SILABUS TRAINING KESADARAN PERAN


Latar Belakang

Tidaklah mudah dalam bersikap ketika memilih bersikap sebagai teman atau rekanan bisnis. Juga kita perlu bersikap tertentu apabila rekan kerja kita punya hubungan saudara dekat dengan atasan kita, atau malah kita sendiri yang memiliki hubungan saudara dengan orang yang memiliki posisi strategis di perusahaan.

Apakah saat Peran kita di rumah masih terbawa di tempat kerja? Atau malah Peran kita di tempat kerja mempengaruhi kehidupan di rumah? Apakah kita menyadari hal-hal tersebut?
Bagaimana dengan Peran kita dalam ber-Sosial? Apakah kita aktif dalam bermasyarakat? Apakah kita adalah Sahabat yang baik bagi teman kita? Masih banyak lagi Peran yang perlu kita sadari agar dapat memberikan kontribusi.

Pemahaman

Kesadaran Peran adalah Proses Adaptasi Diri dalam menghadapi situasi yang ada sehingga mampu memberikan kontribusi optimal dalam melakukan tindakan. Baik dalam kehidupan pribadi, sosial maupun pekerjaan. Kesadaran Peran berdampak pada diri pribadi dan orang lain, serta lingkungan.

Tujuan

1. Memahami dan menghargai adanya berbagai Peran dalam kehidupan
2. Dapat menyelesaikan konflik (dengan diri sendiri maupun dengan orang lain) yang dihadapi serta memberikan solusi dalam bentuk resolusi damai
3. Dapat mengantisipasi timbulnya konflik, melalui kesadaran atas Peran apa yang diharapkan oleh orang lain

Topik Bahasan

1. Mengenal Peran sehari hari
2. Mengenal Peran dalam hidup
3. Menentukan Peran di masa depan

Strategi Penyampaian

Dengan Metode Psikodrama, Aksi dan Refleksi

Durasi

Program ini diselenggarakan selama 1 (satu) hari kerja dengan efektifitas 8 (delapan) jam.

Peserta

Manager, Karyawan, Mahasiswa, Pengajar

Kontak

Jefry Simanullang  0812 2542 0777

Deddy YE 0815 7500 0571

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Merasa Disayang, Sesi Konseling Keenam


Aku merasa seperti disayang

“Suatu hari, saat aku berbelanja di supermarket, aku mendengar ada suara laki-laki paruh baya memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh, awalnya aku bingung. Ternyata dia adalah mantan pacar mendiang ibuku, laki-laki yang pernah mengantarku ke panti asuhan. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, tentang keberadaan ayah kandungku. Sudah saatnya aku mengetahuinya, katanya. Awalnya aku ragu, tapi aku tetap mengiyakan. Kami berbicara di sebuah warung makan. Dia bercerita soal mendiang ibuku yang dulu mengalami depresi. Di sini aku tidak akan membahas soal masa lalu ibuku karena ceritanya sungguh pilu. Mungkin aku tidak kuat menceritakannya. Jadi, singkat cerita, keesokan harinya dia mengantarkanku ke rumah ayah kandungku. Dulu katanya, ibuku sempat menjadi pembantu di sana, tapi dia diusir karena menjalin hubungan gelap dengan ayahku yang sudah memiliki istri. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Merasa Disayang, Sesi Konseling Keenam”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Tentang Kehilangan, Sesi Konseling Kelima


Cerita tentang kehilangan

“Rumah itu kosong, tidak dihuni oleh sebuah keluarga. Dinding di setiap sudut rumahnya berwarna putih tulang. Bangunan tempo dulu, mungkin dibangunnya sejak tahun 70an ke atas. Tidak banyak perabotan. Hanya ada kursi meja tamu, satu kamar tidur agak luas kalau hanya di tempati dua orang, satu dapur, dan satu kamar mandi. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi ada halaman yang cukup luas di bagian depan rumah. Ada satu kamar tidur kecil yang letaknya terpisah dari bangunan rumah itu, tapi masih bersebelahan meskipun di antara kedua bangunan itu ada celah jalan yang dipenuhi dengan berbagai tanaman. Aku tinggal di kamar yang terpisah itu. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Tentang Kehilangan, Sesi Konseling Kelima”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #07 Konseling Ke Empat


Pada akhirnya hati kita akan jatuh pada seseorang yang bisa menghadirkan tawa, rasa nyaman, dan kejernihan dalam berpikir
(Sesi Konseling Keempat)

“Aku memutuskan untuk menjadi pembantu karena aku tidak lagi punya tempat tinggal. Kadang aku ingin tahu bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah keluarga meskipun aku tahu bahwa banyak keluarga yang tidak bahagia. Dulu saat liburan sekolah, aku sering diajak berkunjung ke rumah teman-temanku yang sudah diadopsi. Aku iri sekali dengan kehidupan mereka bersama orang tua baru mereka. Kebutuhan mereka tercukupi tanpa harus bersusah payah bersekolah sambil bekerja.

“Kadang aku menitikkan air mata ketika aku menghadiri pesta pernikahan teman-temanku atau orang lain. Terutama saat mereka melakukan prosesi sungkem dengan orang tua. Orang tua mereka terlihat berat melepaskan anak mereka untuk hidup bersama orang lain. Lalu aku berpikir kalau aku menikah suatu saat nanti, siapa yang akan menjadi wakilku? Tidak akan ada yang berat melepas kepergianku. Tidak ada yang mendampingiku ketika aku pertama kali ke rumah Yudha. Aku tahu yang kulakukan dengan Yudha salah dan dosanya besar. Tapi aku benar-benar merasa sendiri…

“Sampai pada akhirnya aku dipertemukan dengan Rio, dia ibarat oasis di tengah-tengah kehidupanku yang teramat gersang dan hampa. Darinya aku percaya, bahwa di dunia ini masih ada orang baik.

“Kami sering bertukar cerita karena kami memiliki latar belakang kehidupan yang hampir sama. Kami hanya berbeda nasib saja. Dia pernah menjadi anak jalanan, pemulung saat masih kecil, tapi dia masih beruntung. Dia akhirnya diadopsi. Sejak diadopsi, Rio memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada saat ia masih menjadi pemulung. Tapi di sisi lain orang tua angkatnya juga menuntut Rio untuk tumbuh sesuai dengan apa yang menjadi harapan mereka. Dari sekolah, kuliah, jodoh, pekerjaan, semuanya dipilihkan orang tuanya.

“Tapi, berkaitan dengan jodoh… Pada akhirnya dia menikahi perempuan pilihannya sendiri tanpa restu dari orang tua angkatnya. Perempuan itu tentunya bukan aku.”

Cerita Prita tiba-tiba terhenti. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Matanya tertuju pada buku sketsa yang kemudian dibukanya lembar per lembar. Di dalamnya ada banyak tulisan yang pernah ia tulis sendiri. Pada setiap kalimat-kalimatnya selalu disertai dengan gambar ilustrasi. “Setiap aku selesai menulis, Rio selalu membacanya. Kemudian dia menggambarkan ilustrasi untukku.”

Prita menambahkan, “Sepertinya aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya. Jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki. Namun jatuh cinta kali ini terasa berbeda dari biasanya. Walaupun aku tidak bisa memilikinya, jatuh cintaku kali ini tidak terasa sia-sia. Bukan jatuh cinta lagi, lebih tepatnya aku telah jatuh hati, karena yang kutahu, pada akhirnya hati kita akan jatuh pada seseorang yang bisa menghadirkan tawa, rasa nyaman, dan kejernihan dalam berpikir.”

…bersambung

Rekontruksi adalah Penerapan Teknik Psikodrama untuk Psikologi Forensik


Sedang ramai Rekontruksi perihal bentrokan baku tempak antara Polisi dan Laskar FPI yang mengakibatkan tewasnya 6 orang anggota FPI. Aku tidak ingin membahas mengenai kontraversi antara berbabagi pihak mengenai peristiwa tersebut. Aku ingin menyatakan bahwa Rekonstruski tersebut juga merupakan penerapan Teknik Psikodrama. Lanjutkan membaca “Rekontruksi adalah Penerapan Teknik Psikodrama untuk Psikologi Forensik”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #03


Pada Suatu Gerimis di Sore yang Manis

Mereka tinggal di sebuah rumah bergaya minimalis yang di setiap sudut ruangannya berwarna putih. Lengkap dengan taman kecil di samping kamar tidur mereka. Prita berdiri di depan jendela, memandangi gerimis yang turun membasahi taman. Rio duduk di tempat tidur, memandangi Prita dari agak jauh. Memperhatikan rambut Prita yang tergulung dan agak sedikit basah terkena gerimis dari luar. Prita mengenakan daster berwarna krem dengan bahu yang agak terbuka. Rio bangkit dari tempat tidurnya. Ia dekap tubuh Prita dari belakang. Dagunya ia tempelkan pada pundak kanan Prita. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #03”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #01


Suatu saat kita pasti akan kehilangan sesuatu, kita hanya menunggu waktu

Mereka terdiam sesaat memandangi darah itu. Darah yang merembes dari rok Prita merembet hingga menodai kain sprei putih di atas kasur. Buru-buru Prita hendak mengambil kain sprei itu untuk dicucinya, namun tiba-tiba Rio langsung merebutnya.

“Sini biar aku saja yang cuci. Sebaiknya kau ganti pakaian dan kemudian istirahat.” Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #01”

Tujuan Psikodrama adalah Perubahan Kesadaran dan Perilaku


Beberapa profesional yang tidak pernah mengalami psikodrama dalam jangka waktu yang lama, takut akan hal itu sebagai metode terapeutik. Banyak yang cenderung mendramatisasi prosesnya dan menekankan dugaan bahayanya. Yang lain membesar-besarkan kebajikannya dengan cara yang naif dan dangkal yang melanggar etika paling dasar dari psikologi sosial. Kedua kelompok ini tidak menyadari upaya yang relatif baru yang telah dilakukan untuk menyelidiki, secara ilmiah, potensi terapeutik psikodrama. Maka  Adam blatner, menawarkan istilah baru: Eksplorasi Tindakan

Dalam arti tertentu, dipandang sebagai cara meningkatkan kesadaran, berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen. Lanjutkan membaca “Tujuan Psikodrama adalah Perubahan Kesadaran dan Perilaku”

Cara Mudah Mengatasi Kesepian


Kesepian adalah ketiadaan hubungan yang berkualitas, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan diri sendiri. Jadi untuk mengatasi kesepian adalah dengan membangun hubungan yang berkualitas.

Ini membutuhkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri terlebih dahulu. Lakukan Self Assesment (penilaian diri) seberapa berkualitasnya hubungan dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Gunakan sosiometri spektogram, beri angka 1 -100, untuk menentukan kualitas hubungan tersebut. Angka lebih tinggi untuk kualitas hubungan yang lebih baik. Bila sudah mendapatkan hasilnya silahkan mulai.

Ketiga hubungan tersebut saling mempengaruhi dan selaras, salah satu hubungan buruk, lainnya pasti buruk, memperbaiki salah satu, maka yang lainnya juga akan turut membaik.

Berdasar selarasnya ketiga hubungan tersebut, maka cukup pilih salah satu saja dari hubungan itu yang paling mudah untuk dibangun terlebih dahulu.

Berikut cara untuk membangun hubungan yang berkualitas :

Membangun hubungan baik dengan Tuhan, rajinlah berdoa. Cara berdoanya dengan berusaha mendekatkan diri, berdialog akrab. Bayangkan bahwa Tuhan hadir duduk bersebelahan dan ngobrol santai seperti dengan sahabat.

Membangun hubungan baik dengan orang lain. Mulailah berani untuk percaya bahwa orang lain juga membutuhkan teman, sehingga berani mengawali untuk menjalin hubungan. Bergerak mengekplorasi tempat baru dan berusaha bertemu dengan orang baru, pikniklah!. Boleh juga berkunjung ke rumah kawan lama sekedar ngopi bersama dan berbincang tentang apa saja. Kurangi niatan untuk mencari keuntungan dalam hubungan interpersonal ini. Utamakan rasa akrab dan gembira. Jadikan hal ini indikator kualitas hubungannya.

Membangun hubungan baik dengan diri sendiri. Belajarlah menerima pengalaman masa lalu, dan yakin terhadap masa depan serta menikmati hari ini. Temukan sesuatu yang baru pada hari ini, dan jadikan alasan untuk bersyukur. Hal ini juga akan mendukung hubungan yang baik dengan Tuhan. Lakukan juga kegiatan kreatif seperti menulis, melukis, bernyanyi, intinya berkarya, atau berekspresi.

Sepertinya mudah untuk dilakukan, namun banyak orang yang sudah melakukan hal itu, masih saja belum berhasil mengatasi kesepiannya. Kondisi ini biasanya karena banyak orang lebih senang menipu diri, tidak berani menerima kenyataan, atau mungkin tidak terlatih, sehingga tidak tahu caranya.

Bagaimana agar mampu mendapatkan hasil seperti yang diharapkan ? Kunci utamanya adalah berani jujur pada diri sendiri dalam penilaian diri mengenai kualitas hubungan yang dimiliki. Apakah ada “cinta” di dalam hubungan itu. (baca : Hanya Orang yang Merasa Dicintai yang Mampu Mencintai, Refleksi Pengalaman Cinta ).

Yogyakarta, 17 Desember 2020

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Retmono AdiRetmono Adi

Sukses Berdamai dengan Masa Lalu, Contoh Tujuan Psikodrama


Kalau saat hancur ku disayang 

Apalagi saat ku jadi juara

Saat tak tahu arah kau di sana

Menjadi gagah saat ku tak bisa (Bertaut - Nadin Amizah)

Beberapa hari belakangan ini aku suka memutar lagu itu berulang kali. Kadang aku menangis menghayati lagunya karena aku terjebak pada bagian lirik lagu itu. Kata-kata yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang kualami.

Sudah cukup lama aku kehilangan peran orang tua secara utuh, pun aku sering mendapatkan kata-kata kasar dan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari seseorang selama lebih dari sepuluh tahun. Aku terluka. Cukup dalam. Mungkin sampai saat ini luka itu belum sepenuhnya pulih. Rasa sakit itu masih ada. Aku hanya sedang mencari cara untuk membasuhnya dan merawatnya.

Saat aku melakukan hal baik, aku didiamkan saja. 

Apalagi saat aku hancur, aku tidak akan disayang.

Saat ku tak tahu arah, aku tersesat, dan mencari jalanku sendiri.

Saat ku tak bisa, aku disakiti, tidak ada yang mengambil peran untuk melindungiku.

“Aku tidak cantik, aku tidak pintar, aku tidak disukai, aku tidak dicintai, aku tidak menarik, aku tidak bisa apa-apa, aku tidak diinginkan, aku tidak diharapkan, aku tidak berguna, kehadiranku justru menjadi beban,”

Ada masanya kalimat-kalimat itu sering melekat dalam pikiranku. Ada masanya aku terjebak dan terkungkung dalam pikiran-pikiran yang membuatku tidak bertumbuh. Ada masanya saat aku melakukan sesuatu hal hanya karena ingin dianggap cantik, diinginkan, dan lain-lain. Namun itu sangat menyiksa. Aku malah seperti menyakiti diriku sendiri.

Butuh waktu dan proses yang tidak sebentar bagiku untuk memahami diriku sendiri. Prosesnya naik turun, cukup bergejolak, dan sering terasa menyakitkan.

Hingga pada satu titik, inginku sederhana. Sekitar tiga tahun lalu aku menulisnya sendiri, “pernahkah kau berada di titik balik di mana kau sudah tidak lagi mencari dan menginginkan apa-apa selain suatu tempat di mana kau bisa didekatkan dengan orang-orang yang kau harap dapat membuatmu lebih mudah dalam mencintai dirimu sendiri, terutama mencintai Tuhan, dan juga mencintai kehidupan dengan lebih baik?”

Beruntungnya, aku masih diberi kesempatan untuk menelusuri dan mendalami arti ‘cinta’ itu sendiri. Aku masih diberi kesempatan untuk memperluas sudut pandangku tentang kehidupan yang dulunya kurasa sangat sempit.

Semua itu kuperoleh dari berbagai sumber, ilmu yang kuperoleh dari mana saja, orang-orang yang pernah kujumpai, buku-buku cerita yang pernah kubaca, film-film yang kutonton, inspirasi-inspirasi yang kudapatkan dari internet, hobi yang kutekuni, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, semuanya kukembalikan pada niat. Jadi ketika aku merasa terpuruk akan kegagalanku dalam meraih sesuatu, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri. Apa sebenarnya tujuan atau niatku melakukan hal itu? Apakah tujuan atau niatku itu mengarah pada kebaikan atau malah bersifat merugikan? Kalau sekiranya malah merugikan, berarti tujuanku perlu kuubah dengan disertai harapan yang tidak berlebih.

Pada akhirnya aku tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Aku hanya perlu membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak seburuk yang kupikirkan, bahwa aku mampu melalui hal-hal yang sulit. Seperti yang sudah-sudah, kehidupan tidak hanya mengajarkan tentang penerimaan hasil tapi juga tentang bagaimana manusia belajar menghargai setiap proses yang ada di setiap fase, baik dalam suka maupun dukanya.

Beruntungnya lagi, di tahun yang penuh dengan ketidakpastian dan keputusasaan ini, aku masih diberi kesempatan untuk belajar psikodrama. Kabar baiknya, belajar psikodrama dengan Pak Didik memberi warna baru di kehidupanku, serta memberi ruang yang lebih luas dan dalam bagiku untuk lebih berani mengekspresikan diri, dengan cara yang lebih baik.

Semakin ke sini, aku semakin lebih percaya diri untuk berbagi kebaikan kepada siapa saja dengan berlandaskan value cinta yang kutemukan melalui psikodrama. Aku menjadi tergerak untuk melihat kebaikan dari setiap ketidaksempurnaan yang ada pada diri sendiri dan orang lain.

Caraku memandang kehidupan, kini berbeda. Kumaknai dari sudut pandang yang baru. Yang kutahu, kelak akan tiba saatnya bagi manusia untuk berkelana, mencari sesuatu yang tidak fana. Menelusuri sekumpulan makna. Lalu mendalaminya dengan sepenuh cinta.

Dari seorang perempuan yang namanya sedang tidak ingin disebut,


14 Desember 2020