4 Langkah Pemeriksaan Batin untuk Mengatasi Kecemasan Kerja dalam Employee Assistance Program (EAP)


Aku merasa bahwa semesta telah berpihak padaku. Aku mendapatkan klien secara online dengan permasalahan utamanya Kecemasan Kerja. Klien ingin belajar mengatasi gejala kecemasan untuk meningkatan produktivitasnya.

Lah kok pas ikut misa online hari Minggu, dapat kotbahnya merupakan solusinya.

Yuks ikuti ceritanya,…..

Employee Assistance Program (EAP)

EAP adalah bantuan profesional yang dirancang untuk membantu unit kerja dan pegawai berkaitan dengan masalah produktivitas kerja dan masalah pribadi lainnya, yang berdampak pada kinerja dan hubungan interpersonal di lingkungan kerja. Sudah 10 Tahun ini aku telah menjadi Asosiate pemberi Layanan Psikologi tersebut pada sebuah lembaga Konsultan Managemen SDM Global yaitu Workplace Options.

Untuk kesekian kalinya, Aku mendapatkan email tawaran untuk melayani klien EAP, Aku terima. Aku mendapatkan berkas-berkas dari pemeriksaan awal sebagai bekal proses lanjutnya, dan akan dihubungi langsung oleh klien beberapa hari ke depan.

Dalam berkas awal dituliskan, bahwa tahun lalu klien mendapatkan penilaian dari kantornya. Klien dinyatakan “tidak menunjukkan potensi” dan mendapatkan respon buruk dari atasannya. Kejadian yang membuatnya merasa tidak berharga. Klien sering merasa cemas dan khawatir pada banyak hal. Sejak penilaian tersebut, klien merasa bahwa produktivitasnya semakin menurun, bahkan ia merasa semakin kesulitan untuk menyampaikan hasil kerjanya pada kolega maupun atasan. Ada rasa takut untuk membuat kesalahan. Perasaannya ini juga diikuti dengan gejala fisik seperti dada sesak, tangan dingin, gemetar, sulit tidur, dan mimpi buruk berkelanjutan.

Pada tahun 2017, Klien pernah menemui psikiater dan menerima diagnosa Adjustment Disorder. Klien tahun 2021 sempat menemui psikolog karena adanya perasaan “ingin lompat ke rel kereta.” Klien menolak adanya pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun risiko lainnya saat ini. Bagiku munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup adalah gejala yang serius. Untunglah hasil dari pemeriksaan awal itu juga memberikan kesimpulan yang spesifik  yaitu :

“Kekhawatiran dengan aktivitas kerja sehari-hari: beban kerja, tujuan yang tidak jelas, kejelasan peran dan misi perusahaan,
tugas yang saling bertentangan, kurangnya otonomi. ”

Kondisi konkrit yang dapat aku jadikan acuan untuk langkah langkah intervensinya.

4 Langkah Pemeriksaan Batin

Pada hari Minggunya, aku mengikuti misa secara online Gereja Katedral Jakarta. Dalam kotbah dari romo ada tentang pemeriksaan batin. Sebuah cara refleksi untuk dapat selalu bersyukur dan melakukan perbaikan diri yang dilakukan tiap hari. Sebuah cara self awareness, sebuah proses untuk kesadaran diri yang selaras dengan psikodrama. Aku pikir pemeriksaan batin ini dapat aku gunakan untuk proses konseling online-nya nanti.

Aku catat berdasarkan ingatanku ada 4 langkah utamanya yaitu:

  1. Temukan the best of the day, dari tindakan dan ucapanku.
  2. Temukan ucapan dan tindakanku yang menyakiti orang lain, the worst of the day.
  3. Imajinasikan hal apa yang akan kuperbaiki untuk esok lebih baik.
  4. Tutup dengan doa Syukur atas pengalaman-pengalaman itu untuk lebih memuliakan Tuhan.

Pemeriksaan itu dilakukan kurang lebih 15 menit sebelum tidur. atau sekalian dijadikan doa malam sebelum tidur.

Proses Mengatasi Kecemasan Kerja

Ketika klien menghubungiku, ia menanyakan layanan kesehatan mental yang tersedia. Aku sampaikan bahwa ada tawaran konseling virtual maksimal 5 pertemuan. Selanjutnya kami membuat kesepakatan jadwal pertemuan mingguan untuk mengkonsultasikan masalah yang sedang dihadapi. Aku arahkan dengan terapi menulis, yaitu menuliskan pemeriksaan batin itu dilakukan harian, disertai dengan membuat “To Do List”.

Pertemuan pertama, setelah aku mendengarkan ceritanya, aku arahkan untuk membuat to do list harian. Ternyata ia sudah familier namun akhir akhir ini tidak melakukan. Aku cukup memastikan agar ia melakukan lagi tiap hari. Aku sampaikan agar klien memahami Worklife Life Balance dengan mengembangkan kompetensi Pribadi, Sosial, dan Profesional.

Kompetensi pribadi adalah kemampuan dalam mengelola diri. Kompetensi sosial adalah kemampuan dalam mengelola hubungan sosial. Kompetensi profesional adalah kemampuan dalam mengelola pekerjaan.

Selanjutnya aku arahkan untuk tiap malam ia melakukan pemeriksaan batin berdasar hasil daftar kerja harian itu. Hasilnya berupa tulisan yang dikirimkan ke aku setiap hari hingga pertemuan di minggu berikutnya.

Pertemuan kedua. Klien menyatakan sudah merasa lebih baik dan tidak panik, namun masih ada kecemasan ketika mendapatkan tugas-tugas tambahan yang tidak masuk dalam daftar. Aku arahkan ketika membuat daftarnya diberi cadangan waktu untuk tugas mendadak. Selanjutnya menuliskan tugas mendadak itu dalam daftar itu. Kuarahkan juga untuk berhenti sejenak menarik nafas panjang, memberikan waktu untuk berpikir, apakah mau dikerjakan segera atau menyelesaikan list yang sudah direncanakan. Hal ini untuk membantu membuat skala prioritasnya (Mengembangkan kompetensi profesional). Malamnya tetap melaporkan hasil serta melakukan pemeriksaan batin, untuk dikirimkan tiap hari sehingga progressnya terpantau.

Pertemuan ketiga. Klien menyatakan sudah tidak cemas atau takut membuat kesalahan. Salah satu permasalahannya telah dapat teratasi. Selanjutnya untuk mendukung kondisinya  perlu mengembangakan kompetensi personalnya yaitu menelaraskan dengan tujuan hidupnya. Aku memberikan tambahan pada to do list nya diselaraskan dengan cita-cita jangka menengahnya. Klien ingin kuliah lagi. Perlu dipastikan ada hal yang dikerjakan yang mengarah kepada cita-cita itu. Daftar kerjanya yang untuk meraih cita-cita itu diberi tanda bintang juga. Aku mengarahkan pada tujuan hidupnya jangka menengah sebagai antisipasi terhadap keinginan mengakhiri hidupnya. Harapanku dengan dia memiliki hidup yang bermakna maka dia tidak lagi memiliki keinginan itu.

Aku juga pastikan dia mendapatkan support dari keluarga dan teman atau sahabatnya (mengembangkan kompetensi sosialnya). Aku minta ia membuat daftar aktivitasnya ada pertemuan atau komunikasi dengan teman, sahabat atau keluarganya.

Daftar aktivitas dan hasil pemeriksaan batinnya tetap dikirim padaku secara tertulis tiap hari selama seminggu hingga pertemuan berikutnya.

Pertemuan keempat. Klien menyatakan sudah merasa yakin akan kemampuan dirinya. Ia juga tahu apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan cita-citanya. Aku juga sudah pastikan bahwa ia juga mendapatkan dukungan dari sahabat dan ibunya. Dengan demikian kami sepakat untuk tidak lagi melanjutkan proses konselingnya. Jadi pertemuan cukup sampai di pertemuan keempat ini saja..

Demikian ceritanya semoga bermanfaat.

 

Yogyakarta, 31 Oktober 2022

 

Retmono Adi

 

 

Satu tanggapan untuk “4 Langkah Pemeriksaan Batin untuk Mengatasi Kecemasan Kerja dalam Employee Assistance Program (EAP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.