

Secara keseluruhan dapat dikatakan mantul, mantap betul. Hasil dari perencanaan yang matang dan eksekusi yang kreatif memberi hasil presentasi (pentas) yang sukses. Peserta menunjukkan hasil dari latihannya yang mampu mengeluarkan potensi “seni”, bukti bahwa mereka memiliki kreativitas yang terwujud dalam karya drama. Respon dari para pimpinan managemen yang puas, bahkan ingin nambah lagi adalah bukti juga, bahwa proses ini memberikan hasil seperti yang diharapkan. Dengan situasi yang seperti itu tidaklah perlu mengulas detail-detail teknis hasil amatan selama prosesnya.

Meskipun demikian karena aku diminta untuk mencari hal apa yang dapat ditingkatkan lagi, maka aku coba paparkan beberapa hal yang dapat dijadikan alternatif untuk pengembangannya. Kawanku sudah mengetahui pengalamanku. Aku pernah jadi HRD di perusahaan level nasional. Aku juga berlatar belakang ilmu psikologi. Aku sudah familier dengan istilah yang dipakai dalam dunia Pengembangan Diri (pelatihan karyawan) dan terapi kelompok psikodrama,  (Aku rada dodolan ya hihihihi).

Dunia Human Resource Management, dalam hal ini untuk penerapan ilmu Psikologi Industri dan Organisasi ada dua hal utama yang menjadi kajian yaitu People dan System. Nah, pengembangan diri dan khusus lagi dalam situasi pelatihan pengembangan diri ini, orientasinya fokus pada People, pada orangnya, dinamika psikologinya, pikirannya, perasaannya, tindakannya.

Kita tanpa sadar (bawah sadar orang berbeda beda) sering mementingkan ketepatan waktu. Materi pelajaran yang harus disampaikan, metode yang harus dilakukan, harus sesuai dengan yang telah direncanakan. Kita mengabaikan dinamika psikologis (Rasa, Pikiran, Tindakan) yang terjadi. Orientasi kita menjadi lebih ke System. Tentu hal ini tidak salah, sejauh dipilih dengan “sadar” . Kita lakukan dengan tetap mempertimbangkan dinamika proses psikologi yang terjadi.

Dari hasil amatan selama proses saat itu, dinamika psikologi peserta yang muncul masih dapat digunakan untuk lebih menggali dan mengembangkan potensi (kompetensi) mereka. Kompetensi yang dapat diterapkan di tempat kerja peserta. Hal tersebut baru dijadikan bahasan setelah pentas. Bahasan yang dilakukan pun secara umum belum detail dengan memberikan kesempatan pada tiap Individu berefleksi. Bahasan ini pun berasal dari pihak managemen.

Boleh jadi memang hal itu sesuai dengan yang telah direncanakan. Penyelenggara mempertimbangan waktu yang tersedia. Proses memberikan kesempatan pada tiap individu untuk berefleksi memerlukan waktu.

Moreno Bapak Psikodrama mengajak tiap orang menjadi Protagonis, aktor utama bagi drama hidupnya.Tokoh utama yang menjadi pusat dan menentukan jalannya cerita hidupnya, keputusannya menjadi penentu hidupnya.  siap menghadapi dan mengatasi persoalan yang muncul. Masalah dari dalam diri dan luar dirinya, situasi dan kondisi lingkungan,serta orang lain

Bagaimana mengolah dinamika psikologis peserta dapat dilakukan?

Pertama tentunya ada niatan di perencanaan untuk memberi perhatian pada hal itu. Kita dapat menuliskannya dalam rundown. Peserta diberi waktu pada setiap akhir sesi untuk refleksi dan berbagi. Refleksi yang diarahkan untuk menemukan hubungan pelajaran yang didapat dengan implementasinya di tempat kerjanya nanti. Refleksi ini dapat dilakukan dengan cara yang aktif dan menarik serta mampu lebih masuk ke kedalaman rasa. Salah satunya dengan sosiometri. Sosiometri adalah metode kuantitatif untuk mengukur hubungan sosial dalam kelompok atau organisasi. Proses penyelidikan yang menembak masalahnya tidak dari luar struktur kelompok, maupun permukaan kelompok, melainkan dari struktur batin individu-individunya. (Moreno 1951)

Kemudian hasilnya menjadi bahan atau modal dasar proses berikutnya. Dengan demikian maka proses pertumbuhan (pengembangan diri) dapat langsung disadari peserta. Fasilitator juga turut tumbuh bersama peserta sebagai manusia. Manusia yang tumbuh dengan menyadari pengalaman masa lalu (apa yang telah dilakukan), menikmati hari ini (olah rasa selama proses) dan semakin yakin dengan harapan akan masa depan. (menyesuaikan dengan yang ada di proposal)

Keselarasan Diksi

Banyak teknik (istilah) yang telah dikembangkan dalam dunia pelatihan berdasar drama ini yang dapat digunakan.

Menggunakan drama sebagai alat bantu bukanlah hal baru. Dari filsuf Yunani dan Romawi kuno sampai dramawan kontemporer, drama telah digunakan sebagai cara yang menarik untuk bercermin dan mengeksplorasi kondisi manusia.

Demikian juga yang ada di proposal, istilah wiraga, wirama, wirasa, sebuah konsep yang baik. Konsep yang mengedepankan kearifkan lokal. Hal yang juga menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun demikian perlu diterjemahkan saat proses pelatihan dalam diksi yang familier di dunia kerja terutama untuk peserta dan kegunakannya nanti dalam kehidupan nyata.

Sering kali istilah yang luhur menjebak diri pada kekaguman hingga mengabaikan implementasi pada tindakan nyata dalam keseharian. Istilah tersebut dapat diselaraskan dengan istilah keaktoran dari Stanislavski yang menyatakan instrumen aktor adalah pikiran, rasa dan tubuhnya, atau dalam dunia Psikologi Umum yaitu kognisi, afeksi dan psikomotorik (konasi) ada juga istilah populer di Psikologi Industri dan Organisasi yang berorientasi pada people yaitu hand, head, heart (hand, tangan dijelaskan sebagai hasil kerja nyata, head, kepala diterjemahkan sebagai isi pikiran, wawasan dan kemampuan analisa. heart, hati dijelaskan perasaan yang puncaknya menjadi empati)

Setelah peserta memahami itu diajak dengan menggunakan diksi yang lebih operasional yaitu olah rasa, olah pikir dan olah tubuh, yang lalu terwujud dalan rangkaian aktifitas yang aktif dan menyenangkan. Aktif ini dapat dilhat dari banyaknya peserta yang bertindak dari pada berbicara. Kalaupun berbicara lebih banyak waktu peserta berbicara daripada fasilitator, karena metode yang dipilih adalah drama (Action Method)

Adam Blatner, menawarkan istilah baru: Action Exploration, dalam arti tertentu, dipandang sebagai cara meningkatkan kesadaran. berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen

Boleh jadi perihal diksi ini, aku yang tidak mendengar selama proses amatan yang aku lakukan, karena posisiku juga relatif jauh. Posisi yang secara sadar aku lakukan agar tidak mempengaruhi dinamika proses yang terjadi.

Aku menuliskan ini berdasar ungkapan dari peserta setelah presentasi (pentas): “Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa melakukan aktivitas ini, …..”.

Sebenarnya bagus juga bahwa kesadaran muncul dari diri peserta pada akhirnya. Bahkan kesadaran ini yang utama, namun dengan pertimbangan bahwa tentu akan bisa jadi berbeda jika peserta sudah paham di proses awal, ada kemungkinan hasilnya bisa jadi lebih baik,disebabkan adanya keyakinan dan atensi yang lebih, dalam menjalani prosesnya..

Orientasi Pada Peserta Ajar

Dalam Proses belajar mengajar juga ada dua orientasi yang perlu dipahami dari pengajar dan peserta ajar yaitu :

Pertama, guru yang hebat adalah guru yang menguasai pengetahuan, kemampuan dan mampu memberi contoh, sehingga kehebatannya dikagumi murid-muridnya. Guru itu akan mengajarkan dan menularkan kehebatan dirinya itu. Guru akan menginspirasi murid agar menjadi hebat seperti dirinya.

Kedua, guru yang hebat juga adalah guru yang menyadari pengetahuannya terbatas, kemampuan masih banyak yang perlu dilatih, bahkan tidak mampu memberi contoh. Ia tidak nampak hebat, namun ia mampu membangun kepercayaan diri dan kepercayaan pada murid-muridnya sehingga murid-muridnya berani menjadi dirinya sendiri, belajar dari pengalamannya sendiri dan akhirnya menjadi orang hebat, bahkan melebihi gurunya di bidang yang dipilihnya sendiri.

Psikodrama dalam hal ini pelatihan berbasis drama lebih mirip dengan paparan yang kedua. Sutradara atau fasilititaor mengedepankan para peserta yang lebih aktif, untuk berani jujur pada dirinya sendiri. Tugas sutradara membangun situasi kondisi yang aman, nyaman dan boleh salah, sehingga peserta dapat melakukan tindakan yang spontan, bereksplorasi dengan tindakannya kemudian merefleksikannya.

Dalam setting terapi psikologis yaitu psikoterapi, sudah memiliki pondasi yang mantap yaitu Client Centered, berpusat pada klien seperti yang dipaparkan oleh Rogers. Manusia dalam pandangan Rogers adalah bersifat positif. Ia mempercayai bahwa manusia memiliki dorongan untuk selalu bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi, kooperatif, konstruktif dan memiliki kebaikan pada inti terdalam.

Terapis  berfungsi sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan Client Centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.

Hubungan terapeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan, klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.

Dengan demikian maka penerapan dalam setting pendidikan dan proses pembelajaran sesuai dengan konsep Student Centered, berpusat pada siswa. Dalam konsep pelatihan berpusat pada peserta, yang perlu didasari dengan prinsip bahwa :

  • Individu memiliki kapasitas untuk membimbing, mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri apabila ia diberikan kondisi tertentu yang mendukung.
  • Individu memiliki potensi untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya yang terkait dengan permasalahan yang dihadapi.
  • Individu memiliki potensi untuk mengatur ulang dirinya sedemikian rupa sehingga tidak hanya untuk mengatasi masalah, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan diri dan mencapai kebahagiaan.

Student Centered ini dapat menjadi konsep dasar untuk menjelaskan apa yang telah terjadi dalam proses Workshop Kreativitas Berbasis Seni yang lalu itu.

Bukankah konsep ini sesuai dengan Merdeka Belajar nya Mas Menteri ?

Yogyakarta, 18 November 2021

Retmono Adi
(Praktisi Psikodrama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.