7 Langkah Terapi Singkat Berfokus Solusi / Solution-Focused Brief Therapy (SFBT Techniques)


Solution-Focused Therapy adalah pendekatan yang memberdayakan klien untuk memiliki kemampuan mereka dalam memecahkan masalah kehidupan. Daripada psikoterapi tradisional yang berfokus pada bagaimana suatu masalah berasal, SFT memungkinkan fokus yang berorientasi pada tujuan untuk pemecahan masalah. Pendekatan ini memungkinkan diskusi berorientasi masa depan, daripada diskusi berorientasi masa lalu untuk menggerakkan klien ke depan menuju penyelesaian masalah mereka saat ini.

Ide utama di balik SFBT adalah bahwa tekniknya berdasarkan psikologi positif dan berfokus pada solusi untuk memberikan waktu yang singkat bagi klien untuk menjalani terapi. Secara keseluruhan, meningkatkan kualitas hidup untuk setiap klien, dengan mereka sebagai pusat dan pendorong pertumbuhan mereka. SFBT biasanya memiliki rata-rata 5-8 sesi.

Selama sesi, tujuan ditetapkan. Tindakan eksperimental khusus dieksplorasi dan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari klien. Dengan melacak apa yang berhasil dan di mana penyesuaian perlu dilakukan, klien lebih mampu melacak kemajuannya.

Sebuah metode yang dikembangkan dari Miracle Question yang berjudul The Miracle Method. Langkah-langkahnya mengikuti di bawah ini (Miller & Berg, 1996). Ini dirancang untuk memerangi minuman beralkohol yang bermasalah tetapi berguna di semua bidang perubahan.

  1. Nyatakan keinginan Anda agar sesuatu dalam hidup Anda menjadi berbeda.
  2. Bayangkan keajaiban terjadi, dan hidup Anda berbeda.
  3. Pastikan keajaiban itu penting bagi Anda.
  4. Jaga agar keajaiban tetap kecil.
  5. Definisikan perubahan dengan bahasa yang positif, spesifik, dan berupa perilaku.
  6. Nyatakan bagaimana Anda akan memulai perjalanan Anda, bukan bagaimana Anda akan mengakhirinya.
  7. Perjelas tentang siapa, di mana, dan kapan, tetapi bukan mengapa.

Pendekatan ini telah digunakan di banyak bidang berbeda, termasuk pendidikan, terapi keluarga, dan bahkan di lingkungan kantor. Menciptakan peluang kooperatif dan kolaboratif untuk memecahkan masalah memungkinkan kapabilitas memperluas pikiran. Menerangi jalur pilihan adalah cara yang menarik untuk memungkinkan orang menjelajahi bagaimana sebenarnya mereka ingin menunjukkan diri di dunia ini.

Terima kasih sudah membaca!

 

Diambil dan diterjemahkan bebas dari:

7 Best Solution-Focused Therapy Techniques and Worksheets (+PDF) oleh Kelly Miller

Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp


Shalom. Selamat sore Mas Adi. Saya Rani, psikolog Samarinda, pernah ikut pelatihan psikodrama Mas Adi di kampus Untag. Mau berkonsultasi, Mas tentang psikodrama

Ya,..gimana?

Mas Adi, permisi konsultasi via WA ya mas.
Saya sekarang kerja di RSJ, mas. Saya ada rencana mau adakan kegiatan Dinamika Kelompok di pasien rawat inap, salah satu sesinya dengan psikodrama. Apakah mas Adi ada saran atau pernah berkegiatan dengan pasien ODGJ mas? Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp”

Terapi Spiral Model (TSM) adalah Pengembangan Psikodrama untuk Penanganan Trauma yang Aman


Terapi Spiral Model (TSM)

TSM, yang dikembangkan oleh pelatih Psikodrama Amerika Katherine Hudgins, adalah metode terpadu dari psikoterapi mengolah pengalaman yang menggabungkan Psikodrama klasik dengan kemajuan dalam psikologi klinis dan pengolahan trauma untuk menyediakan benteng yang diperlukan untuk mencegah retraumatisasi (Hudgins et al., 2000).

Karena banyak penderita trauma sering mengalami kebingungan internal dan tekanan interpersonal yang secara metaforis mirip dengan tornado, TSM memilih spiral sebagai model terapeutik untuk memberikan dimensi alternatif terhadap energi tornado yang tak terkendali. Klien belajar untuk bergerak naik turun spiral dari kebutuhan mereka sendiri bukannya terkoyak oleh kekacauan tornado (Deng et al., 2009: 84).

Gambar spiral terapeutik di TSM dibagi menjadi tiga kategori: energi, pengalaman, dan makna (Hudgins, 2003). TSM terdiri dari enam mode aman:

(1) menempatkan dan mewujudkan ego yang diamati (OE);

(2) lingkaran keamanan;

(3) spektrogram;

(4) sosiogram tindakan;

(5) sosiometri lingkaran; dan

(6) Kreativitas Sutradara.

Enam mode aman membantu korban trauma mengekspresikan diri. Selain itu, body double, containing double, karakter yang direkomendasikan, dan teknik lain di TSM membuatnya aman untuk praktik klinis, meningkatkan efek terapeutik dari tindakan perawatan untuk trauma, dan mencegah klien mengalami retraumatisasi (Sang, 2009).

Berikut adalah ciri-ciri TSM:

(1) Drama dimulai dengan mencari kekuatan klien itu sendiri. Jika klien tidak cukup kuat, sutradara berusaha membuat mereka lebih kuat. Beberapa kekuatan berasal dari peran yang disarankan, seperti body double, atau dari interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh peran pembantu yang dipilih.

(2) Penyembuhan luka penunjang dilakukan dengan containing double. Containing double memberi klien perasaan aman, stabilitas, dan toleransi yang kuat, dan membantu mereka membangun kerangka kerja untuk memahami konotasi ketika mereka mengalami emosi yang kuat.

(3) Ekspresi emosi dikendalikan secara spiral. Dengan bantuan body double dan containing double, sutradara mengubah mood protagonis secara spiral dan perlahan. TSM membuat klien sadar akan emosi mereka, dan mempertahankan kontrol yang efektif dan wajar atas respons emosional mereka dalam proses katarsis (Deng et al., 2009: 95-97). Tidak seperti Psikodrama klasik, langkah-langkah dan dampak psikologis dari TSM disesuaikan, dan aplikasi praktis yang lebih baru dari teknik Psikodrama yang dikembangkan, yang menghasilkan kontrol yang wajar dan sadar dari proses degradasi psikologis dan perilaku klien (Liu, 2007).

Pada Mei 2004, Hudgins mengunjungi Universitas Nanjing untuk pertama kalinya untuk memberikan pelatihan profesional tentang TSM. Setelah gempa bumi Sichuan 2008, banyak psikolog di China bergegas ke daerah yang terkena bencana dan menggunakan berbagai bentuk psikoterapi kelompok untuk menangani gejala pasca-trauma para korban. Pada titik ini, penggunaan TSM secara luas dan metodenya yang unik untuk mendekati trauma dengan aman mulai menarik perhatian para psikolog Tiongkok.

Dari 2008 hingga 2010, Hudgins mengunjungi Chongqing dan beberapa distrik di Sichuan bersama sekelompok psikodramatis China untuk mengajarkan keterampilan Psikodrama kepada guru kesehatan mental lokal di sekolah dasar dan menengah dan melatih mereka untuk menggunakan teknik Psikodrama secara fleksibel dengan siswa untuk mengobati trauma yang disebabkan oleh bencana.

Sebagai cara penyembuhan yang unik dan aman, TSM telah banyak digunakan dalam praktik klinis perawatan trauma di Cina. Ini telah umum digunakan di area dengan kelompok yang mengalami dampak negatif bencana, di antara pasukan keamanan publik dan pasukan pemadam kebakaran, di acara stres kampus, dan dalam intervensi dukungan staf perusahaan.

 

Terjemahan dari 

The Spread and Development of Psychodrama in Mainland China

Zhi-qin Sang, Hao-ming Huang, Anastasiia Benko and Yin Wu

Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram


Pada tahap warming up ada satu teknik yang sering aku gunakan dalam mengajak peserta untuk lebih berani jujur pada diri sendiri, yaitu Sosiometri, Lokogram. Peserta aku minta melakukan pemilihan hal yang penting dalam hidup. Apakah mereka memilih untuk hidup secara benar, atau baik atau jujur.

Aku menentukan 3 titik di lantai dalam jarak tertentu, yang aku beri tanda dengan selendang warna. Titik 1 aku beri selendang warna putih untuk yang memilih bahwa yang penting dalam hidup adalah baik. Titik 2 warna kuning untuk benar dan Titik 3 warna merah untuk jujur. Lanjutkan membaca “Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram”

6 Langkah Mengolah Luka Inner Child Menuju Kesembuhan


Ada 6 langkah untuk membantu menyembuhkan inner child kita yang terluka. Menurut John Bradshaw, penulis buku Home Coming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, proses ini melibatkan enam langkah:

1. Keyakinan, bahwa apa yang terjadi pastilah memiliki hikmah dan sesuatu yang baik.
2. Validasi, perlu validasi ulang, pastikan yang terjadi dengan melihat dari berbagai sudut pandang.
3. Shock dan kemarahan, mulai menyadari perasaan marah, menemukan sesuatu yang baru, pemahaman baru yang selama ini ditekan atau diingkari, awalnya akan marah pada lingkungan luar dirinya, orang lain, namun selanjutnya akan mengarah pada diri sendiri.
4. Kesedihan, Ada muncul kesedihan, mengapa hal itu bisa terjadi, kesadaran bahwa marah pada diri sendiri tidak cukup untuk memperbaiki situasi. Hingga puncaknya sudah tidak dapat mengungkapkan rasa, tinggallah air mata.
5. Penyesalan, merasa bahwa yang terjadi, juga karena ada kontribusi diri sendiri. Mulai mengasihani diri, menyesal dan bertobat, mohon ampunan
6. Kesunyian diri, Ada kelegaan bahwa semua berasal dari diri sendiri, dan bisa diatasi oleh diri sendiri, dan ada tekad untuk berani menjadi diri sendiri.

Kesemua langkah tersebut adalah proses yang akan dialami dalam pengolahan inner child untuk menuju kesembuhan.

Bila ada yang berminat dengan 6 langkah ini melalui Psikodrama dapat kita lakukan. Silahkan isi kolom komentar atau kontak langsung Jefri 0812 252 0777 untuk pengaturan waktunya.

Yogyakarta, 22022021

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80"><a href="https://retmonoadi.com/about/&quot; target="_blank" rel="noreferrer noopener">Retmono Adi</a>Retmono Adi

Mengambil dari Mengelola Inner Child “HEALING YOUR INNER CHILD”

Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man


Aku meyakini bahwa film yang baik dibuat dengan persiapan dan riset yang sungguh sungguh, sehingga terlihat seperti kehidupan nyata. Tiap karakter tokohnya dibangun dari dinamika psikologis yang “sewajar” mungkin. Dalam arti diusahakan mendekati kenyataan dinamika psikologi manusia. Maka dari itu aku banyak mengambil pelajaran dari film-film yang bermutu untuk praktek Psikodramaku.

Aku tertarik pada akhir dari perjuangan para Avengersber dalam film Marvel End Game. Kali ini karakter Iron Man yang menjadi Pahlawan. Iron Man gugur, mengorbankan diri, tidak memakai topeng besinya. Tony Stark pahlawan itu yang juga Iron Man. Lanjutkan membaca “Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man”

Psikodrama Membantu Lebih Cinta (Peran) Menjadi Diri Sendiri


Mumpung dalam suasana Valentine, tema cinta menjadi bahasan utama. Kali ini Aku mau merangkum dari beberapa pernyataan yang menunjukkan bahwa Psikodrama mampu menjadikan tiap pribadi lebih CINTA berperan menjadi diri sendiri.

Moreno sendiri sebagai Pencetus Psikodrama menggunakan istilah Protagonis bagi pribadi yang berproses dalam psikodrama. Moreno mengajak tiap pribadi untuk menjadi Tokoh Utama dari drama hidupnya. Dapat juga dikatakan bahwa Moreno mengajak tiap orang untuk berani menjadi diri sendiri. Pernyataan tersebut diimplementasi pada Tahap Warming Up dibangun suasana Boleh Salah, agar tiap peserta berani Spontan, jujur pada diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Lanjutkan membaca “Psikodrama Membantu Lebih Cinta (Peran) Menjadi Diri Sendiri”

4 Tahapan Penting bagi Kematangan Emosi yang Berguna Selama Pandemi ini


Pandemi ini membuat banyak orang merasa bingung, cemas, stres, dan frustasi. Sejumlah orang khawatir sakit atau tertular Covid-19. Di sisi lain mereka juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemi. Saat ini kita hidup dalam masa-masa yang tidak pasti. Beberapa orang bahkan takut terhadap ketidakpastian dan ketidaktahuan. 

Saat pandemi terjadi, aspek emosional manusia adalah yang paling pertama diserang. Emosi merupakan semacam sistem pertahanan pertama yang ada pada diri kita sebagai makhluk biologis. Setiap manusia memiliki rasa takut, cemas, dan terancam jika ada sesuatu yang bisa menyakiti atau membuatnya jadi tidak nyaman. Lanjutkan membaca “4 Tahapan Penting bagi Kematangan Emosi yang Berguna Selama Pandemi ini”

6 Pelajaran Utama Membangun Karakter Aktor ~ Richard Boleslavsky


Ada banyak hal yang disampaikan Boleslavsky dalam bukunya yang berjudul “The First Six Lessons”. Menurut dia dalam buku ini, teater adalah keagungan penciptaan, kemurnian, suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. Bagi Boleslavsky, teater adalah misteri besar, suatu misteri dimana ada penggabungan antara dua gejala abadi, yaitu :

– Keinginan pada kesempurnaan,
– Keinginan pada keabadian.

Dalam sebuah teater kreatif, sasaran seorang aktor adalah sukma manusia. Berperan di atas pentas adalah memberikan bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku ataupun ucapan. Dalam watak tersebut ada tiga bagian yang harus nampak, yaitu watak tubuh, watak emosi, dan watak pikiran.

“The First Six Lessons”

Lanjutkan membaca “6 Pelajaran Utama Membangun Karakter Aktor ~ Richard Boleslavsky”

7 Paparan Menemukan “The Essential-Man” Maksud Sebenarnya dari Realisme dalam Teater


Stanislavski—seorang aktor-direktor besar Rusia—memberikan suatu derajat pada kata aktor, suatu dignity, yang tak diperoleh sebelumnya. Ia membuat para aktornya sebagai orang-orang humanis dan psikologis, orang-orang yang memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaannya, motif-motifnya , action dan strategi-strategi tingkah-laku manusia.

Ia menolak aktor-aktor yang malas, bebal, yang suka mejeng, melacur yang hidupnya hanya untuk dikeploki orang atau penonton. Aktor harus menghidupkan hidupnya “dalam seni”—latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas. Lanjutkan membaca “7 Paparan Menemukan “The Essential-Man” Maksud Sebenarnya dari Realisme dalam Teater”