How Wonderful Life Is While You’re In The World, Sebuah Cerita Menjadi Dewasa


Aku kembali ke tempat itu lagi. Kali ini tidak berniat untuk minum sampai mabuk berat. Inginku hanya meneguk sedikit demi mengenang pertemuan janggal kita beberapa tahun silam.

Pertemuan itu diawali ketika kita duduk di kursi bar berhadapan dengan meja panjang di mana kita bisa menyaksikan para bartender sedang sibuk mengurusi botol-botol minuman beralkohol. Kala itu kita duduk hampir bersebelahan, hanya ada satu kursi kosong yang menghalangi kita. Saat aku masih sadar, sekilas kuperhatikan wajahmu yang tertekuk lesu memandangi gelasmu. Kau hanya memesan air mineral.

Lanjutkan membaca “How Wonderful Life Is While You’re In The World, Sebuah Cerita Menjadi Dewasa”

Coretan Lama 50; Hidup Bersama untuk Dapat Melihat Harapan


Dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang jauh dari kata ideal,

bagi anak sepertiku,

kehidupan pernikahan sangatlah rumit.

Tapi satu hal yang kupelajari.

Mungkin fisik dapat membuat kita tertarik.

Tetapi karakter dan pemikiran

yang sejalan dapat membuat kita lebih nyaman

dan mampu bertahan bersama pasangan.

Bertahan bukan karena paksaan

tetapi karena ketika kita bersama,

kita dapat melihat adanya harapan.

 

Kartasura, 27 September 2018

Qanifara

Coretan Lama 49; Lebih Baik Sendiri, daripada Saling Menyakiti


Inginku sederhana.

Dapat terbangun dan menjalani hari

tanpa harus menahan emosi

yang tak bisa disalurkan,

tanpa harus bersusah payah

menyatukan kepala-kepala

dengan pemikiran

yang memang tidak sejalan

yang menyebabkan kesalahpahaman

tak berujung.

Meskipun mungkin hanya tinggal bersama seekor kucing.

Sebab bagi orang ringkih sepertiku,

lebih baik sendiri

daripada bersama tapi saling menyakiti.

 

Kartasura, 12 Agustus 2018

Qanifara

Coretan Lama 48; Manusia Kerap Tidak Bisa Memilih


Manusia kerap tidak bisa memilih

dengan siapa kelak mereka akan dipertemukan.

Begitu pula dengan siapa mereka

akan lebih sering didekatkan.

Yang bisa mereka lakukan

adalah membenahi, meluruskan, dan memperkuat tujuan hidup.

Sebab satu yang selalu kuyakini

bahwa kelak Tuhan akan mempertemukan

dan mendekatkan diri kita

pada orang-orang

yang memiliki tujuan hidup yang sama

dengan kita.

 

Kartasura, 15 Oktober 2016

Qanifara

Coretan Lama 45; Apa yang Kamu Inginkan Belum Tentu yang Kamu Butuhkan


Diam-diam kala itu langit sedang mendengar pengakuan seseorang.

Sebut saja dia.

Dulu dia mempunyai banyak keinginan.

Sayang, sebagian besar keinginannya selalu menuai kegagalan.

Hatinya kerap resah, gelisah, dan marah tak terarah.

Lalu dia mengeluh kepada Tuhan.

Namun Tuhan justru semakin banyak memberinya kesedihan.

Dia lewati semua kesedihan itu dengan bersusah payah.

Hingga pada akhirnya sebuah tragedi menampar keras kesadarannya.

Seakan ada malaikat berbisik di telinganya, “ketika semua keinginanmu terpenuhi, belum tentu setelah itu kamu akan menjadi lebih baik, sebab apa yang kamu inginkan belum tentu yang kamu butuhkan.”

Lalu dia menangis sejadi-jadinya.

Namun tiap kali dia mengingat pernyataan itu, senyumnya mengembang dan hatinya menjadi lebih mudah untuk menerima dan bergembira.

 

Kartasura, 13 Juni 2016

Qanifara

Coretan Lama 40; Agar Aku Lebih Berbahagia


Segala yang ada dalam benak

maupun segala rasa yang tersimpan,

terkadang bagi orang sepertiku

rasanya tidak cukup

bila hanya tersampaikan

secara tertulis saja.

Sebab pada akhirnya,

seperti yang sudah-sudah,

aku hanya butuh bicara.

Pada yang sanggup

menerima baik dan burukku.

Agar tidak salah terima.

Agar aku lebih berbahagia.

 

Kartasura, 1 Juni 2017

Qanifara

Coretan Lama 37; Dialog Fiksi #4 Apa yang Kau Takutkan Lagi ?


Dialog Fiksi #4

A : Apa yang kau takutkan lagi?

B : Aku takut jika aku tidak lagi mempunyai hasrat untuk menjalani hidup. Takut jika aku tidak mau melakukan apa-apa. Kemudian tidak bisa menjadi apa-apa.

A : Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk memilih. Untuk dapat meraih sesuatu yang berarti, selalu dibutuhkan pengorbanan dalam bentuk apapun. Kau boleh menangis sesukamu. Tapi setelah itu kau harus bangkit dan ingat bahwa kau masih punya harapan terhadap dirimu sendiri.

B : Kau benar, tetapi tetap saja aku…

A : Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Upayakan apa yang bisa kau upayakan. Lepaskan segala hal yang menyiksa batinmu. Jangan lupa beri makan jiwamu dengan hal-hal baik. Atau bila kau tidak sanggup lagi, kau bisa datang kepadaku. Tapi ingat, bukan berarti aku benar-benar ada. Kuatkan doamu. Dan ya, segeralah pergi. Kelak kau akan bisa melihat segalanya dengan lebih jernih, tanpa harus ada aku. Jangan tunggu aku. Jangan, sebab aku sendiri belum tahu kapan kira-kira Tuhan akan mengirimkanku di hidupmu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa pada penantian yang melelahkan dan serba tak pasti. Entah, akankah aku ada dalam hidupmu atau tidak ada sama sekali. Kini pada saat-saat tertentu, aku hanya sebatas bayanganmu saja. Belum saatnya aku ada. Aku hanyalah aku yang sebatas semu, untukmu, dalam imajimu.

 

Kartasura, 8 Maret 2019 

Qanifara

Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder


Pada tanggal 27 Maret 2021, Aku memfasilitasi terapi Psikodrama Online via Zoom Meeting, dengan teknik pertukaran peran ( Role Reversal ) mengolah permasalahan Perfeksionis dengan Minder atau ketidakpercayaan pada diri sendiri.

Sebelum proses dimulai aku menyarankan kepada peserta untuk mengganti nama aslinya menjadi nama binatang. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga privasi dan memberi keberanian lebih untuk bereksplorasi.

Yuks kita mulai, Lanjutkan membaca “Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder”

Coretan Lama 35; Dialog Fiksi #2 Apakah Kau Tahu Hal yang Membuatku Tenang?


Dialog Fiksi #2

“Apakah kau tahu salah satu hal yang membuatku tenang?”

“Apa?”

“Ketika aku sedang tidak jatuh cinta kepada siapa-siapa.”

“Mengapa begitu?”

“Karena bagi orang ringkih sepertiku,

rasanya seperti membawa beban

di pundak dan pikiran.

Sudah terlalu sering aku melebih-lebihkan ekspektasi itu sendiri.

Selebihnya, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri untuk kesekian kali.”

“Lalu bagaimana jika ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu?”

“Aku rasa tidak ada.”

“Kalau ada, bagaimana?”

“Belum.

Belum saatnya.”

 

Kartasura, 6 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 34; Dialog Fiksi #1 “Aku Tidak Ingin Pulang,”


“Aku tidak ingin pulang,” teriakmu

di kebun binatang

seperti anak kecil

yang sedang kegirangan

berada di toko mainan.

“Kenapa?” tanyaku seolah bingung

padahal aku paham maksudnya.

“Karena saat aku kembali ke tempat tidur,

aku kembali merasa

bahwa ada harapan-harapan

yang tidak bisa terawat dengan baik

khususnya ketika aku memandangi

punggungnya atau menerima pelukannya.

Kami sebetulnya

tak lebih dari sepasang manusia

yang tidak bahagia

tetapi terlalu memaksakan diri

agar terlihat bahagia.

Sering kali

ini membuatku tersiksa.

Katanya dia baik-baik saja.

Aku tidak percaya.

Barangkali dia hanya sibuk

menyangkal perasaannya.

Dia laki-laki

yang cukup baik sebetulnya,

tetapi kini

aku tidak lagi nyaman

bila bersamanya.”

 

Kartasura, 21 Januari 2019

Qanifara