Self Leadership, Refleksiku Hari Ini Mengenai Serigala Cinta


Hari ini aku menemukan tulisan dari e book mengenai Spiritual Leadersip, yang dibagikan di Group WA. judulnya :

Integrating Leadership Development with Ignatian Spirituality:
A Model for Designing a Spiritual Leader Development Practice ~ Teresa J. Rothausen1

Aku refleksikan dalam bagaimana aku memimpin diriku sendiri.

Di setiap manusia, ada dua serigala yang terus-menerus bertarung. Yang satu adalah mewakili Ketakutan, dan yang lainnya mewakili Cinta.
Yang mana dari serigala itu akan memenangkan pertempuran?

Serigala yang selalu kamu beri makan ~ metafora spiritual Penduduk asli Amerika.

dan dilanjutkan dengan ayat dari Injil Perjanjian Baru

Di dalam cinta tidak ada ketakutan, cinta yang sempurna melenyapkan ketakutan, …. (1 Yoh; 18a)

Jadi tugasku adalah selalu memberi makan Serigala yang mewakili Cinta.

Kutuliskan untuk mengingatkan pada diriku sendiri.

 

28 Februari 2020

Retmono Adi

 

Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building


Sosiometri yang awalnya sebagai sarana untuk mengukur hubungan sosial, dikembangkan oleh Moreno menjadi cara untuk membangun hubungan sosial. Tulisan berikut mengenai penerapan sosiometri ini untuk membangun kerjasama dan rasa saling percaya dalam kelompok kerja.

Aku sering menggunakannya sosiometri ini, pada tahap Warming Up, tahap pertama dalam Psikodrama, yang bertujuan membangun rasa saling percaya antar peserta, untuk persiapan menuju tahap Action. (baca: 3 Tahap Psikodrama). Lanjutkan membaca “Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building”

Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna


Ini bukan tulisan politik, aku tetap dalam tema psikologi dengan penerapan yang lebih luas. Perlu aku sampaikan dulu agar tidak “merasa tertipu” oleh judulnya. Aku mau mengangkat tema bahwa Kehadiran adalah penting.

Apa yang menjadi dasar pertimbangan Presiden Jokowi, perlu hadir ke Natuna? Banyak penjelasan bisa didapatkan dari berbagai sudut pandang. Aku melihat dari impact yang terjadi saja. Fakta menunjukkan bahwa setelah Presiden Jokowi datang ke Natuna, Kapal-kapal Asing dari China keluar dari perairan Indonesia. Keributan di Media Sosial perihal issu Natuna juga mereda. Lanjutkan membaca “Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi

 

6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #01


Sering kali lingkungan menilai individu berdasarkan usia kronologis.

Jika Anda pernah bertemu seorang remaja dewasa sebelum waktunya, mengetahui seorang pria paruh baya berperilaku konyol/bodoh. Anda tahu bahwa usia tidak berhubungan dengan cara seseorang tampil di dunia.

Di  dunia ini, usia bukan garansi kematangan. Meskipun terdapat banyak contoh seperti ini dalam lingkungan sekitar kita. Kita cenderung percaya bahwa orang-orang harus “berperilaku sesuai usia”, dan terkejut ketika mengetahui mereka tidak melakukannya. Lanjutkan membaca “6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #01”

Aku Kesulitan untuk Membuat Keputusan


Aku mengalami distorsi kognitif. Aku kesulitan untuk membuat keputusan. Aku memiliki tugas psikologi bermain dan pengolahan PAUD.

Satu kelompok 4 orang. 1 dari 4 tidak kontribusi. Tugasnya dia dari 3x print file mulai dari tugas perdana sampai revisi ke 2, dia hanya print tugas perdana. Sebenarnya semua berperan dalam membuat paper beserta revisi, namun 1 anak ini tidak kontribusi apapun dalam membuat paper, hanya print saja.

Hal yang mengecewakan adalah dia selalu saja alasan untuk tidak membantu. Bahkan dia sudah absen beberapa kali di kelas. Aku kecewa sekali dengan permintaan bantuan untuk tugas yang harus sudah dikumpulkan besok pagi, dia hanya menambahkan 1 paragraf.

Dari hasil analisis sudah dijelaskan masalahnya apa, eh dia malah membuat 1 paragraf baru. Tulisannya seperti ini: Gap: menurut permendikbud nomor… tahun… dituliskan perlu media dari guru untuk pembelajaran. Padahal sudah jelas di paragraf sebelumnya isinya mulai dari gap hingga solusi. Aku juga minta dia untuk bantu lanjutkan membuat rancangan pembelajaran harian malah alasannya dia membuat proposal, padahal ada juga teman di kelompokku yang mengerjakan proposal malah di minta oleh dosbing proposal untuk menunda pengerjaan proposal karena ada tugas lain yang batas pengumpulannya lebih dekat. Bagiku sudah luar biasa jika sampai dosbing proposal skripsi meminta mahasiswanya untuk menunda mengerjakan proposal demi tugas lain, yang mestinya bisa selesai jika semua turut kontribusi.

Dimataku jika semua kontribusi, kecil sekali kemungkinan terjadinya hal ini.
Aku dan 2 anggota lain sudah konsul ke dosen mengenai kejadian ini, dosen membuat keputusan bahwa terserah keputusan kita. Dalam hati kecil kita sebenarnya kita masih mau beri kesempatan, namun sampai pembuatan projek hari ini dia tetap tidak muncul, padahal di grup sudah ramai dibahas, dan aku juga melihat bahwa dia membaca isi chat di grup.

Aku memiliki ide untuk memberi kabar di grup bahwa rancangan kegiatan harian di paud sudah jadi, aku kirim di grup, kemudian aku tag anak yang tidak kontribusi tersebut untuk mengeprint dan membawanya pada hari senin 22 april karena kita juga masih perlu melengkapi atribut di paud. Pemikiranku jika dia sampai tidak print dan tidak hadir maka dia di keluarkan karena ini sudah titik peringatan terakhir bahwa dia sudah di keluarkan dari grup karena dia tidak kontribusi.

Menurut Anda masih perlukah memberi peringatan kepada orang yang sudah keterlaluan kontribusi minim seperti ini, dia datangnya terlambat 1 jam lebih, pulang juga duluan dengan alasan mengurus gereja, kemudian alasan lagi mengurus pemilu, dan fatalnya lagi adalah dia berdalih mengerjakan proposal, padahal ada anggota lain yang juga proposal skripsi.

Perlu seperti apa lagi diriku, aku sudah mendapatkan data mengenai perilaku anak yang kurang kontribusi ini, dia memang sudah keterlaluan hampir pada seluruh mata kuliah (ia kini semester 8).
Perlukah mengasihi dia, perlukah mengIYAkan semua kemauan dia sedangkan ada anggota kelompok yang mengalami DEMOTIVASI karena sang anak yang kurang kontribusi ini? Tegas, Jujur, Musyawarah, chat pribadi, sudah dilakukan namun….

Perlukah aku mengIYAkan perkataan dosen waliku untuk analogi: Orang masuk psikologi untuk dapat uang banyak dengan mudah, Cuma dengerin orang saja dapat duit (konteks memeras jika menurut pemahamanku). Mungkin saja Tuhan mengabulkan permintaannya masuk psikologi kemudian konseling dan mudah dapatkan uang, hanya saja Tuhan memberikan cobaan kepada orang tersebut entah apa bentuknya. Aku bisa saja membuat pemikiran bahwa mungkin saja ia aktif di gereja, kemudian masuk psikologi untuk membantu jemaat di gereja, hanya saja perilakunya ini menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab.

Menurut anak-anak yang pernah berkelompok dengan si kontribusi minimal ini, sang kontribusi minimal ini selalu selamat, selalu dapat nilai bagus, ada juga yang beranggapan dia super pandai mencontek.

Kasus ini mengingatkanku kepada pepatah sepandai-pandainya tupai melompat toh akan jatuh juga. Mungkin saja tampak dari luar di mata anak-anak dia selalu mujur dengan perilakunya yang lari dari tanggung jawab, kontribusi sangat ngawur minimalnya, ada hal laten yang tidak di ketahui.

Hal ini mengingatkan moto keluargaku jika terkena masalah yaitu GUSTI ORA SARE. Ya terlepas dendam kesumat karena si minim kontribusi ini, projek tetap harus jalan. Tetap cari solusi dan cara terbaik melalui masalah itu, gusti ora sare, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Untuk sementara ini hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meredam tidak seimbangan pikiran dan emosi negatif, ini.

Diskusi:
Menurut anda apa yang bisa aku lakukan jika menghadapi orang demikian (si minim kontribusi), sudah aku chat pribadi, chat grup tetap tidak ada resspon, apa iya aku keluarkan saja dari grup karena aku merasa bersalah telah memasukan dia yang ternyata hama buat kelompok? Kelompok sudah memutuskan akan mencabut namanya dan tidak praktik, jika sampai hari senin besok kumpul dia tidak datang tanpa penjelasan. So… mungkin ada feedback dari anda ?

Surabaya, 18 April 2019

Setiti

Psikodrama untuk Pelatihan Leadership Ki Hadjar Dewantara


Ing Ngarsa Sung Tuladha – di Depan memberi contoh
Ing Madya Mangun Karsa – di tengah melengkapi dan memberi kontribusi
Tut Wuri Handayani – di belakang mendorong dan melengkapi

Pelatihan ini untuk melatih dengan berpraktek Kepemimpinan berdasar Ki Hadjar Dewantara, durasi nya 16 jam, atau 2 hari kerja. Lanjutkan membaca “Psikodrama untuk Pelatihan Leadership Ki Hadjar Dewantara”