15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno


Moreno Academy, Beacon, N.Y.

Pertumbuhan permintaan akan pekerja berketrampilan psikodrama telah membuat kita memperhatikan kebutuhan untuk menstruktur suatu pernyataan komprehensif dari aturan-aturan fundamental[1] dalam praktik metode ini, dan survei dan penjelasan singkat mengenai berbagai versi intervensi psikodramatis. Survei-survei lain metode ini telah menjelaskan beberapa darinya,[2] tapi penting untuk memiliki sejumlah aturan dasar untuk menjadi panduan bagi praktisi. Lanjutkan membaca “15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno”

Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Lanjutkan membaca “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”

Terapi Menulis #07 Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya


Oleh Ayati Rini

Seorang penari menggerakkan jemarinya satu demi satu, kemudian melentingkan kakinya di bawah sorot lampu putih. Sang penari tak sendirian, ia menari bersama bayangan yang ada di bawah kakinya. Ketika sang penari bergerak ke kanan, bayangan itu ikut bergerak ke kanan. Jika sang penari berputar, maka bayangan itu ikut berputar. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #07 Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya”

Tanggapan Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar saat Kanak-kanak


Terkait pemikiran benar dan salah saat kanak-kanak atau mungkin menurutku bagi semua anak kecil memang menjadi satu-satunya acuan dalam berperilaku, anak-anak masih sederhana dalam kemampuan berpikirnya. Lagi pula satu-satu nya ukuran adalah norma keluarga yang direfepresentasikan oleh orang tua. Saat orang tua memiliki otoritas untuk menerapkan apa yang menurut mereka benar dan salah, maka sebagai anak kecil pun aku dan siapa pun mungkin akan menyakini itulah kebenaran dan kesalahan. Lanjutkan membaca “Tanggapan Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar saat Kanak-kanak”

Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis


Saya ingin menanggapi mengenai komentar Mas Didik di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ungkapan Jujur Hati”. Terima kasih atas masukannya. Selamat membaca. Semoga ada yang bisa didapatkan dan bermanfaat bagi yang membaca.

Memang benar, masa laluku dipenuhi dengan pesan-pesan antara “salah” dan “benar”. Tidak ada yang abu-abu. Sebagai anak kecil pun aku sudah dituntut untuk berperilaku yang benar, karena kalau tidak, ‘akan membawa malu bagi keluarga’. Lanjutkan membaca “Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis”

Terapi Menulis #06 Menemui Psikiater


oleh : Ayati Rini

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya duduk di bangku itu. Di hadapan saya, sebuah papan bertuliskan sebuah nama tertempel pada dinding berwarna hijau, kalau tak salah. Nama pada papan itu disertai gelar dokter spesialis kesehatan jiwa. Ya, ini adalah kali pertama saya menemui psikiater. Saya memberanikan diri mengambil langkah ini menimbang rekomendasi psikolog yang saat ini saya percaya, kondisi keuangan pribadi yang saya rasa cukup, kondisi pribadi, dan riwayat keluarga saya. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #06 Menemui Psikiater”

Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku


Ketika Mas Didik mengajakku menulis untuk terapi, aku berpikir apa yang membuat orang mau menulis untuk menolong dirinya sendiri. Ku coba membaca tulisan orang, itu sungguh melelahkan. Apalagi bila kalimatnya sungguh sulit dipahami atau aku merasa tulisan itu tak ada maknanya sama sekali. Bagiku atau mungkin bagi orang lain. Tapi tunggu dulu. Aku mencoba menghayati. Jika aku harus menulis pula lalu untuk apa gunanya bagiku. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku”