5 Manfaat Penerapan Psikodrama sebagai Metode Belajar


Bagi para pengajar, guru, trainer atau pun pendamping komunitas. cobalah menerapkan metode psikodrama dalam proses pembelajaran dan dapatkan beberapa keunggulan dibandingkan dengan cara belajar konvensional selama ini.

Berikut adalah beberapa manfaat yang akan didapatkan dengan menerapkan metode psikodrama 

1. Mendapatkan kegembiraan dalam belajar

Semua peserta diajak terlibat, berinteraksi mengungkapkan diri dalam belajar dengan metode psikodrama ini. Suasana dibangun boleh salah, agar berani dalam bereksplorasi tindakan. Makin banyak membuat kesalahan berarti makin banyak belajar, tidak pernah salah berarti tidak pernah belajar. Sering dalam berinteraksi terjadi hal hal yang tidak terduga, spontan dan menimbulkan kelucuan dan kegembiraan. Suasana belajar lebih menyenangkan. Setiap permainan memiliki tujuan dan saling berkaitan dalam mengeksplorasi materi pelatihannya.

2. Dapat dilakukan dimana saja

Keseluruhan proses dilakukan dengan bertindak, aktif bergerak, peserta tidak perlu menulis. Mereka diajak untuk berbagi, saling bercerita, berdialog, bergerak dan bermain. Kegiatan tersebut dapat dilakukan di mana saja, baik di ruang kelas tertutup atau pun di luar ruangan. dapat di dalam aula gedung, dapat pula di lapangan terbuka. Proses belajar dapat dilaksanakan di mana saja.

3. Dapat dilakukan dalam kelompok yang heterogen

Proses belajarnya dengan berinteraksi sehingga heterogenitas malah dapat memberi peluang eksplorasi. Kelompok dapat dicampur dari berbagai kriteria untuk tujuan tertentu. Perbedaan umur dapat disatukan untuk belajar menghargai perbedaan kebutuhan. Perbedaan etnis digabungkam untuk menghargai keberagaman. Perbedaan keyakinan diajak bermain bersama untuk belajar toleransi. Semua orang dari berbagai kelompok dapat dipastikan senang bermain. Sejauh sudah dapat berinteraksi, permainan dapat dilakukan dan proses belajar dapat terjadi.

4. Mendukung cara berpikir tingkat tinggi (HOTS)

Belajar dalam Ranah kognitif yang dikemukakan Bloom direvisi oleh Lorin Anderson, David Krathwohl, dkk. pada 2001. Urutannya menjadi (1) mengingat (remember); (2) memahami (understand); (3) mengaplikasikan (apply); (4) menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate); dan (6) mencipta (create).

Tingkatan 1 hingga 3, sesuai konsep awalnya, dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS). Sedangkan butir 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTSHigh Order Thingking Skill ).

Tertulis di atas bahwa salah satu hal yang menunjukkan hasil dari HOTS adalah kemampuan mencipta. Psikodrama adalah Drama Spontan, melakukan Akting secara spontan dan otentik. Iswadi Pratama Sutradara Teater Satu Lampung, di BUKU SAKU AKTOR, mengungkapkan bahwa akting adalah mencipta, Bahan, Alat, dan hasil karyanya adalah diri sendiri. Tidak seperti seniman di bidang lain, aktor/aktris adalah pencipta sekaligus materi dan instrumen (alat), dan hasil ciptaan (karya), semuanya menyatu dalam diri sendiri. berdasarkan pernyataan Iswadi itu maka belajar dengan metode psikodrama adalah belajar cara berpikir tingkat tinggi (HOTS)

5. Hidup tidak akan sama lagi

Psikodrama adalah Eksplorasi Tindakan menurut Adam Blatner. Eksplorasi Tindakan, juga mengeksplorasi Rasa dan Pikiran. Peserta diajak masuk ke Surplus Reality, menjelajahi kemungkinan tanpa batas, melakukan tindakan yang belum pernah dilakukan, mengungkapkan perasaan yang terpendam, serta berpikir dari berbagai sudut pandang. Kesemuanya menghasilkan kesadaran baru. Peserta memiliki cara pandang baru terhadap dirinya, sehingga mampu melihat dari cara yang berbeda.

Dramakan saja impianmu. Otak sesungguhnya tidak membedakan impian dengan realitas. Tetapi saat impianmu dibentuk dalam drama. Kenyataanlah yang sedang dihadapi saat ini dan di sini. Psikodrama melampauinya ruang dan waktu, menghadirkan masa lalu atau masa depan dalam kesadaran yang utuh dan real. (Iip Fariha)

Proses Akting, melibatkan tiga instrumen psikologi yaitu kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Selaras dengan metode Psikodrama melibatkan tiga instrumen, Pikiran, Rasa dan Tindakan. Peserta dalam bereksplorasi diajak untuk bertindak, dilanjutkan untuk merasakan tindakan itu. Perasaan itu disadari hingga muncul pengalaman baru. Pengalaman yang direfleksikan secara sadar akan menjadi pengetahuan yang memperkaya pikiran. Proses refleksi dapat dibawa hingga menyentuh aspek spiritual. Kesadaran yang menyentuh aspek spiritual adalah hidup baru.

Yogyakarta, 13 Juni 2022

Retmono Adi

 

Bagaimana Penerapan 8 Tahap Perkembangan Psikososial Erik Erikson dalam Psikodrama


Apa yang dimaksud dengan psikososial?

Definisi Psikososial adalah “hubungan dinamis antara aspek psikologi dan sosial, dimana masing-masing saling berinteraksi dan mempengaruhi secara berkelanjutan.”

Apa yang dimaksud dengan perkembangan psikososial?

Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan pribadi manusia serta perubahan mengenai bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Lanjutkan membaca “Bagaimana Penerapan 8 Tahap Perkembangan Psikososial Erik Erikson dalam Psikodrama”

Bukan Lagi Mimpi, Pelatihan Berbasis Drama di Depan Mata


Sejak kuliah aku memiliki impian bahwa drama atau teater dapat untuk menerapkan ilmu psikologi yang aku tekuni. Seorang kawan lama memintaku menjadi observer untuk mengamati penerapan Seni bagi peningkatan kemampuan karyawan. Adalah Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) melaksanakan program Workshop Kreativitas Berbasis Seni untuk sebuah BUMN, Aku simpan di sini semoga dapat juga diketahui bagi yang membutuhkan.

Catatan Amatan Workshop Kreativitas Berbasis Seni

Art per se is not a therapy but art can be therapeutic

Hasil yang Memuaskan

Lanjutkan membaca “Bukan Lagi Mimpi, Pelatihan Berbasis Drama di Depan Mata”

5 Tips Membangun Kepekaan Sosial


Pagi tadi saat buka WAG ada tulisan yang menarik, mengenai kepekaan sosial yang menurutku sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan saat ini. Oleh karena itu aku copas dan kusimpan serta kubagikan disini. Semoga bermanfaat.

Kepekaan Sosial 

Pagi rekan rekan semua, semoga dalam keadaan baik.. mari kita lanjutkan pembahasan kita, bagaimana caranya agar kita tidak menjadi orang-orang yang tidak peka sosial alias EQ jongkok? Lanjutkan membaca “5 Tips Membangun Kepekaan Sosial”

Percakapan 3 Putaran untuk Panduan Tahap Refleksi di Psikodrama


Psikodrama memiliki 3 tahapan utama, yaitu Warming Up, Action, dan Refleksi atau Integrasi. Nah, tulisan ini adalah panduan yang dapat digunakan untuk tahap ke 3 dari Tahapan Psikodrama yaitu Refleksi atau Integrasi. Aku dapatkan dari materi acara retret online via zoom yang disampaikan oleh Rm Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.

Dalam retret tersebut ada refleksi dan Rm Sunu SJ, memberikan panduan refleksinya secara tertulis. Pada akhir acara aku minta ijin dari Beliau untuk aku gunakan dalam praktek psikodrama dan menuliskan ulang di sini agar dapat dipelajari dan dilakukan banyak orang. Beliau mengijinkannya.

Yuks kita pelajari bersama dan mempraktekkan Percakapan 3 Putaran. Lanjutkan membaca “Percakapan 3 Putaran untuk Panduan Tahap Refleksi di Psikodrama”

7 Langkah Terapi Singkat Berfokus Solusi, Solution-Focused Brief Therapy (SFBT Techniques)


Solution-Focused Therapy adalah pendekatan yang memberdayakan klien untuk memiliki kemampuan mereka dalam memecahkan masalah kehidupan. Daripada psikoterapi tradisional yang berfokus pada bagaimana suatu masalah berasal, SFT memungkinkan fokus yang berorientasi pada tujuan untuk pemecahan masalah. Pendekatan ini memungkinkan diskusi berorientasi masa depan, daripada diskusi berorientasi masa lalu untuk menggerakkan klien ke depan menuju penyelesaian masalah mereka saat ini. Lanjutkan membaca “7 Langkah Terapi Singkat Berfokus Solusi, Solution-Focused Brief Therapy (SFBT Techniques)”

Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp


Shalom. Selamat sore Mas Adi. Saya Rani, psikolog Samarinda, pernah ikut pelatihan psikodrama Mas Adi di kampus Untag. Mau berkonsultasi, Mas tentang psikodrama

Ya,..gimana?

Mas Adi, permisi konsultasi via WA ya mas.
Saya sekarang kerja di RSJ, mas. Saya ada rencana mau adakan kegiatan Dinamika Kelompok di pasien rawat inap, salah satu sesinya dengan psikodrama. Apakah mas Adi ada saran atau pernah berkegiatan dengan pasien ODGJ mas? Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp”

Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder


Pada tanggal 27 Maret 2021, Aku memfasilitasi terapi Psikodrama Online via Zoom Meeting, dengan teknik pertukaran peran ( Role Reversal ) mengolah permasalahan Perfeksionis dengan Minder atau ketidakpercayaan pada diri sendiri.

Sebelum proses dimulai aku menyarankan kepada peserta untuk mengganti nama aslinya menjadi nama binatang. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga privasi dan memberi keberanian lebih untuk bereksplorasi.

Yuks kita mulai, Lanjutkan membaca “Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder”

Coretan Lama 36, Dialog Fiksi #3 Mengapa Kau Tiba-tiba Menghilang Tanpa Kabar?


Dialog Fiksi #3

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”

“Karena aku telah menyadari sesuatu.”

“Menyadari apa?”

“Aku tidak akan pernah cukup untukmu.”

“Apa maksudmu?

Aku tidak mengerti.”

“Belum saatnya

kau mengerti dan sangat kumaklumi.

Aku harus pergi sekarang.”

“Apa maksudmu?

Kau akan pergi ke mana?”

“Pergi ke suatu tempat di mana aku bisa merasa diterima sepenuhnya.

Mungkin bagimu aku ini membosankan.

Tidak semua orang bisa menerima kebaikanku, apalagi keburukanku.

Penderitaanku selama ini mungkin akan kau anggap sebagai suatu

hal yang biasa-biasa saja

atau malah kedengarannya bagimu terlalu dramatis

karena kita saat ini berada di fase kehidupan yang berbeda.

Pengalaman emosi kita tak sama.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksud…”

“Semuanya sudah terlihat jelas dari caramu memandanginya dan memperlakukannya.

Betapa kilaunya cangkang yang ia kenakan.

Tidak seperti cangkangku

yang telah retak

karena terlalu sering terhempas ombak kehidupan

Cangkangku yang kurang memikat

dan membutuhkan banyak perbaikan.”

 

Kartasura, 7 Februari 2019

Qanifara

Terapi Spiral Model (TSM) adalah Pengembangan Psikodrama untuk Penanganan Trauma yang Aman


Terapi Spiral Model (TSM)

TSM, yang dikembangkan oleh pelatih Psikodrama Amerika Katherine Hudgins, adalah metode terpadu dari psikoterapi mengolah pengalaman yang menggabungkan Psikodrama klasik dengan kemajuan dalam psikologi klinis dan pengolahan trauma untuk menyediakan benteng yang diperlukan untuk mencegah retraumatisasi (Hudgins et al., 2000).

Karena banyak penderita trauma sering mengalami kebingungan internal dan tekanan interpersonal yang secara metaforis mirip dengan tornado, TSM memilih spiral sebagai model terapeutik untuk memberikan dimensi alternatif terhadap energi tornado yang tak terkendali. Klien belajar untuk bergerak naik turun spiral dari kebutuhan mereka sendiri bukannya terkoyak oleh kekacauan tornado (Deng et al., 2009: 84).

Gambar spiral terapeutik di TSM dibagi menjadi tiga kategori: energi, pengalaman, dan makna (Hudgins, 2003). TSM terdiri dari enam mode aman:

(1) menempatkan dan mewujudkan ego yang diamati (OE);

(2) lingkaran keamanan;

(3) spektrogram;

(4) sosiogram tindakan;

(5) sosiometri lingkaran; dan

(6) Kreativitas Sutradara.

Enam mode aman membantu korban trauma mengekspresikan diri. Selain itu, body double, containing double, karakter yang direkomendasikan, dan teknik lain di TSM membuatnya aman untuk praktik klinis, meningkatkan efek terapeutik dari tindakan perawatan untuk trauma, dan mencegah klien mengalami retraumatisasi (Sang, 2009).

Berikut adalah ciri-ciri TSM:

(1) Drama dimulai dengan mencari kekuatan klien itu sendiri. Jika klien tidak cukup kuat, sutradara berusaha membuat mereka lebih kuat. Beberapa kekuatan berasal dari peran yang disarankan, seperti body double, atau dari interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh peran pembantu yang dipilih.

(2) Penyembuhan luka penunjang dilakukan dengan containing double. Containing double memberi klien perasaan aman, stabilitas, dan toleransi yang kuat, dan membantu mereka membangun kerangka kerja untuk memahami konotasi ketika mereka mengalami emosi yang kuat.

(3) Ekspresi emosi dikendalikan secara spiral. Dengan bantuan body double dan containing double, sutradara mengubah mood protagonis secara spiral dan perlahan. TSM membuat klien sadar akan emosi mereka, dan mempertahankan kontrol yang efektif dan wajar atas respons emosional mereka dalam proses katarsis (Deng et al., 2009: 95-97). Tidak seperti Psikodrama klasik, langkah-langkah dan dampak psikologis dari TSM disesuaikan, dan aplikasi praktis yang lebih baru dari teknik Psikodrama yang dikembangkan, yang menghasilkan kontrol yang wajar dan sadar dari proses degradasi psikologis dan perilaku klien (Liu, 2007).

Pada Mei 2004, Hudgins mengunjungi Universitas Nanjing untuk pertama kalinya untuk memberikan pelatihan profesional tentang TSM. Setelah gempa bumi Sichuan 2008, banyak psikolog di China bergegas ke daerah yang terkena bencana dan menggunakan berbagai bentuk psikoterapi kelompok untuk menangani gejala pasca-trauma para korban. Pada titik ini, penggunaan TSM secara luas dan metodenya yang unik untuk mendekati trauma dengan aman mulai menarik perhatian para psikolog Tiongkok.

Dari 2008 hingga 2010, Hudgins mengunjungi Chongqing dan beberapa distrik di Sichuan bersama sekelompok psikodramatis China untuk mengajarkan keterampilan Psikodrama kepada guru kesehatan mental lokal di sekolah dasar dan menengah dan melatih mereka untuk menggunakan teknik Psikodrama secara fleksibel dengan siswa untuk mengobati trauma yang disebabkan oleh bencana.

Sebagai cara penyembuhan yang unik dan aman, TSM telah banyak digunakan dalam praktik klinis perawatan trauma di Cina. Ini telah umum digunakan di area dengan kelompok yang mengalami dampak negatif bencana, di antara pasukan keamanan publik dan pasukan pemadam kebakaran, di acara stres kampus, dan dalam intervensi dukungan staf perusahaan.

 

Terjemahan dari 

The Spread and Development of Psychodrama in Mainland China

Zhi-qin Sang, Hao-ming Huang, Anastasiia Benko and Yin Wu