Apa yang Menjadikan Psikodrama Menarik Bagiku?


Psikodrama mengajak aku menyadari drama hidupku, sebelum aku mengolah drama hidup orang lain. Aku melihat drama hidupku dari berbagai sudut pandang dari pelaku yang terlibat. Aku berdiri di sepatu mereka. Ini adalah empati. Aku langsung diajak ke inti dari menjadi terapis psikologi. Ya,…modal utama dari seorang praktisi psikologi adalah empati.

Sementara waktu itu, awal-awal aku belajar mempraktekkan ilmu psikologi. Aku ditekankan untuk tidak terlibat emosi dalam proses konseling profesional. Sedikit kesalahpahamanku tentang pengertian transferens ini. Pemahamanku tentang hal itu merupakan sebuah sikap yang kurang cocok dengan diriku yang sensitip. Aku pribadi yang mudah mengunakan rasa. Padahal maksud dari para senior itu mengajak untuk mewaspadai impact dari tranferens itu. Psikolog perlu hati hati bukannya dilarang.

Pada waktu itu juga banyak hal hal artifisial yang ditentukan demi obyektifitas dan kesesuaian dengan standard. Aku masih muda dan tidak suka dengan tuntutan dan aturan. Hal ini bukan semata pemberontakan, atau tidak taat terhadap SOP, namun dalam praktek aku melihat banyak hal perlu improvisasi, spontan tidak sesuai aturan. Psikodrama mengajak untuk membawa spontanitas dalam prakteknya. Ini salah satu yang menarik dari PsIkodrama, ya spontanitas!

Para peserta diajak kepada situasi yang spontan, keadaan yang otentik boleh salah. Ada kebutuhan untuk keterampilan ini dalam dunia yang cepat berubah. mengutip pernyataan Adam Blatner (2013). Pada waktu yang lalu orang-orang muda diajarkan hanya untuk mengikuti petunjuk, sekarang mereka diharapkan tidak hanya berpikir untuk diri mereka sendiri, tetapi juga berinovasi. Kami telah menemukan bahwa kunci untuk kreativitas adalah Improvisasi, dan Pengembangan Spontanitas adalah Pelatihan Improvisasi.

Sementara bagi aku, yang menjadi fasilitator psikodrama, juga diharapkan mampu menjadi spontan yang otentik selama praktek psikodrama. Spontan adalah hasil latihan dan belajar yang mendalam, kemudian ketika praktek mengikuti dinamika yang terjadi dengan kreatifitas. Spontan yang tetap fokus pada tujuan dan respek pada klien dengan mengikuti dinamika psikologisnya. Menurutku, inti dari etika adalah respek, sehingga jika tetap memberikannya pada klien kode etik tetap terjaga.

Berikutnya yang menarik bagiku adalah adanya refleksi sebagai teknik dalam pengolahan diri. Aku diajak pada pemahaman terhadap drama hidupku. Pemahaman yang dapat menjadi cerminanku dalam memahami drama hidup orang lain. Pengolahan diriku ini berlangsung terus menerus, baik ketika belajar menjadi peserta maupun ketika menjadi fasilitator atau terapisnya. Aku diajak untuk berani jujur pada diriku sendiri dan dengan psikodrama, aku cukup mengajak orang lain untuk berani melakukan refleksi, jujur pada dirinya sendiri.

Aku sebagai konselor dan terapis tidak tepat apabila memberi solusi, namun membantu mereka menemukan solusinya sendiri. Hal ini sesuai dengan keyakinanku bahwa yang mampu menyelesaikan masalah (psikologi) pribadi adalah orang itu sendiri dengan bimbingan dan arahan untuk berani jujur pada dirinya sendiri.

Jujur pada diri sendiri ini menakutkan. Aku memiliki pengalaman ketakutan untuk jujur pada diriku sendiri. Situati yang dapat kuatasi dengan bantuan pembimbing. Seseorang yang bersedia menerimaku apa adanya tanpa menghakimi. Peran pembimbing yang dapat menerima apa adanya yang aku latih terus menerus, sebagai fungsi utama dalam psikodramaku.

Yogyakarta, 18 Mei 2022

Retmono Adi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.