Psikodrama Ada di Drama Korea Fix You (Soul Mechanic)


Aku kesulitan menjelaskan apa itu psikodrama, karena banyak dimensinya. Untunglah perkembangan teknologi informasi saat ini dapat membantu. Ada sebuah film drama Korea yang dapat ditonton untuk membantu memahaminya. Film drama Korea berjudul Fix You (Soul Mechanic) memiliki adegan penerapan psikodrama untuk proses terapi. Dalam film itu teknik psikodrama dinamakan Stage Therapy.

Protagonis atau tokoh utama dari film ini adalah seorang lelaki paruh baya. Ia seorang dokter jiwa yang bekerja di rumah sakit terkenal. Ia melakukan pendekatan alternatif selain dengan obat, dalam membantu kesembuhan pasiennya. Ia memberikan sentuhan rasa dan jiwa, tidak menyembuhkan tubuh fisik semata. Ia membuat pendekatan khusus terapinya dengan stage therapy (psikodrama) di rumah sakit tempatnya bekerja.  Adegan proses terapi psikodramanya digambarkan dengan jelas di serial itu.

Psikodramanya bukan hanya pada adegan saat memberikan proses terapi di rumah sakit. Dari keseluruhan film itu, dalam proses Protagonis membantu menyembuhkan pasiennya, ternyata juga terjadi proses penyembuhan untuk dirinya sendiri. Ya, hal ini juga poin penting, bahwa psikodrama dimulai dari drama kehidupan sendiri. Sesuai dengan Moreno, Bapak Psikodrama yang mengajak tiap orang menjadi protagonis. Protagonis yang berarti tokoh utama dari drama hidupnya. Aktor utama yang menjadi pusat dan menentukan jalan cerita hidupnya, keputusannya menjadi penentu hidupnya. Pribadi yang siap menghadapi dan mengatasi persoalan yang muncul. Persoalan dari dalam dirinya atau orang lain, serta dari situasi dan kondisi lingkungan.

Silahkan, yang ingin lebih memahami psikodrama, tonton filmnya. Dijamin turut larut juga dalam dramanya. 🙂

 

Yogyakarta, 15 November 2022

Retmono Adi

 

 

Cara Menjaga Mental Sehat Setiap Hari


Secangkir kopi dan buku untuk menemani pagi. Ya, begitulah aku lakukan sekarang ini.

Ceritanya aku berkenalan dengan kawan baru di Malang. Ternyata beliau adalah seniorku dalam belajar Souldrama dari Connie Miller. Sekarang beliau adalah guru spiritual, meditasi serta pendekar ilmu bela diri silat. Dalam dunia persilatan beliau sudah menjadi juri internasional dan sudah berkelana ke berbagai negara, Asia, Eropa dan Amerika. Demikian pemahamanku terhadap beliau.

Waktu itu aku berkunjung ke rumahnya. Kami bercerita apa saja, eh,..lebih tepatnya aku yang banyak mendengar dan belajar hingga ayam berkokok. Ya, semalaman penuh. Di ruang tamu yang dikelilingi rak penuh buku. Aku yakin beliau telah menjadi perpustakaan hidup. Dari banyak ceritanya yang membakar semangatku untuk terus belajar. Aku ingat ceritanya bahwa tiap hari ia mengawali hari dengan secangkir kopi dan membaca buku. Aku menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu aku pelajari dan bertekad untuk meniru beliau (paling tidak satu tindakannya) dengan kembali membaca buku di pagi hari.

Aku teringat dulu sekali akan cerita teman lain di Jakarta. Ia bercerita tentang rekan kerjanya yang orang Jepang. Usia orang Jepang itu lebih dari 75 tahun. Orang Jepang itu ditugaskan dari negaranya. Ia nampak sehat dan bersemangat. Ketika ditanya dari mana dapat menjaga kebugarannya. Ia katakan bahwa ia berusaha untuk tiap hari menemukan sesuatu yang baru. Ia melakukan tiap hari berangkat kerja dengan cara yang berbeda, jalan kaki, naik taksi, gojek, atau dengan melalui rute berbeda yang berbeda. Ia meyakini bahwa dengan menemukan hal yang baru ia merasa hidup.  Aku berkeyakinan bahwa orang Jepang itu memiliki mental yang sehat, karena ia menunjukkan semangat hidup dan memiliki tubuh yang sehat. Mental yang sehat adalah memiliki sikap optimis terhadap kehidupan

Nah, aku memilih mengabungkan kedua pemahaman itu. Aku ingin menjaga kesehatan mentalku dengan menemukan sesuatu yang baru tiap hari. Aku lakukan saja apa yang aku senangi yaitu membaca buku.  Hobbyku dulu yang cukup lama tidak kulakukan. Bagiku buku selalu memberikan sesuatu yang baru, dengan membacanya aku juga merasa hidup. Maka aku mulai lagi dengan membaca buku tiap pagi sambil ngopi.

.

Demikian terima kasih.

 

Yogyakarta, 11 November 2022

 

Retmono Adi

10 Tanda Kedewasaan


10 Tanda Kedewasaan

  1. Pembicaraan kecil tidak lagi menggairahkan kamu
  2. Tidur lebih baik daripada keluar malam jumat
  3. Kamu lebih banyak memaafkan
  4. Kamu menjadi lebih berpikiran terbuka
  5. Kamu menghargai perbedaan
  6. Kamu tidak memaksakan cinta
  7. Kamu menerima sakit hati
  8. Kamu tidak mudah menilai
  9. Kamu terkadang bersiap untuk diam daripada terlibat dalam pertengkaran yang tidak masuk akal
  10. Kebahagiaanmu tidak bergantung pada orang lain tetapi pada dirimu sendiri
ku copas dari twitter

Solusi dengan Uang Adalah Cara Paling Buruk


Berdasar kasus rektor OTT, beberapa waktu yang lalu. Seorang pimpinan lembaga pendidikan tinggi melakukan KKN. sebuat tindakan yang mencoreng dunia pendidikan. Aku tertarik untuk menuliskan tentang kekuatan uang yang berperan di sana.

Banyak orang telah memiliki pemahaman tentang kekuatan uang. Uang memiliki kekuatan besar untuk mengerakkan, demikian juga dengan daya rusaknya apabila dipergunakan dengan cara yang salah.

Menurutku apabila telah dipertimbangan yang matang dan menemukan hasil bahwa solusi satu-satu adalah uang, maka ini merupakan solusi dengan cara yang paling buruk. Ada hal yang menjadi bahan pertimbanganku. Uang memiliki kekuatan yang besar, maka jika cara menyelesaikan masalah dengan uang berarti sudah tidak mampu lagi menemukan cara yang lain. Boleh jadi memang kondisinya sudah sangat parah atau tidak mau menggunakan cara yang lain.

Aku suka nonton film anime tentang dunia sihir dan pedang. Di sana sering ditunjukkan bahwa senjata yang ampuh, tidak akan digunakan sembarangan. Orang yang mengandalkan keampuhan senjatanya, berarti orang yang lemah.

Tulisan ini untuk pengingat diri sendiri, agar tidak terlalu mengandalkan uang. Kesadaran mengenai hal ini akan lebih meningkatkan semangat dalam pengembangan diri. Terima kasih.

 

Yogyakarta, 10 November 2022

 

Retmono Adi

 

4 Langkah Pemeriksaan Batin untuk Mengatasi Kecemasan Kerja dalam Employee Assistance Program (EAP)


Aku merasa bahwa semesta telah berpihak padaku. Aku mendapatkan klien secara online dengan permasalahan utamanya Kecemasan Kerja. Klien ingin belajar mengatasi gejala kecemasan untuk meningkatan produktivitasnya.

Lah kok pas ikut misa online hari Minggu, dapat kotbahnya merupakan solusinya.

Yuks ikuti ceritanya,…..

Employee Assistance Program (EAP)

EAP adalah bantuan profesional yang dirancang untuk membantu unit kerja dan pegawai berkaitan dengan masalah produktivitas kerja dan masalah pribadi lainnya, yang berdampak pada kinerja dan hubungan interpersonal di lingkungan kerja. Sudah 10 Tahun ini aku telah menjadi Asosiate pemberi Layanan Psikologi tersebut pada sebuah lembaga Konsultan Managemen SDM Global yaitu Workplace Options. Lanjutkan membaca “4 Langkah Pemeriksaan Batin untuk Mengatasi Kecemasan Kerja dalam Employee Assistance Program (EAP)”

Spiritualitas adalah Kesadaran Peran dengan Misinya


Ini merupakan catatan pribadiku yang kudapatkan dari mengikuti seminar online mengenai spiritualitas. Kudapatkan pernyataan dalam seminar itu, bahwa spiritualitas adalah bertemunya identitas diri dengan perutusan. Aku gunakan istilahku sendiri agar sesuai dengan psikodrama yaitu, Keselarasan antara peran dengan misinya.

Contohnya :

Peran sebagai mahasiswa, disadari memiliki misi untuk mendapatkan ijasah. Apabila misi ini dilakukan dengan benar maka pengetahuan dan pengalaman akan bertambah untuk modal menjalani tugas perkembangan hidup selanjutnya. Lanjutkan membaca “Spiritualitas adalah Kesadaran Peran dengan Misinya”

Manfaat Playback Theater dalam Dunia Pendidikan dan Psikoterapi serta 7 Hari Pelatihannya


Apa Playback Theater itu?

Playback Theater adalah sebuah bentuk improvisasi dari teater yang muncul di Amerika tahun 1975 dan saat ini telah menyebar ke lebih dari 17 negara. Teater ini berawal dari Teater serimonial di Asia di mana tradisi oral dan penceritaan yang diperankan dalam komedi dan drama memainkan peran sangat penting dalam penyebaran budaya kesukuan.

Dalam Playback seorang anggota kelompok didorong untuk menjalin kontak dengan kehidupan nyata dan kemudian hal tersebut akan diperankan oleh orang lain. Bukti ilmiah dari pengalaman di Amerika menunjukkan playback memiliki dampak terapeutik sejalan dengan penyadaran diri, meningkatkan kreativitas dan spontanitas, dan memperkuat sense of identity seseorang. Lanjutkan membaca “Manfaat Playback Theater dalam Dunia Pendidikan dan Psikoterapi serta 7 Hari Pelatihannya”

KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN ADALAH PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA


Merdeka!

Anggota DPRD Kota Palembang, M Syukri Zein viral di media sosial karena memukul seorang wanita gara-gara masalah antre BBM di SPBU.
Syukri mengaku ia memukul perempuan itu karena emosi tidak diberi jalan saat sedang mengantre BBM di SPBU Demang Lebar Daun Palembang, Jumat (5/8/2022).

Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia.
Hal ini dapat menimbulkan kerugian fisik, seksual dan mental baik secara langsung ataupun jangka panjang bagi perempuan dan anak, termasuk penyebab kematian.

Ada beberapa mitos dalam masyarakat, seperti: Lanjutkan membaca “KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN ADALAH PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA”

Playback Theater dan Psikoterapi (Healing)


Playback theater pada awalnya disajikan sebagai improvisasi dari teater. Kekuatan dari bentuk teater ini adalah pada terlibatnya para penonton sebagai penulis cerita, penuh spontanitas dan tidak membutuhkan persiapan yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri yang signifikan pada para pelajar SMU yang berperan sebagai aktor di bidang ini. Mereka yang terlibat aktif di bidang ini memiliki resiko yang lebih kecil terhadap penyalagunaan obat-obatan. Beberapa rumah sakit melibatkan para perawat sebagai aktor dan para pasien sebagai penonton dalam playback theater, melaporkan naiknya optimisme hidup, kesembuhan dan tingkat kepuasan terhadap layanan.

Penelitian lain menunjukkan, peningkatan kohesifitas karyawan perusahaan, setelah secara reguler diadakan playback theater. Selain hal diatas, Playback theater dapat memiliki fungsi sebagai healing process, karena dalam Playback terdapat penerimaan kisah tanpa syarat. Si Pencerita dapat menceritakan kisahnya tanpa dievaluasi dan dihakimi. Kondisi inilah yang dibutuhkan dalam proses healing. Proses penceritaan ulang yang dilakukan oleh si pencerita memiliki peranan penting dalam proses healing. Saat si pencerita memutuskan untuk menceritakan kisahnya, pada titik inilah Si Pencerita memilih untuk membuka luka lama yang belum tersembuhkan.

Pada proses ini si Pencerita akan kembali mengangkat unfinish bussines-nya. Perasaan-perasaan negatif yang belum terselesaikan di masa lalu akan dikeluarkan, kemarahan, kesedihan, ketakutan akan dikeluarkan. Pada tahap ini, tampaknya kondisi si Pencerita memburuk, tetapi jika konduktor memiliki ketrampilan yang cukup, maka situasi ini adalah awal dari pemulihan.

Konduktor membantu agar energi emosi negatif yang selama ini tersimpan rapi dan ditekan dalam ketidak-sadaran si Pencerita dikeluarkan. Seringkali, Si Pencerita akan menangis dengan keras, menjerit atau berteriak dan tubuhnya bergetar. Disinilah konduktor berperan sebagai therapis, sentuhlah dengan lembut, tunjukkan dukungan dan sikap empatik. Bawalah si pencerita ke luar panggung menuju tempat lain yang lebih sepi. Mintalah si pencerita untuk menceritakan lebih banyak lagi tentang kepedihannya, menamai emosinya dan mengekpresikannya. Dorong dan ijinkan si Pencerita untuk mengekspresikan emosi negatifnya.

Sebagai therapis, konduktor harus memiliki kepekaan, terampil untuk menggali cerita, membantu si pencerita menamai emosinya, dan menunjukkan empati. Pada tahap tersebut, konduktor harus menunjukkan sikap empatinya, jangan menasehati, atau mencoba menghentikan tangis si Pencerita. Si Pencerita akan mengalami katarsis atau pelepasan enargi emosi yang negatif. Setelah menyelesaikan tahap ini, Si Pencerita akan merasakan kelegaan. Jika si pencerita merasa sudah siap, ajaklah kembali ke ruangan.

Tawari lagi agar kisahnya dimainkan ulang. Hargai pilihan si Pencerita, jika dia tidak menginginkan dimainkan ulang. Proses memainkan ulang pasca katarsis memiliki peranan penting, pada tahap ini, terjadi reframing. Subjek akan melihat lagi pengalamannya tetapi dengan jarak.

Hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penggunaan Playback Theater adalah penggunaan metode ini pada daerah endemi konflik. Proses penceritaan yang dilakukan oleh seorang pencerita mungkin dapat menimbulkan histeria massa, khususnya jika kisah yang diceritakan merupakan trauma kolektif para penonton. Oleh karena itu, penggunaan playback theater di daerah endemi konflik, memerlukan persiapan khusus. Diperlukan tim yang berperan sebagai pembantu konduktor jika terjadi histeria massa.

Peran mereka adalah mendampingi para penonton yang menjadi histeris dan menjadi pemimpin terapi kelompok. Jika banyak penonton yang mengalami histeria, yang perlu dilakukan adalah memeluk dan memegang mereka. Mintalah mereka untuk saling berpelukan dan mendukung satu dengan yang lain. Pada tahapan ini, playback theater perlu dihentikan. Para penonton diajak masuk dalam kelompok , dan memulai proses terapi kelompok.

 

* dicuplik dengan sedikit penyesuaian dari

Playback Theater adalah Sebuah Bentuk Teater Spontanitas ( Improvisasi )

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih

Panduan Latihan Playback Theater VII Sebuah Pentas Playback


“SEBUAH PERTUNJUKAN PLAYBACK THEATER”

1. Perkenalan
Panggung untuk playback sudah disiapkan. Tujuh sukarelawan menjadi aktornya. Mereka berdiri di belakang ruangan. Musisi memasuki ruang pertunjukkan dan duduk di samping peralatan musik. Untuk memulai pertunjukan para aktor masuk ke dalam panggung dan memperkenalkan diri mereka dengan menyebut nama dan mengekpresikannya dengan gerakan tubuh. Setiap tindakan mereka diiringi dengan musik. Aktor tersebut kemudian “ membeku’ dan disusul oleh aktor berikutnya Misalnya:

“Nama saya Rudi, dan saya selalu berjalan dengan langkah berat.” (musisi memunculkan suara yang menghasilkan langkah-langkah yang berat).

“Nama Saya Ani dan saya nonton konser semalam” (musisi memainkan suara berisik seperti suasana konser)

Setelah semua aktor memperkenalkan diri, konduktor memasuki ruangan, dan memberikan salam kepada semua orang. Para aktor meninggalkan posisi “membeku” mereka dan kembali ke posisi awal. Para penonton bertepuk tangan.

2. Fluid Sculpture
Konduktor kemudian bertanya (bisa tentang hal yang umum) kepada penonton. Misalnya: “bagaimana pagi ini?” Konduktor kemudian masuk ke pertanyaan yang lebih spesifik tentang perasaan penonton. Misalnya tentang “ Pengalaman memalukan” atau “Kejadian yang tidak mungkin aku lupakan” Dua atau tiga fluid sculptures akan dilakukan berdasarkan informasi yang disampaikan penonton.

3. Memainkan Ulang Kisah
Seperti sesi sebelumnya, pola yang sama digunakan. Si pencerita diundang untuk menceritakan pengalamannya, dapat berdasarkan pengalaman terbarunya yang dia ingin diperankan ulang. Para aktor dipilih untuk memainkan setiap karakter, para musisi memainkan musik dan para aktor menyiapkan diri. Kemudian drama diakhiri, dan para penonton bertepuk tangan.

Konduktor kemudian bertanya kepada si pencerita, apa yang ia rasakan atau pikirkan saat pengalamannya dimainkan ulang, jika si pencerita sudah puas, minta dia kembali duduk ke posisi penonton lagi. Jika dia tidak puas, cerita dapat diulang dan dimainkan lagi. Biasanya beberapa cerita dimainkan ulang sekali lagi. Para aktor, musisi dan konduktor dapat bergantian dengan peserta yang lain sehingga semua mendapat kesempatan.

4. Sebuah fluid yang terakhir
Untuk mengakhiri pertunjukkan, konduktor menanyakan beberapa pertanyaan terakhir. Dia memilih beberapa kata yang berbeda yang telah dimainkan dalam sebuah fluid sculpture Misalnya: “Apa yang anda pikirkan tentang pertunjukkan kita ini?”

5. Penutup
Konduktor mengucapkan terimakasih atas partisipasi mereka. Para aktor kemudian berjabat tangan dengan semua penonton.

Selesai

* * *

* dicuplik dengan sedikit penyesuaian dari

Playback Theater adalah Sebuah Bentuk Teater Spontanitas ( Improvisasi )

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih