Bagaimana Penerapan 8 Tahap Perkembangan Psikososial Erik Erikson dalam Psikodrama


Apa yang dimaksud dengan psikososial?

Definisi Psikososial adalah “hubungan dinamis antara aspek psikologi dan sosial, dimana masing-masing saling berinteraksi dan mempengaruhi secara berkelanjutan.”

Apa yang dimaksud dengan perkembangan psikososial?

Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan pribadi manusia serta perubahan mengenai bagaimana individu berhubungan dengan orang lain.

Psikolog yang berhasil menciptakan teori perkembangan manusia paling berpengaruh hingga kini adalah Erik Erikson. Aspek psikososial adalah titik berat teorinya, yang berarti karakter seseorang terbentuk dalam tahapan sepanjang hidupnya. Erikson meyakini bahwa pada setiap jenjang kehidupan, manusia akan menghadapi konflik yang berpengaruh besar pada karakter dirinya. Konflik ini bisa berpengaruh positif maupun negatif. Apabila tahapan psikososial di usia tertentu bisa terlewati dengan baik, maka keyakinan akan kekuatan diri (karakter ego) akan meningkat. Di sisi lain, apabila tidak terlewati dengan baik, rasa kurang ini akan terbawa hingga dewasa.

Menurut Wikipedia Contributors (2021), pengaruh yang melekat pada tahap-tahap ini adalah :

  1. Fase Bayi (0-18 bulan)

Pengaruh positif pada tahap perkembangan pertama ini adalah harapan. Sementara konflik yang terjadi dalam proses pembentukan karakter adalah antara kepercayaan dasar vs. ketidakpercayaan dasar.

Tahap ini mencakup periode bayi, 0–12 bulan, yang merupakan tahap paling mendasar dalam kehidupan, karena ini adalah tahap yang dibangun oleh semua yang ada di luar dirinya. Apakah bayi mengembangkan kepercayaan dasar atau ketidakpercayaan dasar bukan hanya masalah pengasuhan. Ini mencakup banyak sisi dan memiliki komponen sosial yang kuat. Itu tergantung pada kualitas hubungan dengan ibu. Ibu melakukan dan mencerminkan persepsi batinnya tentang kepercayaan, rasa makna pribadi, dll, pada anak.

Bagian penting dari tahap ini adalah memberikan perawatan bayi yang stabil dan konsisten. Ini membantu anak mengembangkan kepercayaan yang dapat bertransisi ke dalam hubungan selain orang tua. Selain itu, anak-anak mengembangkan kepercayaan pada orang lain untuk mendukung mereka. Jika berhasil dalam hal ini, bayi mengembangkan rasa percaya, yang “membentuk dasar dalam diri anak untuk rasa identitas.” Kegagalan untuk mengembangkan kepercayaan ini akan menghasilkan perasaan takut dan perasaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat diprediksi.

Aktivitas utama yang dilakukan pada fase ini adalah ketergantungan pada ibu dan mengekspresikan rasa frustasinya. Selain itu pada fase ini, bayi tersebut seringkali merasa takut pada lingkungan sekitar terutama yang tidak dikenalnya dengan baik.

  1. Fase Kanak-Kanak (18 bulan – 3 tahun) atau Batita

Pengaruh positif pada tahap perkembangan kedua ini adalah kehendak. Sementara konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter adalah antara otonomi vs malu.

Tahap ini mencakup anak usia dini sekitar 18 bulan – 3 tahun dan memperkenalkan konsep otonomi vs rasa malu dan keraguan. Anak mulai menemukan awal dari kemandiriannya, dan orang tua harus memfasilitasi perasaan anak untuk melakukan tugas-tugas dasar “kemandirian”.  Keputusasaan dapat menyebabkan anak meragukan kemandiriannya.

Selama tahap ini anak biasanya mencoba menguasai toilet training. Selain itu, anak menemukan bakat atau kemampuannya, dan penting untuk memastikan anak mampu mengeksplorasi aktivitas tersebut. Erikson menyatakan adalah penting untuk memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk bereksplorasi tetapi juga menciptakan lingkungan yang menyambut kegagalan. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menghukum atau menegur anak karena gagal dalam mengerjakan tugas. Rasa malu dan ragu terjadi ketika anak merasa tidak kompeten ketika menyelesaikan tugas dan bertahan hidup. Kehendak dicapai dengan keberhasilan tahap ini. Anak-anak yang berhasil dalam tahap ini akan memiliki “pengendalian diri tanpa kehilangan harga diri.”

  1. Fase Awal Anak Kecil (3-5 tahun) atau Balita

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke tiga ini adalah memiliki tujuan. Konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara inisiatif vs. rasa bersalah.

Tahap ini mencakup anak-anak prasekolah dari usia tiga hingga lima tahun. Apakah anak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu sendiri, seperti berpakaian sendiri, makan sendiri ?

Anak-anak dalam tahap ini berinteraksi dengan teman sebaya, dan menciptakan permainan dan aktivitas mereka sendiri. Anak-anak dalam tahap ini melatih kemandirian dan mulai membuat keputusan sendiri. Jika dibiarkan membuat keputusan ini, anak akan mengembangkan kepercayaan pada kemampuannya untuk memimpin orang lain.

Jika anak tidak diperbolehkan membuat keputusan tertentu, maka rasa bersalah berkembang. Selain itu, anak mengajukan banyak pertanyaan untuk membangun pengetahuan tentang dunia. Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut mendapat tanggapan yang merendahkan, anak juga akan mengembangkan perasaan bersalah. Rasa bersalah pada tahap ini ditandai dengan rasa menjadi beban bagi orang lain, dan karena itu anak biasanya akan menampilkan diri sebagai pengikut karena mereka kurang percaya diri untuk melakukan sebaliknya.

Keberhasilan dalam tahap ini mengarah pada pentingnya memiliki tujuan dan keyakinan mampu menjalani proses mencapainya. Anak berada pada kondisi keseimbangan normal antara dua titik ekstrem itu. Anak memiliki keberanian berinisiatif dengan bertanggung jawab menerima konsekuensi apabila ternyata tindakannya merupakan kesalahan.

  1. Fase Anak-anak (6-13 tahun)

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke empat ini adalah memiliki kompetensi. Konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara industri vs. inferioritas (percaya diri vs rendah diri ).

Area ini mencakup anak-anak usia sekolah dari enam hingga tiga belas tahun. Anak-anak membandingkan harga diri mereka dengan orang lain di sekitar mereka. Teman dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan anak. Anak dapat mengenali perbedaan kemampuan pribadinya terhadap anak-anak lain.

Erikson menempatkan beberapa penekanan pada guru, yang harus memastikan bahwa anak-anak tidak merasa rendah diri. Selama tahap ini, kelompok teman sebaya semakin penting dalam hidupnya. Seringkali selama tahap ini anak akan mencoba membuktikan kompetensinya dengan hal-hal yang dihargai di masyarakat, dan juga mengembangkan kepuasan dengan kemampuannya. Mendorong anak meningkatkan perasaan kecukupan dan kompetensi dalam kemampuan untuk mencapai tujuan. Pembatasan dari guru atau orang tua menyebabkan keraguan, pertanyaan, dan keengganan dalam mengembangkan kemampuan dan karena itu mungkin tidak mencapai kemampuan penuh.

Kompetensi, keutamaan tahap ini, dikembangkan ketika keseimbangan yang sehat antara dua ekstrem “percaya diri vs rendah diri” tercapai. Anak cukup sadar bahwa ia memiliki kemampuan tertentu yang lebih dibandingkan dengan temannya, yang tidak menjadikan tinggi hati dan anak juga tahu bahwa temannya memiliki kemampuan lain tertentu yang lebih dari dirinya yang tidak menjadikan dia rendah diri.

  1. Fase Remaja (13-18 tahun)

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke lima ini adalah memiliki kesetiaan. Konflik di dalam diri yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara menemukan identitas diri vs. kebingungan peran.

Bagian ini membahas masa remaja, artinya mereka yang berusia antara tiga belas hingga delapan belas tahun. Ini terjadi ketika seseorang mulai mempertanyakan diri sendiri dan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan siapa aku, bagaimana aku dan apa yang akan kucapai dalam hidup ini ?

Remaja mengeksplorasi dan mencari identitas uniknya sendiri. Hal ini dilakukan dengan melihat keyakinan pribadi, tujuan, dan nilai-nilai. Moralitas individu juga dieksplorasi dan dikembangkan. Erikson percaya bahwa jika orangtua membiarkan anak bereksplorasi, dia akan menentukan identitasnya sendiri. Namun, jika orang tua terus mendorongnya untuk menyesuaikan diri dengan pandangan mereka, remaja akan menghadapi kebingungan identitas.

Remaja juga melihat ke masa depan dalam hal pekerjaan, menjalin hubungan, dan keluarga. Mempelajari peran yang ia berikan dalam masyarakat sangat penting karena remaja mulai mengembangkan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kesetiaan ditandai dengan kemampuan untuk berkomitmen pada orang lain dan penerimaan orang lain, bahkan dengan perbedaan. Krisis identitas merupakan akibat dari kebingungan peran dan dapat menyebabkan remaja mencoba gaya hidup yang berbeda.

  1. Fase Dewasa (18-40 tahun)

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke enam ini adalah memiliki cinta. Konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara keintiman vs. isolasi.

Ini adalah tahap pertama perkembangan orang dewasa. Perkembangan ini biasanya terjadi pada masa dewasa muda, yaitu antara usia 18 hingga 40 tahun. Tahapan ini menandai transisi dari hanya memikirkan diri sendiri menjadi memikirkan orang lain. Kita adalah makhluk sosial dan sebagai akibatnya perlu bersama orang lain dan membentuk hubungan dengan mereka. Kencan, pernikahan, keluarga dan persahabatan penting selama tahap ini. Hal ini disebabkan meningkatnya pertumbuhan hubungan intim dengan orang lain.

Penting untuk dicatat bahwa perkembangan ego di awal kehidupan (remaja pertengahan) adalah prediktor kuat tentang seberapa baik keintiman untuk hubungan romantis akan terjadi di masa dewasa yang baru muncul. Dengan berhasil membentuk hubungan cinta dengan orang lain, individu dapat mengalami cinta dan keintiman. Mereka juga merasakan keamanan, perhatian, dan komitmen dalam hubungan ini.

Selanjutnya, jika individu berhasil menyelesaikan krisis keintiman versus isolasi, mereka dapat mencapai kebajikan cinta. Mereka yang gagal membentuk hubungan yang langgeng mungkin merasa terisolasi dan kesepian.

  1. Fase Paruh Baya (40-65 tahun)

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke tujuh ini adalah memiliki kepedulian. Konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara generativitas vs. stagnasi.

Tahap kedua kedewasaan terjadi antara usia 40-65. Selama periode ini orang biasanya menetap dalam kehidupan mereka dan tahu apa yang penting bagi mereka. Mungkin juga berada pada situasi sedang membuat kemajuan dalam karirnya atau melangkah ringan dalam karirnya,  atau pada situasi sedang tidak yakin apakah ini yang ingin dia lakukan selama sisa usia produktifnya. Juga selama periode ini, seseorang mungkin membesarkan anak-anak mereka. Jika mereka adalah orang tua, maka mereka mengevaluasi kembali peran hidup mereka. Ini adalah salah satu cara memberikan kontribusi kepada masyarakat bersama dengan produktivitas di tempat kerja dan keterlibatan dalam kegiatan organisasi masyarakat.

Individu yang menerapkan konsep generativitas percaya pada generasi berikutnya dan berusaha untuk memelihara mereka dengan cara yang kreatif melalui praktik seperti mengasuh anak, mengajar, dan membimbing. Memiliki rasa generativitas dapat dianggap signifikan baik bagi individu maupun masyarakat, yang menunjukkan peran mereka sebagai orang tua yang efektif, pemimpin organisasi, dll.

Jika seseorang merasa tidak nyaman dengan kemajuan hidupnya, biasanya dia akan menyesali keputusan yang telah dia buat di masa lalu dan merasa tidak berguna.

  1. Fase Lansia (>65 tahun)

Akhirnya tibalah kita pada fase akhir kehidupan manusia yaitu fase lansia.

Pengaruh positif pada tahap perkembangan ke delapan ini adalah memiliki kebijaksanaan. Konflik yang berpengaruh dalam pembentukan karakter ini adalah antara integritas ego vs. keputusasaan.

Tahap ini mempengaruhi kelompok usia 65 tahun ke atas. Selama waktu ini seseorang telah mencapai babak terakhir dalam hidupnya dan masa pensiun sudah dekat atau telah terjadi. Individu dalam tahap ini harus belajar menerima jalan hidup mereka atau mereka akan melihat ke belakang dengan putus asa.

Integritas ego berarti penerimaan hidup dalam kepenuhannya: kemenangan dan kekalahan, apa yang dicapai dan apa yang tidak dicapai. Kebijaksanaan adalah hasil dari berhasil menyelesaikan tugas perkembangan akhir ini. Kebijaksanaan didefinisikan sebagai telah memahami hidup dan telah terlepas dari persoalan kehidupan itu sendiri, serta siap menghadapi kematian. Apabila masih dalam usia produktif, memahami hal yang baik dan yang buruk, memilih yang baik, dan terus maju menjalani kehidupan untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Rasa integritas cenderung muncul karena adanya rasa tanggung jawab yang besar akan peran yang didapatnya selama masa muda sedangkan seringkali rasa putus asa ini muncul karena perasaan kecewa atas ketidakberhasilan yang pernah dialaminya.

Memiliki hati nurani yang bersalah tentang masa lalu atau gagal mencapai tujuan penting, pada akhirnya akan menyebabkan depresi dan keputusasaan. Merasa telah menjalani kehidupan dengan optimal dan mencapai tahap keutamaan pribadi akan membawa perasaan telah menjalani kehidupan yang sukses.

Bagaimana menerapkannya dalam praktek psikodrama ?

Psikodrama adalah psikologi terapan yaitu metode atau cara untuk mengaplikasikan teori psikologi. Adam Blatner menyatakan bahwa psikodrama adalah ekplorasi tindakan, dalam arti tertentu dipandang sebagai cara meningkatkan kesadaran, berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen

Psikodrama adalah metode aksi yang mengajak untuk bertindak spontan. Kita tinggal melihat tindakan yang dilakukan peserta yang mengungkapkan bagaimana keadaan dirinya. Kita selaraskan dengan tahapan perkembangan psikososialnya Erikson. Kita pastikan ke delapan hasil positif dalam tahap perkembangan psikososial Erikson ini muncul dalam tindakan spontan mereka. Dengan demikian maka seluruh fase tersebut dapat dilewati dengan baik dan mereka menjalani kehidupan secara penuh.

Kita ulang 8 hasil positif dari tahap perkembangan psikososial Erikson

  1. Memiliki Harapan
  2. Memiliki Kehendak
  3. Memiliki Tujuan
  4. Kompetensi
  5. Kesetiaan
  6. Cinta
  7. Kepedulian
  8. Kebijaksanaan

Kita pastikan muncul dalam tindakan spontan yang ada dalam keseluruhan tahap psikodrama dari warming up, action, hingga integrasi.

Mari kita bahas lebih lanjut:

Tahap 1. Pemanasan (Warming Up)

Tujuan tahap ini adalah membangun kepercayaan dari peserta kepada Director/Terapis/Sutradara dan yang lebih penting adalah membangun kepercayaan antar peserta.

Kita mulai dengan berkenalan menyebutkan nama dan diawali dengan membuat pose unik sebagai ekspresi diri selanjutnya ditutup dengan mengungkapkan harapannya dalam mengikuti proses psikodrama ini. Kita pastikan bahwa peserta telah memiliki harapan (1).

Awalnya kita latih untuk saling percaya, lewat perkenalan dan bangun suasana rileks. Kita menggunakan teknik sclupture untuk membangun suasana boleh salah, untuk yakin dan otonom, sekalian berinisiatif, berani salah itu belajar. Munculkan keberanian percaya pada diri sendiri.

Kita dapat mulai dengan membuat pose yang unik dan baru, yang belum pernah dilakukan. Cukup mengulangi saja pose pada saat perkenalan. Sebagai persiapan untuk Membuat Pose Pohon dengan mengunakan seluruh tubuhnya.

Secara perlahan peserta diminta membuat pose yang mudah dan sederhana. Tiap peserta diminta membentuk pose pohon sendiri. Kita ajak peserta untuk berani berperan dan memberikan identitas, menjadi apa, menjadi pohon apa.

Peserta akan memberikan jawaban spontan, apabila berani. Sementara yang tidak berani akan kesulitan menyebut nama pohon. Direspon wajar dan boleh salah agar selanjutnya lebih berani. Kita informasikan untuk berani lagi berekplorasi kesadaran tubuhnya dan memaksimalkan. Kita dapat ulang lagi membuat pose pohon ini. Kita tanyakan lagi, apabila mereka sudah dengan yakin menjawab nama pohon, maka dapat dipastikan mereka sudah memiliki kehendak (2). Kehendak untuk membuat pohon tertentu yang diwujudkan dalam posenya. Mereka sudah tahu bahwa ketika diminta membuat pohon selanjutnya akan ditanya nama pohonnya.

Tantangan ditingkatkan dengan membuat Pose Pohon berpasangan, tanpa berkomunikasi lewat kata kata. Bila pose telah terbentuk ditanyakan pada salah satu dari pasangan, apa nama pohonnya. Situasi ini untuk memberikan kesempatan berinisiatif dan mengambil resiko salah bila tidak seperti harapan pasangannya. Konflik sederhana ini menyiapkan bagaimana memiliki tujuan yang akan dipraktekkan membuat pose pohon bertiga.

Selanjutnya peserta diajak membuat pose pohon yang terdiri dari tiga orang. Instruksi dilakukan saat mereka masih berpasangan. Mereka perlu berpisah dengan pasangannya untuk mencari kelompok baru demi memenuhi tugas, atau mencapai tujuan.(3).

Pada tahap ini biasanya masih tetap dengan posisi yang relatif sejajar berdiri atau pose-pose yang “nyaman”. Kita ajak untuk berani bereksplorasi dengan memberikan informasi sebagai salah satu intervensi perilaku. Dijelaskan bahwa pose yang berfokus pada bagian atas pohon atau mahkota, tengah pohon atau batang ranting, dan bawah atau akar pohon, merupakan posisi yang secara bawah sadar memiliki keselarasan dengan fokus pada masa depan, masa sekarang dalam membangun hubungan sosial, dan sedang fokus pada masa lalu. Pemahaman ini mengutip dari interpretasi tes grafis secara kasar saja demi stimulus yang meyakinkan untuk bereksplorasi, lebih berani mengenal diri.

Keberanian tersebut dipraktekan dalam membuat Pose Pohon (berempat) dengan tujuan bereksplorasi. Ditanyakan lagi menjadi apa. Apakah berkontribusi, kesesuaian dengan tema, imajinasi out of the box, optimalisasi tubuh, tidak hanya membuat satu nama, namun detail tiap bagian tubuh menjadi berbagai bagian dari pohon bahkan berani menjadi sesuatu yang mungkin berada di pohon misalnya layang-layang, sarang burung, burung, batu, dll. Keberanian membuat dan kesesuaian dengan tema dapat diindikasikan memiliki kompetensi (4) tiap orang berbeda kemampuan, saling melengkapi dan berkontribusi.

Perlu diulang untuk memperkuat keberaniannya bereksplorasi dengan diminta membuat pose pohon berlima. Biasanya peserta makin spontan dan berani membuat berbagai bentuk yang lebih variasi..

Pada bagian kompetensi ini dapat dieksplorasi lebih detail dengan membuat Kereta Kuda, yang di refleksikan dengan orientasi peran dalam hubungan kerja. Pilihan spontan menjadi bagian dari kereta kuda, misalnya roda, kuda, tali kekang, kusir dan lainnya, dapat di dalami dengan mengajak pada kesadaran perannya di organisasi.

Teknik sculpture ini dapat terus digunakan untuk mengajak peserta lebih peduli terhadap rekan lain. Seluruh peserta tanpa berkomunikasi lewat kata, diminta membuat diorama (peristiwa dengan pose mematung) situasi taman pada petang hari. Ditanyakan pada tiap peserta menjadi apa. Dari jawaban yang ada apakah telah memenuhi unsur unsur yang di minta. Biasanya masih ada yang terlewat misalnya tidak ada matahari yang menunjukkan senja. Juga kadang malah mataharinya ada lebih dari satu sehingga maknanya jadi kacau. Kesalahan ini dimaknai dengan jenaka saja, tertawa bersama. Bangun suasana yang gembira. Dari kesalahan ini juga dijadikan pintu masuk untuk mengajak tiap peserta peduli (7) pada peserta lain. Peserta diarahkan unutk mengamati dan mengobservasi bentuk pose peserta lain sebelum membuat posenya sendiri. Arahkan bahwa pose yang akan dibentuk memberi kontribusi sesuai yang dikehendaki.

Pemahaman baru telah di dapatkan diuji dengan ditantang lagi membuat diorama yang mengharuskan adanya interaksi. Peserta tanpa bicara diminta membuat peristiwai suasana Pasar Tradisional pagi hari. Dalam kondisi mematung ditakan menjadi apa? Adakah interaksi antara peserta, Adakah yang menjadi sesuatu yang istimewa, misalnya pegemis, tempat sampah, sesuatu yang spontan tercipta dapat dijadikan indikator kepedulian (7) terhadap lingkungan dan kondisi sosial.

Teknik Sclupture dengan membentuk peristiwa secara kelompok besar dapat juga dijadikan sarana untuk mengajak kesadaran peran cinta (6) pada tanah air. Peserta diajak untuk membuat peristiwa peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Di sana akan muncul simbol simbol negara dan bangsa.

Kepedulian terhadap kemanusiaan dapat dilakukan dengan mengajak peserta membuat diorama tentang peristiwa bencana. Kita dapat ajak unutk di setting tertentu, misalnya suasana pengungsian bencana gempa, kondisi 3 hari setelah gunung meletus, banjir melanda kampungku, dll.

Kepedulian terhadap seni dan budaya dapat juga diungkap dengan mangajak peserta membuat diorama pentas musik dangdut. Kondisi ini mengajak pada sadar peran peduli dengan ditanyakan siapa bintang pentasnya, panggung pertunjukan menghadap ke mana. Ditanyakan juga tiap peserta menjadi apa untuk kesadaran lebih dalam. Dapat juga untuk afirmasi dan bahan refleksi nanti peserta boleh “merevisi” berubah perannya, posisinya dan gesturenya untuk memperbaiki hasil secara keseluruhan. Hal ini dilakukan dengan memberi kesempatan tiap peserta boleh bergerak satu gerakan sederhana untuk merubah posisi. Sebaiknya diberi aba aba agar serentak dan spontan. Ditanyakan lagi apakah ada yang berubah perannya, misalnya dari penonton menjadi tukang bakso, atau tetap perannya hanya berubah posisi. Kesemuanya diapresiasi positip akan pilihan ini, dengan diberi kesempatan menjelaskan dasar pemikirannya.

Wawasan global juga dapat diungkapkan lewat peserta diajak mebuat diorama peristiwa Royal Weeding. Pesta pernikahan putri kerajaan Inggris di kota London yang terjadi tahun 2018. Penentuan seting waktu dan tempat mengajak peserta untuk berpikir luas dan kontekstual. Ini juga mengungkap kompetensi (4) wawasan sebagai warga dunia.

Perhatikan bahwa penerapan teknik sclupture ini dari bentuk paling sederhada dan perlahan menjadi semakin kompleks. Dari menjadi sebuah pohon sendiri dan akhirnya diajak membuat peristiwa dunia. Demikianlah teknik psikodrama memiliki alur dalam bertindak.

Secara keseluruhan “permainan” sclupture ini direfleksikan. Seluruh peserta diajak duduk santai dan diajak memberi makna pengalan itu dengan “berani menjadi dan berkontribusi”, boleh salah, berani berbeda. Pendalaman dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan peserta untuk membagikan pengalaman rasa. Apa yang dirakan selama proses, baik secara keseluruhan maupun perdetail peran peran yang mereka lakukan. Arahkan dengan cara yang lembut agar muncul Kehendaknya, Tujuannya, serta tunjukkan Kompetensi yang telah mereka ungkapkan dan, Kepedulian yang telah mereka wujudkan dalam peristiwa pada diorama.

Kita dapat membantu menggali lebih dalam dengan memberikan makna kesetiaan yang telah mereka lakukan. Mereka setia (5) dan berkomitmen mengikuti instruksi dan tetap bersama menjalani. Dalam hal ini mereka disadarkan memiliki identitas dan diakui identitasnya dalam peran yang telah mereka pilih dan fokusnya dalam berkomitmen berani menjadi dan berkontribusi.

Pengalaman berinteraksi dalam kebersamaan juga membangun keakrapan. Rasa yang diungkapkan selama refleksi ini adalah keintiman atau merasakan cinta (6), tidak terisolasi dari peserta lain.

Salah satu teknik psikodrama Sosiometri dapat dilakukan juga, yaitu Teknik Lokogram. Tentukan 3 titik, dilakukan dengan meletakkan selendang/kain warna (bisa dengan benda yang lain atau imajiner saja) di lantai. Tiga titik itu, diberi nama: Pikiran, Rasa, Tindakan.

Instruksikan pada semua peserta untuk berdiri di tiap titik, yang sesuai dengan pengalamannya satu bulan terakhir:

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak merasa, silahkan berdiri di Titik Rasa.

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak berpikir, silahkan berdiri di Titik Pikiran.

Siapa yang sebulan terakhir ini paling banyak bertindak, silahkan berdiri di Titik Tindakan Rasa. Bila ada yang kombinasi boleh ditambahkan titik baru.

Setelah terbentuk kelompok tersebut, diminta untuk memberikan penjelasannya. Apa yang dirasakan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Rasa. Apa yang dipikirkan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Pikiran. .Apa yang dilakukan selama sebulan terakhir ini pada seseorang yang ada dalam kelompok Titik Tindakan.

Ini adalah proses Self Assesment Spontan. Bila pesertanya sekitar 10 orang, berikan kesempatan pada setiap orang mengutarakan penjelasannya. Bila lebih banyak boleh cukup beberapa perwakilan kelompok saja. Kemampuan Self assesment merupakan dasar bagi seseorang unutk belajar menemukan makna diri yang menjadi tahap awal menuju pada kebijaksanaan (8).

Berdasarkan pengalaman berpraktek, tahap pemanasan ini dirasa cukup, jika sudah muncul ungkapan rasa yang otentik, baik berupa “getar” kala berkata-kata, atau ada setitik air mata. Tanda-tanda tersebut dapat dijadikan pedoman sudah adanya saling percaya dalam kelompok. Saatnya memasuki tahap berikutnya. Apabila tujuan psikodrama bukan sebagai proses terapi seperti bahasan kali ini, getar rasa atau airmata tidak perlu diusahakan. Lebih baik kita mengusahakan suasana canda dan tawa. Teknik-teknik dalam psikodrama dapat digunakan membangun suasana rasa keduanya.

Tahap 2. Pentas Role Play (Action)

Teknik bermainlperan adalah cara yang ampuh untuk mengembangkan kemampuan untuk memahami, dan teknik terkait “Pembalikan Peran” juga sangat penting bagi resolusi konflik. Moreno mengungkapkan bahwa karena Pembalikan Peran adalah metode Operasional untuk membangun Kapasitas Imajinasi dan Empati, karena itu ia merasa bahwa kegiatan empathically (cetak miring) memperluas diri sendiri adalah sebuah kewajiban etis yaitu kepedulian (7).

Dalam tahap ini perlu diperhatikan adalah pemilihan peran Protagonis, seorang yang kita minta kesediaannya menceritakan “drama” hidupnya untuk dipertunjukkan.Pemilihannya dapat dengan menggunakan teknik Sosiometri agar keterlibatan semua anggota kelompok terwujud. Keterlibatan setiap anggota kelompok akan mendukung Protagonis untuk lebih berani mendapatkan “feel” yang dibutuhkan. Mereka dapat menjadi ego pendukung dalam drama yang dimainkan, mendukung Protagonis mencapai pemahaman baru atas masalah yang dihadapinya.

Proses berikutnya adalah Protagonis memilih salah satu peserta diminta kesediaannya berperan sebagai Ego pembantu. Drama yang dimainkan untuk tema kali ini adalah mengungkapkan rasa terhadap orang tua. Protagonis memililih peserta lain untuk menjadi orang tuanya. Peran lain dalam role play ini disebut ego pembantu protagonis.

Mereka memainkan role play, Protagonis mengucapkan terima kasih pada orang tuanya yang diperankan oleh Ego pembantu. Pertukaran peran dilakukan dengan teknik tukar peran setelah protagonis mengucapkan terima kasih dan penjelasannya. Protagonis bertukar peran menjadi orang tuanya sendiri. Ia menjawab ucapan terima kasih itu dilanjutkan dengna saling bertukar peran melakukan percakapan. Roleplay dihentikan apabila protagonis merasa sudah cukup puas. Kita sebagai sutradara memastikan bahwa protagonis telah cukup mengungkapkan rasa bahwa ia telah mampu merasakan cinta (6) dari orang tuanya.

Pengalaman mendapatkan cinta (6) ini dapat dijadikan indikator bahwa protagonis telah memiliki cinta. Sesuai dengan ungkapan hanya “orang yang dicintai yang mampu mencintai, hanya rasa yang mampu menyentuh rasa.

Pilih peserta lain untuk menjadi protagonis dengan dasar pertimbangan memberi kesempatan pada peserta lain. Protagonis diajak roleplay bertemu dengan dirinya di masa depan. Protagonis memilih peserta lain sebagai ego pembantu menjadi dirinya di masa depan yang berumur 65 tahun.Teknik pertukaran peran dilakukan lagi. Protagonis berperan menjadi dirinya berusia 65 tahun. Ditanyakan padanya di usia 65 tahun ini apa kegiatan sehari-hari. Bagaimana keadaan anggota keluarganya yang lain. Pastikan dalam suasana positif bahagia, bahwa tujuan hidupnya banyak terlaksana. Protagonis diarahkan mampu menerima seluruh pengalaman hidupnya dengan sikap positif sehingga dapat bersikap bijaksana (8). Pastikan protagonis mampu merasakan situasi itu. Penerimaan diri dan kepenuhan diri sebagai sikap batin untuk proses berikutnya.

Protagonis diarahkan melihat dirinya yang masih muda. Protagonis memberikan pesan dan saran pada dirinya yang masih muda. Lakukan pertukaran lagi menjadi protagonis muda. Protagonis muda memberi tanggapan atas pesan dan saran itu. Jadikan sebuah percakapan akrab antara mereka. Roleplay ini dapat diulang untuk mendapatkan gambaran utuhnya dengan menggunakan kalimat yang semuanya berasal dari protagonis yang bertukar peran.

Meskipun hanya drama dari Protagonis yang dipertunjukkan, namun semua anggota kelompok akan larut dalam adegan-adegannya. Baik yang terlibat menjadi Ego Pembantu (menjadi orang tua protagonis), maupun yang hanya menonton. Mereka turut merasakan apa yang dirasakan Protagonis, semua peserta mengolah perasaannya sendiri, yang dihubungkan dengan pengalaman pribadi masing masing. Demikianlah proses pembelajaran terjadi pada seluruh anggota kelompok.

Ada muncul pertanyaan bagaimana jika peserta berumur lebih dari 50 tahun atau lebih. Apabila protagonis berusia lanjut, dan akan melakukan pertukaran peran dengan diri di masa depan, dapat diajak untuk roleplay detik-detik menghadapi kematian. Ada teknik teknik juga yang sesuai untuk itu dalam prokodrama.. Namun secara garis besar diajak pada suasana hati yang penuh penerimaan atas apa yang telah terjadi dan akan terjadi. Bangun suasana ikhlas dan syukur, sebelum memberi pesan dan saran pada diri protogonis saat ini.

Tahap 3. Integrasi / Refleksi

Setelah pentas, pengalaman tersebut di refleksikan dan diintegrasikan, dengan melakukan sharing dalam kelompok. Sharing diawali dengan mengungkapkan perasaan dan pengalaman baru yang didapatkan. Perlu diperhatikan untuk tidak mengeluarkan pendapat yang menghakimi antar sesama.

Sharing ini diarahkan untuk tiap peserta mampu mengambil pelajaran dari pentas/roleplay yang telah dipertunjukkan tadi. Arahkan semua peserta mampu menemukan hal-hal yang mempengaruhi perasaan mereka dan mempengaruhi pola pikir mereka. Dengan demikian akan didapatkan perubahan pola pikir yang  mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.

Seluruh peserta diajak melakukan Sharing, dimulai dari Protagonis, Pembantu Protagonis atau Ego pembantu, dan semua penonton yang ada. Fasilitator membantu sharing itu dengan beberapa pertanyaan berikut :

“Apa yang dirasakan selama proses “drama tadi”?”

“Pelajaran apa yang didapatkan, pikiran baru apa yang muncul?”

“Apa makna baru yang aku dapatkan sekarang atas hidupku dan caraku bekerja?”

“Apa tindakan baru yang akan aku lakukan di kehidupanku sehari hari nanti?”

Selama proses sharing ini kemungkinan besar ada air mata. Hal ini menjadi indikasi bahwa mereka sudah berani jujur pada diri sendiri. Fasilitator mengaffirmasi  dengan menyatakan bahwa spirit baru telah muncul, jadikan pengalaman ini sebagai awal untuk hidup baru. Sesuai dengan tahap kebijaksanan (8) pada teori Erikson, kemampuan dalam mengetahui dalam diri memiliki hal yang baik dan yang buruk serta membuat pilihan yang baik, bergerak maju, terus tumbuh hidup menjadi lebih baik. Pengalaman ini menumbuhkan sikap hidup baru yang menjadikan hidup adalah wujud syukur atas waktu yang masih diberikan.

Demikian lengkap sudah, 8 tahap perkembangan psikososial Erikson dapat terungkap dengan mempraktekkan teknik-teknik psikodrama. Selama prakteknya dapat diulang nilai nilai positif itu. Pengulangan dalam latihan pada tiap perkembangan demi memastikan prosesnya makin mantap dilakukan dan disadari. Penerapan bahasan ini untuk peserta remaja hingga dewasa, sehingga tidak perlu juga harus runtut sesuai tahapan perkembangannya. Peserta sudah cukup matang dalam mengolah logika.

Sebenarnya ada pedoman juga, bahwa kompetensi sebagai hasil tugas perkembangan di sini, memiliki sifat jika yang lebih tinggi ada maka dapat dipastikan tahap dibawahnya telah diselesaikan atau telah ada kemempuan untuk itu. Jadi fokus saja pada kompetensi yang tertinggi, bila peserta kesulitan dapat diturunkan. Sengaja memang tulisan ini dibuat runtut dari tahap yang paling bawah, karena tahap dibawahnya menjadi prasyarat kemampuan diatasnya.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

Eh,..mungkin ada yang berminat untuk menjadikannya skripsi atau tesis, menarik juga lho,

Feel Free aja

 

Yogyakarta 28 Februari 2022

Retmono Adi

 

Daftar Pustaka:

Wikipedia Contributors. (2021, December 7). Erik Erikson. Wikipedia; Wikimedia Foundation. https://en.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.