Bukan Lagi Mimpi, Pelatihan Berbasis Drama di Depan Mata


Sejak kuliah aku memiliki impian bahwa drama atau teater dapat untuk menerapkan ilmu psikologi yang aku tekuni. Seorang kawan lama memintaku menjadi observer, adalah Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) melaksanakan program Workshop Kreativitas Berbasis Seni untuk sebuah BUMN.

Catatan Amatan Workshop Kreativitas Berbasis Seni

Art per se is not a therapy but art can be therapeutic

Hasil yang Memuaskan

Lanjutkan membaca “Bukan Lagi Mimpi, Pelatihan Berbasis Drama di Depan Mata”

Hati Hati Melakukan Self Diagnosis terhadap Masalah Psikologi


Yang dimaksud dengan self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, dan media sosial bahkan pengalaman sakit di masa lalu, kemudian percaya sepenuhnya dan (tanpa sadar) melakukan tindakan tindakan yang mendukung keyakinannya tersebut.

Walau merasa menunjukkan gejala psikologis tertentu, mendiagnosisnya sendiri merupakan tindakan yang berbahaya karena belum tentu benar-benar menderita gangguan mental yang diyakini.

Aku sebenarnya jika diperiksa dengan alat test psikologi tentang gangguan jiwa pastilah banyak simptom simtom yang “sakit”. Banyak kelakuan yang aku lakukan diluar batas wajar bagi kebanyakkan orang, Bahkan jika aku menemukan atau orang menyebut ada gejala tertentu dalam masalah kejiwaan, malah aku lakukan dan aku tunjukkan perilaku yang mendukung itu. Ada kebanggaan tersendiri yang aku rasakan kala mampu melakukan seperti yang orang anggap “gila” itu. Di sini aku melakukan dengan pilihan sadar dan paham konsekuensi, hal ini karena aku suka terhadap akting/seni peran. didukung aku sekarang juga mendalami Psikodrama yang disebut juga ekplorasi tindakan.

Aku berpikiran positip dan sadar terhadap perilaku yang dianggap gangguan kejiwaan itu, bangga melakukannya serta sadar proporsinya, Kapan Di mana dan menikmatinya, dan yang terutama aku mendapatkan respon yang aku harapkan secara “sehat” karena hal itu menjadi karya seni.

Aku bayangkan apabila orang tersebut melakukan perilaku yang “tidak wajar” itu dengan penuh kesakitan dan mendapatkan reward negatif serta dilakukannya bukan berdasarkan pilihan sadar atau terpaksa karena tidak memiliki pilihan lain. sehingga memperparah kondisinya. Perilakukanya menjadi tidak produktif dan dapat merugikan orang lain.

Aku tidak bermaksud mendiskreditkan, atau menyalahkan orang itu. Aku melihatnya juga merupakan orang yang perlu dibantu. Kondisi yang dialami memang sedang dalam tekanan psikologi. Ia berusaha mengatasi sendiri, namun kemampuan, wawasan dan teknik metodenya tidak ia kuasai, atau bahkan salah penggunaannya. Situasi yang memperparah permasalahannya. Maka perlu hati hati dalam melakukan self diagnosis ini.

Bagaimana yang sebaiknya dilakukan ?

Pertama, jika hal itu tidak mengganggu atau mempengaruhi dalam menjalani kehidupan sehari hari, Oke aja,..nikmati …kan bosen lah hidup biasa biasa aja, normal normal aja,….eksplorasi saja siapa tahu malah menjadi karya.

Kedua, jika sudah menyulitkan dalam menjalani kehidupan sehari hari, atau bahkan muncul perasaan tidak produktif, tidak berguna, orang orang disekitar seperti menghindar, atau menarik diri dari lingkungan sosial saatnya untuk eminta bantuan ahlinya. Hubungi profesional kesehatan mental agar mendapat bantuan yang optimal. Ada banyak layanan sosial di masa pandemi ini untuk dukungan psikososial, baik secara online maupun offline, bahkan banyak juga yang tanpa biaya.

Ketiga, perlu dipahami apabila sudah memutuskan untuk meminta bantuan profesional kesehatan mental (dokter jiwa, psikolog) berarti sudah memiliki sikap dan pikiran yang terbuka. Kesadaran diri bahwa keadaan tidak baik baik saja atau sadar bahwa diri sakit merupakan kondisi awal untuk proses kesembuhannya.

Demikian semoga dapat bermaanfaat. Apabila membutuhkan layanan psikologi aku dapat membantu, atau paling tidak dapat menjadi tempat untuk berbagi rasa. Silahkan kontak IG @psikodrama_ig atau twitter @r3tmono via DM Feel Free aja. Terima kasih.

Yogyakarta, 29 Oktober 2021

Retmono Adi

5 Tips Membangun Kepekaan Sosial


Pagi tadi saat buka WAG ada tulisan yang menarik, mengenai kepekaan sosial yang menurutku sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan saat ini. Oleh karena itu aku copas dan kusimpan serta kubagikan disini. Semoga bermanfaat.

Kepekaan Sosial 

Pagi rekan rekan semua, semoga dalam keadaan baik.. mari kita lanjutkan pembahasan kita, bagaimana caranya agar kita tidak menjadi orang-orang yang tidak peka sosial alias EQ jongkok? Lanjutkan membaca “5 Tips Membangun Kepekaan Sosial”

Contoh Sesi Telekonseling dengan Terapi Menulis


Sebelum melaksanakan telekonseling dengan psikolog, tentunya merasa gugup karena pengalaman menjalankan konseling seperti ini dan tentunya tidak pernah terbayang bahwa akan mengalami hal seperti ini. Tetapi di satu sisi juga penasaran dan menantikan sesi telekonseling walaupun tidak tahu pasti apakah akan membantu atau tidak untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami.

Selain itu juga tidak disangka bahwa ketika bercerita, perasaan pun mulai meluap dan seakan-akan mengeluarkan segala unek-unek yang terpendam di dalam walaupun mungkin belum termasuk semuanya. Padahal bukan hanya sekali membagikan perasaan dan pikiran tersebut ke orang lain, ada juga ke teman, saudara, atasan, dan bahkan HRD. Tetapi tidak sampai ke tahap di mana air mata dapat dikeluarkan sedemikian banyak. Lanjutkan membaca “Contoh Sesi Telekonseling dengan Terapi Menulis”

Percakapan 3 Putaran untuk Panduan Tahap Refleksi di Psikodrama


Psikodrama memiliki 3 tahapan utama, yaitu Warming Up, Action, dan Refleksi atau Integrasi. Nah, tulisan ini adalah untuk panduan pada tahap ke 3 dari Tahapan Psikodrama yaitu Refleksi atau Integrasi. Aku dapatkan dari materi acara retret online via zoom yang disampaikan oleh Rm Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.

Dalam retret tersebut ada refleksi dan Rm Sunu SJ, memberikan panduan refleksinya secara tertulis. Pada akhir acara aku minta ijin dari Beliau untuk aku gunakan dalam praktek psikodrama dan menuliskan ulang di sini agar dapat dipelajari dan dilakukan banyak orang. Beliau mengijinkannya.

Yuks kita pelajari bersama dan mempraktekkan Percakapan 3 Putaran. Lanjutkan membaca “Percakapan 3 Putaran untuk Panduan Tahap Refleksi di Psikodrama”

Menjadikan Musik sebagai Mood Booster


Mood booster terdiri atas dua kata dalam bahasa Inggris, yang jika diartikan secara harfiah, mood berarti perasaan atau suasana hati, sementara booster berarti pendorong atau pendongkrak. Jika digabung, mood booster adalah sesuatu yang bisa bikin Anda kembali senang, ceria, dan bersemangat lagi setelah mengalami kejadian yang buruk.

jika hatimu gundah

ingin bersemangat

lebih berkonsentrasi

dengarkan musik

banyak tawaran di youtube

yang sudah menentukan mood apa yang diinginkan

cukup dengarkan

dan tidak ada satu menit mood sudah berubah mengikuti musik

pilih mana saja, sedih, gembira, berani,

hidup jadi berwarna warni

tidak merasa sendiri

ini juga sehat mental

karena ini juga masuk dalam musik terapi.

eh,… bisa juga membantu study

selamat menikmati musik

hati hati terhadap lirik nya ya, jika ingin konsentrasi belajar, malah nanti ikut nyanyi ngga jadi belajar,…wkwkwk

dan tertikam kenangan, Ambyar dech

yuks, siapa yang selalu ditemani musik saat mengerjakan tugas ?

mari berbagi di sini !

Yogyakarta 15 Juni 2021

Retmono Adi

Coretan Lama 52; Menjadi Dewasa Tidak Sederhana


Ketika pulang,

pikiranku seperti melayang.

Hatiku rasanya

seperti terbagi-bagi.

Ingin kurebahkan

tubuh sambil bicara.

Rasanya seperti menonton film suram.

Lalu terperangkap

dalam layar kaca.

Menjalani adegan demi adegan.

Ah, mungkin aku saja

yang terlalu mendalami cerita-cerita gelap mereka.

Namun satu hal yang kusadari

bahwa proses menjadi manusia dewasa

memang tidak pernah sederhana.

 

Kartasura, 31 Mei 2019

Qanifara

Coretan Lama 51; Sibuk Mencari Pembenaran


Dalam setiap pertengkaran,

kebanyakan dari kita terlalu sibuk mencari pembenaran.

Lalu berakhir pada kesalahpahaman

yang tak terlupakan

bahkan tak termaafkan.

Kita terlalu sering menuntut perubahan

dalam diri orang lain.

Seringnya kita lupa untuk belajar

mencari pemahaman

dari berbagai sisi.

Bisa saja sosok

yang selama ini kita butuhkan,

tidak ada dalam dirinya.

Begitu pula sebaliknya.

Maka tak heran

bila kita sudah saling memiliki

tetapi kita masih sibuk mencari-cari.

Ketika penerimaan

tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan.

 

Kartasura, 13 April 2021

Qanifara

Coretan Lama 50; Hidup Bersama untuk Dapat Melihat Harapan


Dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang jauh dari kata ideal,

bagi anak sepertiku,

kehidupan pernikahan sangatlah rumit.

Tapi satu hal yang kupelajari.

Mungkin fisik dapat membuat kita tertarik.

Tetapi karakter dan pemikiran

yang sejalan dapat membuat kita lebih nyaman

dan mampu bertahan bersama pasangan.

Bertahan bukan karena paksaan

tetapi karena ketika kita bersama,

kita dapat melihat adanya harapan.

 

Kartasura, 27 September 2018

Qanifara

Coretan Lama 48; Manusia Kerap Tidak Bisa Memilih


Manusia kerap tidak bisa memilih

dengan siapa kelak mereka akan dipertemukan.

Begitu pula dengan siapa mereka

akan lebih sering didekatkan.

Yang bisa mereka lakukan

adalah membenahi, meluruskan, dan memperkuat tujuan hidup.

Sebab satu yang selalu kuyakini

bahwa kelak Tuhan akan mempertemukan

dan mendekatkan diri kita

pada orang-orang

yang memiliki tujuan hidup yang sama

dengan kita.

 

Kartasura, 15 Oktober 2016

Qanifara