Beberapa Waktu Merenung, Sebuah Refleksi Kehidupan Menghadapi Kematian


Kejadian saat ini,
Mengingatkan pada 28 September 2018.
“Berhadapan dengan kematian”.
Kejadian saat ini, pembelajarannya mungkin serupa.

Waktu itu, masuk 3 meter ke dalam tanah.
Tertimbun reruntuhan, dilindungi meja guru dari kayu jati, direndam air hingga se dada, gelap gulita, sempit, sesak, seperti dalam kuburan, susah bergerak, diam seperti bayi dengan 1 posisi yang sama selama 12 jam, seperti bayi dalam kandungan (dalam kandungan Mother Earth) Lanjutkan membaca “Beberapa Waktu Merenung, Sebuah Refleksi Kehidupan Menghadapi Kematian”

Di Rumah Saja, dan Menjaga Jarak Sosial Mengikuti Anjuran Pemerintah


Sabtu, 14 Maret 2020 masih dapat mengadakan Psikodrama di Wiloka, lancar dan sukses, dihadiri dari beberapa Universitas dan komunitas, dari Universitas Islam Indonesia,  dari Universitas Sanata Dharma, dari Komunitas Titian, baik Dosen maupun mahasiswanya, makin tersebarlah Psikodrama.

Ternyata ini event Psikodrama terakhir sebelum mendapatkan pengumuman untuk menjaga jarak sosial (social distance) karena wabah Covid-19. Malam harinya mendapatkan informasi perlu waspada Corona, tengah malam diinfokan untuk tidak tidak usah keluar rumah dulu oleh Pak RW. Lanjutkan membaca “Di Rumah Saja, dan Menjaga Jarak Sosial Mengikuti Anjuran Pemerintah”

Masih Ada Orang Baik di Jogja, Pengalaman Hari Senin Kemarin


Aku sudah memutuskan bahwa hari Senin kemarin akan membawa motor ke Bengkel, yang seminggu lalu menservis motorku. Motorku beberapa kali mogok, mati sendiri, untungnya masih bisa dihidupkan lagi sehingga masih bisa pulang ke rumah. Aku menduga mungkin ada yang kurang tepat dalam menservisnya, karena sebelum servis tidak pernah mogok.

Setelah mandi, sekitar jam 10 pagi, aku langsung berangkat. Pagi itu motor memang susah hidup, namun setelah beberapa kali kuengkol akhirnya mesinnya hidup. Motor kujalankan dengan pelan. Lanjutkan membaca “Masih Ada Orang Baik di Jogja, Pengalaman Hari Senin Kemarin”

Pelajaran Hidup dari Seorang Bapak yang Memiliki 12 Anak


Hari ini beliau datang untuk memangkas dahan pohon yang sudah menyentuh kabel listrik. Aku tidak tahu kalau ia sudah ada janjian dengan adikku untuk itu. Memang dahan pohon mangga dan pohon srikaya depan rumah sudah menyentuh kabel listrik.

Beliau datang dengan salah satu anak laki-lakinya, yang sudah pernah bantu kami untuk pembenahan instalasi listrik. Itulah alasan mengajak anaknya sehubungan dengan dahan yang mungkin berkenaan dengan kabel listrik. Lanjutkan membaca “Pelajaran Hidup dari Seorang Bapak yang Memiliki 12 Anak”

Anak Setan..!! Serial White Rose (5)


Hai semuanya… gimana kabarnya nee… hmmm… kisahku di jaman SMA segitu aja dulu mungkin nanti akan flasbak tuk di episodde selanjutnya… tapi tuk kali ini kita lanjut ke masa sebelum kuliah ke dua tetapi sudah lulus ya… ok mari kita lanjutkan….

Setelah lulus SMA itu adalah perpisahan yang cukup menyakitkan, karena harus berpisah dengan kedua temanku itu. Tapi… ga apalah… kan masih bisa dapat teman baru dan pastinya seru… tapi sayangnya aku tidak lulus SPMB jadi ga bisa masuk perguruan tinggi, tapi aku mencoba untuk ke kuliah pariwisata swasta. Lanjutkan membaca “Anak Setan..!! Serial White Rose (5)”

Inilah Semestinya, Serial White Rose (4)


Apa kabar kakak sekalian.. gimana kabar hari ini? Pastinya penuh dengan semangat. Yuk kita lanjutkan kisah D5.

Kisah sebelumnya di masa SMP, masa neraka udah melebihi neraka saat itu, tapi saatnya naik kelas, kalo mau diceritakan rinci mungkin nanti ada di bab bab selanjutnya… tapi kali ini aku mau mengisahkan yang sederhana sederhana aja dulu, ga panjang panjang dulu. Ok.. karena aku dah naik kelas… berarti saatnya aku naik ke SMA. Dimana SMA dalah awal dari semua yang baru. Lanjutkan membaca “Inilah Semestinya, Serial White Rose (4)”

Menahan Diri, Serial White Rose (3)


Hai hai semua… aku D5 kembali lagi… aku bukanlah anak manja lagi saat ini. Tapi aku akan melanjutkan kisahku.

Kakak sekalian disaat aku memilih untuk mencoba selalu tersenyum, disanalah segalanya terjadi. Kelas 5 SD adalah awal dari semuanya. Mungkin aku terlalu cepat dewasa, harusnya aku bermain dengan kawan kawan dan sebagainya. Akan tetapi sejak sakitku mulai, aku tidak memiliki teman. Mereka mengganggapku merepotkan. Lanjutkan membaca “Menahan Diri, Serial White Rose (3)”