Terapi Menulis #06 Menemui Psikiater


oleh : Ayati Rini

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya duduk di bangku itu. Di hadapan saya, sebuah papan bertuliskan sebuah nama tertempel pada dinding berwarna hijau, kalau tak salah. Nama pada papan itu disertai gelar dokter spesialis kesehatan jiwa. Ya, ini adalah kali pertama saya menemui psikiater. Saya memberanikan diri mengambil langkah ini menimbang rekomendasi psikolog yang saat ini saya percaya, kondisi keuangan pribadi yang saya rasa cukup, kondisi pribadi, dan riwayat keluarga saya. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #06 Menemui Psikiater”

Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku


Ketika Mas Didik mengajakku menulis untuk terapi, aku berpikir apa yang membuat orang mau menulis untuk menolong dirinya sendiri. Ku coba membaca tulisan orang, itu sungguh melelahkan. Apalagi bila kalimatnya sungguh sulit dipahami atau aku merasa tulisan itu tak ada maknanya sama sekali. Bagiku atau mungkin bagi orang lain. Tapi tunggu dulu. Aku mencoba menghayati. Jika aku harus menulis pula lalu untuk apa gunanya bagiku. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku”

Cerita Mawar #part 18 Caraku Menghibur Diri dengan Menulis


Aku hari ini mimpi lagi, aku mimpi melihat pendamping psikologisku sibuk bekerja, aku ingin bicara padanya namun tidak bisa, akhirnya aku pilih biar lihat saja kesibukannya. Aku bingung dengan alam bawah sadarku, apalagi yang terjadi sampai mimpi begini.

Kemarin malam aku juga mimpi bahwa aku mengobrol hangat, seru bersama dosen waliku dan bercerita segalanya. Aku bingung kenapa kok yang muncul itu sosok dosen waliku, padahal aku dekatnya dengan orang lain. Aku bertemu dosen waliku hanya sekedar say hi waktu papasan di lift kampus minggu lalu, itupun hanya satu kali.

Aku benci kalau mimpi karena badanku lelah sekali saat terbangun, dan aku jadi lebih mengantuk di siang hari jika dibanding tidur tidak mimpi, entah juga terkadang aku sakit kepala tiap terbangun. Aku bingung jika menggunakan analisis Freud, bagian mana yang ID, Ego,maupun Super ego.

Apa aku terlalu memikirkan script untuk pendamping psikologisku, maksudku pilihan topik yang urgent dan bisa direalisasikan, atau apa karena efek isi skala BDI pada logotherapy, atau hal lain lagi.

BDI itu aku dapat sebelum kelas psikodiagnostik 2 dimulai, isinya permohonan ijin dari seseorang bernama Sekian, mahasiswa magister profesi dari universitas Sekian, untuk mengisi skala (aku lupa kalimatnya) depresi pada logotherapy. Ya intinya melihat efektifitas begitu.

Moodku kacau, negatif sekali saat isi BDI karena ya tahu sendirilah aturannya adalah perilaku 2 minggu terakhir, dan memang 2 minggu terakhir aku kelelahan (gangguan tidur, makan tidak terkendali), Cuma aku bisa kontrol si untuk makan, yang sulit itu atur tidur karena aku tipe yang kalau lelah coba tidur sebentar misal 30 menit eh kelewat sampai keesokan harinya bahkan. Aku juga tahu kalau gangguan ini karena mood dan pikiranku, jadi kalau aku bisa kontrol, perilakunya aman.

Anehkah menurut Anda jika Anda ingin bertemu pendamping psikologis perlu membuat script dulu, isinya opsi masalah begitu? Aku merasa jika bertemu pendamping psikologisku malah buat stres, tambah kerjaan, karena perlu mikir masalah apa yang akan diangkat, tapi kalau gak ketemu si pendamping ini kepo dengan cara tanya ke orang lain akan kondisiku.

Alasanku tidak ingin bertemu pendamping psikologisku selain masalah script ada masalah lain berupa kemampuanku yaitu aku bisa melihat masalah bahkan inti masalah dan menjadi kompleks, dan aku juga bisa prediksi cara mengatasi masalah tersebut, hanya saja aku secara aksi mengatasi masalah tidak tekun karena efek mood, dan merasa masih ada waktu lain, biarin dulu saja.

Dalam skala pendamping BDI (aku lupa namanya) ada topik mengenai makna hidup, aku sebenarnya masih bingung makna hidupku, namun ada kalanya aku temukan bahwa makna hidupku sebagai penghibur kecil keluargaku, pelampiasan kisah gak jelas di keluargaku, dan mungkin aku sebagai secercah harapan bagi orang tuaku setelah kekacauan ekstrim jaman SMA (kakak putus kuliah, dan berdagang alkohol).

Aku paling benci topik secercah harapan, karena aku makin tertekan entah eusstres ataupun distress intinya hal ini berdampak pada imunku. Aku bahkan menghindari hal yang membuat aku mual dan throw-up seketika setelah makan. Aku juga kurang paham apa aku mengalami stress atau somatic related disorder (padahal somatic ini materi presentasiku minggu depan dan aku belum paham juga).

Cara aku menghibur diriku sendiri adalah melalui menulis ini, melihat daftar tugas, dan coba untuk ingat impianku. Tidak selamanya hal ini sukses menyingkirkan hal negatif yang terjadi, namun minimal sementara ini manjur, dan aku juga perlu untuk membuat variasi intervensi masalah agar tetap manjur, dan tidak menganggu kesehatan fisikku.

bersambung……

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 17 Insight, …. Mendapatkan Dukungan Sosial


Hari ini (24-2-2019) aku mendapatkan dukungan sosial, pencerahan tiba-tiba atau bisa juga dikatakan wangsit, dan memulai keberanian baru. Hal ini bermula pada khotbah di gereja dengan topik mencintai musuhmu, atau jka menggunakan bahasaku sendiri judulnya sayangi rivalmu apapun yang terjadi.Ya seperti biasa khotbahnya agak membosankan jika diawali dengan kisah tokoh alkitab dan kaitan antar kisah Alkitab. Kisah menariknya saat dikaitkan dengan kisah pembicara khotbah, kisah miris yaitu saudaranya (pemahamanku sepupu) yang dia sayangi, beri kemudahan,beri fasilitas, membantunya kerjasama profesi malah menikungnya, membuatnya mengalami kepahitan. Kepahitan ketika mengalami kerugian besar, utang rumah masih baru 2 tahun, bayi usia 2 bulan, jual mobil juga masih belum menutup kerugian. Entah kenapa tiba-tiba aku menangis saat mendengarnya. Mungkin hal ini terjadi karena mengingatkan aku kisah pengkhiatan di hidupku juga.

Pembicara saat itu hanya bisa duduk terdiam dan berdoa pada Tuhan, dan akhirnya titik nol atau titik nadir terjadi, akhirnya pembicara itu memilih pekerjaan lain dan memilih melayani Tuhan. Hal yang menarik adalah mengenai hukum kasih Allah yang terus dikumandangkan. Hukumnya meliputi kasih, berbuat baik, meminta berkat, dan berdoa kepada musuh atau orang yang telah menyakiti kita. Hal menariknya adalah jika kita mengalami kepahitan dan memilih membalas dendam, amarah dan sejenisnya, hasilnya akan renggutnya kedamaian.
Pembicara menyematkan kata-kata bahwa semakin dekat- semakin sakit, namun jika dalam hidup kita meminta kekuatan Tuhan maka hal itu (kepahitan) tidak akan ada apa-apanya. Bersyukur dan tetap berharaplah pada Tuhan. Cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu.

Hal agak tidak logis bagiku adalah bagaimana caranya membedakan musuh dari pemberian Tuhan, dalam artian memang Tuhan akan menempa kita melalui orang tersebut, atau memang benar-benar musuh. Ya tetapi menurutku anggap saja ini semua ujian hidup, apakah Anda tetap berada di dalam jalan kebenaran atau jalan Tuhan, iman tetap oke, dan sejenisnya.

Topik mencintai musuh ini mengingatkan aku pada kegelapan hubunganku dengan seorang teman dekatku di perkuliahan, dan juga beberapa orang yang hubunganku mengenai pendampingan psikologis (termasuk pemilik web ini). Ya intinya aku dulu pernah dekat dengan seseorang dan terjadi keributan luar biasa, aku meminta bantuan pada pendamping psikologisku malah aku dikatakan berbohong, saat aku mencari pendamping psikologis lain malah aku merasa seperti dipaksa untuk melakukan menulis semua kisahku, membaca kitab suci bahkan buku. Aku merasa keberatan dengan pengambilan buku tersebut karena bagiku ini privasi, aku tipe orang yang ganti buku tiap bosan menulis, misal satu buku satu kisah (3 halaman dari 38 halaman). Aku kembali kepada pendamping psikologisku pertama dan bercerita akan hal ini, hasilnya malah membuat aku marah abadi, dan aku memilih untuk faking good misalnya cerita sedih tapi ekspresi senang, dan pastinya banyak menyangkal, dampak fatal dari faking good ini adalah masalahku tidak terselesaikan segera.

Masalahku dengan pendamping psikologisku baru bisa selesai sekitar 5 bulan kemudian, dan aku mulai kembali menjadi diriku sebenarnya, akhirnya masalahku mulai terselesaikan bertahap sekitar 2 hingga 5 bulan kemudian. Untungnya aku memiliki buku mengenai tutorial kedamaian psikologis yang meliputi topik: masalah emosi, syukur, memaafkan, self improvement. Aku sementara ini cukup baca, tulis materi yang menarik, dan jika emosi atau pikiran negatif muncul maka baca ulang, walaupun itu tidak benar-benar efektif.

Hal konyol adalah entah kenapa saat pembicara khotbah berkata cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu, seketika aku seperti melihat pendamping psikologisku persis di depan mataku. Jika aku mengingat pendamping psikologisku maka tidak lama aku mengingat perkataan pemilik web ini “semua ada waktunya”.

Aku tidak tahu apa rencana Tuhan memberikan aku pendamping psikologis yang: HUT sama dengan aku, suka cari kabar aku ke dosen waliku (pemahamanku adalah beliau tidak mau menganggu aku karena beliau berkata demikian), suka beri reward bentuk pujian (ini tidak ngefek banyak karena aku anggap ini gombalan, dan juga sudah jadi tugas profesional memberi demikian), terkadang bisa digoda sampai aku terbahak-bahak, terkadang juga nyebelin sampai aku ingin mengusir/ meninggalkan beliau tapi gak bisa.

Bagiku saat ini cukup pahami situasi saja, bertindak sesuai norma di bumi, dan percayalah akan ada hal luar biasa di masa depan apapun itu.

bersambung……

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Terapi Menulis juga ; Nyanyian Iri Dengki ku


Suatu hari, entah kapan itu,aku pernah mendengar bahwa Iri itu katanya boleh, untuk dua hal ; satu bila kita iri terhadap orang kaya yang menggunakan kekayaannya untuk berjuang di jalan kebaikan, kedua iri terhadap orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk mengajari orang. Atau semacam itulah. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis juga ; Nyanyian Iri Dengki ku”

Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku


Kapan terakhir anda merasa disalahpahami? Kapan terakhir anda merasa sangat frustrasi karena usaha yang selama ini anda lakukan untuk berubah menjadi lebih baik sepertinya tidak ada artinya? Kata-kata atau niat baik yang keluar itu terus disalahartikan oleh orang lain dan menjadi senjata yang diarahkan kembali ke aku karena ujung-ujungnya kata-kataku itu dipakai sebagai alasan untuk menolak melakukan apa yang aku katakan. Lanjutkan membaca “Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku”

Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas


Aku menemukan sesuatu yang mencengangkan dalam minggu ini (21-2-2019). Kejadian mencengangkan mulai dari pertemanan, hubungan konseling, hingga topik perkuliah, serta dosen yang konon agak horor di mata kakak tingkat. Mari kita mullai dengan pikiran yang mengganggu diriku terlebih dahulu…

Entah kenapa sejak hari sabtu minggu lalu. Entah mengapa aku jadi menangis dan bersedih sangat lama ya sekitar 30 menit, dan entah kenapa juga aku tiba-tiba terbesit untuk menjadikan pemikiran dan emosiku dalam bentuk gambar, pada waktu itu aku menggambar HTP. Setelah itu aku mengirimkan gambar ini pada seseorang yang sedang dekat denganku, beliau berkata padaku makna dari gambar tersebut sama dengan makna Prapaskah, dan juga aku mendapatkan pesan singkat yang sangat menenangkan aku seketika itu juga. Pesan tersebut berisikan bahwa apapun pilihanku adalah baik adanya, tidak ada yang salah. Pilihlah sesuatu yang baru, dan ambil pengalaman serta terima konsukuensi, dengan syarat aku mesti siap dahulu, jika belum siap maka perlu persiapan terlebih dahulu. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas”