Silabus Training MANAGEMEN STRES


Pengantar

Tenaga kerja saat ini banyak mengalami kelelahan kerja dan stres. Pekerja di semua tingkatan merasa stres, tidak aman, dan disalahpahami. Mereka merasakan tuntutan di tempat kerja telah menjadi terlalu banyak untuk ditangani. Dampak keuangan dari stres terhadap perusahaan sangat besar. Pelatihan ini membahas penyebab stres tersebut, dan menunjukkan cara melakukan inisiatif yang tepat bagi  karyawan dan perusahaan

Topik Bahasan

Stres menjadi bagian positif yang tidak dapat dihindari dari kehidupan semua orang;
Kenali gejala ketika memiliki “kelebihan stres kronis;” di tempat kerja
Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan stres terbesar;
Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang menambah stress
Mengembangkan strategi untuk mengubah baik situasi dan tindakan yang dapat diubah;
Mengembangkan teknik untuk menghadapi situasi dan tindakan yang tidak dapat diubah.

Metode

Psikodrama, Pelatihan berdasar Drama

Sasaran

Memahami bahwa stres adalah bagaimana kita bereaksi terhadap situasi eksternal.
Meningkatkan pengendalian emosi.
Bersahabat dengan emosi negatif.
Menjaga fokus pada pekerjaan.
Mendapatkan perspektif tentang apa yang benar-benar penting.
Mengeluarkan energi hanya pada hal-hal yang dapat dikontrol.
Memikul tanggung jawab pribadi untuk situasi mengganggu.
Mengembangkan tanggapan yang lebih baik untuk berbagai situasi

Peserta

Manajer. Profesional, Karyawan yang membutuhkan kemampuan mengendalikan emosi secara efektif untuk menjadi sukses.

Waktu

Dilaksanakan selama total waktu 24 jam selama 3 hari @ 8 jam.

Kontak

Jefry Simanullang  0812 2542 0777

Deddy YE 0815 7500 0571

Silabus Training Mentalitas Dasar Dunia Kerja


PENGANTAR

Pengetahuan dari Sekolah atau Kampus saja tidak cukup sebagai bekal untuk masuk ke dalam dunia kerja. Dibutuhkan mentalitas kerja yang kuat, dan kemampuan beradaptasi dalam situasi yang penuh tekanan. Pelatihan ini mengembangkan metode untuk menyiapkan pribadi yang tangguh dan berkarakter sesuai dengan nilai profesional.

SASARAN

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu:
 Memiliki Disiplin diri dan berkepribadian yang kuat.
 Memiliki sikap mental yang kuat.
 Menginternalisasi nilai-nilai keutamaan yang dibutuhkan di Dunia Kerja

TOPIK BAHASAN

 Berpikir Kreatif
 Kecerdasan Emosi
 Memahami Kepribadian Diri
 Team Building, Team Work, Team Spirit
 Budaya Perusahaan/Organisasi

METODE

Psikodrama, Pelatihan Berdasar Drama

PESERTA

Mahasiswa, Karyawan Baru, Management Trainee, maksimum 20 0rang,

WAKTU

Dilaksanakan selama total waktu 16 jam selama 2 hari @ 8 jam.

Kontak

Jefry Simanullang  0812 2542 0777

Deddy YE 0815 7500 0571

Silabus Training Membangun Karakter Remaja


PENGANTAR

Masa Remaja adalah proses pencarian identitas. Proses ini mengeksplorasi seluruh potensi, baik, emosi, pikiran, maupun spiritual mereka, agar terungkap dan berkembang seluruh potensi terbaiknya. Psikodrama adalah metode belajar aktif dengan berdasarkan prinsip Psikologi dan Drama, suatu bentuk teknik belajar yang memungkinkan individu untuk mengeksplorasi Emosi, Kognisi, dan Tindakan, secara menyeluruh.
Isi dari pelatihan ini difokuskan pada 5 bidang kunci kesuksesan di masa depan:
• Rasa Percaya Diri
• Keterampilan Berkomunikasi
• Keterampilan Membina Hubungan Sosial
• Keterampilan Memimpin dan Teamwork
• Efektif Mengelola Sikap
Program ini tepat dilakukan saat MOS (Masa Orientasi Siswa Baru), Orientasi Mahasiswa Baru, LDK, dan Persiapan memasuki Dunia Kerja

BAHASAN

• Berpikir Kreatif
• Kecerdasan Emosi
• Tipe – tipe Kepribadian
• Kepemimpinan.
• Prinsip dan Nilai Universal

METODE

Psikodrama, Belajar Aktif berdasar prinsip Psikologi dan Drama

SASARAN

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu:
• Lebih mengenal potensi diri
• Disiplin diri dan berkepribadian yang sehat
• Memiliki sikap mental yang kuat.
• Memiliki semangat kepemimpinan yang baik.
• Menginternalisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip keutamaan hidup

PESERTA

Remaja – Dewasa Awal (usia 14 – 21 th) Efektif per kelas 20 peserta

WAKTU

Dilaksanakan selama total waktu 16 jam selama 2 hari @ 8 jam. Tepat sekali jika dilakukan selama Week End.

Kontak

Jefry Simanullang  0812 2542 0777

Deddy YE 0815 7500 0571

Tujuan Psikodrama adalah Perubahan Kesadaran dan Perilaku


Beberapa profesional yang tidak pernah mengalami psikodrama dalam jangka waktu yang lama, takut akan hal itu sebagai metode terapeutik. Banyak yang cenderung mendramatisasi prosesnya dan menekankan dugaan bahayanya. Yang lain membesar-besarkan kebajikannya dengan cara yang naif dan dangkal yang melanggar etika paling dasar dari psikologi sosial. Kedua kelompok ini tidak menyadari upaya yang relatif baru yang telah dilakukan untuk menyelidiki, secara ilmiah, potensi terapeutik psikodrama. Maka  Adam blatner, menawarkan istilah baru: Eksplorasi Tindakan

Dalam arti tertentu, dipandang sebagai cara meningkatkan kesadaran, berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen. Lanjutkan membaca “Tujuan Psikodrama adalah Perubahan Kesadaran dan Perilaku”

Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership


Beberapa waktu yang lalu aku mengikuti seminar online via Zoom tentang Servant Leadership. Ada yang menarik dari seminar tentang kepemimpian ini, yaitu menyebutkan bahwa kemampuan melakukan Healing merupakan salah satu prinsip penting dari kepemimpinan. Aku kemudian mencari tulisan di internet mengenai Servant Leadership ini. Berikut aku temukan di Internet.

Lanjutkan membaca “Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership”

Obrolan Santai Mengenai Assesmen Kompetensi Integritas


Beberapa waktu yang lalu, temenku mempresentasikan desertasi Doktoralnya via online, mengenai Autentik Organisasi, yang dilanjutkan dengan obrolan santai di WAG. Kebetulan waktu Ujian Desertasinya aku hadir, namun saat presentasi online (setelah beliau dinyatakan lulus) aku tidak dapat mengikuti karena ada mengisi even online di waktu yang sama.

Lanjutkan membaca “Obrolan Santai Mengenai Assesmen Kompetensi Integritas”

Self Leadership, Refleksiku Hari Ini Mengenai Serigala Cinta


Hari ini aku menemukan tulisan dari e book mengenai Spiritual Leadersip, yang dibagikan di Group WA. judulnya :

Integrating Leadership Development with Ignatian Spirituality:
A Model for Designing a Spiritual Leader Development Practice ~ Teresa J. Rothausen1

Aku refleksikan dalam bagaimana aku memimpin diriku sendiri.

Di setiap manusia, ada dua serigala yang terus-menerus bertarung. Yang satu adalah mewakili Ketakutan, dan yang lainnya mewakili Cinta.
Yang mana dari serigala itu akan memenangkan pertempuran?

Serigala yang selalu kamu beri makan ~ metafora spiritual Penduduk asli Amerika.

dan dilanjutkan dengan ayat dari Injil Perjanjian Baru

Di dalam cinta tidak ada ketakutan, cinta yang sempurna melenyapkan ketakutan, …. (1 Yoh; 18a)

Jadi tugasku adalah selalu memberi makan Serigala yang mewakili Cinta.

Kutuliskan untuk mengingatkan pada diriku sendiri.

 

28 Februari 2020

Retmono Adi

 

Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building


Sosiometri yang awalnya sebagai sarana untuk mengukur hubungan sosial, dikembangkan oleh Moreno menjadi cara untuk membangun hubungan sosial. Tulisan berikut mengenai penerapan sosiometri ini untuk membangun kerjasama dan rasa saling percaya dalam kelompok kerja.

Aku sering menggunakannya sosiometri ini, pada tahap Warming Up, tahap pertama dalam Psikodrama, yang bertujuan membangun rasa saling percaya antar peserta, untuk persiapan menuju tahap Action. (baca: 3 Tahap Psikodrama). Lanjutkan membaca “Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building”

Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna


Ini bukan tulisan politik, aku tetap dalam tema psikologi dengan penerapan yang lebih luas. Perlu aku sampaikan dulu agar tidak “merasa tertipu” oleh judulnya. Aku mau mengangkat tema bahwa Kehadiran adalah penting.

Apa yang menjadi dasar pertimbangan Presiden Jokowi, perlu hadir ke Natuna? Banyak penjelasan bisa didapatkan dari berbagai sudut pandang. Aku melihat dari impact yang terjadi saja. Fakta menunjukkan bahwa setelah Presiden Jokowi datang ke Natuna, Kapal-kapal Asing dari China keluar dari perairan Indonesia. Keributan di Media Sosial perihal issu Natuna juga mereda. Lanjutkan membaca “Pelajaran dari “Kehadiran” Presiden Jokowi ke Natuna”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi