7 Langkah Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis


Bagaimana keterampilan analitis Anda?

Keterampilan berpikir analitis, seperti keterampilan lainnya, adalah alami bagi beberapa orang tetapi tidak bawaan untuk semua orang. Anda harus memiliki minat, dorongan, dan ketekunan untuk mempelajari topik tertentu untuk memperoleh keterampilan ini. Lagi pula, mengembangkan seperangkat keterampilan analitis adalah seperti keterampilan lain yang membutuhkan latihan dan penerapan. Jika Anda siap untuk meningkatkan keterampilan analitis Anda, silahkan baca terus. Lanjutkan membaca “7 Langkah Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis”

Sebenarnya Aku ini Siapa?


Sebenarnya aku ini siapa?

Tiga puluh tahun lebih usia, masih juga aku susah mengenalinya.

Kebanggaan orang tua? 

Ah, orang tuaku sudah tak ada. Jadi kurasa bukan lagi itu.

Kebanggaan guru-guru? 
Ah, itu sungguh dari cerita lampau.

Kebanggan saudara-saudara? Bisa saja.
Tapi apa aku bahagia karena orang bangga padaku? 
Ah, enggak, aku biasa saja.
Jujur saja, aku lebih suka kaya raya.

Sebenarnya aku ini siapa?
Belasan tahun menjauh dari akar lahirku,
Tapi tak juga aku mengenal dirku.

Kadang sering takjub dengan cara semesta bekerja
Aku tak tahu apa-apa, tapi masih bisa hidup juga.
Ah, Tuhan memang serba tak terduga.

Tak kenal diri membuatku seperti sampan di tengah badai
Terombang ambing ke sana kemari
Tak ada jangkar, atau dayung untuk kupegang kendali
Aku, tak tahu harus apa lagi
Haruskah aku diam menunggu mati?

Sementara badai, terus mengamuk tak peduli
Dan aku memohon badai agar mau berhenti.

Cih. Memangnya aku siapa?
Mengharap badai reda demi sebutir manusia
Lagi-lagi, aku tak tahu harus menjawab pertanyaanku sendiri:

Sebenarnya, aku ini siapa?

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Depok 9 Maret 2021Depok 9 Maret 2021

Serat Sembadra

Kepribadian Ganda yang Sehat


Multiple Personality Order

Originally posted on July 6, 2018

Bukan gangguan, (disorder) ini sehat kok (order), paling tidak tertib lah tidak kacau. Aku adalah Board-Certified Psychiatrist dan ada “kondisi” yang disebut Gangguan Kepribadian Ganda. Saya ingin menyarankan adanya bentuk sehat yang disebut tatanan kepribadian ganda, juga dikenal sebagai keterlibatan sehat dalam banyak hal. Kepribadian orang memang bisa sangat bervariasi! Lanjutkan membaca “Kepribadian Ganda yang Sehat”

Coretan Lama 36; Dialog Fiksi #3 Mengapa Kau Tiba-tiba Menghilang Tanpa Kabar?


Dialog Fiksi #3

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”

“Karena aku telah menyadari sesuatu.”

“Menyadari apa?”

“Aku tidak akan pernah cukup untukmu.”

“Apa maksudmu?

Aku tidak mengerti.”

“Belum saatnya

kau mengerti dan sangat kumaklumi.

Aku harus pergi sekarang.”

“Apa maksudmu?

Kau akan pergi ke mana?”

“Pergi ke suatu tempat di mana aku bisa merasa diterima sepenuhnya.

Mungkin bagimu aku ini membosankan.

Tidak semua orang bisa menerima kebaikanku, apalagi keburukanku.

Penderitaanku selama ini mungkin akan kau anggap sebagai suatu

hal yang biasa-biasa saja

atau malah kedengarannya bagimu terlalu dramatis

karena kita saat ini berada di fase kehidupan yang berbeda.

Pengalaman emosi kita tak sama.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksud…”

“Semuanya sudah terlihat jelas dari caramu memandanginya dan memperlakukannya.

Betapa kilaunya cangkang yang ia kenakan.

Tidak seperti cangkangku

yang telah retak

karena terlalu sering terhempas ombak kehidupan

Cangkangku yang kurang memikat

dan membutuhkan banyak perbaikan.”

 

Kartasura, 7 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 35; Dialog Fiksi #2 Apakah Kau Tahu Hal yang Membuatku Tenang?


Dialog Fiksi #2

“Apakah kau tahu salah satu hal yang membuatku tenang?”

“Apa?”

“Ketika aku sedang tidak jatuh cinta kepada siapa-siapa.”

“Mengapa begitu?”

“Karena bagi orang ringkih sepertiku,

rasanya seperti membawa beban

di pundak dan pikiran.

Sudah terlalu sering aku melebih-lebihkan ekspektasi itu sendiri.

Selebihnya, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri untuk kesekian kali.”

“Lalu bagaimana jika ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu?”

“Aku rasa tidak ada.”

“Kalau ada, bagaimana?”

“Belum.

Belum saatnya.”

 

Kartasura, 6 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 34; Dialog Fiksi #1 “Aku Tidak Ingin Pulang,”


“Aku tidak ingin pulang,” teriakmu

di kebun binatang

seperti anak kecil

yang sedang kegirangan

berada di toko mainan.

“Kenapa?” tanyaku seolah bingung

padahal aku paham maksudnya.

“Karena saat aku kembali ke tempat tidur,

aku kembali merasa

bahwa ada harapan-harapan

yang tidak bisa terawat dengan baik

khususnya ketika aku memandangi

punggungnya atau menerima pelukannya.

Kami sebetulnya

tak lebih dari sepasang manusia

yang tidak bahagia

tetapi terlalu memaksakan diri

agar terlihat bahagia.

Sering kali

ini membuatku tersiksa.

Katanya dia baik-baik saja.

Aku tidak percaya.

Barangkali dia hanya sibuk

menyangkal perasaannya.

Dia laki-laki

yang cukup baik sebetulnya,

tetapi kini

aku tidak lagi nyaman

bila bersamanya.”

 

Kartasura, 21 Januari 2019

Qanifara

Terapi Spiral Model (TSM) adalah Pengembangan Psikodrama untuk Penanganan Trauma yang Aman


Terapi Spiral Model (TSM)

TSM, yang dikembangkan oleh pelatih Psikodrama Amerika Katherine Hudgins, adalah metode terpadu dari psikoterapi mengolah pengalaman yang menggabungkan Psikodrama klasik dengan kemajuan dalam psikologi klinis dan pengolahan trauma untuk menyediakan benteng yang diperlukan untuk mencegah retraumatisasi (Hudgins et al., 2000).

Karena banyak penderita trauma sering mengalami kebingungan internal dan tekanan interpersonal yang secara metaforis mirip dengan tornado, TSM memilih spiral sebagai model terapeutik untuk memberikan dimensi alternatif terhadap energi tornado yang tak terkendali. Klien belajar untuk bergerak naik turun spiral dari kebutuhan mereka sendiri bukannya terkoyak oleh kekacauan tornado (Deng et al., 2009: 84).

Gambar spiral terapeutik di TSM dibagi menjadi tiga kategori: energi, pengalaman, dan makna (Hudgins, 2003). TSM terdiri dari enam mode aman:

(1) menempatkan dan mewujudkan ego yang diamati (OE);

(2) lingkaran keamanan;

(3) spektrogram;

(4) sosiogram tindakan;

(5) sosiometri lingkaran; dan

(6) Kreativitas Sutradara.

Enam mode aman membantu korban trauma mengekspresikan diri. Selain itu, body double, containing double, karakter yang direkomendasikan, dan teknik lain di TSM membuatnya aman untuk praktik klinis, meningkatkan efek terapeutik dari tindakan perawatan untuk trauma, dan mencegah klien mengalami retraumatisasi (Sang, 2009).

Berikut adalah ciri-ciri TSM:

(1) Drama dimulai dengan mencari kekuatan klien itu sendiri. Jika klien tidak cukup kuat, sutradara berusaha membuat mereka lebih kuat. Beberapa kekuatan berasal dari peran yang disarankan, seperti body double, atau dari interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh peran pembantu yang dipilih.

(2) Penyembuhan luka penunjang dilakukan dengan containing double. Containing double memberi klien perasaan aman, stabilitas, dan toleransi yang kuat, dan membantu mereka membangun kerangka kerja untuk memahami konotasi ketika mereka mengalami emosi yang kuat.

(3) Ekspresi emosi dikendalikan secara spiral. Dengan bantuan body double dan containing double, sutradara mengubah mood protagonis secara spiral dan perlahan. TSM membuat klien sadar akan emosi mereka, dan mempertahankan kontrol yang efektif dan wajar atas respons emosional mereka dalam proses katarsis (Deng et al., 2009: 95-97). Tidak seperti Psikodrama klasik, langkah-langkah dan dampak psikologis dari TSM disesuaikan, dan aplikasi praktis yang lebih baru dari teknik Psikodrama yang dikembangkan, yang menghasilkan kontrol yang wajar dan sadar dari proses degradasi psikologis dan perilaku klien (Liu, 2007).

Pada Mei 2004, Hudgins mengunjungi Universitas Nanjing untuk pertama kalinya untuk memberikan pelatihan profesional tentang TSM. Setelah gempa bumi Sichuan 2008, banyak psikolog di China bergegas ke daerah yang terkena bencana dan menggunakan berbagai bentuk psikoterapi kelompok untuk menangani gejala pasca-trauma para korban. Pada titik ini, penggunaan TSM secara luas dan metodenya yang unik untuk mendekati trauma dengan aman mulai menarik perhatian para psikolog Tiongkok.

Dari 2008 hingga 2010, Hudgins mengunjungi Chongqing dan beberapa distrik di Sichuan bersama sekelompok psikodramatis China untuk mengajarkan keterampilan Psikodrama kepada guru kesehatan mental lokal di sekolah dasar dan menengah dan melatih mereka untuk menggunakan teknik Psikodrama secara fleksibel dengan siswa untuk mengobati trauma yang disebabkan oleh bencana.

Sebagai cara penyembuhan yang unik dan aman, TSM telah banyak digunakan dalam praktik klinis perawatan trauma di Cina. Ini telah umum digunakan di area dengan kelompok yang mengalami dampak negatif bencana, di antara pasukan keamanan publik dan pasukan pemadam kebakaran, di acara stres kampus, dan dalam intervensi dukungan staf perusahaan.

 

Terjemahan dari 

The Spread and Development of Psychodrama in Mainland China

Zhi-qin Sang, Hao-ming Huang, Anastasiia Benko and Yin Wu

Coretan Lama 33; Fase Kehampaan dan Kepahitan


Fase

Kehampaan dan kepahitan

yang kupelajari

baik dari kehidupan orang lain atau kehidupanku sendiri

sering membuatku merasa

seperti lima belas tahun lebih tua

daripada usiaku

yang sebenarnya.

Pemikiranku

sudah sampai ke mana-mana.

Tapi langkahku

masih jauh.

Masih banyak fase

yang harus kujalani dan lalui.

Yang kutahu,

ada lubang dalam hatiku

yang perlu ditambal,

ada sisi kanak-kanak dalam diriku

yang perlu kubasuh dan kurawat

lukanya.

Agar aku bisa lebih tangguh

menjalani lika-liku kehidupan.

 

Kartasura, 6 Oktober 2018

Qanifara

Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram


Pada tahap warming up ada satu teknik yang sering aku gunakan dalam mengajak peserta untuk lebih berani jujur pada diri sendiri, yaitu Sosiometri, Lokogram. Peserta aku minta melakukan pemilihan hal yang penting dalam hidup. Apakah mereka memilih untuk hidup secara benar, atau baik atau jujur.

Aku menentukan 3 titik di lantai dalam jarak tertentu, yang aku beri tanda dengan selendang warna. Titik 1 aku beri selendang warna putih untuk yang memilih bahwa yang penting dalam hidup adalah baik. Titik 2 warna kuning untuk benar dan Titik 3 warna merah untuk jujur. Lanjutkan membaca “Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram”

Coretan Lama 32; Ketenteraman Hati dan Pikiran


Ketenteraman

Setiap orang

mempunyai masing-masing cara

untuk menenteramkan

hati dan pikiran.

Lakukanlah apapun

yang dapat membuat

hati dan pikiranmu

tenteram.

Kalau kau

masih belum mengetahui caranya,

carilah cara itu

terus menerus.

Bila kau

memiliki niat

yang baik dan kuat,

kelak Tuhan

akan memberimu jalan

untuk menemukannya.

 

Kartasura, 29 Agustus 2016

Qanifara