Panduan Latihan Playback Theater VI Game dan Exercise


“GAME AND EXERCISE”

Tujuan : Untuk menggali potensi aktor dalam menjadi objek suatu kisah dan untuk memainkan cerita secara lengkap.

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Magnet
Semua orang berjalan berkeliling ruangan dengan mata tertutup dan tangan dilipat. Ketika pemimpin berteriak “negatif”, maka semua orang harus saling menjauhi. Jika ada peserta yang saling bertabrakan maka mereka harus segera menjauh secepatnya. Jika pemimpin mengatakan “positif” maka mereka harus saling menjalin kontak dan berusaha untuk tetap bersama dalam beberapa saat. Meskipun demikian semua orang harus tetap dalam kondisi terus berjalan baik saat positip maupun negatif.

2. Pemerataan Berat
Peserta berpasangan dan saling berhadapan, mereka saling memegang pundak pasangannya dan agak memberi dorongan, posisi tubuh mereka agak condong sekitar 30 derajat, upayakan agar terjadi keseimbangan. Variasi : punggung dengan punggung, pantat dengan pantat.

3. Percakapan Tubuh
Pemimpin meneriakkan bagian dari anggota tubuh, misalnya lutut, tangan, dll. Maka peserta harus merespon dengan berkomunikasi dengan sebanyak mungkin peserta lain dengan menggunakan anggota tubuh yang disebut tadi.

4. Saya jatuh
Setiap orang berjalan ke segala arah di sekeliling ruangan untuk beberapa saat, tetapi mereka harus berupaya untuk beberapa kali berhenti bersama. Secara berkala, peserta yang sedang di posisi tengah akan meneriakkan namanya dan menjatuhkan dirinya ke belakang, semua peserta yang lain secara bersama-sama akan menuju ke arahnya dan menahan dia agar tidak jatuh ke lantai. Peserta yang lain dapat menyentuh dan mengangkatnya secara langsung tapi dapat juga menolong peserta yang mengangkat tadi. Peserta yang menjatuhkan diri tadi, kemudian mereka berjalan lagi, dan diikuti oleh semua peserta lain. Mereka kembali berjalan ke segala arah. Latihan ini dilakukan beberapa kali.

Aktor dan Objek

5. Membangun objek dalam sebuah rumah
Peserta dibagi dalam empat kelompok, setiap kelompok harus menciptakan suatu karakter. Kisahnya harus mengambil setting dalam sebuah rumah. Misalnya: Seorang wanita memasak dalam ruangan yang sangat modern. Kelompok itu harus memerankan wanita tadi dan juga berbagai peralatan yang ada di dapur tersebut. Sangat menarik jika mereka dapat menciptakan suara yang khas sesuai fungsi mereka sehingga para penonton dapat mengidentifikasi apa yang sedang mereka perankan. Misalnya kulkas, microwave. Setiap benda dapat berbicara. Setiap kelompok diberi waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri.

Memainkan Ulang

6. Memainkan ulang dengan lengkap
Panggung untuk playback diatur sedemikian rupa dengan kursi atau kotak membentuk agak melingkar. Tempat untuk musisi ada di sebelah kiri dan kursi untuk konduktor dan pencerita ada di sebelah kanan. Enam sukarelawan mengambil posisi di depan sebagai aktor. Dua sebagai musisi, Dan sisanya menjadi penoton yang duduk menghadap panggung. Konduktor kemudian meminta salah seorang penonton untuk menjadi sukarelawan yang akan menceritakan kisahnya dan menjadi pencerita.

Misalnya :

Konduktor : Adakah yang bersedia menjadi pencerita pertama di siang ini? (Susi mengangkat tangan) Baiklah, Susi mari maju dan duduk di kursi pencerita. (Susi berdiri, maju ke depan dan duduk di kursi pencerita yakni di sebelah kanan konduktor) “Susi, yang pertama, beri judul dulu, pengalaman yang akan kau ceritakan.

Susi : Pergi ke dokter gigi.

Konduktor : Baik, mari sebelumnya kita akan memilih para aktornya, siapa yang akan memerankan kamu? (Susi menunjuk Dina, yang kemudian akan berdiri, diam dan mendengarkan cerita Susi) Katakan satu kata yang dapat menggambarkan perasaanmu di awal dari kisah ini

Susi : Cukup menggembirakan

Konduktor : Jelaskan darimana perasaan itu muncul ?

Susi : Karena saya akan menggunakan kawat gigi’ dan itu tampak keren.

Konduktor : Jadi, ini kejadian yang khusus bagimu. Siapakah orang lain yang memainkan peran penting dalam ceritamu ini?

Susi : Ibuku.

Konduktor : Mari memilih siapa yang menjadi ibumu?

Susi : Yuli

Konduktor : Dapatkah kita memberi sedikit gambaran mengenai ibumu dalam kisah ini.

Sus : Dia meyakinkan aku, bahwa proses yang akan kualami akan menyenangkan.

Konduktor : Jadi, mulai dari mana kamu ingin cerita kita ini dimulai?

Susi : Aku pikir, mulai saja dari saat aku dan ibuku pergi ke meja resepsionis dokter gigi.

Konduktor : Apa yang terjadi?

Susi : Kami disapa oleh suster yang sangat ramah dan dengan cekatan membawa kami ke ruang dokter gigi. Ibuku diijinkan untuk tetap tinggal dalam ruangan itu.

Konduktor : Sebelum ceritanya dilanjutkan, mari kita memilih orang yang akan memainkan peran sebagai suster.

Susi : Ina dan Bagong dapat memerankan sebagai suster. (semua peserta tertawa karena bagong dipilih sebagai suster)

Konduktor : Apa yang terjadi kemudian?

Susi : Kami berjalan menuju ruangan praktek dengan antusias. Dan melihat dokternya mirip Ina.

Konduktor : Mari kita pilih dokternya.

Susi : Ratna, maukah menjadi dokternya?

Konduktor : Baik, tadi kamu mengatakan dokternya seperti Ina?

Susi : Ya, tetapi setelah dia memintaku duduk, segala sesuatunya menjadi berubah. Lampu dihadapkan ke wajah saya secara langsung, dan saat itu rasanya hanya penuh dengan upaya untuk memasangkan kawat ke gigi saya. Itu sangat tidak menyenangkan dan dia terus berkata: “Ini tidak akan lama, dan kamu gadis pemberani”. Ibuku memegang tanganku, dan aku tetap merasa panik. Dan aku berkata dalam diriku bahwa kawatnya ini terlalu kecil dan tidak pas dengan gigiku”.

Konduktor : Kelihatannya itu pengalaman yang tidak menyenangkan, adakah peserta lain yang memiliki pengalaman buruk dengan dokter gigi? Silahkan angkat tangan? (Ada empat peserta yang angkat tangan.) Susi tampaknya ada juga orang yang pasti dapat merasakan apa yang kau rasakan. Apa yang terjadi kemudian?

Susi : Setelah perjuangan menyakitkan selama 20 menit akhirnya terpasang juga. Aku merasa lega. Dokter gigi menarik lampu dari depan wajahku dan ibuku memegangku dan mengatakan jika aku adalah seorang yang pemberani. Aku sangat senang bisa meninggalkan kursi besar itu. Saya sangat kecewa dengan dokter gigi itu, dan dia berkata pemasangan kawat yang pertama adalah peristiwa yang tidak menyenangkan bagi semua yang mengalaminya. Dan dia mengatakan juga bahwa saya adalah wanita pemberani. Hal itu membuat saya merasa lebih baikan sedikit.

Konduktor : Susi, bagaimana akhir cerita ini?

Susi : Dokter gigi membawakan cermin sehingga aku dapat melihat kawat itu. Aku melihat kawat yang telah terpasang dan aku tampak keren dan aku pikir temanku yang lain akan mengatakan hal itu juga. Jadi pada akhirnya aku merasa senang.

Konduktor : Terimakasih telah bersedia bercerita. Para aktor perlukah kita mengulang kisah ini lagi sehingga anda yakin dengan cerita ini? (Konduktor memberikan ringkasan tentang cerita tadi dan musisi mulai memainkan musiknya. Selama musik dimainkan, para aktor memilih dan mengambil bahan atau kain yang dibutuhkan. Ketika mereka sudah siap maka mereka akan dalam posisi “membeku”. Musisi berhenti bermain dan ceritanya dimulai)

* * *

bersambung

Panduan Latihan Playback Theater VII Sebuah Pentas Playback

* dicuplik dengan sedikit penyesuaian dari

Playback Theater adalah Sebuah Bentuk Teater Spontanitas ( Improvisasi )

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih

Satu tanggapan untuk “Panduan Latihan Playback Theater VI Game dan Exercise

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.