Apakah Aku Bersedia Belajar dari Yang Lebih Muda ?


Wow,… pertanyaan reflektif yang menarik !

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu Kebo Nyusu Gudel. Ungkapan yang sedikit menghinakan yang ditujukan pada orang tua yang belajar dari anaknya. Orang tua yang dianggap tidak memiliki pengetahuan/kemampuan yang cukup sehingga bergantung hidup pada anaknya. Padahal secara fisik dan mental masih terlihat bugar.

Sekarang perkembangan teknologi informasi begitu pesat. Perkembangan yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Baik kehidupan sosial maupun psikologis bahkan spiritual. Ada istilah distrupsi sebuah perubahan yang sangat cepat dan fundamentan. Kondisi yang menjadikan orang tua cenderung tertinggal dibandingkan oleh yang muda. Contoh nyata dalam hidup sehari-hari adalah pemakaian alat elektronik smartphone. Ibuku untuk upgrade aplikasi WhatApps perlu menunggu kami anaknya untuk melakukannya. Contoh lain perihal data demografi yang mulai digitalisasi untuk proses administrasi kependudukan. Bapak dan ibuku juga kesulitan. Anak-anaknya yang membantu dalam pengisian serta updatenya.

Nah sekarang dengan aku sendiri. Aku adalah generasi yang beruntung. Aku berada dalam proses perubahan yang sangat cepat dalam perkembangan teknologi informasi ini. Dari berkomunikasi jarak jauh melalui surat yang butuh beberapa hari sekarang sudah dapat dengan aplikasi digital yang cukup beberapa detik saja. Bahkan sekarang dapat dilakukan dengan bertatap muka levat video call.

Aku membandingkan dengan orang tuaku, yang menjadi terlihat konvensional dan tertinggal atas perkembangan jaman. Di lain sisi aku melihat anak muda begitu cepat dan pesat dalam mengikuti perubahan ini. Aku juga merasa tertinggal oleh mereka yang muda. Banyak hal yang baru yang aku tidak ketahui. Banyak hal baru yang anak muda lakukan aku tidak memahami apalagi mampu menguasai! Contoh, aku tidak tahu apa itu logaritma, bagaimana bahasa mesin bekerja. Inti dasar dari bagaimana dunia digital internet bekerja.

Dari kesadaran itu aku berpikir apakah aku akan seperti orang tuaku. Aku dianggap konvensional dan tertinggal dalam perkembangan jaman oleh mereka yang muda? Apakah hidupku masih dapat berguna dimata mereka?

Apa yang perlu aku lakukan?

Menikmati saja waktu yang tersedia atau mencoba terus berusaha untuk tetap bermakna? Dalam hal ini aku pilih keduanya. Berusaha tetap bermakna dan menikmati waktu yang ada. Lalu Bagaimana?

Jelas perlu belajar dari yang muda !

Apakah aku bersedia belajar dari yang muda ?

Aku coba dari yang sederhana dan nyata. Aku belajar dari adik angkatan kuliah perihal bagaimana membuat konten di media sosial. Kata mereka jika tidak aktif di media sosial saat ini dianggap tidak ada. Ya, aku dapat menerima pernyataan itu sehubungan pilihan profesiku sebagai Praktisi Psikodrama. JIka tidak ada yang tahu dari media sosial maka aku tidak akan dapat permintaan layanan dengan cepat.

Sekarang aku sebagai ketua Asosiasi Psikodrama Indonesia, sebuah asosiasi baru banyak orang yang belum tahu. Jelas membutuhkan kemampuan berselancar di internet membuat konten dan menyebarkan di media sosial. Bahkan ada beberapa hal yang aku tidak mampu melakukan dan aku minta bantuan untuk yang muda yang melakukan.

Bagaimana pun aku perlu bersedia belajar dari yang muda, bahkan ada yang sepenuhnya aku percayakan pada mereka. Perihal ungkapan yang cukup menghinakan Kebo Nyusu Gudel, biarlah aku terima. Memang ini adalah jamannya, begitulah konsekuensi yang perlu aku terima untuk tetap bermakna.

 

Yogyakarta, 14 Juni 2022

Retmono Adi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.