Saya Perlu Berlatih Berani Salah, sebab Salah adalah Proses menjadi Lebih Baik, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Halo, nama saya Lolita.

Ini adalah pengalaman kedua setelah satu bulan yang lalu mengikuti kegiatan psikodrama bersama tim Miracle, yang saya suka dari kegiatan psikodrama ini ialah praktik secara langsung dengan mobilitas sedemikian rupa di atas panggung sandiwara. Biasanya saya mudah bosan ketika kegiatan kelas yang lebih dominan duduk saja. Psikodrama ini benar-benar santai, antar peserta saling berinteraksi, namun tetap serius. Lanjutkan membaca “Saya Perlu Berlatih Berani Salah, sebab Salah adalah Proses menjadi Lebih Baik, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Belajar Budi Pekerti Melalui Praktek Psikodrama ( Playback ), Berani Jujur dan Bertanggung jawab


Budi pekerti merupakan wujud dari pemahaman akan aturan, tata krama, hukum, agama, adat-istiadat, norma sosial, dan nilai-nilai luhur. Penanaman budi pekerti lebih merasuk bila dilakukan dengan tindakan nyata sehari-hari. Bila seorang anak sejak dini sudah ditanamkan dasar-dasarnya, dengan berjalannya waktu nilai tersebut akan berkembang seturut usianya.

Berikut salah satu praktek Psikodrama, yang dapat mengungkapkan bagaimana budi pekerti merasuk pada seorang anak. Lanjutkan membaca “Belajar Budi Pekerti Melalui Praktek Psikodrama ( Playback ), Berani Jujur dan Bertanggung jawab”

You Have Enough Freedom to Choose the Story that You Want to Play


Menemukan diri hadir dalam workshop psikodrama dengan Mas Didik rasanya memberikan dualisme fungsi dalam diri saya. Tentu saja, selain belajar teknik psikodrama sebagai salah satu metoda dalam praktek psikolog, sambil ‘berobat jalan (self healing)’ merupakan hal yang tidak berdosa menurut saya. Lanjutkan membaca “You Have Enough Freedom to Choose the Story that You Want to Play”

Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Bismillahirrohmanirrohim

Mendengar kata psikodrama pertama kali dua tahun yang lalu. Penasaran dan banyak pertanyaan dalam benak namun baru sempat browsing lebih dalam di medio Juni 2019. Tulisan-tulisan psikodrama yang saya dapat kebanyakan berbahasa asing. Seseorang teman yang aktif di sosial media Instagram menyarankan saya untuk stalking dulu ke @psikodrama_id, lalu lanjut menelusuri event-event terkait psikodrama yang selalu saja hanya satu nama yang terhubung di sana. Retmono Adi yang nampaknya memang dedengkotnya ahli psikodrama. Lanjutkan membaca “Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Testimoni Pengalaman Mengikuti Psikodrama di Medan Maret 2019


Psikodrama sebagai  terapi kelompok, Psikodrama yang saya ketahui salah satu bagian dari teknik terapi yang melibatkan orang lain . Cukup  sampai disitu yang saya ketahui.

Bagaimana menerapkan dalam sesi konseling?
Apakah sulit ?
Apa saja yang dipersiapkan?

Itu membuat saya menjadi penasaran….
Maka saya merealisasikan rasa ingin tahu ini …
Dan semuanya terjawab dalam sesi-sesi pelatihan yang sangat Apik dan menyenangkan.

Dalam Psikodrama bukan hanya “protagonis” yang mendapat manfaat tapi peran pengganti yang lain juga terpapar manfaatnya…

Semoga dapat saya  praktekkan dalam kelompok relawan LLHPB Aisyiyah. Terimakasih Mas Retmono Adi untuk pengalaman terindah, memberi ruang dan peluang untuk menjadi apa yang kita mau, tanpa kukungan nilai….

        Tubuh lihai meliuk suka-suka
         Rentang jari riang dalam rasa
          Aku menjadi… Aku adalah Aku

#Psikodrama

Medan, 21 Maret 2019

Sri Ngayomi

Karena Rasa itu Nyata…Refleksi Psikodrama di Maranatha Bandung


“Ketika berbicara tentang pengalaman mengikuti psikodrama, maka yang paling mendominasi adalah pengalaman rasa… Dan ketika berbicara mengenai pengalaman rasa, maka “harus” siap kembali berkaca pada diri – karena pikir bisa diajari, laku bisa dipengaruhi, tapi rasa muncul murni dari dalam hati…”

Kurang lebih itulah yang saya rasakan selama mengikuti proses workshop psikodrama pada 19 – 20 Desember 2018 yang lalu. Berawal dari tujuan “sekedar” mengisi hari-hari terakhir di semester ini dengan sesuatu untuk menambah ilmu, ternyata saya bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga banyak peneguhan dan pembelajaran, baik dari pengalaman pribadi saya sendiri, maupun pengalaman-pengalaman peserta lain yang turut dibagikan melalui setiap proses dalam workshop psikodrama ini.

Awalnya saya pikir hanya aspek kognitif alias alam pikiran saya saja yang akan banyak “bermain” ketika saya mengikuti workshop psikodrama ini. Tapi ternyata, justru aspek afeksi alias perasaan saya justru yang paling banyak diacak-acak, diubek-ubek, sampai pulang-pulang merasa lemas dan lunglai…

Anehnya, justru perasaan senang, syukur, dan excited-lah yang paling banyak mendominasi selama saya mengikuti prosesnya – bahkan setidaknya hingga hari ini saya menuliskan sharing saya, tepat 3 hari setelah workshop berlalu, saya masih bisa mengingat dengan jelas setiap proses yang saya lalui selama 2 hari mengikuti workshop psikodrama.

Mungkin karena meskipun perasaan saya diacak-acak dan diubek-ubek, tapi seolah saya tidak hanya menambah ilmu baru, melainkan juga disadarkan dan diingatkan kembali mengenai diri saya sendiri melalui prosesnya. Seolah workshop ini adalah paket all in one. Hehehe…

Maka, terima kasih kepada Mas Didik untuk ilmu dan proses pembelajaran yang luar biasa dan tidak akan saya lupakan… Terima kasih juga untuk obrolan-obrolan singkat, yang semoga bisa bermanfaat juga ke depannya, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi semakin banyak orang di luar sana…

Terima kasih juga kepada Bu Wiene dan Mas Yun, serta para panitia…
Terima kasih untuk para peserta yang juga bersedia menjadi kelompok belajar yang nyaman dan menyenangkan…

Semoga semuanya selalu berani jujur pada diri sendiri, berani memancarkan warna asli dari dalam diri… Karena semesta lebih indah justru karena keunikan masing-masing pribadi yang mendiaminya…

= Puspa_Psikologi_Universitas Kristen Maranatha_Bandung_23122018 =

Bahagia Menjadi Diriku Sendiri : Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Psikologi
Psikologi untukku
Psikologi untuk kita

 

Pertama kali mendengar kata Psikodrama, rasanya kembali ke masa kecil dimana aku sering memainkan peran serial pendekar …aku suka memainkan peran sebagai kesatria wanita.

Begitu antusias aku mengikuti sesi Psikodrama HARI INI … Begitu semangat …dan bagiku kembali ke masa kecil saat aku harus memainkan sebuah peran adalah kembali ke KEBAHAGIAAN sesungguhnya….

Satu hal yang aku dapat setelah sesi Psikodrama hari ini adalah ” Jadilah dirimu sendiri Mei… karena tidak akan ada yang dapat melakukannya lebih baik dari dirimu sendiri ”

Terimakasih mas Didik atas ilmunya,
Terimakasih sudah mengembalikan kebahagiaan masa kecilku,
Terimakasih juga sudah membuatku sejenak menyadari bagaimana proses PERAN – PERAN yang ada di dalam diriku membuatku bahagia menjadi DIRIKU SENDIRI .

16122018
Mei – DEPOK